Chapter 6

2502 Words
Aku menatap sekeliling. Kali ini aku memegang kendali kemudi. Kami sudah sampai di komplek perumahan. Sebenarnya aku tidak izin mama untuk membawa Tesla ini. Mama mana kasih izin, kan aku belum cukup umur untuk punya SIM. Aneh sih, padahal papa sudah mengajariku mengendarai Tesla ini sejak masih umur 11 tahun. Sheila bingung melihatku yang sangat awas memperhatikan sekitar. "Kamu kenapa Teh?"Tanya Sheila bingung. Aku menaruh kelingking di mulutku. "Ssstt! Aku lagi perhatiin sekitar nih! Bahaya kalau ada mama!" Aku memaksa Sheila untuk diam. "Buat apalagi kamu?"Tanya Sheila. Agaknya dia sudah biasa dengan diriku yang sering kali nakal. "Aku diem diem pakai ini Tesla, kan berabe kalau ketahuan mama!"Jawabku sambil terus mengamati sekeliling. Sheila geleng-geleng kepala. "Jadi tadi kok kamu santai aja bawa ini Tesla? Kukira kamu emang udah ada izin." Sheila kembali bertanya. Mungkin ia tak habis pikir dengan kenakalanku yang seakan tak ada habisnya. "Ih, tadi kan itu mama di dalem kan, makanya ga ketahuan. Ini sekarang yang gawat, kalo mama beneran jadi keluar. Kan gawat kalo ketemu kepergok di tengah jalan. Alamat aku di omelin!"Jawabku. "Bukan aku, tapi kita. Kita yang di omelin." Sheila mengoreksi. Semua kenakalanku, kalau di situ ada Sheila, maka dia juga akan kena omel. Walau akhirnya mama dan Sheila akan berbicara empat mata meninggalkanku sendiri. "Nanti mamamu pasti bilang 'tante titip Teh ya, dia nakal. Mungkin dia mau denger kalo kamu yang bilang'. Keknya emang lu bebal,"gerutu Sheila. "Sori deh Shei. Doain aja yang kali ini gak ketahuan,"ujarku. "Oke, aman!" Aku melajukan mobil menyusuri jalan komplek perumahan. Tadinya sih kukira aman, sampai sebuah mobil lewat di depan kami. Refleks, Tesla berhenti. "Ih apaan sih tuh mobil?" Aku mengomel. Aku melepas sabuk pengamanku. "Eh mau ngapain?"Tanya Sheila. "Mau minta tanggung jawab sama itu orang! Enak aja main nyelonong sembarangan!" Aku hendak membuka pintu mobil, tapi Sheila menahanku. "Eh, jangan Teh! Nanti ribut, jadi panjang pula urusannya!" Sheila melarang. "Eh, enak aja! Dia duluan kok nyari masalah!" Aku menepis tangan Sheila. Baru saja aku hendak keluar, kaca mobilku di ketuk. "Maaf mbak yang di dalam, saya mau minta maaf tadi nyelonong aja,"ujar orang di luar. Aku membuka kaca mobil. "Makanya mas hati-hati dong bawa mo..." Aku langsung terdiam melihat sosok pengendara mobil di depannya. "Wah, berani sekali ya Teh kamu bawa Tesla papa..."Gumam papa. Papa menyinggungkan senyum  kecil. Duh, mampus! Malah kepergok sama bos besar pula. "Ayo pulang sama papa." **** Papa menuntun jalan di belakang.  Tak ada cara untuk kabur. Walaupun bisa saja dia mencoba putar arah, tapi dia pasti tetap terkejar papa. Tesla miliknya akan kalah jauh dengan kecepatan mobil papa, Cessia 3000. Tapi memang dari awal papa itu kalau bawa mobil udah kayak racer sejati. Akhirnya kami tiba di rumah. Aku memarkirkan mobil ke dalam garasi. Tesla punya garasi tersendiri, karena ini mobil kesayangan papa. Setelah memarkirkan mobil, kami masuk ke dalam. Sudah ada nenek dan mama yang duduk di ruang tamu. “Loh kok kalian pulangnya barengan?”Tanya mama. Tak ada yang menjawab. Papa melepas jasnya dan duduk di samping mama. “Althea, ke sini kamu. Sheila juga,”pinta papa. Aku menelan ludah. Kami berdiri di depan papa dengan kepala menunduk. “Ini ada apa pa?”Tanya mama bingung. Papa menarik napas dalam. “Tadi gak sengaja papa papasan sama mereka di jalan, mereka bawa Tesla papa. Gatau deh habis darimana,”jawab papa. Mama menatap kami kaget. “Jadi tadi kalian ke festival naik Tesla?”Tanya mama. Kami mengangguk. “Festival apa ma?”Tanya papa. “Itu, deket balai kota ada food festival pa, makanan yang hits selama pandemi mahkota,”jawab mama. “Tadi mama juga sempat ke sana, sama nenek juga. Tapi gak ada ketemu sama mereka,”lanjut mama. “Hebat sekali ya kalian sembunyinya. Apa kalian izin aja bilang ke sana, tapi nyatanya ke tempat lain?”Selidik papa. Sheila mengeleng. “Enggak om. Kami memang pergi ke food festival itu om. Mungkin gak papasan dengan tante dan nenek karena di sana juga ramai orang. Ini juga kami bawa jajanan dari sana, habis jajan langsung pulang kok om.” Sheila menunjukkan kantung belanjaan yang masih kami tenteng. “Sheila tadi kemari naik apa?”Tanya papa. Papa menatap Sheila tajam. “Anu .. naik sepeda listrik om .. sepedanya tadi aku parkir di garasi …”Jawab Sheila gugup. “Althea ada bilang sama kamu kalau kalian bakal pergi naik Tesla?”Tanya papa lagi. Sheila mengeleng. “Enggak om, anu .. Sheila baru tahu waktu sampai sini om, waktu mau pergi. Saya kira.. Teh, eh, Althea … udah izin sama om atau tante,”jawab Sheila terbata. Papa menatap tajam Sheila. Sheila menelan ludah. Papa mangut- mangut. “Oke. Baiklah. Sheila kayaknya memang gatau apa- apa. Kamu boleh pulang sekarang, nanti kemalaman,”ujar papa. Sheila mengangguk. “Sheila pamit om, tante, nenek..” Sheila salim mereka satu persatu. “Oh ya sini bentar nak Sheila.” Nenek memanggil Sheila. Sheila mengikuti nenek yang berjalan kea rah dapur, meninggalkanku sendirian di depan mama dan papa. Papa menatapku dengan tatapan tajam. “Jadi … kali ini apa alasanmu?”Tanya papa penuh introgasi. Duh, jawab apa? Masa aku jawab karena aku belum pakai make up, jadinya aku milih bawa mobil biar bisa make up di mobil? Kalau aku jawab begitu papa bakalan lebih marah kayaknya. Aku melirik ke arah lain. Sheila melewati dengan membawa bungkusan lain di tangannya. “Pulang ya om, tante. Makasih banyak nek.” Sheila pamit. Dia menatapku dan mengepalkan tangannya. “Good luck,”bisiknya. Good luck ndasmu! Batinku dalam hati. “Oh iya nak, hati- hati ya. Kirim salam buat bunda kamu ya,”ujar mama. “Iya tante. Pamit dulu ya.” Sheila pamit lagi dan keluar dari rumah. “Alasanmu apa kali ini Althea?”Tanya papa. Aku menelan ludah. Ah, sudahlah. Jawab saja. Daripada nanti papa semakin mengamuk. “Anu pa … tadi .. Sheila jemput Althea kecepatan … anu, jadi Teh .. gak sempet dandan … jadi … Teh milih naik mobil … biar bisa dandan di mobil …”Jawabku terbata- bata. “Emang sebegitu pentingnya ya kamu dandan? Kenapa gak keluar gitu aja, pakai bedak  bayi aja kan cukup?”Tanya papa. “Kalau pakai bedak bayi aja mah, kan nampaknya buluk gitu pa, kurang gitu …”jawabku. “Itu Sheila mama liat gak pernah tuh dandan begitu banget kayak kamu. Tapi dia cantik tetap, pede aja gitu keluar polos gitu,”ujar mama. Nah, mulai deh. “Tapi itu kan Sheila ma. Teh gabisa gitu, mana pede ma,”bantahku. Ayo kita mulai saling membandingkan aku dengan Sheila lagi. Ayo. Papa menghela napas panjang. “Jangan salahin Sheila. Dia gak salah. Kamu aja yang kelamaan siap- siapnya. Harusnya kamu itu yang introspeksi diri. Kamu tiru dong itu si Sheila. Temenmu itu anak baik, kok kamu gabisa jadi sedikit aja baiknya sama kayak dia,”ujar papa. Nah kan, mulai deh. “Agaknya salah papa ajarin kamu kendarain mobil lebih cepat. Padahal papa niat ajarin secepat itu biar kamu bisa lebih lihai bawanya. Ternyata papa salah. Kan sudah papa bilang, Tesla itu bakal jadi milikmu. Kamu boleh bawa kalau kamu udah terima SIM, nanti waktu 17 tahun. Bukan sekarang, masih 14 tahun.” Papa mengomel. Beliau mengelengkan kepalanya. “Ah, temenan sama Sheila kenapa gak bikin kamu berubah sih nak…”gumam beliau. Kan, mulai lagi. Bandingin aja terus. “Yaudah mah, pah, Althea minta maaf. Minta maaf kalau aku gak sebaik Sheila, gak bisa jadi kayak Sheila,”ujarku. “Sekalian aja angkat Sheila jadi anak, kan kalian mau anak kayak Sheila.” Aku menarik tasku, lalu sedikit membungkukkan badan. “Aku permisi.” Aku langsung naik ke kamar. Tidak lagi menghiraukan panggilan mama dan papa. “Althea, mulai hari ini sepedamu papa sita! Kamu di antar jemput mulai sekarang!” ****                 Aku mengunci pintu kamar. Kutaruh bungkus belanjaan di atas meja belajar, lalu menjatuhkan diriku begitu saja ke atas kasur. Ah, mungkin papa dan mama sedang kesal, tapi aku juga tidak kalah kesal . Entah sudah berapa kali papa dan mama membandingkanku dengan Sheila. Aku dan Sheila sudah dekat sedari kecil, berawal dari mama dan bunda Sheila yang teman semasa sekolah. Sheila sejak kecil memang seperti itu. Penurut, polos, dan patuh.                 “Padahal kan di banding Sheila, aku lebih baik!” Aku melihat jejeran piagam yang terbingkai rapi di dinding dan deretan piala di lemari. “Lihat tuh, prestasiku banyak! Aku sering menang lomba! Sheila mah apa, kalah mah dia di banding aku!”                 Aku membandingkan diri dengan Sheila. Oh, jelas aku lebih baik. Sejak kecil aku sudah di jejalin dengan berbagai les dan perlombaan oleh papa dan mama. Ajaibnya, 4 dari 5 lomba yang di ikuti, aku berhasil meraih juara pertama. Terkadang, Sheila juga ikut lomba yang sama, dan meraih juara favorit ataupun juara harapan. Baru sekali itu Sheila sempat mengalahkannya di lomba piano, yang membuatnya tidak lagi tertarik untuk bermain piano. Itu terakhir kalinya ia kalah telak dari Sheila, dan itu juga pertama kalinya dia di bandingkan dengan Sheila, yang akhirnya berlangsung hingga sekarang.                 Sebuah pesan hologram masuk ke mr.communicator. Pesan itu dari Sheila. Otomatis, mr. communicator menyalakan pesan hologram itu.                 “Teh, kamu gimana? Maaf ya aku tadi pulang duluan. Nanti kalo aku ada di situ lama lagi malah makin berabe, makin ngomel panjang mama papamu. Oh ya bilang makasih ya ke nenekmu. Tadi nenek ada bagi Korean Garlic Bread ke aku, dan kayak yang kamu bilang, rasanya lebih enak daripada yang kita beli tadi! Sekarang rotinya udah habis ludes di makan adik- adik sama bunda. Teh, kalau kamu udah denger chat ini, kamu langsung balas ya. Kamu gak apa? Kalau kamu lagi kenapa- kenapa, telpon aja aku Teh. Jam berapa pun aku siap kok. Bye Teh, jangan lupa ya balas balik!”                 Pip. Hologram itu hilang. Selesai sudah pesan dari Sheila. Aku menatap langit- langit kamar. Nanti saja aku balas pesan dari Sheila. Aku mau menenangkan diri dulu. Aku menatap mr.communicator cukup lama. Akhirnya aku mengambilnya dan mengirimkan pesan hologram pada Sheila.                 “Aku gak apa, untuk saat ini. Gatau deh nanti gimana. Sebenarnya aku kesal dengan diriku, ke kamu juga. Tapi kamu orang baik Shei, aku gabisa kesal ke kamu lama- lama” ****                 Aku tidak keluar kamar sejak mama dan papa memarahiku, sekalipun untuk makan malam. Syukur aku jajan cukup banyak di festival tadi. Setidaknya jajanan ini menyelamatkanku dari masa pengurungan di kamar. Aku sibuk menatap layar laptop, mengetik kode- kode coding. Aku membuang energi rasa kesalku dengan latihan untuk persiapan lomba coding. Seengaknya aku harus memenangkan lomba ini, tidak hanya untuk membanggakan mama papa, tapi juga agar aku tidak lagi di banding- bandingkan dengan Sheila ataupun anak yang lain.                 Aku mencubit pangkal hidung. Mataku sudah sedikit lelah karena sedari tadi menatap layar laptop. Aku menghela napas dan menatap langit- langit kamar. Ah, kenapa sih orangtuaku sering banget bandingin aku dengan anak lainnya? Biar apa coba? Apa tidak suka dengan anak sendiri? Kalau begitu, adopsi saja anak orang lain. Kenapa sih tidak bisa menghargai sedikit saja anaknya?                 Aku menatap ke sudut ruangan, dimana perlengkapan lukis menumpuk di sana. Dulu aku sempat senang melukis, tapi papa tampak tidak senang akan hal itu. Karena itu, aku menabung uang jajanku untuk membeli alat lukis karena jelas tidak di izinkan beli oleh papa. Hingga akhirnya uangku terkumpul cukup banyak dan aku memilih untuk mengikuti trial les lukis. Dari sana, guru les mendaftarkanku untuk ikut lomba lukis. Aku mengikuti lomba itu tanpa sepengetahuan mama dan papa. Aku pulang dari lomba lukis sambil menenteng piala juara pertama. Bukannya senang, papa malah memarahiku karena tidak izin ikut lomba. Papa membuang pialaku sambil berkata “mau jadi apa kamu kalau ngelukis terus hah?”                 Itu adalah hal paling menyakitkan seumur hidupku. Sejak itu, aku berhenti melukis. Tapi perlengkapan lukis itu masih kusimpan rapi, sebagai kenangan. Aku menatap lemari piala. Piala juara 1 lomba lukis ada di sana. Aku mengambilnya dari tong sampah secara diam- diam dan menyembunyikannya di balik piala- piala yang lain.                 “Teh, kamu ada di dalam?” Terdengar suara nenek di luar sana.                 “Iya nek,”jawabku.                 “Nenek boleh masuk?”Tanya nenek. Ah, sudahlah. Cuma nenek kok. Aku bangkit dan membuka pintu. Tampak nenek berdiri di depan pintu sambil membawa nampan berisikan semangkuk cream soup dan satu ceret kecil air beserta gelasnya.                 “Kamu lapar nggak? Ini nenek buatin cream soup.” Nenek memberikan nampan itu padaku. “Nenek boleh masuk nggak?”Tanya nenek. Aku mengangguk. Nenek masuk ke kamarku dan menutup pintu. Aku menaruh nampan itu di meja belajar. Nenek memperhatikan sekeliling kamarku dan berhenti sesaat menatap lemari piala.                 “Hebat banget cucu nenek, banyak pialanya ini,”gumam nenek. Aku tersenyum malu.                 “Hehehe … makasih nek ..”                 Nenek menatap sisa bungkusan makanan yang masih berserakan di meja. Nenek memungutinya satu persatu. Aku membantu nenek dan membuangnya ke tong sampah.                 “Kayaknya kamu banyak banget ya jajannya di sana. Beli apa aja memang?”tanya nenek.                 “Banyak nek! Teh tadi sempet nyicip apa sih itu namanya, pokoknya minuman dalamnya ada bulat- bulat hitam gitu, gatau deh namanya apa.” Nenek mengernyitkan alis.                 “Oh, maksud kamu boba ya?”Tanya nenek.                 “Ah. Itu! Teh tadi ada beli itu, yang rasa brown sugar. Enak banget nek! Tapi aku agak kurang suka ya, karena bikin bingung. Itu tuh kayak minum sekalian makan gitu,”ceritaku. Nenek tertawa kecil.                 “Ada ada saja kamu ini. Terus kamu jajan apalagi?”Tanya nenek lagi.                 “Menurutku begitu ya nek. Terus kami juga ada jajan corndog. Aku kira dalemnya itu beneran ada jagungnya, eh nyatanya gak ada. Yang ada malah keju mozzarella sama sosis.” Tawa nenek semakin pecah.                 “Ya ampun, ada saja kamu Teh. Emang isi corndog tuh begitu, ada juga yang isiannya manis kayak coklat gitu ada,”ujar nenek.                 “Oh ya, tadi kami juga beli Korean garlic bread kayak yang nenek buat kemaren. Tapi rasanya kurang, lebih enak buatan nenek. Shei juga bilang gitu.” Nenek membusungkan dadanya.                 “Iya dong, masakan nenek mah selalu juara,”ujar nenek dengan bangganya.                 “Iya deh nek iya ..” Aku menatap kosong ke lemari piala. Masih teringat dengan tragedi lomba lukis beberapa tahun lalu. Lamunanku buyar saat nenek memelukku.                 “Teh, maafin nenek ya,”ujar nenek.                 “Minta maaf kenapa nek?”Tanyaku bingung.                 “Nenek minta maaf karena papamu marahin kamu seperti itu tadi. Nenek tahu kamu salah, tapi nenek kaget denger papamu malah bandingin kamu dengan Sheila. Agaknya, dia meniru nenek yang dulu. Dulu nenek sering bandingin papamu dengan anak lain. Nenek gak nyangka dia lakuin kamu kayak gitu juga,”jawab nenek panjang lebar. Oh, begitu ternyata. Ternyata yang namanya cara mendidik itu kadang menurun dari orangtua yang dulu.                 “Gak apa nek, lagian itu juga salah Teh. Teh juga salah malah gak minta maaf ke mama papa,”ujarku.                 “Ya, kamu harus minta maaf yang bener ke mama papa ya. Kalau ada hukuman ya kamu jalanin aja, oke?”                 “Iya nek.” ****                    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD