Terbungkam oleh ucapanku, pria itu hanya terdiam sambil menggigit bibirnya dan menundukkan wajah, dia menatap cangkir kopi yang masih mengebulkan uap panas tanpa menyentuhnya sedikitpun, entah, mungkin dia malu atau apa, tapi aku tidak paham sama sekali. Aku yang tidak mau banyak berkomentar kemudian beralih ke bench dapur untuk menyiapkan roti lapis baginya. Kubawakan roti dan meletakkannya di atas meja, lantas kududukkan diriku di depannya. "Kamu tidak akan bersiap mandi dan berdandan untuk duduk di balik meja kasir tokomu." "Aku bukan seorang pimpinan perusahaan atau owner sebuah butik sehingga harus tampil cantik dan elegan, aku hanya Nyonya sebuah toko dan bisa berpenampilan seperti apa saja," jawabku sambil tertawa. Melihatku yang mengenakan celana pendek selutut dan baju kaus d

