Rencana

1284 Words
Arshaka Agaskara Wijaya, pria berusia 31 tahun dan merupakan seorang petinggi di perusahaan Marveous Corporation. Siapa yang tidak mengenal sosok laki-laki itu, Sani pun mengenalnya jauh lebih baik karena dulu, Shaka merupakan kakak tingkatnya si salah satu universitas ternama. Mereka sempat dekat, dekat dalam konotasi berteman biasa, dan dari sana Sania banyak mengetahui setiap sisi yang ada dalam diri pria tampan tersebut termasuk tentang harapan yang ingin melajang seumur hidup. Sungguh, ia jadi penasaran, apa yang membuat Shaka pada akhirnya memutuskan untuk menikah. Sebesar apa pesona Resti sehingga mampu merobohkan tembok kokoh nan tinggi menjulang yang dibangun dengan diimbangi karakteristik yang dingin dan cueknya setengah mati? Rasa ingin tahu yang melambung tentu saja membuat Sania bertekad untuk menemui Shaka di kantornya, ia ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan yang bergumul di kepala. Tidak, bukan itu alasan utamanya, alasan yang sebenarnya adalah Sania ingin membongkar perselingkuhan antara Resti dengan kekasih yang dipacari selama dua tahun lamanya itu. Memang berani? Padahal mereka sudah lama tidak lagi bertukar kabar. Bagaimana jika kedatangan justru mendapatkan penolakan? Oh, jangan salah! Semalam Sania sudah bertukar kabar melalui DM dan meminta izin pada laki-laki beristri itu ingin berkunjung ke kantornya. Dan untung saja, Shaka tidak menolak keinginan Sania. Ia mematut diri di cermin, memperhatikan cukup saksama tubuh sintal dan proporsional yang dibalut oleh blouse berwarna hitam dengan span berwarna putih. Tidak lupa ia menyemprot parfum di bagian batang leher kanan dan kiri hanya sedikit, hanya agar terlihat segar dengan aroma strawberry. Cantik! Sania bergumam sembari memutar tubuh. Disambarnya clutch berwarna hitam untuk kemudian membawa benda itu keluar dari kamarnya. "Mau ke mana?" Sania menoleh pada Rinka– sepupunya. Ia hanya mengulas senyum tanpa menjawab apa-apa. "San, ditanya juga!" Gadis dengan kaos oblong kebesaran yang melekat, kembali melayangkan tanya.. "Mau kencan, dong,"sahutnya sembari mengambil kunci mobil dalam laci meja televisi. "Sama Bobby?" "No ... no. Kencan sama pacar baru, ah bukan, maksudnya sama calon pacar baru." Rinka nyaris menjatuhkan rahang ketika Sania mengerling nakal kepadanya. "Gue berangkat, kalau mau pulang, beresin dulu yang berantakan itu." Sania memberikan pesan, sebelum benar-benar keluar dari unit apartemen yang ditinggalinya semenjak dua tahun lamanya itu. Setibanya di perusahaan besar tempat di mana Shaka mendedikasikan diri, Sania tersenyum sekejap, lalu kembali mengayunkan kaki jenjang yang di balut heel memasuki area lobby. Ia tidak kaget jika seluruh pasang mata mengarahkan tatapan kepadanya, sadar dan percaya diri betapa memukau dan mempesonanya dia di pandangan mereka semua. Bobby saja yang bodoh, alih-alih menjaga agar hubungan tetap erat, malah menyia-nyiakan kesempatan emas ini.Tidak sadarkah jika banyak sekali pria yang mengantre ingin berada di posisi Bobby? Hah menyebalkan. Bisik-bisik mulai mengudara, tetapi Sania tutup telinga. Sepertinya ada sekelompok perempuan yang tidak suka dengan kedatangannya dan memiliki janji dengan bos mereka. Tetapi biar saja. Sania tidak peduli, sekalipun ada yang mengadukan tentang hal ini pada Resti. Ia tidak takut. "Selamat siang, Mas." Shaka yang semula berfokus pada layar monitor di depannya kini beralih pada wanita yang berdiri anggun di depannya. "Siang juga, aku kira kamu nggak jadi datang." "Jadi, kok. Seperti yang mas tahu, aku bukan tipikal orang yang suka ingkar janji," ujarnya sembari mendekat pada Shaka. Tanpa di suruh, ia pun menjatuhkan bokongnya pada kursi yang berada di seberang meja. "Ah, i see. Kamu nggak pernah berubah sejak dulu." Sania memendar senyum. Kata orang-orang, Shaka adalah laki-laki berkepribadian killer, irit bicara dan sulit tersenyum. Menurutnya mereka menilai seperti itu karena mereka tidak mengenal lebih dalam bagaimana sebetulnya karakteristik Shaka yang justru kontradiktif. "Aku emang nggak pernah berubah, Mas. Yang berubah cuma usia aja karena bertambah." "Kamu bisa aja, c'mon ceritakan sesuatu yang mau kamu ceritakan sesuai chat semalam." Sania mengangguk, buru-buru mengeluarkan ponsel dari dalam clutch nya kemudian menghidupkan layar tersebut, ibu jari mulai bergerak lincah mencari beberapa foto hasil jepretan yang ia dapatkan sebagai bukti. "Ini. Mas lihat ini." Shaka menerima benda pipih yang diulurkan kepadanya. "Ini ... istri kamu kan?" Ujung jemari lentik yang menggunakan nailart bermotif bunga lotus mengetuk permukaan layar. "Resti?" "Hmm-mm." "Dia sama siapa?" Shaka mengalihkan tatapan dari ponsel pada Sania yang posisinya sudah sangat dekat. "Sama Bobby, kamu tahu? Laki-laki ini adalah pacarku, Mas." "Mereka ... main api di belakang kita, dan yang lebih gila lagi, istri Mas hamil anak pacarku," imbuh Sania berucap cukup lugas. Shaka tercengang setelah mendengar ucapan Sania. Benarkah begitu? Benarkah wanita yang memang selama ini tinggal satu atap dengannya telah hamil benih orang lain? "Sorry, kalau aku harus kasih tau ini." **** Sania tersenyum puas setelah berhasil menemui Shaka dan menceritakan semuanya, ya meski ada sirat rasa tidak percaya yang ditunjukkan oleh Shaka ketika tabir kelam dibuka tanpa hambatan, setidaknya pria itu sudah tahu bagaimana tabiat istrinya di belakang. Biar saja Shaka mencari sendiri bukti yang lain, bukankah itu jauh lebih bagus? Karena Sania tidak perlu lagi capek-capek melakukan hal yang bisa saja menggerus waktunya. Ia menjatuhkan tatapan, memandangi kuku-kuku yang baru saja dikikir rapi, dan meniupnya pelan. Selagi menatap kuku yang memiliki warna hitam itu, Sania berharap semoga tujuannya untuk membalas perbuatan mereka berdua terlaksana dengan baik. Malam harinya, Bobby kembali datang, membawa bola-bola coklat kesukaannya. Sania tidak menolak kedatangan Bobby, karena membiarkan semua mengalir seperti biasa, itu merupakan strateginya. "Gimana kerjaan kamu hari ini?" Sania mengajak Bobby berinteraksi setelah beberapa saat sempat mengamati dari atas hingga bawah pria yang duduk tidak jauh darinya. Pria itu tampak gelisah seperti sedang memikirkan sesuatu. "Syukurlah lancar, nggak ada hambatan." Posisi Bobby hanya seorang sekretaris, tetapi karena cinta yang tumbuh dengan tulus, Sania tidak pernah mempertimbangkan kasta untuk menjadikan Bobby sebagai kekasihnya. Strata sosial mereka jelas sangat jauh, di mana, Sania justru memilki kedudukan sebagai pimpinan direksi di kantor penerbit (Kantor milik sendiri). "Oh ...," Sania menyahut cukup singkat kemudian membuka toples berisi coklat pemberian kekasihnya itu. "Sayang, besok aku harus pergi ke luar kota. Tahu kan, sebagai seorang tangan kanan presiden direktur, aku harus mendampingi atasanku ke mana dia pergi, selagi masih dalam ranah terkait pekerjaan." Alis Sania terangkat, meragukan ucapan kekasihnya. "Berapa lama?" "Aku juga belum tahu sih, Bos bilang perkiraan dua sampai tiga hari, tapi tergantung pekerjaan di sana gimana." Sania mengangguk, kembali masukkan bola coklat ke dalam mulutnya. "Aku tiba-tiba ada pekerjaan di luar kota, Mas." Pergerakan Shaka yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil lantas berhenti, ia memutar tubuh ke belakang, lebih tepatnya pada sang istri yang tengah duduk bersandar sembari memainkan ponsel dengan santai. "Lagi?" "Hmm-mm." "Kalau seperti ini terus, lebih baik kamu resign aja dari pekerjaanmu itu!" ujar Shaka dengan nada ketus. Setahun membina rumah tangga, setahun itu juga hubungan mereka bagai orang asing yang kebetulan sekali tinggal dalam satu atap . Meski pernikahan keduanya bermula dari perjodohan, tetapi keduanya pernah sepakat untuk tidak mempermainkan pernikahan yang ada. Tetapi sayang sekali, kesepakatannya itu tidak berjalan sebagaimana mestinya karena baik Shaka maupun Resti tidak sama sekali menunjukkan tanda-tanda keseriusan. "Nggak bisa, Mas. Aku nggak mungkin resign. Aku nyaman sama profesiku." "Nyaman karena bisa sering pergi ke luar kota sampai berhari-hari lamanya?" tanya Shaka dengan sarkas. "Mas kok ngomong gitu?" Resti lantas menyimpan ponselnya ke samping dalam posisi terbalik sebab ia baru saja saling berbalas pesan dengan Bobby. "Kenapa kalau aku ngomong gitu? Kamu nggak suka?" "Ya, nggak sukalah, Mas. Kamu tuh seakan-akan menuduhku lebih senang bepergian tau nggak." "Oh, kalau gitu, sekarang semua terserah sama kamu, Res. Pergi silakan, nggak juga terserah." Shaka membuang handuknya sembarangan kemudian keluar dari kamar usai mengenakan pakaian. Membawa hati yang dongkol karena Resti telah berani membantahnya. Hatinya memang hampa dan tidak terikat dengan wanita yang telah ia nikahi tersebut, tetapi yang disayangkan ia benci kala mengingat harus memberikan nafkah lahir sesuai kesepakatan sementara istrinya tidak pernah berguna sama sekali. Dalam keadaan emosi yang menguasai kepalanya, tiba-tiba saja sesuatu melintas; sebuah keinginan untuk berpisah, timbul dan mengendap dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD