14

1017 Words
Setelah Om Rasyid membalikkan badan kini dia mengedarkan pandangannya pada kami semua. Pria garang berwajah angker itu langsung kembali melotot dan menuding kami semua. "Apalagi yang kalian tunggu berdiri di situ? Kenapa tidak masuk dan bantu para asisten untuk membereskan kekacauan yang ada di dalam rumah. Kenapa kalian tidak turut serta menjamu tamu dan malah membuat keributan? dasar tidak berguna!" Aku yang tidak menjawab apa-apa lantas kembalikan badan dan masuk ke dalam sementara ibu mertua hanya diam saja sambil memberi isyarat kepada putranya untuk ikut masuk. "Alvin, tunggu kamu, aku ingin bicara!" Ucap om Rasyid. "Iya Om, ada apa?" "Temui aku di ruang belakang, aku akan bicara padamu!" "Iya, om." Seusai memastikan para tamu sudah pulang, sembari minta maaf pada mereka jika telah merasa tidak nyaman, aku segera mengantarkan mereka ke gerbang lalu masuk lagi dan mencari suamiku yang ternyata sedang bertemu di teras belakang dengan omnya. "Hah, ini Indira, kebetulan aku sedang menunggumu!" "Iya, om, ada apa." "Jadi selama ini kau sudah tahu bahwa Alvin melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan Kenapa kau tidak memberitahuku?" "Bagaimana aku harus bagaimana lagi, aku harus menyimpannya rapat-rapat karena ini adalah rahasia keluarga kami." "Kalau memang ini adalah rahasia besar lalu kenapa kau ungkapkan di hadapan semua orang, apakah kau sudah gila? jika kau perduli tentang kehormatan keluarga, lalu kenapa kau menguliti kami di depan semua orang? Alvin adalah keponakanku dan tentu saja jika dia malu maka kami juga akan malu!" "Aku harus bagaimana lagi ketika aku sudah tak tahan! Apakah Om tidak mengerti perasaanku?" "Lalu apa solusinya untuk wanita itu?" "Aku yakin setelah Om mengusirnya maka dia tidak akan datang lagi untuk mengulangi perbuatannya." "Bagaimana kalau dugaanmu meleset? Dan mereka makin nekat bersama?" "Itu artinya mereka tidak punya malu!" "Kalau nekat menikah lagi tanpa izin bagaimana?" "Maka aku akan ...." Om Rasyid mengerjakan alis dan memicingkan mata tanda menunggu jawabanku. "Apa ....?" "Menceraikan suami, degan terpaksa," jawabku. "Ah, ya Tuhan ... itu bukan solusi." "Lalu, kenapa tidak biarkan saja mereka bersama lalu bila perlu ajak dia ke dalam rumahmu dan berikan dia pelajaran bahwa mempunyai madu itu sangat menyakitkan!" "Bagaimana kalau justru saya yang kapok bukan malah dia?" "Artinya, cinta dan kesabaranmu tidak begitu besar untuk Alvin," jawab Ibu mertua. Ya Allah, keluarga macam apa ini, ada ketimpangan yang terjadi ketika mereka ingin agar aku bersikap bijaksana dan menerima apapun keputusan mereka, sementara aku tidak diizinkan untuk menunjukkan keinginan dan tindakanku. "Saya memang mencintai Alvin tapi, saya masih mampu membedakan mana kebodohan dan mana cinta?" "Jadi kau tidak akan membagi suamimu?" "Pertanyaan itu harusnya dilayangkan padanya, siapa yang akan dia pilih keluarganya atau kekasihnya?" "Bagaimana Alvin?" tanya om Rasyid, sebagai adik dari ayah mertua Om Rasyid merasa bertanggung jawab kepada para keponakannya. Aku berterima kasih untuk hal itu. "Saya tidak tahu om, saya merasa bersalah dan minta maaf kepada istriku. Juga minta maaf kepada keluarga Karena sudah membuat malu dan minta maaf kepada Rifki karena saya sudah menyakitinya." "Hahahah memalukan sekali, sudah punya istri tapi masih mencari kepuasan di dalam wanita lain. Apakah jiwa petualanganmu sangat besar Alvin?" Kini Rifki mengejek sepupunya sendiri, Mas Alvin hanya bisa menghela napas sambil menunduk. "Gini aja Pa, kalau Alvin memang cinta pada Mona, nikahkan saja agar dia tahu betapa pusingnya punya dua istri!" "Aku tidak setuju, lagipula sepertinya wanita itu tak hendak menjalin komitmen dengan mas Alvin dengan serius." "Kau tidak lihat betapa percaya dirinya dia mengatakan kalau mereka saling mencintai! Kalau sudah berada di level seperti itu artinya dia sudah mempertimbangkan segala konsekuensinya. Sepertinya wanita itu tidak tahan lagi ingin bersama dengan Alvin." Entahlah, aku lelah dengan percakapan seperti ini, dadaku sesak, jantungku berdegup makin kencang, serta ada kegelisahan yang sulit aku gambarkan, dan juga ... rasanya diri ini mulai gerah. Aku putuskan untuk bangun saja meninggalkan Mas ALvin dan anggota keluarganya untuk berembuk dan menyelesaikan akibat ulah keponakan mereka sendiri. "Tunggu kau tidak boleh ke mana-mana!" ucap Tante Hani. "Aku lelah tante, kepalaku agak pusing," jawabku. "Masalah ini tidak akan selesai jika kau tidak mengambil keputusan. Kurasa wanita itu tidak akan menyerah dia tetap akan mengganggu hubungan kalian jika tidak ada penyelesaian dari suamimu._" "Baiklah Mas ALvin," ucapku sambil memandang suamiku. "Aku minta dengan penuh hormat dan atas dasar cinta dan baktiku sebagai istri padamu, aku mohon, berpisahlah dengannya." Tak menjawab, pria itu hanya menggeleng pelan dengan wajah yang terlihat sangat galau, jelas, dia terlihat bingung sekali. "Sebenarnya aku sudah tahu sejak dulu tapi aku selalu bersikap diam dan berusaha sabar, itu semua bukan karena aku bodoh tapi semata karena aku menunggu kesadaran darimu. Tolonglah jika kau masih memikirkan tentang keluarga dan anak-anak kita maka tinggalkanlah mona." Tanpa terasa air mataku mengalir begitu saja, tak mampu kutahan, akhirnya hal yang selama ini kupendam sendiri meluap begitu saja di depan semua orang. "Aku bersabar dan tidak mencoba untuk mengintervensi kalian karena masih memikirkan keluarga kita dan anak-anak. Jujur saja aku melakukan itu bukan karena aku tidak bisa hidup tanpamu, Aku melakukan Itu demi Rina dan gema. Tolong hargai aku!" "Sudah dengar kau! Masih pula kau ingin bergelayut dengan selingkuhanmu, apa kau tak punya malu pada istrimu?" "Tidak, Om, aku tidak bermaksud begitu ...." "Dengar Alvin jika aku masih mendengar kau berhubungan dengannya, aku bersumpah ... Aku sendiri yang akan memberi kalian pelajaran!" "Iya, Om." "Lepaskan wanita itu karena hubungan yang kalian jalani hanya kenikmatan sesaat. Setiap kali kau menyelesaikan sesi pertemuanmu dengan wanita itu maka hatimu akan gelisah karena dibebani oleh dosa dan rasa bersalah pada istrimu. Tidak perlu membohongi perasaan karena aku tahu betul seperti apa rasanya!" ucap om Rasyid dengan nada tegas. "Baik, Om." "Telepon sekarang juga pacarmu dan katakan padanya bahwa hubungan kalian berakhir!" Melihat Om Rasyid melemparkan ponsel pada suamiku, tentu saja Mas ALvin langsung gelisah dan pucat. Dia benar benar gemetar dan ragu. "Kau tidak mau?" "Bukan begitu ... Biar aku bertemu dengannya dan kami akan selesaikan dengan baik-baik." "Tidak bisa tidak boleh ada pertemuan lagi diantara kalian karena itu akan memantik kerinduan dan bukannya malah putus, kalian akan b******a lagi." "Tidak Om." "Aku tidak bisa memegang janjimu. Jika kau telah berani menghianati istrimu, apa sulitnya bagimu untuk menghianatiku! Telepon kekasihmu sekarang atau aku akan menginjak lehermu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD