“Maksudmu apa?!”Bentakku kesal. Aku bangkit dari duduk dan membanting meja Kara. Kara mendengus kesal.
“Lah, bener kan? Sama sama tabiat buruk. Nampak kok dari masukin anaknya ke perlombaan yang di bimbing,”jawab Kara. Aku mendengus kesal. Aku membusungkan d**a dan melipat kedua tanganku di d**a.
“Memangnya kenapa? Iri?”Tanyaku.
“Ngapain aku iri sama orang yang pakai kekuatan orang dalam.” Jawaban Kara berhasil menaikkan amarahku. Apa? Kekuatan orang dalam?
“Anak sialan ini memang ...”Umpatku. Aku meremas tanganku erat. Ingin rasanya mendaratkan satu tinju saya ke wajah tampan santan Kara ini. Kalau saja tidak ada papa, tidak ada pak Aqsha dan pak Santoso, sudah dia layangkan tinju. Tidak peduli dia anak laki- laki sekalipun!
“Kenapa? Benar kan? Kamu memakai papamu biar kamu bisa ikut ke lomba coding itu, padahal kamu mana bisa.” Kara menatapku dengan tatapan remeh. Aku menarik kerah bajunya hingga mendekat ke wajahku.
“Dengar ya, meskipun aku punya kekuatan orang dalam, tapi bukan berarti aku nggak berusaha!”Bisikku. Aku melepas kerahnya hingga dia terpelanting di kursinya. Kara mendengus dan menyinggungkan senyum sinis.
“Usaha apa yang kau keluarkan hah? Merayu orangtuamu?” Amarahku semakin memuncak. Ini anak baru, benar- benar tidak bisa menjaga mulutnya ya. Tanpa sadar, sebuah tamparan keras melayang di pipi mulusnya.
Sekelas menyaksikan hal itu dengan tatapan kaget. Kara memegang pipinya yang merah karena tamparanku. Aku meremas tanganku, menyembunyikan tangan yang gemetaran sehabis menampar Kara.
“Jaga mulutmu!”Bentakku. Kara masih terdiam di tempatnya, lalu mendengus.
“Memang ya gila kelakuan anak orang kaya …”Gumam Kara.
“Ada apa ini? Kenapa tampaknya bising sekali?”Tanya pak Santoso dari pintu. “Kalian berdua di belakang, kenapa gak duduk di tempat?” Beliau menunjuk ke arahku dan Kara.
“Ah, enggak pa. Lagi cari pulpen saya yang jatuh.” Kara mencari alasan. Ia menunduk seperti hendak mencari sesuatu, lalu menjatuhkan sebuah pulpen ke dekatku. Ia memungut pulpen itu.
“Udah ketemu pak, hehe.. makasih ya Althea.” Ia menunjukan pulpen di tangannya. Ia menyinggungkan sebuah senyum, ya senyum mengejek padaku. Aku membalas senyumnya dengan senyum mengejek juga.
“Ya, sama-sama,”balasku.
“Ya sudah, kalau barangnya udah ketemu. Kalian duduk kembali di tempat masing- masing.”
****
Aku tidak fokus sepanjang pelajaran pak Santoso. Amarahku masih belum juga reda. Aku meremas tanganku berkali- kali. Pak Santoso masih menerangkan pelajaran lewat proyektor jadul miliknya. Saat pak Santoso lengah, aku mengganti tablet pelajaran dengan tablet pribadiku. Papa mendesain tablet pelajaran ini khusus untukku. Katanya biar tidak ada distraksi selama belajar. Aku membuka nutube, melakukan streaming video dan menghubungkan Bluetooth ke salah satu earphone. Aku melepaskan kunciran rambutku, berusaha menutupi earphone dengan rambut. Setidaknya, ini sedikit memberikan rasa tenang. Aku membuka file pelajaran yang ada di tablet pribadiku dan kembali memperhatikan pelajaran pak Santoso dengan sedikit distraksi. Tak apa, asal amarah itu berkurang. Itu tak apa.
Setelah dua jam berlalu, bel tanda pertukaran pelajaran berdering. Pak Santoso menutup laptop jadulnya.
“Baiklah. Pelajaran kita sudahi sampai sini. Saya sudah kirim tugas di e-mail kalian masing- masing. Silakan di periksa dan kumpulkan sesuai dengan deadline yang di berikan. Meminta penambahan waktu deadline tandanya meminta pengurangan nilai. Mengerti?” Pak Santoso memberitahu. Semua mengangguk paham. Pak Santoso memasukkan laptopnya ke dalam tas dan menentengnya, lalu pergi keluar kelas.
“Kalian tadi kenapa?”Tanya Sheila begitu pak Santoso keluar kelas.
“Mungkin kamu bisa nanya ke dia,”jawabku sambil menunjuk Kara dengan dagu.
“Loh, harusnya kan nanya ke kamu.” Kara mengelak. Bangku Kara di kerubuni oleh anak- anak lain.
“Kalian tadi kenapa? Berantem?”Tanya Kevin penasaran.
“Ya ampun, ini pipi kamu kenapa Kar? Kok merah banget gini?”Tanya Freya sambil memegang pipi Kara. Kara meringis perih.
“Tadi aku kayak denger suara tamparan gitu deh. Ini bekas tamparan bukan?”Tanya Kalila. Ia ikut memegang pipi Kara. Kara kembali meringis perih.
“Teh, kamu benaran tampar Kara?”Tanya Gevin. Aku mendengus kesal.
“Kalau iya memangnya kenapa?”Tanyaku kesal. “Kalau mulutnya gak lemes juga gak bakal aku tampar,”lanjutku. Aku bangkit dari duduk. “Minggir kalian, bikin semak aja.” Aku menabrak setiap orang yang menutup jalanku. Aku pergi keluar kelas, di susul oleh Sheila.
“Eh Teh tunggu!”
Aku meneguk habis minuman kaleng yang baru saja aku beli di mesin jual otomatis. Aku duduk termangu menatap langit. Angin bersepoi dengan tenangnya di bawah pohon Akasia yang besar ini. Tempat yang selalu kudatangi di sekolah saat ingin sendirian. Aku menghela napas panjang. Memang marah itu cukup menguras energy. Aku tiduran di kursi panjang bawah pohon. Bel masuk terdengar samar- samar dari sini. Ah biarkan saja. Hanya bolos satu mata pelajaran saja kok. Aku memejamkan mata, hendak tidur. Tidur siang di alam sesekali seperti ini sepertinya enak juga.
“Hei, masa anak gadis tiduran kayak gitu,”ujar seseorang. Aku membuka mataku. Tampak Sheila berdiri di depanku. Aku segera bangkit dari tidur dan duduk normal kembali.
“Kamu ini. Cara bicaramu seperti ibu anak satu,”komentarku.
“Iya, anaknya kan kamu,”ujar Sheila. Aku tersenyum kecil. Sheila menyodorkan sebotol teh dingin kepadaku. “Nih, mungkin bisa tenang.” Aku menerimanya dan membuka tutup botol minuman itu.
“Kalau mau tenang sih harusnya minum amer Shei,”celetukku asal.
“Sembarangan! Belum cukup umur. Kena marah papamu, nanti nangis,”ujar Sheila. Aku tertawa kecil.
“Bukan kena marah lagi si Shei, udah di coret dari KK agaknya,”balasku. Kami berdua cekikian. Aku menghirup napas panjang, lalu membuangnya.
“Jadi,” Sheila menaruh minuman yang ia beli di mesin jual otomatis di sampingnya. “Tadi kenapa?”Tanyanya. Aku menghela napas panjang.
“Kamu tahu kan aku ikut serta dalam lomba coding yang di umumin tadi?”Tanyaku. Sheila mengangguk.
“Kau tahu kan, papa itu pembimbing di lomba coding ini. Karena aku ikut serta, jadi si Kara sialan itu ngira aku pakai orang dalem dengan andelin papa, biar bisa ikut serta,”lanjutku. Aku menundukkan kepala dan menggengam erat botol minuman yang diberikan Sheila. “Padahal aku gak pernah andelin papa. Aku selalu berusaha sendiri …”Gumamku.
Aku kesal. Sangat kesal. Aku benci ketika orang berkata seperti itu. Kekuatan orang dalam, jadi bisa lewat lolos begitu aja dengan mudahnya. Mereka tidak tahu seberapa keras aku berjuang di belakang itu. Berusaha meyakinkan papa, meski anak semata wayangnya ini bandel luar biasa, tapi bisa berprestasi. Membuang mimpi- mimpi dan minatku terdahulu. Harus mendengar pujian dari mulut papa sendiri sebagai tanda aku sukses menjadi anak yang berbakti.
Sheila menepuk pundakku pelan. Sheila adalah saksi bisu segala perjuanganku meyakinkan papa. Kami sudah sahabatan bahkan sebelum kami menjejakkan bangku sekolah, jelas sudah mengenal keluarga satu sama lain lebih dalam.
“Iya Teh, aku tahu kok usaha kamu,”ujar Sheila. “Sudahlah, kamu gak usah hiraukan perkataan mereka. Mereka hanya tahu luarnya aja, tanpa tahu seluk beluknya bagaimana. Mereka tahu hasilnya aja tanpa tahu usaha di baliknya, kan?”lanjut Sheila. Ia melirikku. Benar kata Sheila. Memang tidak salah, orang lebih mendambakan sebuah hasil daripada melihat proses yang ada. Itu normal, dan pasti terjadi. Seperti itulah dunia kan?
“Kau benar. Aku harusnya gak peduli sama kata-kata orang,”ujarku.
“Toh mereka juga bisanya nyinyir aja. Biasanya orang kayak gitu sih gak sadar diri. Gak ngaca, dirinya lebih banyak kurangnya,”lanjut Sheila.
“Biasa deh Shei, gak nyinyir sekali mulutnya langsung gatel,”ujarku. Sheila mengangguk setuju.
“Oh ya, kamu gak apa nih di sini Shei? Bukannya udah bel masuk ya?”Tanyaku. Sheila kan anak yang displin, nyaris tidak mungkin dia bolos.
“Iya sih, tapi aku tadi lewat kantor guru. Katanya bu Wirda gak masuk kelas hari ini karena anaknya masuk rumah sakit. Jadi beliau nyusul ke sana,”jawab Sheila. Hal yang sangat langka di sekolah ini adalah tidak adanya guru di kelas kecuali rapat.
“Gak ada yang gantiin? Tumben,”tanyaku balik. Sheila mengangkat bahunya.
“Entahlah. Mungkin ada. Tapi aku gak denger banget sih, tadi keburu kejar kamu,”jawab Sheila.
“Kalo ada guru pengganti kamu gimana Shei?”Tanyaku lagi.
“Ya udah sih biarin aja. Cuma guru pengganti juga toh? Palingan kasih tugas aja,”jawab Sheila. Ia berselonjor di batang pohon Akasia. “Yah, sesekali bolos temenin kamu tak apalah ya,”lanjutnya. Aku memeluk Sheila erat. Dia benar- benar sahabat sejatiku!
“Ya ampun, ternyata Sheila bisa bandel juga! Selamat menjadi bandel Shei!”Celotehku. Sheila tertawa kecil mendengar celotehanku.
“Hari ini saja. Sheila jadi anak bandel!”Ujar Sheila.
“Iya gak apa Shei, buat pengalaman. Kalo sering juga gak apa kok Shei, lumayan kan aku ada temen bolosnya,”Ujarku. Sheila menatapku. Aku nyengir lebar.
“Tobatlah kamu nak, tobat!” Sheila mengacak- acak rambutku. Aku mendengus kesal dan merapikan kembali rambut yang berantakan. Sheila meminum minumannya hingga habis dan melemparnya ke dalam tong sampah terdekat.
“Oh ya, ngomong- ngomong nih. Itu Kara si anak baru kok bisa gitu banget sama kamu? I mean, dia kayak kesel banget,”Tanya Sheila. Aku mengangkat bahu.
“Gak tau deh. Aku juga bingung. Padahal baru ketemu hari ini, mana mungkin sih aku nyari masalah sama orang yang baru aku kenal hari ini,”jawabku.
“Hem, mungkin memang anaknya sensian dikit ya. Kukira kalian emang ada masalah gitu sebelumnya, kan gak ada asap kalau gak ada api. Kamu gak ada buat dia tersinggung?”Tanya Sheila lagi. Aku mengingat- ingat. Aku baru ketemu Kara hari ini, dan aku juga tidak banyak ngobrol dengannya.
“Engga ada sih.”
****
Kami kembali ke kelas setelah bel tanda pergantian pelajaran terdengar samar- samar, karena jarak antara pohon Akasia dan gedung sekolah lumayan jauh. Kami melewati setiap lorong dengan mengendap- endap. Aku memperhatikan sekitar dengan teliti, berusaha menghindari dari papa dan pak Aqsha. Akhirnya kami tiba di kelas dengan aman tanpa di pergoki oleh papa, pak Aqsha, atau guru- guru lainnya.
Suasana kelas mendadak berubah saat aku dan Sheila masuk ke dalam kelas. Semua mata memandangi kami. Aku tidak peduli dan kembali ke bangku. Baru saja aku duduk, Freya dan gengnya menghampiriku. Mereka mengelilingi mejaku. Freya berdiri di depanku dan berkacak pinggang.
“Hei, maksud kamu apa tampar si Kara?”Tanya Freya. Aku menatap Freya sinis. Dasar pick up girl. Gatelnya luar biasa kalau liat yang bening sedikit. Freya menggebrak mejaku.
“Heh kalo di tanya tuh jawab!”Bentak Freya. Aku menghela napas panjang dan mengeluarkan tablet milikku. Menghadapi Freya dan gengnya akan membuang tenagaku yang tadi sudah di charge. Freya kembali menggebrak mejaku lebih keras hingga tabletku terguncang. Aku menatap Freya dengan tatapan sinis.
“Lu nih ya, di biarin kok malah ngelunjak sih? Kalo orang nanya tuh di jawab! b***k ya?!”Bentak Freya lagi. Aku mendengus kesal. “Kamu lihat itu!” Freya menunjuk ke arah Kara yang duduk di belakangku. Aku tidak menoleh sedikit pun. Gea, salah satu anggota geng Freya memegang kepalaku dan memaksa mengarahkannya ke arah Kara. Kara tersenyum kecil sambil melambaikan tangannya. Sialan!
“Kamu lihat itu. Pipinya merah, bercap itu bekas tamparanmu!” Freya memegang pipi Kara. “Kasian, wajah tampan Kara jadi lecet begini. Ya kan Kara?”Tanya Freya. Kara mengangguk dengan bibirnya yang manyun. Dih, sok imut banget!
“Cih, gak peduli,”jawabku. “Lagian dia duluan yang ngatain, ya aku tamparlah. Lakik kok mulutnya lemes!”Lanjutku. Aku menepis tangan Gea dari kepalaku. Freya melongo mendengar jawabanku.
“Ini anak satu ini gila ya. Heh, harusnya lu minta maaf! Bukan songong begitu!”Pinta Freya ketus. Aku mendengus kesal.
“Kenapa sih Frey? Aku yang nampar Kara, kok kamu yang kebakaran jenggot?”Tanyaku. Freya melongo kaget.
“Kan.. kan aku ngebela teman. Sekarang Kara kan teman sekelasku. Memangnya gak boleh?!”Tanya Freya.
“Oh gitu. Kukira kamu bela karena kamu naksir dia,”jawabku sambil menyinggungkan senyum mengejek. “Kan kamu pick up girl, nemu yang bening dikit genitnya gabisa di tahan,”lanjutku.
“Apa kamu bilang..?!”bentak Freya. Freya menaikkan tangannya, mengeluarkan ancang- ancang untuk menamparku. Aku menatapnya dengan tatapan tajam. Freya menghentikan tangannya di udara, bahkan belum sempat mendekat ke arahku. Aku menatapnya dengan tatapan mengejek.
“Kenapa? Tadi mau tampar aku ya? Kok gak di lanjutin?”Tanyaku sambil melipat tangan di d**a. Freya berdesis sebal. Ia menurunkan kembali tangannya. Ia menggenggam erat tangannya hingga bergetar.
“Loh kenapa nih gak di terusin? Nih, sini, tampar.” Aku menunjuk pipiku. Aku menarik tangan Freya dan membiarkan tangannya menyentuh pipiku. “Gini nih, tampar gini. Kok gak jadi sih? Kayaknya tadi semangat banget tuh mau nampar,”Tanyaku.
Freya berdesis dan menepis tanganku. Ia menatapku sangat tajam dan mundur beberapa langkah.
“Dasar cewek barbar!” Freya menjentikkan jarinya. Ia dan gengnya pun kembali ke tempat duduk masing- masing. Aku mendengus kesal. Aku rapikan sedikit pakaianku dan kembali duduk. Aku menonton film yang ada di tablet untuk memperbaiki mood.
“Tadi dia kenapa gak jadi tampar kamu?”Tanya Kara di belakangku.
“Nanti nangis,”jawabku pendek.
“Kok dia yang nangis? Kan dia yang tampar?”Tanya Kara bingung.
“Ya karena aku balas tampar balik. Mana mau dia kulit mulusnya kena tamparan begitu,”jawabku santai.
“Memang cewek bar-bar,”ujar Kara. Aku meliriknya tajam.
“Hei, kamu beneran ya bulan lalu menang lomba coding tingkat kota?”Tanya Kara.
“Kalau iya kenapa memangnya?”Tanyaku ketus.
“Bukan karena bantuan orang dalam?”Tanya Kara lagi.
“Kayaknya kamu belum puas di tampar,”jawabku.
“Kalau begitu, aku akan ikut lomba coding itu,”ujar Kara. Aku mengernyitkan alis.
“Memangnya kamu mampu?”Tanyaku remeh.
“Tentu! Dengan ini kita bisa saling tahu kan, dengan performa masing- masing,”jawabnya. “Dan kamu harus tunjukkan kalau kamu bukan hanya mengandalkan orang dalam semata.”
****