Patah dan dendam
"Aku hamil, Mas!"
Langkah Sania spontan berhenti usai mendengar cukup jelas suara wanita asing dari dalam ruangan milik kekasihnya. Dahinya mengerut , merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini. Tangannya yang hampir mendorong pintu lebih ke dalam, kembali diturunkan pada sisi tubuhnya. Ia memutuskan untuk lebih baik tidak melakukan apa pun selain hanya melihat dan mendengarkan apa yang terjadi di dalam sana.
"Apa?! Hamil?! Jangan mengada-ada, Res!"
"Buat apa aku mengada-ada? Nggak ada untungnya juga."
"Sekarang apa buktinya kalau kamu memang hamil?" Dari celah pintu yang tidak tertutup rapat itu, Sania bisa melihat sebuah alat periksa kehamilan, diacungkan ke udara oleh wanita yang hanya tampak punggungnya saja itu, lalu menghempas kasar pada Bobby yang tengah terlihat sangat marah.
"Ini buktinya! Ini bukti kalau aku hamil. Aku hamil anak kamu, darah daging kamu." Dipungutnya benda yang teronggok di lantai dan seketika itu juga ekspresi Bobby berubah keruh. Terlihat seperti tidak senang dengan sebuah pencapaian sebagai seorang laki-laki pada wanitanya. d**a Sania berfluktuasi, rasa-rasanya berada dalam keadaan ini benar-benar sebuah mimpi buruk baginya.
"Nggak. Kamu nggak mungkin hamil, ini salah besar. Tolong bilang kalau testpack ini bukan punya kamu! Kita selalu pakai kondom Resti, kamu nggak mungkin hamil. Ya Tuhan..." Bobby kelihatan frustasi. Sehingga tanpa sadar dia membuang benda itu sebelum akhirnya menyugar rambut ke belakang.
Sania nyaris tidak berkedip dalam memperhatikan dua manusia yang terus berdebat di dalam sana, tidak hanya itu, kata 'selalu' yang didengarnya baru saja, jelas menggangu telinga.
Hatinya mencelus, apa intensitas hubungan (suami istri) yang mereka–kekasih dengan wanitanya–lakukan terbilang sering? Sesering apa sampai berhasil menumbuhkan benih di dalam perut wanita itu?
Masih setia berdiri di depan pintu, Sania terus menajamkan telinga meski pada dasarnya kedua kaki sudah tak kuasa berdiri dengan tegap sebab mendengar fakta–pria yang selama ini dicintai sudah menghamili wanita lain.
"Bisa-bisanya kamu menyangkal sama bukti yang ada. Dan malah berharap benda itu bukan punyaku. Sinting kamu. Denger Mas! Terakhir kita melakukannya nggak pakai pengaman. Inget kan, waktu itu kamu datang dalam keadaan kacau, kamu bilang lagi berantem sama pacarmu dan pertengkaran kalian cukup hebat, kamu kalut dan kita ..."
"Cukup! Oke, aku mengingatnya sekarang!"
Ditelannya saliva susah payah, sedang mencoba mengingat, kapan terakhir ia dan Bobby bertengkar hebat?
Otaknya terus berupaya mencari dan mencari, sampai pada akhirnya berhasil menemukan keping memori yang terselip itu. Kejadian itu sudah lama, sekitar sebulan lalu kalau tidak salah.
Sania tersenyum getir, kepalanya menggeleng tidak percaya. Jadi setelah pertengkaran hebat kala itu, Bobby memutuskan untuk berakhir di ranjang wanita lain? Hebat sekali Bobby, sementara dia sendiri justru terlihat kacau usai perdebatan hebat itu terjadi.
"Aku minta pertanggungjawaban! Bayi ini butuh pengakuan ayah biologisnya."
"Apa? Tanggung jawab? Gila! Bisa hancur reputasiku kalau sampai ini terjadi. Kamu tahu kan, apa posisiku di perusahaan ini? Jangan ngaco kamu minta tanggung jawab segala."
"Jadi, kamu nggak mau tanggung jawab?"
"Nggak, aku nggak mau."
Plak!
Kedua bola mata yang masih setia memperhatikan kedua manusia itu pun membeliak. Sania tidak menyangka kekasihnya akan ditampar oleh wanita lain seperti ini.
"b******n kamu! Kalau tau bakal gini akhirnya, aku nggak akan mau kemakan rayuanmu dan mau jadi b***k nafsumu. b******k!"
"Hei! Jangan merasa cuma aku yang salah, kamu juga salah. Salah sendiri sudah membuka celah untukku sedangkan kamu pun ada pasangan. Ngaca Res, ngaca!"
Sania bosan, memilih berbalik badan kemudian pergi dari tempat itu. Kaki jenjang yang dibalut stitello melangkah cepat meninggalkan tempatnya sembunyi tadi.
Oke! Sudah cukup dia mendengar sebagian perdebatan itu, selebihnya tidak lagi berminat.
Sesampainya di dalam mobil, ekor mata sempat melirik sekejap ke samping, tempat di mana blackforest berukuran sedang teronggok di kursi penumpang.
Akhirnya setetes air matanya luruh juga. Sania tidak sekuat itu menahan gejolak kekecewaan atas pengkhianatan ini. Kepalanya tertunduk, bersandar pada roda kemudi demi membiarkan bulir-bulir air mata itu berjatuhan.
Yang seharusnya terjadi sekarang adalah;mereka merayakan ulang tahun hari jadi kedua tahunnya, menikmati kue itu bersama sembari membicarakan tentang rencana-rencana indah di masa depan.
Tapi ternyata harapannya jauh dari ekspektasi ketika Tuhan justru berkehendak lain, tepat di dua tahun kebersamaan mereka, alih-alih memperkuat hubungan yang telah terjalin erat Tuhan malah menunjukkan bagaimana belang Bobby di belakang.
Sungguh, ia tidak mengira hubungan yang terjalin sekian lamanya harus terkoyak dan ternoda oleh sebuah pengkhianatan.
Sania ... telah tertipu oleh muslihat kekasihnya sendiri.
***
Pagi harinya, saat baru saja bangun dan pergi ke kamar mandi, Sania mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Ia mempersingkat kegiatannya mencuci muka dan gosok gigi, lalu pergi memeriksa siapa yang datang sepagi ini.
"Tadaaaa ..." Bobby datang, membawa buket bunga mawar berwarna merah pekat dengan ukuran cukup besar di tangannya dan mengulurkan benda itu pada Sania.
"Happy anniversary, Sayang," ujar Bobby lagi, sembari memendarkan senyum ceria. Seakan-akan tidak pernah memiliki masalah apa pun sebelum ini. Padahal Sania tahu, jika problematika pria itu cukup complicated. Manipulatif yang handal, pikir Sania.
Sania hanya tersenyum kecil lalu mengucapkan rasa terima kasih, tidak lupa mengambil alih buket bunga dari tangan kekasihnya itu.
"Kemarin kamu ke mana? Kenapa baru muncul pagi ini? Padahal kemarin aku udah nungguin kamu, lho." Ia mengangkat sebelah alis, menatap penuh makna pada sosok lawan bicaranya.
"O-oh ya? Aku nggak tahu kalau kamu nungguin, maaf ya. Soalnya aku lagi sibuk banget seharian. Maklum kemarin bos nyuruh aku menggantikan meeting sama klien, juga survei lokasi buat pembangunan proyek baru, sekali lagi maaf, ya."
Hah? Apa-apaan ini? Bisa-bisanya Bobby setenang itu saat menjawab tanpa meninggalkan jejak mencurigakan.
Ah, baiklah! Sania hanya perlu mengikuti arus kebohongan yang dicetuskan oleh kekasih pendustanya ini. Ia pun tersenyum kecil menandakan jika percaya saja dengan jawaban tersebut.
Seandainya saja ia belum mengetahui perbuatan busuk Bobby di belakangnya, mungkin dia masih seperti seekor keledai bodoh di sini.
Ah, entah dari mana, tiba-tiba ia menjadi skeptis, apakah alasan 'sibuk' selama ini sebetulnya hanya akal-akalan saja? Karena pada dasarnya 'sibuk' yang dimaksud Bobby bukan terkait urusan pekerjaan tetapi ada makna tersirat di dalamnya.
"Sayang, kamu nggak marah kan?" Lamunan Sania terpecah ketika pertanyaan ditujukan padanya.
"Oh, nggak kok, aku nggak marah. Cuma sedikit kecewa aja sih, tapi nggak apa-apa, aku udah terbiasa juga sama pekerjaan kamu yang menuntutmu untuk selalu sibuk ini," ujar Sania cenderung bernada satir.
"Mau masuk dulu nggak?" imbuhnya.
"Eum, nggak usah. Aku langsung ke kantor aja. Soalnya mau prepare meeting sama dewan komisaris jam delapan nanti. Aku berangkat dulu, ya." Sania bergerak mundur satu langkah ke belakang ketika Bobby mendekat hendak melabuhkan kecupan seperti biasa.
"Kenapa?"
"Aku belum mandi. Kamu cepet berangkat gih! Takut ntar terlambat." Ia tidak akan pernah mau di sentuh seujung kuku pun oleh pria yang telah membagi sesuatu yang seharusnya hanya dinikmati usai menikah. Sania sudah sangat merasa jijik.
Ya ... meski tahu, mungkin Bobby merasa ada yang aneh dari caranya menolak barusan, karena biasanya, meski belum mandi, Sania akan dengan suka rela membiarkan jidat lebarnya itu dikecup oleh Bobby. Tetapi, bodo amat, biar saja Bobby tersinggung toh bukan tugasnya menjaga perasaan Bobby agar tetap baik-baik saja.
"O-oh, ya udah. Aku berangkat, Sayang. Nanti aku kabarin kalau ada waktu senggang. I love you." Cukup mengangguk tanpa membalas ucapan yang baru saja menepi, seakan tidak sudi mengatakan jika ia juga mencintai Bobby.
Selepas kepergian pria tersebut, Sania mengendurkan senyum dan wajahnya pun ikut berubah sinis. Pandangan langsung jatuh pada buket bunga di lengannya, bunga yang indah dan mempesona tetapi berbahaya karena berduri. Sania membawa benda tersebut mendekati tong sampah dan melempar asal ke sana. Tiba-tiba saja mendadak alergi menerima sesuatu pemberian Bobby.
Tubuhnya bergegas berbalik kemudian menutup rapat pintu. Dia sudah memiliki planning untuk hari ini, tentu saja rencananya pagi ini ada kaitannya dengan permasalahan yang dialami.
Resti? Dia sudah mengantungi informasi tentang siapa wanita itu, wanita yang katanya memiliki seorang suami semenjak setahun lalu, wanita yang katanya berpengaruh sekali dan cenderung dapat membahayakan karir Bobby. Ah, Sania jadi tidak sabar untuk bermain-main.
Jika Resti bisa merusak harapannya, merenggut bahagia sampai membuatnya terjun dalam luka sedalam samudra, harusnya Sania juga melakukan hal serupa bukan?