15

985 Words
Melihat betapa tegasnya Om Rasyid, aku seakan diberi angin segar dengan hadirnya salah seorang anggota keluarga yang mendukung diri ini. Om Rasyid tampaknya bersikap tegas demi martabat dan kehormatan keluarga. "Ba-baik, Om, saya akan telpon." "Sekarang juga!" ujar Paman suamiku dengan mata sangar. Bagaimana dia tidak ditakuti kalau dia adalah seorang pensiunan polisi, tubuhnya tinggi tegap dengan warna kulit sawo matang, ada kumis di atas bibirnya yang sedikit tebal serta tatapan matanya yang nanar. "Kenapa lama sekali diangkat?!" "Saya tidak tahu Om?" "Haruskah aku menelponnya dari nomorku?" "Tidak usah oM." Karena tidak kunjung menjawab juga akhirnya suamiku mulai menyerah menghubungi kekasihnya. "Di mana wanita itu bekerja?" "Dia menjadi bartender di sebuah club' yang cukup terkenal," jawab Mas Alvin. "Pantas saja kelakuannya jalang, jika jam kerja dan dunianya adalah dunia malam." "Tapi Tidak semua seperti itu om ...." "Kebanyakan begitu!" bentak Om Rasyid dengan tegas, suamiku kembali gemetar sambil menelan ludah. "Mana alamat wanita itu agar aku bisa menemuinya!"mendengar perintah dari operasi tentu saja Mas Alvin langsung menggeleng cepat dan pucat dia pasti panik membayangkan bagaimana jika pria sangar itu pergi menemui kekasih gelapnya. "Ti-tidak usah Om, itu tidak diperlukan," jawabnya dengan suara tegang. "Bisa-bisanya kau menyandingkan istrimu dengan wanita dari bar itu, tidak bisakah kau dapatkan wanita yang lebih baik?" "Ah, aku hanya ... khilaf Om, aku minta maaf." "Jika kau merasa khilaf maka perbaiki kesalahanmu, temui istrimu dan minta maaf, lalu putuskan wanita bernama Mona itu dan berjanjilah pada diri sendiri agar kau jangan temui dia lagi." "Iya, Om," jawab Mas Alvin lemah. "Aku ini adalah adik ayahmu sehingga secara tidak langsung aku harus bertanggung jawab kepada seluruh anggota keluargaku, Aku tidak mau adalah ada salah seorang yang membuat malu dan mencoreng nama baik. Meski aku tahu bahwa urusan punya kekasih gelap adalah hak dan privasimu, tapi aku tak bisa diam karena itu perbuatan yang salah." "Iya, itu benar," ujar istrinya, Tante Hani. " Iya, maafkan aku," jawab Mas Alvin menunduk. "Boleh saya bicara sebentar?" tanyaku menyela. "Iya, silakan," jawab Om Rasyid, sementara sang ibu dari suamiku merasa tidak nyaman dengan tatapanku. "Apakah salahku hingga kau tega melakukan ini. Jika hanya perkara kesenangan saja... Apakah kau kurang senang bersamaku?" "Tidak sama sekali." Suamiku langsung mendongak menatap mataku, sementara Om Rasyid berdeham sambil menggelengkan kepala, Mas Alvin makin menunduk malu lagi. "Jadi kau masih ingin mempertahankan Indira?" "Tentu saja." "Kau menyayangi anak-anakmu dan masih ingin bersama mereka?" "Iya, Om." "Kalau begitu Kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan. Iya kan?" "Tapi aku terlanjur...." "Kau terlanjur memberi janji untuk menikahi wanita yang sudah kau tiduri?" "Bukan begitu..." Mas ALvin seakan tersudut dan tidak bisa menyembunyikan apa-apa dari pamannya itu. "Kalau begitu apa? Kurasa kau tetap akan mengejar wanita itu meski kau sudah berjanji padaku! Katakan apa yang kau inginkan!" "Saya akan berpisah darinya, saya janji!" "Bagus, sekarang semuanya sudah selesai. pulanglah kamu dan istrimu, lalu setelah ini, aku tidak mau ada drama perselingkuhan lagi, terlebih wanita itu berani menginjakkan kakinya ke rumah ini." "Iya, Om." Suamiku mengangguk lalu memberi isyarat padaku bahwa kami harus pulang. Aku berpamitan dengan semua anggota keluarga, kusalami tangan Om dan Tante, para sepupu dan ibu mertua. Meski beliau terlihat sangat kesal karena aku mengekspos perbuatan anaknya tapi wanita itu tetap diam saja di hadapan adik suaminya. Mungkin dia akan merasa tidak enak jika harus marah padaku di depan semua orang. * Kali ini mobil Pajero milik suamiku berjalan di jalan layang yang memutar menuju ke arah jalan utama yang terhubung ke jalur rumah kami. Sepanjang perjalanan suamiku diam saja, aku pun memisu, tak mau mengungkit yang terjadi barusan karena tahu persis sesuatu sedang menekan dan merumitkan hatinya. Jika aku terus mengoceh maka ia akan emosi dan terjadi pertengkaran lagi di antara kami. Kata orang, pernikahan itu bukan tentang cinta dan komitmen saja, tapi, tentang seni berkomunikasi untuk saling memahami. Sejauh ini, setelah kuberkaca pada diriku sendiri, aku tak merasa bahwa aku kurang terbuka atau menyusahkannya. Aku selalu berusaha untuk menjadi istri yang pengertian, mendampinginya dalam susah dan senang, serta mendukung segala sesuatu yang menjadi rencananya untuk masa depan. Hubungan kami baik, hingga tiba tiba si Mona dari negara api menyerang. Bahkan ketika dia bersama selingkuhannya pun, suamiku tetap bersikap hangat. Aku Aku tidak tahu apakah itu memang bentuk ketulusannya atau sikap yang dibuat-buat untuk menutupi bahwa dia sekarang sedang menanggung rahasia dan dosa, yang jelas, andai kami tidak berjumpa di toko perhiasan aku tidak akan pernah tahu hubungannya dengan Mona. Dan aku, mengapa aku masih berdiri dan bertahan di sini, karena keluargaku, rumahku, rencana masa depanku dengan Alvin adalah milikku. Rumah dan anak-anakku adalah istana yang tidak akan pernah kuserahkan pada wanita manapun entah siapa pun dia. Aku harus bertahan untuk menang, bagaimana pun itu, aku tidak boleh kalah. "Apa kau sudah puas?" tiba tiba pecah suara suamiku memulai percakapan, anak anak yang duduk di belakang sibuk menatap pemandangan malam dari luar kaca mobil. "Belum, belum puas sampai kau bertobat." "Jangan hanya menyuruhku bertobat, kau harus instrospeksi dirimu," jawabnya. "Perselingkuhan tidak hanya terjadi karena kekurangan dari seorang istri. Ada wanita yang hidup menjadi istri yang sempurna tapi sang Suami masih saja centil mencari w***********g, kadang yang salah bukan wanitanya tapi malah si pria!" Pandangan mata kami beradu, ia kembali membuang muka dan menatap lurus ke depan sambil mendengus. "Semua keluargaku sudah turun tangan untuk memisahkan aku dan dia, menurutmu kau sudah berhasil?" "Aku tidak menargetkan keberhasilan, Aku hanya ingin keluargaku utuh dan bahagia, aku juga akan memprioritaskan kenyamanan anak-anak, tidak mau mereka terganggu oleh pikiran tidak penting tentang perselingkuhan ayah mereka atau bayang-bayang akan punya ibu tiri," jawabku dengan senyum sinis. "Astaga ..." "Untuk apa kau berselingkuh jika pada akhirnya kau tidak hendak menikahi wanita itu? Sampai kapan petualangan itu akan berakhir? Teganya engkau berbagi hati dan tubuhmu tanpa memperdulikan konsekuensi dosa dan kemungkinan penyakit yang akan kau tularkan kepada orang lain! Kau memang Bodoh," desisku. "Cukup, hentikan mengintimidasi diriku. Kau sudah menang di hadapan keluargaku jadi tutup mulutmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD