[Mas, apa istrimu punya rencana pergi ke luar kota?] Satu pesan dikirim untuk Shaka, hanya ingin memastikan apakah kepergian Bobby ke luar kota juga akan mengajak serta Resti bersamanya? Tidak menutup kemungkinan, mereka masih akan tetap berhubungan meski pertengkaran hebat sempat terjadi di antara sepasang kekasih gelap itu.
Tidak perlu menunggu waktu lama, pesan itu dibalas oleh Shaka, buru-buru Sania mengetuk layar ponsel untuk membaca pesan balasan tersebut.
[Iya, besok, Resti akan pergi ke luar kota.] Sania menghela napas usai membaca pesan itu, jadi benar dugaannya? Mereka belum berakhir, pertikaian terkait tanggung jawab atas janin dalam kandungan Resti, rupanya tidak membuat mereka berpisah begitu saja.
Sekuat apa ikatan mereka sehingga tetap nekat melanjutkan perselingkuhan meski sudah mendapatkan teguran berupa hadirnya janin itu? Sania menggeleng kecil memikirkan hal yang di luar akal sehat ini.
Ia tidak memberikan balasan lagi pesan dari Shaka, hanya kembali membaca ulang ruang obrolan mereka yang tidak terlalu banyak itu. Jujur saja, ia bingung apa yang harus dilakukan? Apakah akan terus bersikap pura-pura bodoh atau mengakui secara terang-terangan saja kalau sudah mengetahui perselingkuhan itu?
Dibawanya kepala bersandar pada bantal, kemudian memejamkan mata sekejap di sana.
Dalam kepalanya yang penuh oleh masalah percintaan, ia membuka kembali memori lama.
Dua tahun lalu, dia dan Bobby sepakat untuk menjalin kasih, membuat hubungan yang awalnya hanya sekadar teman naik kasta menjadi sepasang kekasih. Perjalanan kisah asmaranya cukup menyenangkan karena selalu berbagi perhatian dan dukungan. Tetapi, semenjak beberapa bulan belakangan Sania merasa jika hubungan ini mulai hambar. Perhatian yang selalu tercurah kini semakin berkurang sehingga membuat Sania merasa apakah Bobby bosan? Ternyata setelah kedapatan sebuah fakta mengejutkan yakni perselingkuhan, barulah Sania sadar, jika hubungannya memang sudah tidak bisa diselamatkan.
Hubungannya sudah ternoda oleh sebuah pengkhianatan.
Ia menghela napas panjang dan mengubah posisi tidurnya, membawa tubuh ramping itu menghadap samping kemudian membawa ponsel ke arah nakas. Ini sudah larut, tidak baik jika Sania terus memikirkan hubungan yang tidak jelas kemana arahnya ini. Lebih baik ia segera tidur agar saat pergi ke kantor, dia tidak terlambat datang.
Mentari naik perlahan ke peraduan, sinarnya yang hangat menerangi bumi yang yang gelap. Suara alarm membangunkan tidur lelap gadis berusia dua puluh tujuh tahun itu.
Usai membuka mata, tangannya terulur menyibak selimut dan membawa tubuhnya bersandar pada kepala ranjang. Sekejap, ia meregangkan otot-otot saraf agar kembali lemas dan bergegas pergi ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian, ia sudah rapi dengan setelannya pagi ini mengenakan blouses berwarna navy yang dipadu padankan dengan celana panjang berwarna hitam. Sebagai seorang pimpinan direksi di sebuah kantor penerbit, Sania tidak hanya mengutamakan integritas tetapi juga menunjang penampilan karena baginya segi penampilan adalah prioritas utama. Sebelum pergi ke kantor, ia mengisi perutnya terlebih dahulu dengan dua slice roti pandan dengan segelas s**u kedelai.
***
"Mau ke kantor sekarang, Mas?" Shaka mengangguk tanpa mengalihkan tatapan pada sosok yang mengajaknya bicara. Wanita itu sedang duduk di meja makan menikmati secangkir kopi hijau, Shaka mengenal dari bagaimana aromanya. "
"Nggak sarapan?"
"Nggak,"sahutnya singkat. Entahlah, sepertinya ia sudah muak berada dalam satu atap dengan wanita yang terlalu bebas seperti Resti. Wanita itu terlalu berani untuk melakukan hal-hal ekstrim yang bisa saja menyeret nama baik keluarga. Apalagi setelah tahu bahwasanya wanita itu sedang mengandung benih pria lain, kepalanya seakan-akan ingin mendidih saja.
"Mas masih marah?"
Hendak melangkah menjauh dari jangkauan mata Resti, ia urung melakukannya dan lebih dulu menoleh lalu menggeleng.
"Marah? Buat apa marah? Bukannya interaksi singkat kayak ini udah biasa ya buat kamu dan aku juga?" sahutnya apatis dan condong ke arah sinis.
"Iya sih, tapi ... bukannya dulu kita sepakat untuk memperbaiki hubungan kita?"
"Coba kamu ingat-ingat, apa kamu pernah berusaha untuk melakukannya? Nggak kan? Jadi, nggak usah bahas lagi sesuatu yang bahkan udah basi."
Resti terdiam, membuat Shaka akhirnya memutuskan pergi saat ini juga. Pagi ini dia tidak ingin menambah beban, urusan pekerjaan saja sudah membuat isi kepalanya terasa sesak, apalagi harus ditambah dengan urusan lain.
Sebetulnya, Shaka bukan tidak ingin mengambil tindakan, tetapi ia dan Sania sudah sepakat untuk pura-pura tidak tahu sampai semua bukti terkumpul. Ya, diam-diam Shaka bergerak menggali bukti-bukti perselingkuhan antara istrinya dengan pria lain, untuk dibawa kepada pihak orang tua masing-masing. Berharap, agar hubungan yang sejak awal memang tidak pernah diinginkan dan terjadi atas kesepakatan hanya dengan keluarga saja, selesai sampai di sini.
Kring!
Shaka mengalihkan tatapan sekejap pada benda pipih yang tergeletak di atas dasboard, lalu menekan tombol earphone untuk menerima panggilan tersebut.
"Ya, gimana?"
"Saya sudah mendapatkan invoice pembelian tiket atas nama istri Anda dan seorang pria bernama Bobby Gunawan." Shaka terkekeh pada si penelpon, sebesar apa perasaan Resti pada selingkuhannya itu sampai-sampai bersedia membelikan tiket untuk kekasih orang lain tersebut? Bodoh sekali.
"Ya sudah, selama di Samarinda nanti, kamu awasi saja terus mereka. Kegiatan apa saja yang mereka lakukan dan laporkan beserta buktinya sama saya."
Sambungan telepon terputus, kembali Shaka
"Baik, Pak. Tugas saya laksana segera."
"Hmm..." Panggilan terputus.
****
Sania pulang dengan membawa raga yang lelah, pekerjaan di kantor benar-benar membuat otaknya memanas, dan tubuhnya lemas lunglai. Banyak sekali PJ event yang datang untuk mencetak buku-buku antologi mereka, sehingga harus menambah daftar antrean bulan ini.
Dibawa langkah itu memasuki rumah berukuran minimalis dengan eksterior modern, bercat putih yang dipadupadankan dengan abu-abu muda, cenderung monokrom untuk seorang wanita. Setibanya di ruang tamu, ia melempar punggungnya bersandar pada bantalan sofa, melepaskan stitello dengan tinggi lima centimeter dan menyimpannya di sebelah kaki.
Ia menghela napas, kemudian melempar ingatan pada insiden aneh tadi sore, ketika iseng-iseng membuka aplikasi Microsoft word di PC nya, di sana ia menemukan sebuah file usang berisi sebuah sinopsis , sinopsis yang dia ciptakan dua tahun silam, yang seingatnya akan diangkat menjadi sebuah novel tetapi belum rampung juga. Masih ingat sekali dari mana plot itu bermula, ia mengadaptasi dari kisah nyata tentang masa lalu Bobby sebelum mereka menjadi sepasang kekasih. Di sana tertulis, jika main caracter pada cerita tersebut merupakan seorang pria yang gamon dari masa lalu. Masa lalu yang merupakan cinta pertama dan mereka terpaksa terpisah karena perbedaannya strata sosial yang berbeda. Dengan penuh hati-hati , Sania kembali membaca susunan narasi yang dibuat dengan sebaik mungkin. Sampai pada akhirnya ia menemukan kejanggalannya. Kejanggalan yang akhirnya membuat ia menyimpulkan jika wanita yang pernah membuat Bobby gagal move on adalah Resti–wanita yang kini telah kembali bersamanya dalam status yang sudah berbeda.