jadi bagaimana

768 Words
Suamiku, dia pria dengan sifat pendiam tapi dia romantis, namun cara mengungkapnya dengan tindakan, bukan dengan kata kata merayu gombal. Setidaknya itu yang kurasakan, dan itu yang dia lakukan padaku. Tak tahu bagaimana dia menaklukkan wanita gelapnya atau mungkinkah si jalang itu yang telah menjebak suamiku dalam cinta semu dan kenikmatan sesaat, yang pasti aku tidak akan membuat itu berlangsung lama. Tidak mudah memisahka seseorang yang sedang dimabuk asmara. Semakin ditentang, mereka akan semakin menunjukkan kekuatan dan keteguhan hatinya. Ada baiknya ditarik ulur saja, dibiarkan namun hati suamiku harus terus terusik dengan keputusan dan tindakanku. Pelan tapi pasti, aku akan membuatnya membayar semua yang dia lakukan. Kini aku terduduk di ruang tamu, termenung sambil menopang dagu dan menggigit bibirku, bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Kutunggu suamiku pulang, namun tidak kunjung kembali juga. Ingin frontal, tapi itu bukan gaya dan sifatku. Aku harus mencari cara dan mengatur rencana agar pembalasanku tetap anggun tapi menyakitkan. Bunyi hentakan kaki di lantai marmer hitam dengan siluet corak keemasan terdengar datang dari pintu depan. Lampu gantung memancarkan cahaya temaram tepat di atas kepalanya ketika kami bersitatap. Dia agak tertegun menemukanku di ruang tamu dengan gauh tidur renda hitam, menunggu dirinya dengan pulasan riasan tipis dan rambut digerai. "Sayang ... kau sudah pulang?" "Ya." Dia terlihat ragu dan memasang ekspresi datar, mungkin menunggu reaksiku atas kejadian siang tadi. "Kau sudah makan?" "Belum. Tapi, aku tidak ingin makan." "Bagaimana kalau kita minum sebentar. Ada anggur yang baru dikirim ayah dari luar negeri. Rasanya luar biasa, sangat mendukung suasana dan perasaan kita." Mendengar ajakanku pria itu makin bingung, meski nampak lelah, dia tetap mengikuti kemauanku lalu kini, kami duduk di meja bar mini sambil menghadapi 2 gelas anggur yang dituang seperempat gelas. Aku tersenyum dan menatap matanya sementara pria itu semakin gugup, tangannya seakan bergeletar saat memegang gelas. "Siapa dia?" "Hah?" tanyanya lirih. "Namanya?" "Mona." "Sejak kapan?" "Aku tak ingat," jawabnya menunduk, aku tertawa getir mendengar jawabannya. "Baru saja atau sudah lama?" "Hmm, engg... entahlah." "Bagus. Aku menghargai kau mau jujur. Tapi, kenapa kejujurannya terlambat. Kalau kau terbuka, mungkin aku bisa membantumu untuk menemukan kembaran jiwamu yang hilang." Pria itu tersentak, dulu, kami sering bicara tentang cinta dan jodoh, tentang belahan jiwa dan bagaimana kami saling terhubung, saling memahami dan memberikan kasih sayang. Sekarang, semuanya terdengar seperti omong kosong. "Kau mencintainya?" "Hmm." "Kau sangat mencintainya?" "Tidak juga." "Kalau tidak tinggalkan saja, Sayang." "Maafkan aku ...." Entah untuk apa dia minta maaf, untuk kesalahannya karena sudah berselingkuh atau minta maaf karena tidak mampu meninggalkan selingkuhannya. "Aku selalu memaafkanmu dan punya kelapangan hati untuk menerima apapun yang kau lakukan. Bukan karena kau kaya, tapi karena aku mencintaimu." Suamiku kaget, gelas anggur masih belum tersentuh, ia memandangku bergantian dengan tanganku yang kini memegangi gagang gelang. Mungkin dia takut, dalam sikap tenangku, aku bisa membunuhnya. Aku turun dari kursi bar, mendekatkan wajahku ke dadanya. Menyentuhnya dengan jemari tanganku yang kukunya bercat merah mengkilat. Dia menahan napas dan tak berani membalas tatapan. "Kupikir degupan jantungmu masih sama, masih untukku saja. Tapi ternyata, kau berubah, Sayang...." Aku mengatakan itu sambil tersenyum. Pria itu tak berani membalas pelukanku, dia kemudian menghela napas dan memegangi bahuku. "Aku minta maaf, aku terlanjur jatuh cinta dengan Mona." See, dengan kelembutan seperti itu, dia mengakui perbuatannya sendiri. "Kau jatuh cinta padanya atau hanya mengisi kekosongan yang belum sempat kuisi?" "Mungkin karena kita sudah lama bersama hingga timbul kejenuhan dan rasa hampa." Sebenarnya sakit sekali mendengar jawaban semacam itu, tapi aku tetap menyunggingkan senyum, senyum membawa lukaku. "Kenapa bisa hampa? Apakah kekuranganku, Mas?" "Tidak, kau sempurna. Hanya saja, Aku mencintaimu tapi jenis cinta yang kumiliki tidak semenggebu dulu, aku mencintaimu sebagai istriku, temanku, dan orang yang mendampingiku. Namun ...." "Untuk hasrat dan fantasimu, kau luapkan pada wanita itu?" "Hmm." Aku mulai muak, jijik, mendengar suamiku dengan tanpa dosanya mengatakan itu. Jelas, bahwa pacar gelapnya hanya pemuas nafsu. Tapi, dia m*****i cintaku dan berbuat zina. Ya Allah, aku harus bagaimana. "Jangan pupuk cinta seperti itu. Jika kau mencintainya maka nikahi saja wanita itu." Aku tahu dia tidak akan bisa menikahinya, orang tuanya tidak akan menyetujui hubungan yang dibangun berlandaskan ketidakjujuran dan perselingkuhan. Terlebih ibu mertua sangat menyayangiku, dan akan bersikap tegas kepada Mas Alvin. Alasan kedua adalah dia tidak akan merusak reputasinya yang sudah dia bangun dari nol hanya demi seorang wanita. Dia juga harus mempertimbangkan tentang keadaan psikologi kedua putra dan putri kami, Rina dan Gema. "A-aku ... ti-tidak ...."suamiku turun dari kursinya lalu beranjak menjauhiku. "Kenapa?" "Aku tidak bisa!" Lihat kan, dia tidak akan pernah bisa untuk menghalalkan apa yang haram. Seharusnya Mona mendengar percakapan ini sehingga dia sadar. Ya, begitulah resiko kalau menjadi benalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD