"Bagaimana kondisinya?" Bobby mengulurkan tangan menyentuh permukaan perut rata Resti yang sedang duduk selonjoran di ranjang. Resti yang mendapat tindakan manis secara tiba-tiba sempat terkesiap tetapi tidak lama.
"Dia baik-baik saja," sahut Resti seraya mengembangkan senyum pada pria yang merupakan ayah biologis janin dalam rahimnya. Ada sejumput rasa bahagia kala Bobby mau mempertanyakan perihal kehamilannya. Meski bukan pertanyaan istimewa dan bisa dilakukan oleh siapa saja, tetapi hal ini membuat Resti terharu rasanya.
"Dia sehat, Mas," sambung Resti lagi, menyimpan telapak tangan di atas tangan Bobby kemudian memberikan usapan lembut pada tangan besar pria itu.
"Syukurlah, aku senang kalau dia baik-baik saja. Res, aku minta maaf tentang insiden kemarin. Maaf karena menuduh yang enggak-enggak."
"Aku udah maafin kok, meski sempat down karena kamu nggak mau peduli dan terus menyangkal." Resti tersenyum getir ketika tiba-tiba mengingat pertengkaran hebat mereka di kantor tempat kerja milik Bobby beberapa waktu silam. Ingat tentang ucapan pedas yang Bobby berikan padanya dan membuatnya pulang dalam keadaan hancur berantakan.
"Apa Shaka tahu kehamilan ini?"
Resti menggeleng pelan, sampai saat ini ia belum mengatakan apa pun terkait kehamilannya, entah mengapa untuk sekedar membagi kabar kalau ia tengah mengandung membuatnya dilanda rasa takut. Apa karena Resti merasa bersalah telah berbuat macam-macam di belakang suaminya sampai berhasil menumbuhkan benih milik orang lain di lahannya yang kosong?
"Aku tidak berniat memberi tahunya dalam waktu dekat."
"Bagaimana kalau ternyata dia tahu kamu hamil dan lebih parahnya tahu kalau bayi dalam perutmu adalah buah hatiku?" Resti mengerjap untuk beberapa kali, ia menatap wajah Bobby yang bereksperimen cukup serius.
"Aku nggak tahu, Mas. Bisa jadi aku akan diusir dan diceraikan sama dia. Memang siapa yang mau melanjutkan hubungan dengan seorang istri yang sudah dihamili pria lain?"
Ucapan Resti berhasil membuat Bobby menghela napas berat.
"Kalau memang sampai hal itu terjadi, aku yang bakal tanggung jawab. Aku berjanji akan kasih kamu kehidupan yang bahagia bersama anak kita nanti."
Entah kegilaan macam apa yang tercetus dalam pikiran Bobby, padahal sangat sadar jika dirinya tidak sehebat Shaka dan kedudukannya jauh lebih rendah daripada Shaka.
"Kamu serius?" Kedua bola mata dengan bulu mata lentik hasil ekstention itu berbinar terang, usai mendengar ucapan Bobby yang membuat hati mengharu biru.
"Apa kelihatan bercanda? Aku sadar, Res. Nggak seharusnya aku ngomong kayak gitu kemarin. Itu terlalu kasar dan bisa saja melukai perasaan kamu."
"Jujur aku bingung, apa yang bikin kamu berubah pikiran, Mas. Yang awalnya bersikeras menyangkal lalu tiba-tiba mengakuinya."
"Aku sadar setelah mengalami sindrom couvade. Aku nggak bisa menyangkal kalau kamu memang hamil anakku, Res." Resti buru-buru memeluk tubuh liat Bobby dengan cukup erat, kemudian menangis di sana. Resti sedang merasa bingung kali ini, bagaimana cara menghadapi situasi di masa mendatang, tidak mungkin ia terus menerus menutupi kehamilan yang sementara perut tidak bisa diajak berkompromi.
"Sttts ... jangan nangis! Tenang ya, ada aku yang bakal selalu ada buat kamu."
Resti mengangguk, mendapatkan sebuah afeksi yang cukup berpengaruh pada moodnya.
****
Sania menyusun lembar demi lembar naskah yang baru saja di rangkum, lalu menjepitnya menjadi satu dan menyimpannya di atas laptop yang sudah mati. Ia menguap beberapa kali, matanya mulai berair menandakan jika tidak lagi memiliki kekuatan untuk terus membuka mata. Dia memutuskan untuk beranjak dari posisinya, membawa setumpuk naskah serta laptop masuk ke dalam kamar yang tidak terlalu jauh dari ruang utama. Ia bersiap untuk istirahat cepat malam ini tanpa ada beban dan masalah apa pun yang mengganggu pikiran.
Saat ini ia benar-benar telah melupakan keberadaan Bobby yang masih berstatus sebagai kekasihnya, entah mengapa perasannya yang dulu menggilai pria itu, kini berangsur punah setelah tahu jika Bobby seorang pengkhianat. Secepat itu? Tentu saja iya, tidak ada untungnya terlalu lama berlarut dalam duka lalu sulit menghapus luka hatinya.
Setelah sampai di dalam kamar, ia menyimpan dengan baik benda bawaannya barusan di atas meja kemudian berjalan menuju ranjang, membenahi letak bantal lalu menaruh kepalanya di sana.
Tidak menunggu waktu lama, mata yang sejak tadi sudah sangat mengantuk akhirnya terpejam juga.
Sementara di tempat lain, Shaka menatap nanar kartu nama seorang dokter kandungan yang ia temukan terselip di antara tumpukan pakaian yang disusun dalam lemari. Shaka menghela napas menggenggam kartu itu sembari memejamkan mata.
Rumah tangganya memang tidak pernah baik-baik saja sejak awal, tetapi bukan berarti dengan seenak jidat Resti melakukan skandal yang bisa membuat nama baik mereka tercoreng dan hancur berantakan. Dampak dari perselingkuhan ini, tentu tidak hanya merujuk pada mereka berdua tetapi pada keluarga kedua belah pihak juga, lantas bagaimana cara mencegah semua ini agar tidak terjadi? Dibukanya kelopak mata itu kemudian mengerucutkan bibir, tangannya bergerak membolak balik kartu nama berbahan polyvinyl chloride seolah sedang menimbang-nimbang apakah lebih baik ia menghubungi saja nomor yang tertera di sana atau tidak. Minimal ia mengetahui sedikit informasi terkait kehamilan Resti pada dokter yang menangani.
Setelah berpikir cukup lama, berperang dengan isi kepala, akhirnya Shaka memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa, ia justru mendekat pada lemari dan mengembalikan benda sang bukannya miliknya itu ke tempat sedia kala. Meski sedang dipenuhi oleh rasa penasaran, tetapi Shaka tidak ingin bersikap lancang dengan menghubungi dokter kandungan itu.
Tungkai kakinya membawa ia pergi menjauh dari kamar menuju ruang kerjanya sendiri, ia menutup rapat pintu lalu merebahkan tubuh pada sofa kulit berwarna hitam yang tidak jauh dari pintu.
Kembali ia berpikir, bagaimana jika seandainya perselingkuhan Resti ketahuan? Bagaimana jika nanti orang tuanya kecewa atas hal ini? Sungguh melihat kesedihan dari pancaran mata mereka adalah sebuah kesakitan bagi Shaka. Sebagai anak tunggal, dia tentu tidak rela melihat ayah dan ibunya malu dan merasa sedih dengan tindakan menantunya di belakang mereka.
Tangannya terulur naik, menyugar rambut ke belakang kemudian menghela napas panjang. Shaka butuh memenangkan diri sekarang, kepalanya terlalu penuh oleh hal-hal yang tidak pernah mau menghilang dari pikiran. Shaka bangkit dari posisinya kemudian menyambar kunci mobil di meja kerja dan bergegas pergi dari sana. Malam ini ia akan habiskan waktu di bar, dia tidak lagi bisa menahan diri lebih lama dalam situasi melelahkan seperti ini. Mencicipi minuman berkarbonasi rasanya tidak buruk juga baginya yang saat ini butuh sebuah ketenangan.