Chapter 8

2565 Words
            Bel masuk berdering. Pelajaran pertama, pelajaran Biologi dengan bu Frida. Sepertinya pagi ini anak laki- laki akan merasa sangat segar. Bu Frida penyejuk pemandangan bagi mereka, karena kecantikan beliau yang sangat paripurna. Apalagi beliau sosok yang amat lemah lembut dan sangat jarang marah, membuat mereka makin semangat. Apalagi jika sudah sampai di bab ‘Reproduksi’, kayaknya fantasi mereka mulai berjalan. Memang dasar laki- laki.             Tapi ya jujur saja, belajar dengan bu Frida ini asyik. Cara beliau mengajar dengan berbagai macam metodenya yang unik, membuat kami semakin paham. Mungkin beliau mengerti cara belajar yang asyik karena umur beliau yang tak beda jauh dari kami, jadi masih pahamlah seperti apa anak muda itu. Beliau masih muda, cantik, pintar, dan single. Tidak hanya incaran para murid, tapi juga para guru muda dan tua yang sering kali lupa kalau sudah punya istri di rumah.             “Selamat pagi anak- anak,”sapa bu Frida ramah.             “Pagi buk,”sapa kami balik. Bu Frida menaruh tab di meja dan memperhatikan sekeliling.             “Sebelum pelajaran di mulai, ada pengumuman yang mau di sampaikan oleh pak Deno,”ujar bu Frida. “Silakan pak Deno.” Bu Frida mempersilahkan. Pak Deno yang sedaritadi menunggu di depan pintu pun masuk, di ikuti oleh seorang anak di belakangnya. Sepertinya anak baru. Tampangnya tampak asing sih.             “Selamat pagi anak- anak,”sapa pak Deno.             “Pagi pak Deno,”sapa kami balik.             “Bapak hanya sebentar saja sita waktu kalian dengan bu Frida. Bapak ada sedikit pengumuman, kalau hari ini kalian kedatangan teman baru. Sini nak, perkenalkan dirimu,”pinta pak Deno pada anak di sebelahnya.             Anak itu sedikit menyibak rambutnya yang agak panjang. Ah iya, sekolahku membebaskan bentuk rambut siswanya, asal itu tidak menganggu proses belajar. Kalau si anak nakal, baru dapat hukuman cukur pitak. Anak perempuan terpesona melihat sosok anak baru ini. Lumayan juga ternyata.             “Ganteng ya anaknya,”bisik Sheila.             “Lumayan,”balasku. Tidak ada di dunia ini cowok yang benar- benar ganteng di dunia ini. Semuanya tampak sama saja, hanya ada sedikit lebih di beberapa orang. Seperti di si anak baru ini.             “Namaku Bayani Janari Dakara. Biasa di panggil Kara. Saya pindahan dari luar pulau.” Anak baru itu memperkenalkan diri. Hum, namanya lumayan unik juga.             “Kara? Santan Kara?”Celetuk Ardi, anak bandel di kelas yang menjadi gelak tawa seisi kelas. Pak Deno menatapnya tajam.             “Nah Kara, kamu silakan duduk di bangku yang kosong ya,”pinta pak Deno. Anak baru yang bernama Kara itu mengangguk. Bangku yang kosong hanya ada di bagian belakang. Ia berjalan ke bangku kosong yang tepat berada di belakangku. Aku sedikit terkaget. Ada 3 bangku kosong di belakang, kenapa dia memilih untuk duduk di situ?             Beberapa pasang mata anak perempuan di kelas menatapku dengan tatapan iri.  Aku tidak suka di tatap seperti itu. Sheila juga menatapku dengan tatapan yang sama.             “Sudah sudah, nanti saja kalian kenalan, waktu jam istirahat. Kalian lanjutkan lagi belajarnya,”perintah pak Deno. “Seperti biasa, anda cantik sekali hari ini,”goda pak Deno. Bu Frida hanya tersenyum tipis. Sekelas menyoraki pak Deno. Pak Deno adalah salah satu dari sekian banyak guru laki- laki yang masih lajang di sekolah yang mengincar bu Frida. Pak Deno masih melajang meski usianya sudah tak bisa di mulai muda lagi, hampir menginjak kepala 4. “Diam kalian”perintah pak Deno. Kupingnya sedikit memerah. Kami sekelas semakin menyorakinya. “Saya pamit dulu, maaf menyita waktu anda bu Frida yang cantik,”pamit pak Deno. Sorak sorai semakin gaduh. Bener deh pak Deno ini.             “Sudah sudah, jangan ribut,”perintah bu Frida. Sorak sorai tadi diam tidak terdengar lagi, menyisakan cekikian kecil di berbagai penjuru. Bu Frida membuka tabletnya.             “Oh ya, nak Kara, kamu sudah dapat kan bahan ajar hari ini di tablet kamu?”Tanya bu Frida.             “Saya gak ada tablet bu,”jawab Kara si anak baru. Satu kelas menatapnya dengan tatapan tak yakin. Hah? Jaman sekarang sekolah gaada tablet? Gimana mau belajarnya? Bu Frida terdiam sesaat.             “Hem, ya sudah. Kalau begitu kamu lihat materi hari ini dengan  Althea saja ya. Bisa kan Teh?”Tanya bu Frida.             “Loh? Saya bu?”Tanyaku lagi. Bu Frida mengangguk.             “Sebentar saja. Tapi kamu besok kamu harus bawa tablet sendiri ya Kara?”pinta bu Frida. Kara mengangguk.             “Udah, kamu pindah dulu ke samping Althea,”perintah bu Frida sekali lagi. Kara menarik kursinya ke sebelahku.             “Oke baik, kita pergi ke halaman 113 …”             Bu Frida menjelaskan pelajaran di kelas. Hologram 3D menampilkan sosok katak yang sedang mengeluarkan telur- telurnya. Aku melirik Kara. Jujur, dia memang ganteng. Oke, dia masuk ke manusia yang lumayan ganteng versiku.             “Bisa kamu geserin sedikit tabletnya? Aku kurang kelihatan,”pinta Kara. Aku menggeser sedikit tablet ke arahnya. Ia mangut- mangut memperhatikan tablet, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Aku sedikit terkejut saat ia mengeluarkan sebuah buku tulis dan juga perlengkapan menulis yang lain. Ia mulai membuka buku dan mencatat beberapa hal. Aku melongo melihatnya.             “Hei,”panggilku. Kara melirik sesaat, lalu lanjut menulis. “Hei, kamu orang miskin ya?”Tanyaku. Kara memberhentikan proses menulisnya. Ia menaruh alat tulisnya itu dan menatapku tajam.             “Maksud kamu apa?”Tanyanya ketus.             “Chill, man.  Biasanya yang masih nulis pakai buku begitu, hanya orang miskin. Ini jaman modern bung, semuanya juga pada pakai tablet. Bahkan bayi sekalipun,”jawabku. Kara menatapku intens dan tajam, lalu kembali menulis.             “Pertama, tabletku rusak dan sedang di perbaiki. Kedua, aku mungkin tak sekaya kamu, tapi aku tidak semiskin yang kamu pikirkan. Hentikan pemikiran kolotmu itu, dasar orang sok modern,”jawab Kara ketus. Aku membanting meja pelan.             “Apa maksudmu hah?!”Tanyaku tak kalah ketus.             “Kenapa ini Althea? Kara?”Tanya bu Frida yang entah bagaimana sudah berdiri di dekat mejaku. Beliau melirik Kara.             “Kamu lagi ngapain nak Kara?”Tanya bu Frida sambil memperhatikan buku Kara.             “Catat materi yang ibu ajarin,”jawab Kara. Bu Frida mengambil buku catatan Kara dan membolak- balik setiap halaman. Aku tersenyum sinis. Kayaknya dia bakal kena omel bu Frida. Walau tak pernah marah, tapi kalau bu Frida mengomel sih bakalan panjang banget. Meski itu terdengar lemah lembut.             “Hem, bagus bagus. Saya udah jarang liat anak- anak jaman sekarang nulis di buku,”gumam bu Frida. “Dan ini bagus. Nulis kembali materi yang di jelaskan di buku itu cara yang bagus untuk mengingat materi,”lanjut bu Frida. “Kalian bisa mencontoh cara teman kalian ini. Meski ini metode lama, tapi ini gak boleh di tinggalkan.” Bu Frida menaruh kembali buku catatan Kara di meja. Kara menatapku dengan tatapan remeh.             “Lihat? Cara orang miskin bisa dapat pujian,”ujarnya begitu bu Frida pergi meninggalkan kami.             Sialan! ***             Bel tanda istirahat sudah berdering. Bu Frida menutup pelajaran hari ini. “Oh ya, untuk melatih ingatan kalian, ibu mau kasih tugas,”ujar bu Frida. Wah, tumben sekali bu Frida memberikan tugas. Beliau kan sangat jarang memberikan tugas. Tapi sekalinya kasih tugas ya pastinya susah sih. Jadi tugas kali ini akan sesusah apa ya?             “Tugas kalian, mudah saja kok. Ibu hanya suruh kalian meringkas materi hari ini. Tapi tidak di ketik, melainkan tulis tangan. Minimal 2 halaman saja. Mudah kan?”Tanya bu Frida.             “Loh bu, kok tugasnya nulis sih…”Protesku.             “Kalau ada yang protes, nambah ya. Tugasnya jadi 4 halaman. Gimana?”Tawar bu Frida. Sekelas menatapku dengan tatapan tajam.             “Diem aja deh Teh!”ujar Arka ketus.             “Gak bu! Gak ada yang protes!”ujar Keysha.             “Oke. Baik. Tugasnya di kumpul 3 hari lagi. Kalian taruh saja di meja saya, oke? Selamat istirahat anak-anak.” Bu Frida meninggalkan kelas. Semua anak bangkit dari duduknya.             “Ih, kalian kenapa gak protes sih?”Tanyaku tak setuju.             “Mending diem deh Teh. Ini tugasnya masih mending daripada tugas- tugas yang biasa di kasih bu Frida. Tau sendirilah bu Frida kalau kasih tugas suka gak nanggung,”jawab Freya.             “Tapi … ini tulis tangan loh …” Aku kembali protes. Sekelas memperhatikanku bingung.             “Ya, kenapa memangnya sih Teh?”Tanya Sheila bingung. “Mudah kan? Cuma nulis?”Tanyanya. Aku terdiam.             “Pernah nulis kan ya? Mudahlah itu Teh. Jangan kayak orang sok kaya yang gak pernah nulis deh,”ujar Freya. Kara yang mendengarnya berdehem dan melirikku. Aku menatapnya dengan tatapan kesal. Sialan! Gara- gara dia.             “Ya deh, terserah,”ujarku mengalah. Aku menghampiri Sheila. “Shei, kantin yuk,”ajakku. Sheila mengangguk dan bangkit dari duduknya.             “Kamu mau ikut kami ke kantin gak?”Tanya Sheila pada Kara. Kara mengeleng.             “Engga, makasih. Aku di bekalin tadi sama orangtuaku,”tolak Kara.             “Dih, kayak bocah aja di bekalin,”ujarku ketus.             “Lebih sehat daripada jajan sembarangan. Tanda peduli orangtua. Kan gak kayak orangtuamu, biarin anaknya jajan asal aja, biar ketemu penyakit di luar sana,”balas Kara tak kalah ketus. Aku menatapnya dengan tatapan tajam.             “Eh, ya udah kalau gitu kami duluan ya.” Sheila mendorongku menjauhi Kara. “Yuk Teh, nanti keburu mie ayam mpok Narmi habis,”ujarnya.             Aku pergi ke kantin dengan langkah kesal. Sheila yang berjalan di sampingku hanya diam melihatku.             “Teh, kamu gak boleh gitu ke Kara. Dia kan anak baru ..” Sheila mengingati.             “Tapi tadi dia duluan tau yang ngatain aku!” Aku membela diri.             “Ya tapi … kan dia anak baru … jangan deh kamu jahat- jahatin gitu. Kasian ..”Ujar Sheila kembali mengingati.             “Kok kamu jadi bela anak baru itu si Shei?!”Ujarku ketus.             “Bukan gitu Teh …”             “Ah udahlah. Aku pergi sendiri aja!”             Aku pergi meninggalkan Sheila yang terdiam di tempat. Sampai di kantin, sesuai dugaan, kantin selalu ramai. Aku menghampiri gerobak jualan mpok Narmi. Gerobak jualan mpok Narmi tampak ramai. Ya memang, mie ayam mpok Narmi memang paling enak di kantin.             “Anu .. permisi …” Aku mencoba menerobos kerumunan pembeli. Tapi aku terpental keluar, kalah dengan badan mereka yang lebih besar dariku. Aku tak menyerah. Demi semangkuk mie ayam! Aku kembali menerobos kerumunan, namun sama saja. Aku kembali terpental keluar kerumunan.             “Teh? Ngapain?”Tanya seseorang. Aku menoleh. Sheila berdiri di depanku, dengan nampan yang membawa dua mangkuk mie ayam, segelas teh manis dan segelas jus jeruk dengan es yang Nampak menggiurkan.             “Ngapain peduliin aku,”jawabku dengan ketus. Aku bangkit dan merapikan sedikit celanaku yang kusut.             “Oh, ya sudah kalau begitu. Ini mie ayamnya tadi mau kasih kamu sih rencananya. Tapi kayaknya kamu gamau. Aku siap kok habisin 2 mangkuk,”ujar Sheila. Sheila berjalan meninggalkanku. Baru selangkah ia melangkah, aku menepuk pundaknya.             “Aku mau mie ayamnya,”ujarku. Sheila melirikku dan tersenyum tipis.             “Oke. Kamu cari tempat duduk ya,”pinta Sheila. Aku memperhatikan sekeliling, mencari- cari tempat duduk yang masih kosong.             “Di sana Shei!” Aku menunjuk ke arah bangku di pojok kantin yang kosong. Kami segera pergi ke sana sebelum orang lain mendudukinya. Aku menyantap mie ayam dengan lahap. Memang mie ayam mpok Narmi ini enak banget deh.             “Pelan- pelan makannya,”pinta Sheila. Aku tidak memperdulikannya. Aku memakannya dengan lahap, hingga aku tersedak dan terbatuk. Sheila buru- buru memberikanku es teh manis. Aku menyeruputnya hingga hanya tersisa setengah di gelas.             “Kamu ini. Di bilangin juga apa, pelan pelan atuh,”pinta Sheila. Aku nyengir lebar.             “Heheh, sori Shei ..”             Sheila geleng- geleng kepala. Ia melanjutkan makannya, lalu melirik keluar kantin.             “Loh Teh, itu papamu bukan?”Tanya Sheila sambil menunjuk ke suatu arah. Aku melirik ke arah yang di tunjuk Sheila. Benar saja, ada papa dan pak Aqsha yang jalan beriringan. Sepertinya papa belum balik sedari mengantarku tadi.             “Ngapain papamu di sekolah Teh? Kamu buat masalah apa?”Tanya Sheila.             “Sembarangan! Palingan papa lagi ada perlu sama pak Aqsha,”jawabku. Sheila mangut- mangut. Kami kembali makan dengan khidmat. Setelah selesai, kami menghampiri mpok Narmi untuk membayar.             “Mpok, kami mau bayar …”ujarku sambil mengeluarkan mr. communicator.             “Oh, neng Teh ya? Ama neng Sheila? Tadi papa neng Teh udah bayarin punya kalian berdua,”jawab Mpok Narmi.             “Loh? Kapan mpok?”Tanyaku.             “Baru aja. Malah papa neng bayarnya lebih, gamau di kasih kembaliannya pula. Baik banget deh papa neng. Bilang makasih ya ke papa, tadi papamu keburu balik,”jawab mpok Narmi. Aku hanya nyengir dan mengangguk.             “Ya udah mpok, nanti Teh sampaikan ke papa. Kami pamit dulu mpok …” Aku menarik tangan Sheila, dan berlalu dari sana.             “Oh ya, bilang makasih juga ya ke papamu udah mau bayarin aku,”ujar Sheila.             “Santai aja si Shei. Papa kan udah anggap kamu kayak anak sendiri,”jawabku.             “Yuk balik ke kelas, bentar lagi bel!”Ajak Sheila.             “Yuk!” ****             Pelajaran selanjutnya pelajaran Teknologi Komputer. Pelajaran ini di ajarkan oleh pak Santoso, guru paling displin dan paling  tegas di sekolah. Beliau tidak mentoleransi telat seberapa detik pun di kelasnya. Sebenarnya kelas ini di pegang langsung oleh pak Aqsha, tapi sebagai kepala sekolah, beliau sangat sibuk dan jarang masuk kelas. Jadilah pak Santoso yang mengganti kekosongan beliau.             Karena pelajaran pak Santoso, semua anak sudah masuk ke dalam kelas beberapa menit sebelum bel masuk berdering. Bel masuk sudah berdering, tapi pak Santoso masih belum tampak batang hidungnya. Hem, jarang beliau terlambat.             “Ya, selamat siang anak- anak,”sapa pak Santoso sambil masuk ke dalam kelas. Beliau menenteng laptop jadul kesayangannya.             “Siang pak,”balas kami sekelas.             “Baik, sebelum kita memulai kelas. Akan ada sedikit pengumuman yang akan di sampaikan oleh pak Aqsha. Harap semua menyimaknya,”pinta pak Santoso. “Pak Aqsha, silakan pak.” Pak Santoso mempersilahkan pak Aqsha masuk, di ikuti papa di belakangnya. Loh? Papa?             “Selamat siang anak- anak, maaf bapak menyita waktu kalian sebentar,”ujar pak Aqsha. Pak Aqsha berdehem dan kembali lanjut berbicara. “Jadi, seperti yang kalian tahu, dalam beberapa bulan lagi akan di adakan perlombaan coding di tingkat provinsi. Dan bulan lalu, salah seorang teman kalian, Althea, telah memenangkan lomba itu di tingkat nasional di perlombaan yang berbeda.” Pak Aqsha bertepuk tangan, di susul yang lainnya.             “Kali ini lomba ini di adakan secara tim. Satu tim terdiri 3 hingga 4 orang, paling banyak. Dan kalian akan di bimbing langsung oleh pak Dion Satrya, seorang programmer dari perusahaan Hello Tech.” Pak Aqsha memperkenalkan papa. Papa menundukkan kepalanya.             “Saya Dion Satrya, pembimbing kalian. Siapa yang ingin mengikuti lomba ini, silakan mendaftar pada pak Santoso. Dan, Althea, kamu harus ikut perlombaan ini,”pinta papa. Aku mengangguk pasrah.             “Baik, itu saja sedikit pengumuman dari saya. Bila kalian berminat, silakan mendaftar ke pak Santoso, biar pak Dion bisa mengatur jadwal untuk membimbing kalian. Terima kasih anak= anak.” Pak Aqsha pamit. Beliau meninggalkan kelas di susul oleh papa dan pak Santoso. Tampak mereka mengobrol di luar kelas.             Kara mencolek punggungku dari belakang. Aku menoleh.             “Apa sih?”Tanyaku ketus.             “Kenapa kamu harus ikut lomba itu?”Tanyanya.             “Karena pembimbing itu papaku. Jadi aku harus ikut,”jawabku. Kara mangut- mangut.             “Pak Dion itu papamu?”Tanya Kara.             “Iya. Kenapa memangnya?”Tanyaku balik.             “Oh. Ternyata kamu memang anak orang kaya. Hem, tabiat kalian sama. Sama- sama buruk.” ****               
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD