"Oh ya nek, makanannya kan banyak gini, aku bagiin ke Sheila boleh gak nek?"Tanyaku pada nenek.
"Oh, boleh boleh. Bentar ya nenek bungkusin dulu,"jawab nenek. Nenek bangkit dari duduk dan pergi ke dapur, mieninggalkanku berdua dengan mama di meja makan. Kami makan dalam diam. Ah, dari dulu aku memang tidak terlalu dekat dengan orangtua.
"Si Shei ada masak juga di rumah?"Tanya mama memecah keheningan sesaat itu. Aku mengangguk.
"Katanya sih masak kue ma. Dia masak kue yang sempet viral dulu waktu pandemi. Dia buat bareng bundanya,"jawabku.
"Kue apaan tuh?"Tanya mama penasaran. Aku mencoba mengingatnya. Hem, kua apaan ya tadi?
"Hem, Teh lupa sih ma nama kuenya apa. Tapi tadi di video call Shei tunjukin isi dalam kuenya itu warna warni, kek pelangi gitu,"jawabku. Mama mengernyitkan alisnya.
"Kayaknya mama tahu deh, tapi juga lupa namanya apa. Mama mau dong, bilang ama Shei,"pinta mama.
"Iya, nanti aku bilang deh,"jawabku. Aku teringat kalau Sheila ingin bubur kacang ijo buatan nenek. Aku bangkit dari duduk dan pergi ke dapur menemui nenek.
"Nek, katanya Sheila mau bubur kacang ijo nenek,"ujarku memberitahu. Nenek sedang menutup kotakbekal. Sudah ada 3 kotak bekal di atas meja. Entah apa isinya, aku tidak tahu.
"Oh iya. Bubur kacang ijo ya,"gumam nenek. Aku mengambil kotak bekal di lemari dan memberikannya pada nenek. Nenek mengambilnya dan mengisi kotak bekal itu dengan bubur kacang ijo hingga penuh. "Yang banyak, kan Sheila suka,"gumam nenek. Nenek menutup kotak bekal itu dan menaruhnya di atas meja. Nenek mengambil tas untuk kotak bekal dan memasukkan semua kotak bekal ke dalam sana.
"Nah, udah siap nih. Nih buat Shei!" Nenek menyodorkan tas itu padaku. Aku mencoba mengangkat ta situ. Lumayan berat juga ternyata.
"Taruh sini dulu deh. Teh siap- siap dulu, mau mandi dulu baru ke sana,"ujarku. Aku menaruh kembali tas itu ke meja, lalu pergi ke kamar.
Aku sudah selesai mandi dan berpakaian. Aku hanya menggenakan kaos dan celana kain hitam. Tidak usah terlalu dandan, kan cuma ke rumah Sheila. Aku memakai sunscreen untuk melindungi diri dari bahaya sinar matahari dan keluar dari kamar. Aku turun ke dapur, mengambil tas bekal itu dan pergi keluar.
"Teh pergi dulu ya,"
***
Rumah Sheila tak jauh dari rumahnya. Masih satu blok, tapi rumah Sheila berada di ujung blok. Hanya memerlukan waktu 5 menit menggunakan sepeda. Aku tiba di rumah Sheila. Karena malas mengetuk pintu, aku memutuskan untuk menelpon Sheila saja.
"Halo Shei,"salamku begitu terdengar telpon di angkat.
".. Ya, Teh? Ada apa?"Tanyanya dengan suara agak parau. Kayaknya Sheila baru bangun tidur.
"Hei, aku di depan rumahmu nih. Bukain pintu dong,"jawabku. Tak terdengar suara di ujung sana. Hening sesaat.
"Hah? Kenapa?"Tanya Sheila lagi dengan suara yang parau.
"Buka pintu, aku di depan,"jawabku lagi.
"Oh, mm.."gumam Sheila. Terdengar suara langkah kaki di ujung sana. Tak lama, pintu terbuka dan muncullah Sheila dengan matanya yang masih mengantuk dan rambutnya yang acak- acakan.
"Kamu kemari kenapa gak bilang dulu ... aku lagi tidur ..."gumam Sheila. Aku melepaskan sepatuku dan masuk ke dalam.
"Sori gatau. Nih, aku bagiin makanan buat nyepian. Itu juga ada bubur kacang ijo, banyak tuh nenek bagiin,"ujarku. Aku menyodorkan tas bekal kepada Sheila. Sheila yang masih setengah sadar menerimanya dan tersentak kaget hingga tasnya sedikit terjatuh.
"Ya ampun berat banget wei,"ujar Sheila.
"Iya, nenek banyak banget bagiin ke kamu. Dah, makan tuh ya,"ujarku. Sheila mengangguk dan membawa tas bekal itu ke dapur. Aku mengikuti Sheila. Sudah lama aku tidak main ke rumah Sheila. Rumah Sheila masih seperti ini, hanya sofanya saja yang tampak seperti baru. Mungkin sudah di ganti.
"Ganti sofa ya Shei?"Tanyaku sambil menyentuh sofa di ruang tamunya. Wow, sofa ini masih sangat keset dan bau barunya terasa banget.
"He'eh. Karena yang lama udah rusak banget, jadinya bunda beli baru,"jawab Sheila. Aku menatap sekeliling ruangan. Ada satu area yang di berikan pagar pendek di sudut ruangan. Area itu penuh berantakan dengan mainan anak- anak. Itu arena bermain adik- adik Sheila yang masih kecil. Katanya, sengaja bunda Sheila membuat arena itu agar tidak susah saat membereskannya nanti.
"Sepi kok Shei,"gumamku. Biasanya rumah Sheila tampak ramai dengan suara riang anak- anak.
"Pada tidur adik- adikku. Kecapekan main,"jawab Sheila. "Aku kecapekan masak,"lanjutnya.
Sheila menaruh tas bekal itu di meja dapur. Ia membuka tas itu dan mengeluarkan setiap kotak bekal yang ada. Ada 4 kotak bekal di sana.
"Nenekmu ya Teh. Banyak banget ini mah,"gumam Sheila.
"Ya gak apa sih Shei. Toh rumahmu juga rame kan,"jawabku. Sheila membuka setiap kotak bekal. Ada ayam geprek, sei sapi, gado- gado, dan bubur kacang ijo. Sheila kegirangan saat membuka kotak bekal berisikan bubur kacang ijo. Saking banyaknya, hampir saja bubur kacang ijo itu meleber kemana- mana.
"Ya ampun! Ini banyak banget bubur kacang ijonya! Bisa nih di jadiin es!"Ujar Sheila.
"Es? Es kacang ijo?"Tanyaku heran. Sheila mengangguk. Ia mengambil plastik edible dan memasukkan bubur kacang ijo, lalu mengikatnya. Setelah itu dia memasukkannya ke dalam freezer.
"Udah deh. Nanti kalo udah beku tinggal di makan. Enak banget tau di makan lagi cuaca panas,"jawab Sheila. Aku mangut- mangut.
"Kenapa kemarin aku gak coba buat begitu ya .."Gumamku.
"Coba deh nanti di rumah. Enak tau. Adik- adikku suka banget es kacang ijo ini,"ujar Sheila.
"Oh ya Shei, mama pengen roti pelangi yang kamu tunjukin tadi,"ujarku.
"Oh. Cloud bread itu ya? Iya bunda juga suruh aku bagiin itu ke mama kamu. Katanya mamamu suka. Bentar deh." Sheila membuka lemari dan mengambil keranjang berisikan roti berwarna coklat.
"Ini rotinya?"Tanyaku. Sheila mengangguk. Ia membelah salah satu roti dan menunjukkan isinya yang berwarna pelangi.
"Coba deh kamu nyicip,"pinta Sheila. Aku mengambil salah satu belahan roti dan memakannya. Hem, rasanya tidak terlalu manis, malah mungkin sedikit hambar dan saat mengunyahnya roti ini seperti cair dan lenyap begitu saja. Tapi not bad, enak juga kok.
"Hem, enak sih. Cuma rasanya agak beda ya dengan roti lain,"ujarku.
"Iya, karena ini bahannya cuma pake putih telurnya aja,"jawab Sheila. Ia memasukkan beberapa cloud bread ke dalam kotak bekal. Aku memakan cloud bread hingga habis tak bersisa.
"Heem, gitu,"gumamku. "Oh ya bunda mana Shei? Kok gak nampak daritadi?"Tanyaku penasaran. Biasanya bunda Sheila yang selalu menyapa tamu yang datang. Apalagi saat aku datang, bunda pasti langsung mengajakku makan ke dapur.
"Gatau. Katanya bunda masuk kantor hari ini, panggilan mendadak,"jawab Sheila. Aku mengernyitkan alis.
"Loh? Kok sama kayak papa?"Tanyaku bingung.
"Ya kan papa sama bunda masih di satu perusahaan loh Teh,"jawab Sheila.
"Bunda bilang sama kamu gak pulangnya kapan?"Tanyaku.
"Katanya sih kalo sempet malam udah pulang. Tadi mama juga minta tolong bik Iyem buat datang jagain kami,"jawab Sheila. Bik Iyem adalah asisten rumah tangga yang menjaga adik- adik Sheila selama bunda pergi kerja. Bik Iyem tidak menginap, hanya pulang hari. Bik Iyem biasanya pulang kalau sudah sore ataupun saat Sheila pulang sekolah.
"Nih udah nih,"ujar Sheila. Ia menyodorkan tas bekal yang tadi. Aku membuka isinya. Tas bekalnya memang sama, tapi kotak bekalnya sudah berbeda.
"Aku banyak buat kue, jadi aku bagiin aja. Aku yakin pasti rumahmu gaada buat kue kan?"Tanya Sheila. Aku nyengir lebar. Sheila memang paling tahu deh.
"Thanks Shei!"ujarku. Aku mengangkat tas bekal itu.
"Oh ya Teh, hati- hati ya bawanya. Itu aku ada bagiin kopi s**u dan boba juga, jangan sampai tumpah,"ujar Sheila memperingatkan. Aku mengangguk dan memilih untuk menggendong tas itu.
"Yaudah balik dulu ya Shei!"pamitku. "Dah kamu tidur balik gih sana."
"Gak deh. Aku mandi dulu aja. Entar lagi kayaknya adik- adikku bangun,"ujar Sheila.
"Oke deh. Bye Shei! Thanks ya!" Aku melambaikan tangan. Sheila membalas lambaian tanganku.
"Bye! Hati- hati Teh!"
****
Malam sudah tiba. Aku turun ke bawah untuk makan malam. Sudah ada mama dan nenek di meja makan. Mama membantu nenek menghidangkan makan malam.
"Dion pulang gak Wil?"Tanya nenek pada mama.
"Mas Dion pulang larut ma. Ada rapat penting jadi gabisa di tinggalin,"jawab mama.
"Ya ampun. Padahal habis makan malam ini mau matiin lampu semuanya,"ujar nenek.
"Kecepatan nek, kan nyepian besok,"jawabku.
"Biar ga repot loh Teh, nanti pagi ga payah matiin lagi,"ujar nenek. Aku geleng- geleng kepala.
Aku jadi teringat Sheila. Kalau papa belum pulang, kemungkinan bunda Sheila juga belum pulang. Berarti Sheila cuma sendiri di rumah jaga adik- adiknya. Atau mungkin bi Iyem baliknya nanti ya, begitu bunda udah pulang?
Entahlah, mungkin nanti aku harus telpon Sheila. Biar kalo ada apa- apa Sheila mending ke rumah saja.
Selesai makan, aku segera pergi ke kamar. Aku mengambil mr.communicator dan menelpon Sheila.
"Ya, hallo Teh,"sapa Sheila di ujung sana.
"Shei! Gimana? Kamu sendiri ya di rumah?"Tanyaku.
"Hah? Engga kok,"jawab Sheila. "Kan ada adik- adik, ada bunda juga,"lanjut Sheila.
"Loh? Bunda udah pulang?"Tanyaku heran.
"Udah Teh. Tadi agak sorean emang bunda pulangnya,"jawab Sheila. "Kenapa memangnya Teh?"Tanya Sheila.
"Kok, papa belum pulang ya?"Tanyaku bingung.
"Lah, aneh. Perasaan tadi bunda bilang semuanya udah pada pulang. Kantor kosong loh."
****