Kita coba

1012 Words
"Kalau kamu mau, kita bisa mencobanya." Shaka menyahut secara gamblang tanpa beban, membuat Sania tercengang dan nyaris saja menekan rem secara mendadak tetapi tidak jadi karena masih sadar jika tindakannya ini pasti berpotensi membahayakan lalu lintas di belakangnya. Ia memutuskan mengatup rapat kembali bibir dan melempar pandangan ke depan setelah satu kali berdehem singkat. Entah mengapa tiba-tiba saja pipinya terasa panas, apakah karena ucapan barusan? Sungguh dia tidak memiliki ekspetasi lebih pada tanggapan Shaka justru seperti ini, seolah memang memberikan sinyal secara terang-terangan dan jalan yang lancar untuk starteginya. Kenapa nggak nolak? Kan ini cukup berbahaya. Bukannya hal ini juga bakal jadi skandal besar ? Oh. Ayolah! Jangan terlalu berlebihan dalam menanggapi. Bisa saja jawaban seperti itu terjadi sebab kewarasan Shaka belum terkumpul sepenuhnya, tahu kan kalau sebetulnya pria itu sedang berada di ambang ketidaksadaran akibat menenggak minuman berkarbonasi yang memabukkan? "Lho, kok malah diem?" "Terus aku harus respon gimana?" "Ya gimana kek, kan kamu baru aja ngajak aku pacaran?" "Ck, jangan diperpanjang deh!" "Kenapa? Padahal aku tadi serius lho." Shaka mencondongkan tubuh ke samping lalu menatap lekat manik kelam milik Sania yang kini mengarahkan kendaraan roda empatnya ke sebuah cluster tempat tinggal Shaka. "Mas, udah. Jangan lihatin aku kayak gitu. Ayo balik ke posisi semula!" "Kalau aku nggak mau?" "Alasan nggak maunya kenapa? Jangan ganggu konsentrasi orang lagi nyetir dong, Mas!" Sania mendengkus menggambarkan rasa jengah. "Kamu cantik, San" Sekali lagi! Sania mendelik setelah mendapatkan pujian demikian. Demi apa pun, ia tidak mengenali Shaka yang seperti ini. "Wah, lagi nggak waras beneran ini orang." Shaka terkekeh mendengar ucapan Sania lalu mengubah posisi tubuh seperti semula. Sementara, Sania tersenyum kikuk dan bergerak menggaruk pipi kirinya yang sebetulnya tidak gatal. "Lupain omongan aku barusan, itu sekedar wacana aja sih belum benar-benar fix." "Hmm, iya ... aku turun dulu ya. Makasih udah mau jemput." "Bisa jalan?" "Bisa kok, berkat obat yang kamu kasih tadi, nyeri kepalaku sedikit membaik." Shaka melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuh bagian depan. Lalu kemudian menekan handle pintu mobil. Sebelum benar-benar pergi, Shaka sempat menoleh ke belakang lalu memendarkan senyum pada Sania, lalu berujar. "Hati-hati di jalan ya!" "Iya, Mas. Kamu juga. Good night, bye ..." Sania kembali melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Shaka. Sepenggal kejadian di mobil tadi masih membekas dalam ingatannya ketika secara impulsif mengajak Shaka menjalin hubungan diam-diam. Hah ... Sania bodoh kalau begitu! Apa bedanya dia dengan pasangan pengkhianat kalau dia juga melakukan hal serupa? Ck, sepetinya ia harus mengubah total alur strateginya. **** Resti terbangun dalam dekapan hangat sang kekasih gelap, menyambut pagi dengan senyum sebab semalam mereka telah melakukan hal yang sangat luar biasa. Permainan mereka didominasi oleh emosi yang sama-sama menggebu sehingga menciptakan bekas yang mungkin tidak terlupakan daripada momentum-momentum sebelumnya. Resti masih dapat merekam dengan jelas setiap inci permainannya. Tubuhnya bergerak turun perlahan dari ranjang agar tidak mengusik Bobby, kemudian berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan kekasihnya yang masih mendengkur halus. Di bawah kucuran air shower, ia memejamkan kedua kelopak mata, menikmati titik-titik air yang membasahi sekujur tubuh mulai dari rambut hingga pangkal kaki. Dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba saja ia teringat akan dosa yang telah dilakukan dengan sengaja, dosa yang berdampak sangat fatal lantaran kehadiran sang buah hati yang tidak ada dalam wacana. Dibawanya tapak tangan meraba perut ratanya kemudian menghela napas. Ia mematikan keran kemudian menunduk sebentar menatap ke bawah. Ia sadar, selama setahun belakangan ini ia telah menghancurkan kehidupannya sendiri, dengan bermain api bersama mantan kekasih yang seharusnya tidak dilakukan mengingat ia berstatus sebagai seorang istri. Tapi, sayang sekali, akalnya yang tidak waras justru berhasil mendorong dirinya masuk ke dalam jurang kegelapan, memilih kembali melanjutkan hubungan yang belum usai meski tahu ini tidak boleh. Satu tahun lalu, ia baru saja meresmikan pernikahannya dengan Shaka, dan di saat bersamaan ia bertekad menjalin hubungan dengan Bobby, ia pikir hal ini tidak ada berpengaruh sebab ia tidak memiliki perasaan apa apa pada Shaka. Tetapi, lambat laun rasa takutnya mulai timbul, ia selalu dilanda rasa bersalah dan lebih parahnya setelah ia dinyatakan hamil oleh dokter. Semua dalam dirinya terasa chaos tak terelakkan. Banyak hal yang di; tentang ayah ibunya, mertuanya, suaminya, dan Bobby. Selama berhari-hari mengalami stress, terlebih lagi setelah sempat mendapat penolakan dari Bobby. Ia kebingungan bukan main karena tidak tahu akan kemana dirinya membawa janin ini. Sangat tidak mungkin jika dirinya datang pada Shaka dan mengakui ini sebagai janin suaminya, jelas itu sangat mustahil. Mengingat mereka jarang melakukan hubungan suami isteri. Ya, meski nyatanya mereka hidup bersama dalam satu atap dalam keadaan tidak saling menginginkan satu sama lain, tetapi, tidak dapat menafikan jika kebutuhan biologis sadar mereka butuhkan. Tangannya terulur meraih botol sabun cair yang berada di rak dinding, lalu membusai seluruh tubuhnya tanpa terkecuali. Tok! Tok! Tok! "Resti?" Suara ketukan dari luar, menghentikannya sejenak aktivitas Resti di dalam sana. "Ada apa?" sahutnya dari dalam setelah kembali mematikan keran agar suara air tidak meredam suaranya yang menyahut. "Kamu masih lama?" "Hmm-mm. Tunggu sebentar lagi, aku sebentar lagi selesai kok." "Oke! Aku tunggu." Bobby membawa tubuhnya menjauh dari daun pintu yang tertutup rapat. Melangkah gontai menuju ranjang dan mendudukinya, ia menghadap pada pintu kamar mandi dengan tatapannya kosong dan hampa. Tiba-tiba sekali? Entahlah ada sejumput rasa bersalah telah bermain api di belakang wanita yang telah tulus padanya. Jujur, ia memang mencintai Sania, tetapi tidak dapat dipungkiri jika jiwanya masih menginginkan Resti, menginginkan kebersamaan mereka. Dulu mereka adalah dua orang yang terpisah oleh keegoisan, mereka dipaksa usai ketika masih saling mencinta dan merajut asa yang mungkin tidak mudah untuk dihapus begitu saja usai berpisah. Lalu setelah sekian lama tak jumpa, tiba-tiba takdir mempertemukan mereka dalam keadaan yang berbeda. Mereka saling memiliki. Kenangan demi kenangan berputar konstan di kepala, membuat Bobby merasa pening bukan main. Ia mengerang pelan sembari menekan pangkal hidung bangirnya. Ia sudah membuat keputusan bulat semalam, rela bertanggung jawab atas janin dalam kandungan Resti. Lantas bagaimana dengan kehidupan di masa mendatang? Ya Tuhan ... mengapa pemikiran demikian harus muncul lagi di dalam kepala? Kenapa hal seperti ini kembali membuatnya goyah setengah mati. Meski sudah mengikrarkan janji, nyatanya hal itu tidak membuatnya yakin sebab dilema kembali datang memenuhi kepalanya. Maafkan aku, Sania...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD