Karena ini merupakan hari libur, Sania memutuskan untuk memanfaatkan waktu liburnya membuat muffin saja di rumah, menjajal resep yang baru diunduh dari Internet kemarin dan berniat memberikan hasil kreasinya di dapur pada orang tuanya juga Shaka. Entah mengapa tiba-tiba saja nama Shaka terlintas dalam daftar yang harus sekali mencicipi hasil kreasinya. Dia tidak tahu.
Sania bergegas pergi ke dapur usai mandi dan mengganti pakaian santai, ia akan memeriksa apakah bahan-bahan yang dibutuhkan masih ada atau tidak, dan beruntung sekali semuanya masih tersusun lengkap di dalam kabinet, jadi ia tidak perlu repot-repot berbelanja lagi.
Hal yang pertama ia lakukan adalah menyiapkan semua bahan–memindahkan tepung, telur, s**u cair, dan bahan-bahan yang lain dari tempatnya ke atas meja, kemudian menyusunnya sejajar supaya tidak berantakan. Dirasa semua bahan sudah siap, barulah ia mengambil mixer untuk membuat adonan.
Dia memang bukan pembuat dessert yang handal, tetapi dessert hasil buatannya cukup layak di terima oleh lidah dan berakhir di perut dengan aman. Beberapa kali mencoba membuat beragam dessert dengan hasil yang selalu memuaskan. Percayalah! Dessert buatannya wajib diacungi dua jempol karena ayah dan ibunya sendiri sering menjadi kelinci percobaan dan mengatakan jika hasil buatannya sangat enak.
Setelah beberapa lama berkutat dengan bahan yang kini tercampur menjadi satu, akhirnya adonan berwarna coklat muda itu siap untuk memasuki tahap akhir. Pelan-pelan , ia menuang adonan bertekstur kental itu dalam cetakan yang tersusun dalam loyang untuk kemudian dipanggang. Selagi menunggu muffin matang dan mengembang sempurna, Sania bergegas mencuci seluruh peralatan yang habis digunakan, lalu membersihkan dapur dengan cairan pembersih. Setelah dirasa tugasnya selesai dan dapur kembali bersih seperti sedia kala–bebas dari taburan tepung yang tidak sengaja tercecer dan margarin yang tidak sengaja menempel di permukaan meja–ia pun bergegas membuat minuman, ia baru ingat kalau belum minum sama sekali sejak melakukan tahap awal membuat adonan tadi.
Sania mengambil cangkir kaca dan menyimpannya di atas meja, lalu menjangkau teh gaharu di dalam kabinet khusus untuk di seduh. Teh ini didapat dari sepupunya yang baru saja pulang dari Kalimantan, sebetulnya teh ini tersimpan sudah sedikit lama di dalam toples, belum sama sekali terjamah sebab terkadang tidak sempat. Karena ia baru ada keinginan mencicip sekarang, maka dibuatlah teh gaharu itu. Selagi panas, ia menyesap perlahan dan sedikit demi sedikit cairan berwarna pekat yang dibumbui oleh aroma khas tersebut.
Rasa hangat langsung mengaliri tenggorakan yang sedikit gatal karena radang.
Ting!
Suara oven berbunyi, Sania buru-buru bangkit dan menyimpan gelas dalam genggamannya di atas meja. Ia menghampiri oven yang selama lima belas menit memanggang dan mematikannya.
"Wah, wangi banget ...bikin apa lo?" Spontan saja kepalanya menoleh ke belakangnya ketika ada suara orang lain yang tiba-tiba muncul mengejutkannya.
"Muffin," sahut Sania singkat.
"Rajit amat." Rinka mendekat kemudian menarik satu buah kursi yang tidak jauh dari posisi Sania berada.
"Biasalah, lagi nggak ada kegiatan, gabut. Makanya bikin ini." Diangkatnya loyang yang baru ditarik dari oven lalu dibawanya ke meja.
"Tumben gabut? Nggak jalan sama Bobby emang?"
"Bobby lagi ke luar kota," sahutnya sembari memindahkan muffin dengan taburan choco chips menggunakan capit.
"Keluar kota? Perasaan akhir-akhir ini dia sering banget ke luar kota, masa dalam seminggu bisa sampe dua kali sih?"
"Ya mana gue tahu! Lagian biarin aja kali, Rin. Namanya juga kerja." Semua muffin berhasil dipindahkan dek dalam piringan berukuran besar, lalu Sania membawa loyang kosong itu ke arah wastafel.
"Lo nggak ngerasa gimana gitu kalau pacar lo makin sibuk sama urusannya? Dia jadi mengabaikan lo."
"Ya ngerasa sih, tapi mau gimana? Apa gue punya hak buat melakukan aksi protes? Nggak kan?"
"Tunggu ..."
"Apaan?"
"Gue baru sadar respon lo lempeng banget dari tadi. Ada apa? Ada masalah lo sama dia?"
"Apa sih? Lempeng gimana coba? Perasaan biasa aja responnya"
"Ya, kayak kurang excited gitu, biasanya kan suka bener tu kalau ceritain soal Bobby ke gue. Jadi curiga gue, jangan-jangan lo udah mulai bosen, ya? Makanya lo cenderung kayak malas bahas dia."
Sania tidak menyahut lagi. Dia memutuskan lebih dulu menyelesaikan pekerjaan sampai benar-benar selesai. Karena kalau disambil dengan mengobrol, dia yakin pekerjaannya tidak akan pernah tuntas.
"Nanti ada waktunya lo bakal tahu, Rin. Nggak sekarang!" Pada akhirnya Sanua kembali membuka suara sembari mengeringkan tangan di bawah hand dryer.
****
Sania menekan bel pintu rumah Shaka sebanyak dua kali, ia berdiri tepat di depan pintu dengan membawa paper bag berisi muffin buatannya dengan jumlah tidak sedikit. Berharap semoga Shaka suka. Sengaja berani datang kemari karena ia tahu kalau Resti masih ada di luar kota bersama Bobby. Tidak masalah kan, kalau Sania bertandang ke rumah suami orang yang sementaranya istri dari pria ini justru bermesraan dengan pria yang merupakan kekasih orang?
Pintu terbuka sempurna, buru-buru Sania memamerkan senyum pada pria di depannya.
"Hai, Mas."
"Hai juga, tumben nggak kasih kabar dulu?"
"Kan surprise. Boleh masuk nggak?"
Shaka terkekeh kemudian menggeser tubuhnya ke samping, memberikan akses pada Sania untuk masuk ke dalam rumahnya yang sepi.
"Aku bawain muffin. Kamu suka kue manis kan?"
"Suka, apa aja aku suka. Makasih banyak, San." Sania mengangguk seraya mengulurkan paper bag berwarna coklat pada si pemilik rumah.
"Mau minum apa?"
"Udah bikin teh sih tadi di rumah, jadi nggak usah repot-repot."
"Oke-oke. Aku bawa dulu ke dalam, ya. Tunggu di sini sebentar." Sania mengangguk membiarkan tubuh dengan postur proposional itu menjauh dari pandangan.
Sania tersenyum kecil, terkesan getir. Kasihan sekali pria yang dipaksa mengubah kamus hidupnya kemudian dihadapkan oleh ketakutan yang menjadi kenyataan.
Sania ingat ketika Shaka mengatakan secara gamblang alasan mengapa ia tidak mau menikah; Shaka benci sebuah pengkhianatan, benci sebuah perceraian. Tetapi sayang sekali, orang tuanya yang egois justru menyeret Shaka ke dalam konsep kehidupan yang rumit.
"Maaf lama." Sania menarik seluruh lamunanya tentang Shaka. Kemudian tersenyum lagi.
"Nggak apa-apa. Aku ke sini nggak ganggu kamu kan, Mas?"
"Nggak lah, ganggu apa emang? Kan hari libur, nggak ada kegiatan penting yang menuntut aku untuk sibuk."
"Iya ya! Ini kan hari libur, tapi kenapa mereka berdua justru sibuk seolah-olah pekerjaan mereka nggak ada habisnya?" Sania meraba dagunya.
"Memang siapa yang bisa menunda hawa nafsu?" sahut Shaka santai menanggapi pertanyaan random yang keluar dari mulut Sania.
"Iya ya ... betah amat lagian di luar kotanya."
"Ya bisa mereka lagi bersimulasi jadi pasangan suami istri." Shaka mengangkat kedua bahu seraya mencebikkan bibir ke bawah.