Mungkin dia ingin membuatku kesal dan menguni ketahanan hatiku, dia mengatakan itu dengan wajah sinis sementara aku hanya tersenyum lebar. Dia tertegun melihat reaksiku yang santai.
"Boleh saja Bu, tapi sayang, saya tidak punya nomor telponnya. Mungkin ibu bisa dapatkan itu dari Mas Alvin."
"Baiklah, aku akan memintanya, kau boleh pergi," jawabnya dingin.
"Baiklah," jawabku sambil membalikkan badan, mengubah ekspresi wajah dari senyum ke ekspresi marah, kesalnya seakan menumpuk di hatiku.
*
Kurebahkan diri di tempat tidur, kusentuh perlahan seprai yang halusnya sama seperti gaun tidur sutraku, bantal yang ada di sampingku masih kosong, karena suamiku belum pulang sampai saat ini. Perlahan kerinduan dan hasrat ingin dipeluk olehnya membuncah di hatiku, sayangnya, harapan itu tak akan terwujud secepatnya karena ya ... seperti itulah, hubungan kami sudah kaku.
*
Pukul 01.00 malam aku terbangun dan menyadari diriku berada dalam pelukan hangat seseorang. Teryata itu adalah Mas Alvin. Kucoba merenggangkan posisi antara aku dan dia sambil menatap matanya.
"Ada apa Mas?"
"Apakah aneh memeluk istri sendiri?"
"Tidakkah kau merasa aneh setelah memeluk wanita lain dengan begitu mesra lalu kau datang dan ingin memelukku tanpa merasa berdosa sedikitpun?"
Mungkin aku bersalah mengatakan itu di depan wajah suami, tapi, aku harus mengutarakan apa yang selama ini mengganjal di hatiku, tujuannya agar dia sadar akan kekeliruannya.
"Jika kau memikirkan akan kelangsungan pernikahan kita, maka kau harusnya meninggalkan wanita itu. Jika kau menghargaiku sebagai istrinya, tentunya kekecewaan yang ada di hatiku akan kau pahami."
Tidak menjawab pembicaraan, dia hanya menunduk sambil mengubah posisi merebahkan diri di tempat tidur. Tak mau memperpanjang pembicaraan aku segera membalikkan badan lalu tidur.
"Maafkan aku ...," ucapnya.
"Aku hanya penasaran, apakah salah dan kekuranganku hingga kau tega mencari wanita lain dalam hidupmu," ujarku yang pada akhirnya memejamkan mata dan tertidur. Kurasakan ia bisa menyentuh bahuku tapi aku mengabaiknya, biarlah, aku lelah.
*
Esok harinya, kuantar suamiku ke mobilnya setelah dia sarapan, kubiarkan dia berangkat ke kantornya sambil tetap mendoakan agar dia selamat sampai tujuan dan tetap baik baik saja, terlepas apapun yang dia lakukan padaku.
Pukul empat sore, dia mengirimkan pesan bahwa dia tak bisa pulang, karena ada pekerjaan penting sekaligus harus pulang ke rumah ibunya, karena ada acara kematian ayahnya.
Menjelang petang aku dan anak anak sudah bersiap untuk pergi ke rumah ibu mertua. Meski beliau tidak begitu menyukaiku, aku harus tetap menunjukkan rasa hormat dan bakti.
Sesampainya di rumah mertua anggota keluarga yang melihat kedatanganku menjelang isya langsung menghampiri dan bertanya.
"Di manakah Alvin, karena sejak siang tadi dia tidak datang, kami membutuhkannya di sini." Seorang Tante bicara seperti itu.
"Tidak tahu Tante," jawabku pelan.
"Mungkinkan kamu melarang dia datang?" Ibu mertua yang tiba-tiba muncul langsung mengatakan itu sambil melipat tangannya di d**a.
"Tidak mungkin Ibu, ini adalah acara kematian ayah. Kami semua sangat mencintainya dan tidak ingin melewatkan satu rangkaian acara pun."
"Heh, jangan pura pura baik, kau sendiri tahu bagaimana hubungan kita selama ini," desisnya.
"Mungkin momen ini akan merekatkan hubungan yang renggang, Jujur saja karena saya sangat menyayangi mertua dan seluruh keluarganya, hanya saja, ibu yang terlambat menyadarinya."
"Aku tidak akan punya alasan untuk tidak menyukaimu jika kau bisa membahagiakan anakku, buktinya dia masih mencari kebahagiaan di luar sana dan buat skandal, harusnya kau tau itu aib besar, di mana peranmu sebagai seorang istri akan dipertanyakan."
"Tidak selalu sebab perselingkuhan adalah kesalahan dari istri. Ada banyak wanita yang setia di luar sana tapi lelaki mereka tetap mencari kesenangan dari pelukan lain. Ah, sayang, aku termasuk wanita tidak beruntung itu."
"Sudah cukup ocehanmu, masuklah ke dalam dan bantu keluarga untuk menyiapkan segala hal."
"Baiklah."
Seperti itulah Ibu ketika dia tersudut dengan percakapan maka dia tidak akan jaga-jaga untuk mengalihkannya dan menghardikku. Sepanjang aku menjadi menantunya tak pernah sekalipun ia menatapku dengan penuh kasih sayang dan senyum tulus. Mungkin karena tadi, aku yang tidak terlalu sekaya dirinya, mungkin juga, aku bukan kriteria menantu yang dia inginkan, sehingga sekeras apapun aku berusaha akan selalu buruk di matanya, entahlah!
Namun, ada hal yang membuatku penasaran, yakni, kemanakah suamiku sejak tadi. Katanya, ia akan ada di rumah ibunya demi membantu keluarga. Lalu, mengapa dia tidak kutemukan. Tidakkah dia berpikir bahwa aku akan hadir dan mencarinya? Aneh sekali dia.
Kutelpon dirinya untuk memeriksa dia ada di mana. Lama panggilan itu dijawab hingga aku menelpon untuk kedua kalinya.
"Halo, assalamualaikum."
"Walaikum salam."
"Kamu di mana?"
Napas suamiku terdengar memburu dan gelisah. Ah, atau mungkin, perasaanku saja.
"A-aku ... masih di kantor, ada kerjaan."
"Tapi, ketika lewat situ tadi, seluruh gedungnya sudah gelap. Kau ada di mana?"
"Se-sebenarnya, a-aku ...."
"Kau bersama dia?" tanyaku menebak. Hanya menebak, tapi perasaanku sudah tak enak. Dengan napas tertahan kutunggu jawaban suamiku.
"Ti-tidak, aku ...."
"Di mana kamu tidakkah kamu ingat bahwa ini adalah hari tahlil kematian ayahmu?"
"Iya aku tahu. Sebenarnya, aku sangat terguncang dengan kepergian Ayah sehingga pergi menyendiri dan menyepi. Aku butuh waktu untuk menerima kenyataan pahit ini. Ayah adalah sosok penting dan panutanku, dia tiang penyanggah tubuhku, tanpanya, aku seperti layangan yang putus."
Oh, ucapannya menyentuh sekali, sayangnya, aku tidak percaya dengan itu. Aku tahu sifat suamiku dan seperti apa dia ketika bersedih.
"Apakah kau sedang berbahagia di dalam kamar hotel bersama kekasihmu. Apakah kau mengalihkan kesedihanmu di pelukannya?"
"Tidak sama sekali, kau salah paham, demi Tuhan!" ucapnya cepat, aku tahu orang yang banyak bersumpah tanpa diminta kemungkinan dia sedang berbohong. Jadi, aku yakin sekali dengan pendapatku yang pertama.