Chapter 22

1200 Words
Alaram berbunyi dan bergetar kencang hingga mengguncangkan kasurku. Aku yang masih mengantuk menggerutu kesal dan mencoba mematikan alaram. Tapi malah tidak berhasil. Saat aku hendak mematikannya, alaram itu malah kabur entah kemana. Aku menggerutu kesal. Alaram ini adalah robot yang baru saja aku selesaikan beberapa hari lalu. Iya, robot yang kemarin bikin kekacauan saat di perintahkan membuat kopi. Robot ini memang sudah selesai kuperbaiki, tapi aku sendiri masih belum tahu trial error-nya. Karena itu aku mencobanya lebih dulu. Taunya, alaram inu malah sangat menggangguku. Aku menggerutu sebal. Aku baru tidur balik jam 2 tadi, tapi alaramnya sudah menyala kencang begitu. Bahkan alaramnya selalu kabur saat aku hendak menggapainya. Alaram macam apa sih yang aku buat? Padahal aku yang buat tapi aku sendiri yang kesal! “Hah, sialan!”Gerutuku. Aku bangkit dari tidur dan duduk di kasur. Aku melihat sekeliling. Gelap. Ah ya tentu saja. Pasti mama dan nenek sudah mematikan listrik untuk merayakan nyepian mahkota. Getar- getaran kencang masih terasa mengguncangkan tempat tidur. Aku memicingkan mata, memperhatikan sekitar. Terlalu gelap, aku tidak bisa melihat apapun. Ya ampun, ini jam berapa sih sebenarnya? Kenapa masih gelap banget begini? Aku mencoba meraba- raba tempat tidur, mencoba mencari letak alaram sialan itu. Udahlah, lain kali gak usah pakai alaram segala! Biar aja alaram dalam badan ini yang bangunin. “BANGUN WOI BANGUN JANGAN KEBO!” Terdengar rekaman sebuah suara. Aku menepuk jidatku. Ya ampun, untuk apa sih aku merekam suaraku sendiri?! Benar deh, aku malu sendiri dengarnya. Apa sih yang aku pikirkan saat membuat alaram ini? Aku coba mencari asal suara. “HEH TEH! BANGUN KAU, JANGAN NGEBO. MASA KALAH SAMA AYAM!” Terdengar lagi suara itu. Suara itu berasal dari sudut tempat tidur. Aku meraba- raba dan akhirnya aku menemukan alaram itu. “Diam! Udah bangun!” Aku menepuk alaram itu kencang. Akhirnya alaram ith berhenti bergetar. Alaram mati dan menunjukkan jam 4 pagi. Ya ampun, apa sih yang aku pikirkan. Kenapa aku menyetel alaram sepagi ini? Agaknya aku bikin ini alaram waktu lagi setengah sadar. Alaram ini di rancang layaknya baterai handphone, dimana harus di charge hingga penuh baru bisa di gunakan. Tapi aku sendiri lupa berapa lama baterai di alaram ini akan bertahan. Yah yang pasti sih sampai berhari- hari lamanya. Aku melempar jam alaram itu ke sembarang tempat. Aku menggaruk rambutku yang tak gatal. Gara- gara alaram sialan ini, aku bangun terlalu pagi. Aku duduk termangu di tempat tidur. Sekarang aku harus apa ya? Tidur lagi aja apa ya? Aku kembali menarik selimut dan menutup mata. Ah sudahlah, lebih baik tidur lagi. Daripada dia bosan seharian ini karena listrik mati. **** Usahaku untuk tidur lagi tampaknya sia- sia. Aku malah terjaga hingga matahari terbit. Aku mendecak sebal. Kesal rasanya dengan jam tidur yang amat kacau ini. Aku akhirnya memilih bangkit dari tempat tidur dan merapikan tempat tidur. Suatu hal yang sangat jarang kulakukan. Biasanya, mama yang selalu membereskan tempat tidurku. Aku selalu membiarkan tempat tidurku berantakan karena toh, nantinya kalau di tidurin akan berantakan juga kan? Jadi mending berantakan sekalian daripada harus membereskannya berkali- kali. Selesai merapikan tempat tidur, aku juga merapikan meja belajar dan meja rias. Sebenarnya kedua tempat ini tidak terlalu berantakan sih, apalagi meja belajar. Aku lebih sering belajar di tempat tidur daripada menggunakan meja belajar. Tapi semua ini kulakukan untuk membuang waktu dan energi. Internet akan mati seharian ini dan kami akan terkurung di dalam rumah, tentu tidak ada yang bisa kulakukan selain beres- beres dan tidur. Setelah semuanya beres, aku turun ke bawah. Perutku lapar. Mungkin saja nenek atau mama sudah menyiapkan sarapan. Aku turun tangga perlahan. Aku kaget setiba di bawah. Nenek dan mama tertidur di ruang tamu dengan badan yang di tutupi selimut dan jendela yang di buka lebar agar ada cahaya yang masuk. Sedang apa mereka di sini? Bukannya semalam mereka sudah masuk ke kamar ya? “Ma, ma ..” Aku mengguncangkan badan mama pelan. Mama tersentak kebangun dan melihat sekelilingnya. “Ah ya ampun kamu ternyata Teh ...”ujar mama sambil mengelus pelan dadanya. “Mama kok tidur di sini?”Tanyaku. “Hah?”Tanya mama linglung. “Mama kenapa tidur di sini? Kan semalam udah masuk kamar, kenapa ga tidur di kamar?”Tanyaku lagi. Mama menguap lebar. “Iya, mama ... Nungguin papamu pulang,”jawab mama. Mama menggaruk rambutnya. “Kan papa bilang pulang pagi kan, kenapa ga tunggu di kamar aja?”Tanyaku lagi. Hadeh mama ini. “Tadinya mau gitu..”Jawab mama. “Tapi nenekmu rewel banget mau tungguin papa pulang. Gamau masuk ke kamar. Yaudahlah mama temenin aja. Eh malah ketiduran, rencananya kan mau matiin listrik dulu,”lanjut mama menjelaskan. Aku mengernyitkan alis. “Loh? Jadi mama tadi belum matiin listrik? Tapi listrik ini udah mati kok ma,”ujarku. “Hah? Udah mati? Seingat mama belum mama matiin deh tadi,”gumam mama. Mama mencoba menepuk tangannya. “Turn on the lamp!”Perintah mama. Khusus untuk ruang tamu, sudah menggunakan lampu smart LED. Jadi bisa di nyalakan hanya sensor melalui tepuk tangan dan suara. Tak bergeming, lampu masih tak nyala. “Hem. Mungkin udah di matiin duluan kali ya sambungan listriknya sama lurah,”ujar mama. Aku mangut- mangut. “Bisa jadi sih ma,”ujarku. Sejak tahun lalu, kalau nyepian mahkota ya lurah memiliki hak untuk mematikan listrik di wilayahnya. Karena kadang ada rumah kosong karena mudik dan membiarkan lampu rumahnya menyala. Agar lebih saklar hingga ke tulangnya, akhirnya lurah turun tangan untuk memadamkan dan menyalakan listrik setelah nyepian selesai. “Ma, lapar.” Aku mengadu. Mama melihat jam tangannya. “Wah udah jam 6 ternyata,”ujar mama. Mama menyibak selimut dan berdiri. Mama menggeliat dan melakukan perenggangan. “Bangunin nenekmu gih, biar mama buatin sarapan,”pinta mama. “Aku bantuin buat sarapannya ya?”pintaku. “Gak usah, nanti gosong.” *** Kami menikmati sarapan dengan di temani cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Sarapan hari ini simpel saja, hanya telur orak- arik dan roti bakar yang di bakar dengan teflon dan juga selai buah. Aku memakan sarapan dengan lahap. Aku melihat nenek yang duduk di sebelah mama. Nenek masih tampak terkantuk- kantuk. Hampir saja nenek tertidur dengan kepala yang menimpa roti bakar kalau saja mama tidak menahannya. “Duh ma, mama masih ngantuk banget nih. Udah deh mama masuk kamar aja, tidur lagi. Nanti Wilda bangunin kalau udah agak siangan,”ujar mama. Nenek mengeleng pelan dan menguap lebar. “Gak ... Gak apa Wil ... Mamak mau tungguin anak mamak pulang di sini...”Gumam nenek. “Ini lagi nyepian ... Mamak jarang pulang ... Mamak mau ketemu dengan anak mamak lebih sering ... Mamak kangen ...”Lanjut nenek lagi. Mama menghela napas. “Mama boleh minum kopi gak kata dokter?”Tanya mama pada nenek. Nenek mengangguk pelan. “Ya udah Wilda bikinin kopi ya,”ujar mama. Mama balik ke dapur dan tak lama mama kembali dengan segelas kopi hangat. “Wah wangi sekali kopinya,”ujar sebuah suara dari pintu dapur. Semua menoleh ke asal suara itu. Nenek yang tadinya masih mengantuk langsung membelakkan mata mendengar suara itu. “Papa pulang,”ujar papa di depan pintu. Nenek menghampiri papa dan memeluknya. “Dion!!” ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD