Berat sekali rasanya hari ini untuk berangkat ke sekolah. Ia malas nanti harus bertemu dengan Sheila. Mungkin pesan dariku semalam bakal jadi pikiran Sheila. Aku juga masih malas untuk bertemu dengan mama dan papa di bawah. Tapi ia tidak mungkin bolos hari ini, ketahuan bolos dia bakalan kena hukuman lagi.
“Ya sudahlah Teh, hadapi saja,”gumamku di depan cermin. Aku menatap diri di depan cermin. Karena tidak ada seragam, kami jadi bebas mengenakan apa saja. Hari ini aku malas untuk dandan, jadi aku hanya mengenakan celana kain panjang dan kaos. Biar tidak terlihat terlalu kucel, aku percantik dengan long cardigan yang berwarna milo. Mungkin ini sedikit membantu penampilanku. Aku kucir kuda rambutku yang hanya sebahu ini. Aku mengambil tas dan keluar kamar.
Aku turun tangga dengan perlahan. Dari sini, aku bisa melihat papa yang sedang menonton berita sambil menikmati secangkir kopi. Agaknya papa hari ini pergi kerja lebih telat dari biasanya. Aku turun tanpa menyapa papa dan langsung pergi ke dapur. Aku mengambil tempat di meja makan. Mama menyiapkan roti panggang dengan telur mata sapi dan mayones pedas di atasnya, juga segelas jus jeruk dan segelas s**u.
“Eh, pagi cucu nenek,”sapa nenek ramah. Beliau menarik kursi di sebelahku dan duduk di sana. Mama menaruh sepiring roti panggang ke depan nenek. “Ah nak Diana, ibu sarapannya oatmeal aja,”pinta nenek.
“Loh? Ibu sakit? Gak enak badan?”Tanya mama khawatir. Aku melirik nenek. Biasanya nenek sarapan oatmeal kalau sedang tidak enak badan atau sakit gigi.
“Gak apa, ibuk cuma lagi kepengen aja. Lagian enak makan itu, kan tinggal telan aja,”jawab nenek.
“Ya sudah, Diana buatkan nasi goreng oatmeal aja ya buk?”Tawar mama.
“Gausah. Ibu mau kayak biasa aja, yang kayak bubur gitu loh,”jawab nenek. Mama menatap nenek dengan tatapan bertanya, lalu menghela napas.
“Ya sudah, pakai s**u aja bu, biar gak hambar,”ujar mama. Mama pergi ke dapur masak dan kembali dengan semangkuk oatmeal s**u dengan hiasan stroberi di atasnya. Papa datang ke meja makan dan menarik kursi di ujung meja.
“Loh mak? Kok makan oatmeal? Mamak sakit?”Tanya papa sambil duduk di tempatnya.
“Tenang, mamak gak kenapa- kenapa kok. Mamak lagi kepengen aja makan yang lembut- lembut,”jawab nenek. Papa menatap nenek curiga. Nenek menyinggungkan senyum paling manisnya.
“Ya sudah, tapi mamak tetep harus minum vitamin yang Dion belikan kemarin ya mak. Ada suplemen juga, itu mamak minum juga ya,”pinta papa. Nenek mengangguk. “Mamak kalo memang gak enak badan bilang ya sama Dion. Apa nanti sore kita cek ke dokter mau?”tawar papa. Nenek mengeleng.
“Nggak apa hei. Mamak gak apa. Sehat gini.” Nenek merentangkan tangannya seperti seorang binaragawan, tapi tanpa otot.
“Yaudah kalau begitu. Ma, nanti siang masak aja bubur ayam ya,”saran papa. Mama mengangguk.
“Oh ya Diana, sekalian nanti siang kita bikin wedang ya. Dingin banget cuaca akhir- akhir ini,”pinta nenek. Semua melihat nenek heran.
“Tapi nek, akhir- akhir ini kan cuacanya terik terus nek,”ujarku. Nenek terdiam dan nyengir lebar.
“Oh ya? Hem, biasalah orangtua ya kadang suka kedinginan. Hahaha …”
“Nek, nenek beneran gak apa?”Tanyaku khawatir. Tak biasa sih nenek seperti ini. Nenek menepuk pundakku.
“Sehat kok. Nenek kamu ini selalu sehat. Tenang aja Teh! Nenek memang lagi yang hangat- hangat aja,”jawab nenek. “Ya Na? Wedang jahe, pakai jahe merah Na. Kamu mau Teh? Dion?” Nenek menawarkan. Aku mengeleng kuat. Minum wedang? Tidak terima kasih. Mencium baunya saja aku tidak suka.
“Engga, makasih,”tolakku dan papa kompak. Nenek tertawa kecil.
“Kalian memang ayah dan anak yang kompak,”gumam nenek.
Aku dan papa saling melirik sesaat dan membuang muka. Aku mengabiskan sarapan dengan cepat. Aku meminum segelas jus jeruk hingga habis, lalu menarik tas dan bangkit dari duduk.
“Teh udah siap. Teh berangkat sekolah dulu,”ujarku. Papa ikut bangkit dari duduknya.
“Kamu hari ini papa antar. Ayo.”
****
Hening. Begitulah suasana di mobil saat ini. Tak ada satupun dari kami yang memulai percakapan sedari tadi. Aku melihat keluar dari jendela mobil. Pagi ini banyak sekali kebetulan yang terjadi. Kebetulan sekali papa hari ini tidak pergi ke kantor sejak subuh. Lebih kebetulan lagi papa menawarkan diri untuk mengantarku, dimana itu sangat jarang terjadi. Bahkan aku tidak ingat kapan terakhir kali papa mengantarku ke sekolah. Papa kan sering sibuk. Lebih kebetulan lagi, hari ini papa mengantarku menggunakan Tesla yang kemarin kubawa. Sepertinya ini semua bukan sebuah kebetulan, tapi hal yang memang sudah papa rencanakan sebelumnya.
“Ini kenapa kok ada lecet si Teslanya?”Tanya papa sambil menunjuk ke sembarang arah.
“Pa, papa jangan ngaco deh. Masa lecet di bagian dalam mobil,”jawabku. Papa tertawa kecil.
“Iya juga ya,”gumam beliau. Hadeh si papa, aneh- aneh aja.
“Aman kan kemarin? Gak ada lecet kan kamu bawa Tesla?”Tanya papa.
“Nggak, aman,”jawabku singkat. Hening lagi sesaat. Kami saling diam.
“Kau tahu,” papa membuka pembicaraan. “Semalam, habis marahin kamu. Papa di marahin balik sama nenekmu,”cerita papa. Ini agaknya kayak yang nenek ceritakan semalam. “Nenek marahin papa dan mama. Katanya, papa dan mama salah karena udah bandingin kamu dengan Sheila. Udah puji- puji Sheila di depanmu dan malah menjelekkanmu. Nenek bilang kalau papa terus lakuin itu, nanti kamu makin membangkang sama papa. Makin gak mau denger apa kata orangtuanya,”lanjut papa. Papa menatapku dalam.
“Papa … minta maaf. Bukan begitu tapi maksud papa. Papa tetap sayang kamu, kamu tahu kan Teh? Kamu tetap mau jadi anak papa kan?” Aku mendengus dan tersenyum tipis.
“Iya pa, Teh juga minta maaf karena bandel. Maaf pa Teh pakai mobil papa tanpa izin,”ujarku. Papa mengelus pelan puncak kepalaku.
“Iya, papa maafin,”ujar papa. “Kamu sama Sheila baik- baik aja kan? Nanti karena semalem ikutan di marahin sama kamu, kalian malah berantem pula,”tanya papa.
“Kami gak apa kok pa, masih temenan kok,”jawabku. Ya, sebenarnya aku agak ragu dengan jawabanku. Kayaknya Sheila akan tersinggung dengan pesan yang semalam kukirim. Mungkin saja, Sheila kepikiran dengan hal itu.
“Baguslah. Gimana kalau kita jemput Sheila sekalian? Rumah dia dekat sini bukan?” Papa memperhatikan jalan. Aku melihat jam tanganku.
“Kalau jam segini mah, kayaknya Sheila udah duluan pergi deh pa. Biasanya kan dia pergi cepat,”jawabku.
“Hem, begitu. Rajin banget ya kayaknya si Sheila. Kamu kapan bisa pergi sekolah cepet kayak si Sheila?” Aku mendengus kesal. Nah kan, mulai lagi. Kayaknya tabiat papa yang ini susah di hilangkan.
***
Papa memberhentikan mobil di halaman sekolah. Aku salim papa dan keluar dari mobil.
“Nanti mau papa jemput juga enggak?”Tawar papa. Aku mengeleng.
“Gak usah pa, nanti aku pulang bareng Sheila aja,”tolakku halus.
“Ya sudah, belajar yang rajin ya,”pesan papa.
“Oh pak Dion? Ngantar nak Althea?”Tanya pak Aqsha yang tiba- tiba datang. Aku salim pak Aqsha. Pak Aqsha mangut- mangut.
“Masuk terus ya nak, nanti telat,”perintah pak Aqsha. Aku mengangguk dan berjalan ke dalam sekolah, meninggalkan papa dan pak Aqsha yang sedang mengobrol.
Aku masuk ke dalam lift. Aku merasa agak aneh dengan suasana lift yang lumayan ramai. Aku terbiasa datang terlambat, dimana lift sepi. Aku berhenti di lantai 3, dimana kelasku berada. Lorong kelas tampak ramai dengan murid- murid yang duduk di luar, mengobrol sembari menunggu guru datang. Ah, aku berasa sedang menjalani pagi sebelum ujian, karena hanya saat ujian saja aku tidak berani terlambat.
Aku scan ID card dan masuk ke dalam kelas. Kelas tampak ramai dengan anak- anak yang saling mengobrol. Aku menuju kursi yang ada di belakang. Sheila sudah datang, duduk di tempatnya biasa di sebelahku. Aku menghampiri kursiku tanpa menyapanya.
“Loh Teh? Tumben kamu jam segini udah datang?”Tanya Sheila yang menyadari keberadaanku.
“Ah, eh, iya. Soalnya tadi di antar papa,”jawabku agak canggung.
“Loh tumben papamu mau antar?”Tanya Sheila heran. Aku mengangkat bahu.
“Entahlah, aku juga enggak tahu,”jawabku.
“Atau jangan- jangan, itu hukuman kamu ya?”Tanya Sheila. “Mungkin aja itu hukuman kamu Teh, karena kemaren pake mobil gak izin. Mungkin kamu sengaja di antar jemput nanti sama papamu, biar kamu gak bisa kemana mana sendirian lagi! Duh …” Sheila menerka- nerka.
“Hem… mungkin ..?” Aku mencoba mengingat kejadian semalam, setelah Sheila pulang. Agaknya mama dan papa ada deh mengucapkan sesuatu, tapi aku tidak begitu mendengarnya karena keburu kesal dan masuk ke kamar. “Mungkin begitu, tadinya. Tapi tadi papa gak masalah sih waktu aku nolak di jemput,”lanjutku.
“Loh? Kok gitu?”Tanya Sheila heran.
“Ah iya, semalam papa mama sempat di marahin sama nenek. Jadi ya gitu… kayaknya hukumannya di batalin sih …”jawabku.
“Lah? Kok aneh? Kirain nenek ikut marahin kamu juga.” Sheila heran. Semalam itu nenek marahin papa karena bandingin sama kamu tau! Gerutuku dalam hati.
“Ah, eh .. soalnya semalam papa mama sempet bandingin aku sama kamu … jadi nenek marah … gitu sih, kata papa tadi …” Aku menjelaskan. “Kata papa, harusnya aku tuh kayak kamu gitu. Penurut, gak nakal, gak aneh aneh deh pokoknya,”lanjutku. Sheila geleng- geleng kepala.
“Memang kayaknya itu udah tabiat orangtua deh. Bunda juga sering banding- bandingin tuh,”cerita Sheila. Aku sedikit terkejut. Bahkan Sheila juga di perlakukan seperti itu?
“Lah? Bunda bandingin kamu sama siapa?”Tanyaku heran. Bahkan anak sebaik Sheila pun masih di banding- bandingkan. Bener- bener deh tabiat orangtua.
“Ya sama kamulah. Bunda tuh ya, selalu bilang, maunya aku kayak kamu. Yang pinter, yang banyak prestasi, yang inilah, itulah, yang modis dikitlah kayak kamu..” Sheila mengomel panjang lebar. “Harusnya sih bunda bisa lihat dong, kan setiap orang beda- beda. Masa mau di sama ratakan semuanya. Sebel tau!” Sheila mendengus kesal. Aku geleng- geleng kepala, benar- benar tak mengerti akan hal ini.
“Harusnya sih bunda kamu bersyukur punya anak kamu, penurut dan gak aneh- aneh. Kalau bunda punya anak kayak aku, satu aja, pasti udah pusing siang malam kepala bundamu itu,”ujarku. Bisa- bisa bunda Sheila yang lembut berubah menjadi monster kalau punya anak senakal aku.
“Entah tuh bunda. Aku kan kesal ya karena sering di bandingin, akhirnya aku marahin balik aja. Kesel banget soalnya,”cerita Sheila. Wah, aku hampir tidak percaya dengan perkataan Sheila. Seorang Sheila bisa marah, bahkan ke bundanya sendiri.
“Aku gak nyangka kamu bisa marahin bunda kamu sendiri Shei,”gumamku.
“Itu sebenarnya gak sengaja sih, udah kesal banget. Emosi banget. Jadinya aku bilang aja, ‘Iya Sheila emang gak ada apa- apanya di mata bunda. Udah bunda angkat aja Althea jadi anak bunda. Kan Shei bukan anak bunda lagi, mana di anggap Sheila’. Aku bilangin gitu aja. Bunda kediem tuh aku bilang gitu,”cerita Sheila panjang lebar. Aku melotot mendengarnya. Sheila bisa berkata seperti itu ternyata.
“Ya, kayaknya bunda kamu shock sih. Mana bundamu orangnya lembut lagi, kalau di gituin sama anaknya pula, ya kaget,”responku.
“Iya. Akhirnya bunda gak berani lagi bandingin aku sama kamu, atau anak lain. Bunda akhirnya cuma bisa bilang ‘Ya, kan Sheila beda ya sama anak itu.’ Udah gitu doang,”lanjut Sheila. “Memang kadang perlu sih di kasih tau, biar lebih menghargai anaknya.” Aku mengangguk setuju.
“Apa aku coba gituin papa mama ya? Kalau semisalnya papa mama bandingin aku lagi sama kamu gitu,”gumamku. Bisa di coba kali ya?
“Yah, silakan aja sih. Tapi kan kamu udah di belain sama nenek,”ujar Sheila.
“Kagak mempan keknya sih Shei. Soalnya tadi aja papa masih aja bandingin aku sama kamu. Ya mungkin gak sengaja sih.” Walau aku tak yakin itu tidak sengaja.
“Yah, tabiat orangtua kali ya begitu?”Tanya Sheila. “Tapi gimana pun, mereka sayang sama kita kan? Sekali saja. Sekali saja kamu bilang begitu Teh. Kupikir tak apa, biar mereka mengubah cara pandang mereka memberikan kasih sayang,”lanjut Sheila.
“Ya sih, aku yakin papa dan mama begitu karena sayang denganku.” Bagaimana pun tabiatnya, mereka tetaplah orangtua kita kan?
***