10

911 Words
"Aku bersumpah!" ucapnya mencoba meyakinkan aku. "Kalau begitu, segera pulang dan mari berdoa untuk ayah mertua. Aku yang bukan anaknya saja, sangat peduli dengan acara ini, lalu ada apa denganmu?" tanyaku dengan tawa sinis. "Ba-baiklah, aku akan sampai dalam tiga puluh menit." "Tidak, itu terlalu lama." "Aku harus pulang dan ganti baju." "Aku bawa baju untukmu, jadi langsung aja kemari!" tegasku. "Baiklah," jawabnya, yang pada akhirnya tidak punya pilihan. Kumatikan ponsel, kusimpan dalam tas lalu kutemui anak anak yang terlihat sedang bermain dengan sepupunya di lantai dua. Kuminta pada mereka untuk duduk tenang agar tidak menjadi perhatian para hadirin dan membuat malu itu mertua. "Duduklah yang rapi, kalian boleh bermain iPad di kamar atau nonton tv, jangan berlarian ya," ucapku dengan bujukan lembut. "Iya, Bunda." "Terima kasih anak pintar," jawabku denga senyum lebar. Aku turun ke lantai bawah untuk membantu keluarga menata hidangan di meja, menerima tamu yang mulai berdatangan dan sibuk menuruti perintah beberapa Tante yang minta bantuan. Ibu mertua yang duduk di pojokan hanya menatap dengan tatapan sejuta makna, dia tetap memberiku ekspresi datar yang tidak menunjukkan rasa suka atau terima kasih. Sebenarnya, andai yang ada di posisi diriku adalah orang lain, tentu, aku tak akan tahan dengan semua ini. Ingin rasanya pergi saja saat tubuh dan hati tidak diterima dengan baik, tidak dianggap ada dan dihargai, tapi, aku masih punya perasaan dan malu. Sehingga pahit getir ini kuredam sendiri di hatiku. "Kemana Alvin, kenapa belum datang juga?" "Dia di jalan, Bu." "Lama sekali," gumam wanita itu gelisah. "Tenanglah, dia akan datang." "Satu-satunya anak laki-laki di rumah ini tidak hadir untuk menyambut tamu itu sangat memalukan sekali," gumam ibu marah. Aku segera menyentuh tangannya dan berusaha menyunggingkan senyum karena ada beberapa tamu yang lewat. "Ibu tenanglah, gelisah seperti itu tidak membantu, malah ibu akan terlihat kentara di depan semua orang." "Kau juga jangan tersenyum seperti itu, aneh dan tak nyaman di mataku," jawabnya sambil menepis tanganku dan menjauh pergi. Beberapa orang melihat kami namun aku langsung tersenyum kepada tamu-tamu itu dan menjauh dari hadapan mereka. Entah apa yang mereka pikirkan tentang kami ... aku tidak mau ambil pusing. Beberapa saat kemudian suamiku datang, dia yang berpapasan denganku di depan pintu utama langsung ku ajak naik ke lantai 2 menuju ke kamar yang dulu adalah kamarnya. Saat kuhampiri suamiku tercium sekali parfum wanita di tubuhnya. Aku tahu apa yang telah terjadi, namun, aku hanya bisa menggelengkan kepala. Saat dia melepas pakaian, dia sengaja ingin menggantinya di kamar mandi padahal selama ini, dia selalu mengganti baju di hadapanku dan tidak ada celah diantara kami. "Ganti saja di sini, kamar mandinya basah, nanti baju itu jatuh," jawabku sambil menghalangi langkahnya ke kamar mandi. "Ah iya ..." Dia mendesah gelisah dengan wajah yang tak nyaman. Mungkin beban dosa yang dia tanggung padaku tak sepadan dengan kenikmatan sesaat yang baru ia reguk. Perselingkuhan itu hanya membawa kegelisahan dan noda di dalam hati, tidak ada kebahagiaan selain kebahagiaan semu dan kenikmatan sesaat, setelahnya beban pikiran akan semakin menghantui, galau dan gelisah takut dan merasa berdosa akan jadi beban seumur hidup. Pikiranku langsung buyar saat menatap tubuh suamiku yang dipenuhi noda merah, bekas ... ya, tidak perlu di sebut, semua orang akan tahu dan paham. "Tebakanku benar," ucapku dengan air mata yang tertahan. "A-apa?" Dia gelagapan. "Kau habis b******a dengan Mona kan?" "Tidak ..." "Lalu apa itu?" Aku menunjuk ke ada d**a, bawah leher dan bagian belakang tengkuknya. "Ruam, tiba tiba aku merasa punya alergi." Sejak kapan dia punya alergi terhadap sesuatu, setahuku dan sepanjang pengamatanku dia sehat-sehat saja. "Jangan coba-coba berdusta, aku ini istrimu dan kita sudah lama bersama," ujarku tegas. "Tolong jangan menatap seperti itu karena kau membuatku ngeri," ucapnya membalikkan badan, aku segera meraih lengannya dan menatap matanya. "Bisa bisanya kau di saat seperti ini... sempatnya kau ...." "Tolong, aku ini salah makan, aku tidak melakukan apa apa, sumpah!" Ah, dia bersumpah lagi. Dasar munafik. "Jangan jual sumpahmu terus menerus, aku muak mendengarnya, kenapa tidak mengaku saja dan pertanyaanku akan selesai!" Aku hampir memekik, andai dia tak segera memeluk. "Lepaskan aku!" "Aku tidak akan berhenti memelukmu sampai kau tenang!" "Tapi kau tidak bisa membohongi hatiku atau mengobati lukanya yang sudah ada! Kau pendusta!" Aku menangis, berdiri dengan air mata berderai, sementara ia terus memeluk. Jujur saja, pelukannya membuatku muak, aku ingin melepasnya tapi dia mendekap dengan erat. Sekarang, sentuhan atau rangkulannya bagiku hanya sebuah aksi kepalsuan yang memuakkan. Aku merasa hampa dan hatiku kosong tanpa arah. Aku di puncak penderitaan dan rasa kecewa meski selalu berhasil menyudutkan Mas Alvin. "Sekarang lepaskan aku dan segeralah turun, temui keluargamu!" "Baik, tapi kau tenang dulu," ujarnya sambil menyeka air mataku. "Kita akan bicarakan ini nanti, tapi, sebelumnya biarkan acara kematian ini selesai!" "Baiklah, terima kasih atas pengertiannya." Aku hanya mendesah saat dia menjauhiku, aku terduduk di ranjang sementara kemeja dan celana yang tadi di pakai Mas Alvin teronggok di sana. "Kurang ajar!" Aku memekik sambil melempar baju itu dengan kasar. Untung saja suara sound sistem di bawah sana meredam pekikan sakit hatiku. * Kurapikan wajahku lalu turun menyusul turun, menyusuri tangga dan membaur bersama ibu ibu yang sedang membaca Yasin di ruang tengah. Aku yang tadinya duduk dengan kalem dengan tenang tiba-tiba kaget dan melotot saat melihat seseorang yang sedang duduk di pojokan, ia mengenakan gamis warna mint dengan jilbab senada dan dandanan tipis. Wajahnya seakan dia wanita Solehah tanpa celah, parahnya, ia juga ikut berdoa seakan dia tidak melakukan dosa apa apa dengan suamiku. Mona si jalang itu... Apa yang ia lakukan di tempat ini!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD