Melihat Shaka terdampar tidak berdaya seorang diri di meja bar, seorang bartender lantas menghampirinya.
"Maaf, Pak. Sepertinya Anda sudah terlalu mabuk." Shaka bergeming, tidak menggubris ucapan pria bertato yang saat ini sedang mengajaknya berkomunikasi.
"Apakah ada yang bisa saya hubungi barangkali untuk mengabari kalau Anda ada di sini? Anda tidak mungkin bisa pulang tanpa bantuan orang lain." Shaka tahu tujuan bartender tersebut adalah baik, tetapi ia terusik, baginya pria di depannya terlalu berisik karena terkesan menginvasi urusannya. Kemudian ia berdecak kecil lantaran merasa dari sekian banyak bar yang didatangi, baru kali ini ada seorang bar yang peduli dengan pengunjung, dan itu sangat menyebalkan bagi Shaka.
"Hubungi saja nomor yang bertuliskan Sania." Shaka akhirnya menyahut seraya menyerahkan benda canggih dari dalam sakunya, entah apa yang ada di pikirannya dikala tidak lagi sanggup menopang kepala. Padahal bisa saja ia meminta Levin–sepupunya atau Linggar–sahabatnya untuk datang menjemput. Tetapi, Shaka malah menjadikan Sania sebagai pilihan satu-satunya untuk dimintai pertolongan.
"Baik, Pak. Tunggu sebentar." Shaka hanya mengangguk singkat dalam posisi meletakkan sisi kepala pada permukaan meja berbahan marmer. Matanya terpejam karena berusaha meredam rasa nyeri pada kepala. Isi kepalanya berdenyut hebat, hal itu pada akhirnya membuat Shaka merutuki kebodohannya. Seharusnya ia tidak boleh
Sedangkan Sania yang baru saja tidur sebanyak dua jam lamanya, terusik oleh dering ponsel yang menggangu, dia gegas mengerjap beberapa kali kemudian kembali pejamkan mata sebab tidak kuat membuka secara lebar kedua kelopak mata. Tangannya bergerak terulur ke samping, merayap mencari ponsel yang tergeletak di sebelah bantal.
Sempat menggerutu dalam hati, seandainya saja dia tidak lupa mematikan data sebelum tidur tadi, pasti tidak ada yang akan mengganggu tidur nyenyak tengah malam begini.
Tetapi, ya sudahlah! Apa boleh buat? Semua sudah terlanjur. Lagi pula orang gila mana yang menghubunginya dini hari seperti ini. Masih dalam kondisi terpejam, ibu jarinya menggeser icon berwarna hijau lalu menempelkan benda pipih itu di daun telinganya tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Halo."
"Hmm, ya, ini siapa?" Suara yang serak khas bangun tidur langsung menodongkan pertanyaan pada si penelpon yang dengan lancang sudah menghubungi tanpa tahu aturan.
"Saya Bima, Mbak. Benar ini nomornya Mbak Sania?"
"Hmm, kenapa?" sahut Sania lagi nyaris membawa ruhnya kembali ke bawah alam sadar.
"Sebelumnya saya minta maaf udah ganggu waktu istirahatnya. Tetapi, saya melakukan ini sebab berdasar sebuah permintaan. Saya diminta tolong oleh Bapak-bapak pemilik nomor ini untuk menelpon mbaknya, beliau bilang kalau mbak diminta bantuan untuk menjemput beliau di bar Alexis sekarang." Mata yang semula terpejam lantaran dikuasi rasa kantuk, langsung membeliak sempurna, ia sempat menjauhkan sekejap ponselnya sebentar untuk melihat nomor siapa yang menghubunginya saat ini.
Astaga! Mas Shaka?
"Apa ada sesuatu yang terjadi sama dia?" tanya Sania setelah kembali menempelkan benda itu di telinga.
"Beliau mabuk parah, Mbak. Mohon untuk segera datang kemari, saya tunggu. Terima kasih." Panggilan terputus. Sania buru-buru menyimpan ponselnya dalam keadaan asal lalu menuruni ranjang, ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan buang air kecil. Tidak peduli dengan penampilan yang hanya mengenakan setelan piyama bermotif Teddy bear, ia tidak berniat mengganti pakaiannya.
****
"Kamu kenapa mabuk segala sih, Mas?"
Sania menggaungkan pertanyaan pada pria yang duduk bersandar sembari mengurut pangkal hidungnya, kedua kelopak mata terpejam sempurna lantaran nyeri masih terasa sedikit meski sudah diberi obat pereda sakit kepala.
"Iseng, lagi pingin aja," sahutnya tanpa menoleh ke samping. Tatapan itu datar seperti kehilangan daya upaya untuk melanjutkan kehidupan. Sania bisa merasakannya setelah mencuri-curi pandang pada Shaka.
Senyap!
Tidak ada lagi interaksi di antara keduanya, mereka sedang sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Makasih udah mau jemput aku. Maaf aku bikin kamu repot malam ini," ujar Shaka dengan suara yang lirih. Spontan Sania menoleh ke samping, pria itu tidak bergerak, Shaka mengucapkan rasa terima kasihnya dengan cara tidak benar. Tentu saja hal ini membuat Sania sedikit dongkol.
Apa ada orang mengucapkan rasa terima kasih tanda adab seperti ini? Astaga! Benar-benar. Pikir Sania.
Jujur saja, situasi dalam mobil terasa berbeda, atmosfer yang melingkupi ruang itu teramat kikuk sebab ini adalah kali pertama mereka berada dalam satu mobil yang sama.
"Iya, sama-sama. Aku harap semoga kamu nggak lagi melakukan hal seperti ini. Mabuk bukan cara yang bagus untuk mengatasi masalah. Justru hal semacam ini akan menambah masalah."
Celotehan itu di dengar dengan baik oleh Shaka, pria tersebut menangkap dengan baik masukan yang diberikan alih-alih mengabaikannya.
"Iya, aku memang sedikit bodoh saja tadi. Mengikuti sisi egoku dan nggak menahan diri," ungkap Shaka sejujur-jujurnya.
"Kamu kenapa bisa berakhir di sana? Ada masalah?" Shaka membawa pandangannya pada jari-jari yang saling bertaut kemudian menghela napas.
"Nggak usah jawab kalau keberatan." Sania berujar lagi ketika mendapati gesture tubuh Shaka yang tidak nyaman atas pertanyaannya. Lagipula kenapa pertanyaan seperti itu harus terlontar? Seharusnya dia tidak boleh ikut campur tentang apa yang menyebabkan Shaka memilih untuk berakhir bersama minuman keras.
"Aku nggak keberatan kasih jawaban." Shaka kembali mengangkat tatapan dan mengarahkan tatapan itu pada Sania. Buru-buru Sania membuang muka ke arah lain. Sial, dia merasa nervous lantaran dihadapkan oleh situasi seperti ini, ia menarik lagi kata-kata yang mengatakan jika Shaka tidak punya adab karena meminta maaf tanpa memandang pada lawan bicara, Karena sekali Shaka memberi tatapan seperti ini, hatinya benar-benar merasa cemas bukan main.
"Aku berpikiran keras, merasa kasian sama orang tuaku yang udah dipermainkan habis-habisan oleh Resti, Kalau tindakan yang dilakukan dia hanya melukai harga diriku sebagai suami, itu bukan menjadi masalah besar, tapi di sini permasalahan nggak cuma ada sama aku, nggak cuma berakhir di aku. Tapi berimbas sama keluarga yang lain termasuk orang tuaku, apa kata mereka kalau sampai tahu tentang skandal perselingkuhan sampai menyebabkan Resti hamil? Reputasi orang tuaku yang akan aksi sasaran utamanya. Itu pasti."
"Jadi, itu yang membuat kamu marah, dan memutuskan mengakhiri kemarahanmu di meja bar?"
"Hmm ..."
Sania tersenyum tipis, untuk pertama kali Shaka bisa berekspresi marah setelah sekian lama hidupnya terlalu lempeng. Mungkin saja secara tidak sadar pria yang dikenalnya cukup lama ini sudah jatuhkan hati pada sang istri.
"Dia membawa banyak pengaruh besar ya, Mas, Kamu yang terbiasa dengan ekspresi lempeng sekarang bisa nambah ekspresi lain." Shaka langsung meledakkan tawa ketika Sania berujar demikian.
"Tahu apa kamu? Dia nggak ada pengaruh apa pun buat aku, tahu kan kalau pernikahan kami abnormal? Kami sama-sama hidup dalam tekanan jadi ya gitu ... hambar! Jadi jangan mengira pernikahan ini akan mengubah semua tentangku dengan juga dia."
"Emangnya kalian benar-benar nggak saling cinta sama sekali ya?"
Shaka menggeleng tanpa beban, hal yang membuat Sania justru mengigit bibir bawahnya karena merasa percuma saja menyusun strategi merebut Shaka dari Resti, karena pada dasarnya Resti tidak akan peduli dengan ini.
"Kenapa?" Sania menoleh ke samping.
"Aku jadi berpikir, Resti tidak akan peduli dengan apa pun yang aku lakukan selagi dia nggak ada rasa sama kamu."
"Memang apa yang mau kamu lakukan?"
"Menjalin hubungan di belakang mereka, aku dan kamu ... kita pacaran."