Kubayar

817 Words
Saya akan berterima kasih sekali Jika kalian berkenan untuk like komen dan subscribe. ❤️❤️❤️❤️ Aku tidak punya kosa kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan wanita yang kini sedang berjalan di trotoar bersama suamiku, selain kata jalang! Mereka berjalan mesra bak dua muda mudi di mabuk cinta, tidak peduli dengan status bahwa yang digandengnya adalah suami orang, tingkahnya seakan dunia milik mereka berdua. Wanita cantik berambut sebahu dengan kaki jenjang dan kulit kuning langsat itu, pakaiannya mewah dan bersamanya ia jinjing paper bag dari brand brand ternama. Siapa lagi yang akan memuaskan hasrat belanjanya kalau bukan pria royal yang kini berprofesi sebagai manager keuangan di perusahaan besar, suamiku, Mas Alvin. "Miris sekali, makan nasi dan garam denganku, setelah sukses makan steak dengan wanita lain," gumamku sambil meremas kemudi mobil. Bukan kemudi saja yang jadi sasaran kekesalanku, tapi hati ini juga ikut diremas dan tertusuk rasanya. Tadinya aku tak percaya bahwa Mas Alvin yang romantis dan selalu menunjukkan ke'bucinannya padaku, ternyata punya wanita lain di hatinya. Aku tak mengira, sosok yang selalu menyayangi keluarga dan selalu di rumah tiap malam Minggu, tenyata pandai menyelipkan waktu untuk mencari celah, laku menjalin cinta dan m*****i kesucian ikatan pernikahan kami. Tadinya, aku tak percaya tentang omongan beberapa teman arisanku yang pernah melihat Mas Alvin berjalan dan mengencani daun muda. Aku tidak percaya sampai aku melihat sendiri buktinya. Merasa tak sanggup lagi menunggu di mobil saja, aku segera mengenakan kaca mata dan masker, kuikuti mereka yang kini masuk ke butik perhiasan. Sengaja kupilih tempat paling nyaman untuk mengintai dengan pura pura membeli perhiasan juga. "Sayang ini cocok gak?" "Ya, ambil yang kau sukai, Babe." Ya Tuhan, betapa royalnya dia. Sebenarnya aku ingin menangis sekencang mungkin saat melihat suamiku sedang memilih cincin dan mencoba memakaikannya ke tangan wanita berlesung pipit dan hidung yang bangir itu. Dia memang cantik, tapi apakah pantas Mas Alvin melakukan itu padaku? "Apakah ini calon istri Anda, Pak?" "Ah, iya, kami akan menikah," jawabnya. Mendengar itu, jantungku seakan berhenti memompa, aku tak mampu mengendalikan rasa syok sampai aku hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangan. Dadaku seperti dihantam batu besar lalu urat syarafku tersentak dan seketika aku hampir terjatuh pingsan andai tak bertumpu pada sisi meja pajang. Aku sendiri terkejut mengapa reaksi tubuhku bisa sedrastis itu melihat pemandangan menyedihkan di depan mata. Mereka nampak bahagia sekali, sementara aku, berkaca kaca menahan linangan air mata. "Berapa harga cincinnya." "Kalau ini dua puluh enam juta, Pak." Apa, angka yang sangat besar. Meski gajinya besar, tapi kami hidup sederhana dan memilih menabung untuk masa depan anak. Darimana dia dapatkan uang untuk menyisihkan sebanyak itu. Mengapa ia tidak terbuka padaku tentang pendapatannya. "Gimana sayang? Aku cantik kan pakai ini?" "Iya, cantik sekali," balas suamiku sambil mencium bibir mungil kekasihnya, atau jalangnya. Si binal tidak punya malu itu, tersenyum saja, tanpa merasa sungkan dengan beberapa pelayan toko dan pengunjung. Air mataku menitik saat melihat pemandangan itu, hatiku makin terluka, tersayat dan robek akibat pengkhiatan ini. Sangat dalam kepedihan hati saat menyaksikan Mas Alvin menggenggam tangan pacarnya. Dia bahkan tidak melepasnya sedetik pun. Nampaknya ia amat dimabuk cinta. Aku menimbang dalam hati. Mestikah aku diam saja pura pura tak tahu, ataukah, aku tampil dan memergoki mereka. Pilihannya sulit sekali. Saat Mas Alvin hendak membayar, aku segera maju dan merebut kartu dari tangan suamiku. Orang yang kurebut kartu dari tangannya langsung terkejut dan hendak marah sambil meneriakiku. "Hai! Apa yang kau lakukan." "Kartu ini familiar ya. Juga orang yang memegangnya, sepertinya ini kartu kreditku," ujarku sambil membuka masker. Ya, kami berdua punya kartu kredit yang kami ketahui pinnya. Biasanya kami gunakan itu untuk belanja jangka panjang. "Kau?" "Iya, Mas, ini Indira, istrimu yang setia," jawabku Santai. Sontak saja mereka saling merenggangkan jarak sambil satu sama lain saling melirik dengan panik. "Kabarnya kalian akan menikah ya? Kalau boleh kusarankan, kau pilih cincin yang paling mewah saja ya... oh ya, biar aku yang bayarkan," ucapku santai dengan senyum lebar. Senyum membawa luka. "Ah, ti-tidak usah." "Jangan sungkan sungkan Mas, apa yang membuatmu senang juga membuatku senang. Aku hanya kecewa kau sembunyikan hubungan padahal kau bisa jujur padaku dan perlihatkan secara langsung peliharaanmu ini." Mendengar ucapanku wanita itu terlihat geram, ia cengkeram tangannya kuat lalu beranjak meninggalkan toko. "Tidak jadi belanjanya Mbak?" Wanita itu berhenti sebentar lalu mendengkus kencang. Sudah dipermalukan seperti itu saja dia masih tidak tahu malu. "Eh, Indira... a-ayo pulang saja, jangan buat aku malu, tolong ...." Suamiku berbisik sambil menyeret diri ini keluar. "Ah, jangan khawatir, kau saja berani mengekspos hubungan mau ke depan banyak orang. Kenapa kau tidak berani jujur padaku? Sudahlah, Aku akan memberimu sebuah jawaban cerdas tentang keinginan menikah lagi. ... Jika kau sudah merasa telah membahagiakanku dengan maksimal juga sudah menjamin masa depan anak-anakku kau bebas melakukan apapun. Tapi jika belum, Jangan coba untuk bermain api." Kutinggalkan dia begitu saja, menuju ke mobilku dan aku pun meluncur pulang dengan hati yang hancur remuk redam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD