Chapter 11

2112 Words
            “Ya, kita lihat saja nanti,”ujarku. Kara tersenyum picik dan lanjut menulis di bukunya. Aku mengeluarkan tablet dan membuka folder pelajaran hari ini. Aku membaca materi pelajaran yang mungkin akan keluar nanti.             Tak lama, guru masuk ke dalam kelas. Kali ini pelajaran Sejarah yang diajarkan oleh pak Broto. Beliau masuk sambil menarik gerobak pasir anak kecil di belakangnya. Gerobak pasir itu berisi buku- buku yang lumayan tebal. Aku tahu pak Broto memang selalu membawa buku tebal sebagai bahan ajarnya. Meski beliau sudah memberikan bahan ajar bentuk file pdf ke e-mail semua siswanya, tapi beliau tetap menjelaskannya sambil membaca buku dan berjalan ke sekeliling kelas. Beliau sebenarnya guru yang cukup nyentrik selain pak Santoso, karena masih suka dengan cara lama. Pak Broto hanya menggunakan tablet saat ulangan ataupun ujian.             “Selamat pagi anak- anak…”Sapa pak Broto.             “Pagi pak Broto..”Balas kami sekelas.             “Oke hari ini saya akan menerapkan metode belajar yang baru, khusus untuk pelajaran saya.” Pak Broto menghampiri gerobak kecil dan mengambil sebuah buku di sana. “Ini bukan cara baru. Ini cara lama, yang menurut saya masih bagus untuk di terapkan. Karena itu, tinggalkan semua tablet kalian, mari kita coba cara tradisional. Istirahatkan mata kalian dari sinar layar itu, sekarang mari kita baca buku ini.” Pak Broto mengangkat buku di tangannya.             “Hah? Kok gitu pak?”Tanya kami sekelas kompak.             “Ya bisalah. Saya bangkitin lagi metode ini setelah mendengar masih ada seorang anak yang mencatat materi di buku tulis. Hal yang sangat langka di jaman sekarang ini,”jawab pak Broto. Sekelas menatap ke arah Kara. Kara yang di pandangi seisi kelas hanya bisa nyengir.             “Sudah sudah. Ketua kelas, kamu bantu saya bagikan buku ini. Bukunya gak tebal kok, ini buku paling tipis yang saya berikan. Buku ini untuk kalian, saya belikan,”ujar pak Broto. “Mana ketua kelasnya? Tolong bagikan ini sebentar nak,”pinta pak Broto.             Arya selaku ketua kelas maju ke depan. Ia menarik gerobak pasir itu dan membagikan buku yang ada di sana dari meja ke meja. Semua anak membolak- balikkan buku itu dan menaruhnya kembali ke meja. Aku geleng- geleng kepala, masih tidak habis pikir. Belajar dari buku? Sambil buka buku? Sepertinya hanya sekolah yang sangat pelosok yang masih menerapkan metode ini. Kami diberikan tablet, dengan semua materi lengkap di sana, untuk apa lagi buku? Lebih enak juga pakai tablet, ringan dan mudah di bawa kemana- mana. Apalagi tablet jaman sekarang sudah banyak yang memakai layar anti radiasi yang setidaknya lebih aman. Aku memegang buku itu dan membuka halaman depannya. Ya ampun, aku baru buka satu halaman saja rasa kantuk sudah menyerangku.             “Oh ya, di dalam buku itu juga saya selipkan hadiah. Bisa kalian periksa,”ujar pak Broto memberitahu. Hadiah? Kami membolak- balikkan halaman di dalam buku dan di tengah buku terselip sebuah buku tulis.             “Buku tulis pak?”Tanyaku sambil mengangkat buku tulis itu. Pak Broto mengangguk.             “Ya. Buku tulis. Oh ya, saya juga memberikan kalian alat tulisnya. Sebentar.” Pak Broto membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa kotak pulpen dan pensil. Pak Broto berkeliling kelas, memberikan satu persatu pulpen warna- warni, pensil, dan peghapus dengan berbagai bentuk yang lucu.             “Pak, saya boleh pilih sendiri alat tulisnya?”Tanya Sheila. Pak Broto mengangguk.             “Silakan nak silakan, ambil yang kamu mau,”jawab pak Broto. Sheila menatap lamat- lamat kotak- kotak itu, lalu mengambil pulpen berwarna biru dan juga penghapus berbentuk awan.             “Ini aja pak, makasih pak,”ujar Sheila. Pak Broto tersenyum kecil dan pergi melewati meja Sheila. Pak Broto menghampiri meja Kara di belakangku.             “Kamu anak baru ya?”Tanya pak Broto. Kara mengangguk.             “Iya pak, saya baru pindah kemarin,”jelas Kara. Pak Broto melirik buku tulis lain yang ada di meja Kara. Beliau tersenyum tipis.             “Ternyata kamu yang di ceritakan bu Frida ke saya kemarin,”ujar beliau. “Makasih nak, kamu masih coba mencatat ke buku. Itu lebih ampuh buat menghafal materi kan?”Tanya pak Broto. Kara mengangguk.             “Sudah pak, saya ambil yang ini saja,”ujar Kara.             “Oke. Belajar yang rajin ya nak.” Pak Broto menepuk pundak Kara pelan. Kara menyinggungkan senyum tipis dan mengangguk. Pak Broto menghampiri mejaku yang ada di depan meja Kara.             “Nah nak Althea, silakan kamu pilih.” Pak Broto menyodorkan kotak- kotak yang ia bawa. Hanya tersisa beberapa alat tulis di sana. Tadinya aku ingin asal pilih saja. Toh, nantinya belum tentu bakal aku pakai sering kan? Tapi melihat pulpen warna warni ini tampak lucu. Aku melihat pulpen itu lamat- lamat. Hum, tinggal sedikit tapi warnanya bagus semua. Akhirnya aku memilih pulpen berwarna oranye dan penghapus berbentuk buah jeruk. Jarang sekali ada barang berwarna oranye yang cantik dan tidak ngejreng warnanya.             “Makasih pak,”ujarku. Pak Broto mengangguk dan tersenyum kecil. Beliau lanjut membagikan peralatan lukis dari meja ke meja. Setelah semua anak kebagian alat tulis, beliau kembali ke mejanya.             “Oke. Sepertinya  sudah semua,”gumam pak Broto. Beliau mengambil buku di atas meja dan membukanya. “Oke anak- anak buka buku halaman 65..” ***             Akhirnya pelajaran pak Broto selesai juga. Aku merengangkan tubuh dan menguap lebar. Ah bener- bener deh. Sepanjang pelajaran tadi aku ngantuk banget. Mataku yang tak terbiasa dengan lembar buku selalu mengantuk saat coba membacanya kata demi kata. Aku menggoyang- goyangkan kedua tanganku. Pegal banget. Karena tidak terbiasa menulis, jadinya pegal banget saat di suruh tulis setengah halaman tadi.             “Gimana rasanya nulis? Enak kan?”Tanya Kara di belakangku.             “Yah, ini lebih baik daripada harus berbagi tablet denganmu,”jawabku.             “Oh, tenang saja. Mulai sekarang kita gak akan berbagi tablet kok,”ujar Kara. Ia bangkit dari duduknya. “Karena hari ini aku dapat tablet belajar dari sekolah,”lanjutnya. “Mungkin tabletnya gak akan terlalu kepake ya, kan udah mulai nyatat di buku lagi,”celetuk Kara. Ia melirikku dengan tatapan mengejek. Aku meliriknya dengan tatapan sebal. Kara mendengus dan pergi keluar kelas.             “Niat banget ya pak Broto sampai kasih kita alat tulis gini,”ujar Sheila menghampiriku. Aku mengangguk. Ya, beliau memang sangat berdedikasi sebagai guru. Tidak pernah setengah hati dalam mengajar, bahkan di usia beliau yang sudah tidak muda lagi pun semangat mengajarnya tak pudar. Pak Broto adalah guru yang paling sabar di sekolah menurutku, setelah bu Frida. Beliau sangat jarang marah, bahkan membentak pun jarang. Pokoknya beliau guru terbaik deh yang pernah ada. Pak Broto juga guru senior yang sangat di hormati di sekolah ini.             “Lihat nih, lucu banget lagi alat- alatnya! Bener bener gak setengah hati.” Sheila menunjukkan buku tulisnya. Benar juga, buku tulisnya pun lucu. Aku baru menyadarinya sekarang. Cover depannya bergambar kartun dengan isi dalam yang warna- warni.             “Iya juga ya…”gumamku.             “Lihat lihat, suka banget aku sama penghapusnya!” Sheila menunjukkan penghapus bentuk awan tersenyum itu. Memang penghapus itu sangat lucu.             “Kamu ambil penghapus yang kayak gimana Teh?”Tanya Sheila. Aku menunjukkan penghapus berbentuk jeruk dan pulpen berwarna oranye.             “Wah, favorit banget kamu kayaknya nih,”ujar Sheila. Aku tersenyum kecil. Ya memang tidak salah sih.             “Agaknya sih. Soalnya lucu gitu warnanya,”jawabku. Sheila merenggangkan tubuhnya.             “Yah, walau agak capek sih nulis. Mungkin karena belum terbiasa kali ya?”Tanya Sheila. Aku mengangguk.             “Bisa jadi sih. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali nulis di buku,”jawabku. Ini benar. Aku sudah di jejal belajar menggunakan tablet sejak dulu, jadi aku tidak ingat bagaimana rasanya menulis. Untung saja aku masih bisa menulis di tangan, meski baru nulis sebentar saja rasanya capek.             “Iya nih. Tulisanku juga jelek banget jadinya. Entah deh bisa di baca atau engga nih,”ujar Sheila.             “Ya, apa beda denganku Shei …”gumamku.             “Oh ya, karena nulis gini, aku jadi keinget sama tugas bu Frida deh,”ujar Sheila. Aku menepuk jidatku. Ah, benar juga.             “Iya ya, duh mana banyak lagi,”ujarku.             “Kumpulnya lusa loh …”lanjut Sheila. “Mana 3 halaman pula. Duh, materinya yang mana sih?”Tanya Sheila.             “Itu kan, bab kemarin tentang itu apa sih, tentang fotosintesis gitu bukan sih ya? Kalau gak salah deh,”jawabku.             “Duh kelar gak ya tuh lusa. Nanti kita buat bareng yuk Teh di rumahmu,”ajak Sheila.             “Ayoklah. Daripada gak siap. Aku juga males sih kerjain sendirian.” Aku menyetujui. “Gara-gara Kara sialan nih, kan jadinya kita udah ada tugas nulis gini. Enakan pake tablet juga!”Gerutuku. Sheila mengangguk setuju.             “Jangan sampai deh nanti tablet di sekolah udah pada di ganti dengan buku. Jadi kita ke sekolah bawa buku- buku tebal,”gumam Sheila. Aku mengeleng- gelengkan kepala. Tidak. Itu mimpi buruk.             “Oh nggak! Nggak boleh! Nggak mau aku tenteng buku berat-berat ke sekolah. Enakan juga pake tablet, gak berat dan praktis!”Tolakku. Sheila mangut- mangut setuju.             “Agaknya metode lama emang udah gak cocok di jaman sekarang ini ya,”ujar Sheila. Aku mengangguk setuju.             “Udah bukan jamannya lagi, gak cocok sama jaman modern.” ***             Hari ini sepertinya guru banyak memberikan kejutan kepada murid- muridnya. Mereka tampak belum move on dengan metode lama, karena 3 dari 5 guru yang mengajar di kelas hari ini kembali menerapkan metode menulis di buku. Bu Santi juga membagikan buku tulis seperti yang pak Broto lakukan.             Aku menghela napas. Entah sudah berapa kali hari ini aku merengangkan tubuh. Tanganku rasanya seperti sudah mati rasa, saking pegalnya karena sedari tadi di suruh menulis. Bayangkan saja, sudah bertahun- tahun aku tidak menulis, sekalinya di suruh tulis malah banyak. Ya menurutku itu banyak sih. Aku melihat isi buku tulis dan merasa sedih sendiri. Ya ampun, agaknya aku harus belajar nulis lagi, mungkin. Sedih sendiri melihat tulisan tanganku yang sangat acak kadut. Kayaknya aku juga kesusahan untuk baca tulisan tangan sendiri.             “Wah, tulisannya hancur banget,”gumam Kara di belakangku. Aku langsung menutup buku tulis dan menyimpannya di tas. “Kayak orang baru belajar nulis.” Kara tertawa kecil. Wajahku memerah.             “Memang. Memang aku gak pernah nulis. Puas kamu?”Bentakku. Kara kaget dan mengernyitkan alisnya.             “Are you serious? Gak pernah nulis?”Tanya Kara. Aku terdiam dan mengangguk pelan.             “Bukan gak pernah sih. Pernah. Tapi itu dulu banget, aku bahkan gak ingat kapan terakhir kali aku nulis,”jawabku. Kara melongo sesaat, lalu mengeleng- gelengkan kepalanya.             “Ini serius?”Tanyanya lagi. Aku mengangguk. Kara tersenyum lebar dan mendengus remeh.             “Ya ampun, aku gak nyangka beneran ada orang kayak kamu deh,”ujarnya. Wajahku semakin memerah. Kara melihatku dengan senyum mengejek tersinggung di bibirnya.             “Kenapa memangnya? Aneh? Ini jaman modern tau, itu hal biasa. Sekarang malah aneh kayaknya liat orang masih nulis di buku!”ujarku. Kara mengeleng- gelengkan kepalanya.             “Ah, ternyata. Kamu memang udah kemakan cara jadi manusia modern. Ya, ya, selamat menjadi manusia modern!” Kara melambaikan tangannya dan pergi keluar kelas. Aku menggengam tanganku erat. Memang Kara sialan!             “Teh? Althea?”panggil Sheila.             “Apa?!”Balasku ketus. Sheila tersentak kaget.             “Chill sis, chill. Ini Sheila, bukan Kara,”jawab Sheila berusaha menenangkanku. “Yuk tarik napas dulu ayok. Tarik napas…” Sheila memerintah. Aku menarik napas panjang. “… yak, jangan lupa di buang. Yak buang …” Aku membuang napas panjang. “Gimana? Udah agak tenangan?”Tanya Sheila. Aku mengangguk pelan. Yah, agaknya rasa kesalnya sedikit berkurang sih.             “Ada apa Shei?”Tanyaku.             “Cuma mau nanya, kita jadi gak nih kerjain tugas bu Frida di rumahmu? Biar aku langsung ke sana aja pulang ini,”tany Sheila. Aku menghela napas.             “Duh Shei, bukan apa sih, tapi bener deh aku capek banget nulis,”jawabku.             “Jadi batal nih?”Tanya Sheila. Aku diam sebentar, lalu mengangguk.             “Kayaknya, begitu. Tanganku capek banget loh ini, kayak udah melayang tangannya. Gak kerasa lagi,”jelasku.             “Sebenarnya aku juga gitu sih Teh. Cuma gimana ya The, aku takut aja tugasnya gak siap gitu loh,”ujar Sheila. “Yuklah, kerjain aja sekalian Teh. Biar cepat kelar, kan tugas nulis juga cuma tugas ini aja kan?”Bujuk Sheila. Sebenarnya gak salah juga sih kata Sheila.             “Atau gak gini deh, kita ke rumahmu aja dulu. Istirahat aja deh dulu kita, nonton kek makan kek ngapain. Nanti kalo udah agak mood kita kerjain. Gimana? Sekalian aja aku nginap di rumahmu sih,”usul Sheila.             “Agaknya kamu sedikit bandel ya karena gak ada bunda,”ujarku. Sheila nyengir.             “Jadi gimana? Mau gak?”Tanya Sheila.             “Boleh deh. Gitu aja mending,”jawabku. “Yuk buruan balik. Aku capek banget nih”             "Yuk"  ****    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD