sesudah

605 Words
Aku bertemu dengannya dalam sebuah pesta yang diselenggarakan teman sosialitaku. Saat itu aku menggunakan gaun berbelahan d**a rendah warna campagne dengan perhiasan berlian dan rambut yang disanggul sederhana. Anggun tapi simpel, begitulah aku. Tanpa sengaja aku berpapasan dengan jalang itu, dia sedang minum bersama temanku, Nyonya Friska. "Hai, Indira, kemarilah, aku mau kenalkan kamu ke anggota baru perkumpulan kita." Wanita rendahan itu, dia mencoba menaikkan levelnya dengan membaur dengan orang orang kelas atas. Mungkin, dia lakukan itu untuk memperluas koneksi dan membuat Mas Alvin percaya diri untuk menjadikannya istri, juga meyakinkan kedua orang tua suamiku bahwa dia adalah figur jalan menantu yang ideal dan teladan. Perkumpulan kami adalah, klub wanita kaya yang suka membuat kegiatan sosial, lalu arisan emas dan berlian, latihan tembak dan golf. Tapi semua itu hanya sebagai pembuktian gengsi dan ajang pamer seberapa jauh maka kekayaan orang-orang itu. Aku sebenarnya tidak terlalu suka berada di lingkungan seperti ini tapi karena tuntutan hidup maka aku pun harus membaur. "Kenalkan ini Mona, dia adalah anak Pak Rafi Adrianto, pengusaha emas. Dia sekarang adalah anggota baru yang akan melatih kita senam dan pilates." "Oh, senang bertemu denganmu, Meksi ini bukan pertemuan pertama," ucapku sambil mengulurkan tangan. "Iya, senang berkenalan," jawabnya sambil berkedip manja dan mengacungkan gelas anggurnya tanda memberi hormat. "Kalau begitu kalian bicara saja aku akan membaur dengan tamu-tamu yang lain," ucap Nyonya Priska mengundurkan diri. "Ya, dengan senang hati." Kali ini hanya kami berdua berdiri di depan meja bundar tinggi di mana cemilan dan minuman terhidangkan. "Bagaimana kalau kita duduk saja?" "Untuk apa?" "Ngobrol sedikit." "Kurasa itu tidak perlu." Wanita bergaun merah dengan belahan kaki yang tinggi itu nampak sangat seksi dan mempesona, dadanya membusung, rambutnya digelombang dan digerai indah. Wajar suamiku menahan napas ketika membayangkan wanita ini. Di sinilah sekarang, kami menepi dan duduk di sofa berwarna putih yang sudah disiapkan tuan rumah. Aku dan wanita itu duduk berhadapan dengan tatapan mata yang saling lekat. Aku ingin menyimak tindakan sementara ia terlihat menantang dengan mata memicing. Pandangan seperti itu hanya dimiliki orang licik dan berhati jahat. "Apa yang ingin kau katakan?" "Tidak perlu peduli sudah sejauh apa hubunganmu, Aku ingin kau berhenti mengganggu suamiku." Wanita itu tertawa mendengar ucapanku. "Aku tidak pernah mengejarnya tapi dialah yang selalu ada di dekatku." "Kalau kau menolaknya dia tidak akan berani. Hubungan tidak akan terjalin jika hanya bertepuk sebelah tangan." "Aku tidak mampu membendung perasaan dan hasrat yang ada. Lagi pula suamimu sangat tergila-gila padaku, sangat gila..." Dia mengatakan itu dengan kalimat penuh penekanan dan kepercayaan diri. Aku hanya bisa menarik napas dalam sambil tersenyum. Aku tidak akan membuang waktu dan tenaga untuk merusak reputasiku dengan bangun dan menjambak wanita itu. "Kalau begitu baiklah, hanya saja, kau harus bertahan selamanya jadi simpanan, dinomor duakan dan tidak pernah jadi prioritas. Kapanpun dia denganmu, saat aku menghubungi, maka dia akan meninggalkanmu. Kalian juga tidak mungkin menikah, karena alam pun menentangnya. Jadi, duduk dan bertahanlah sebagai pelampiasan s*****t suami orang." Mendengar kalimatku yang sangat ofensif wanita itu menggeram dan menggigit bibirnya dengan tatapan yang sangat marah. Cukup seperti itu saja, sudah membuatnya sangat tersinggung, aku tidak perlu menamparnya. "Dan ya, sejauh apapun kau mencintainya kau tidak akan pernah menjadi yang istimewa." "Maksudmu apa?" "Contohnya melahirkan anak untuk Mas Alvin." "Aku tidak berencana untuk memiliki anak," jawabnya. "Itulah resiko hubungan gelap, alih alih bahagia dengan garis 2, malah kau akan merasakan itu seperti bencana. Hahahah. Penyakit bisa diobati, kemiskinan bisa diubah dengan usaha, tapi kebodohan tidak ada obatnya," jawabku sambil bangun dan menertawai wanita itu selalu melangkah pergi dengan langkah anggun sambil menyapa tamu yang lain dengan lambaian tangan dan senyuman. Aku yakin aku sudah memukul mental si jalang itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD