Dua Puluh Dua: Kemarahan

1719 Words

“Vin.” Pukul 1 malam, Haidar mendengar suara pintu apartemen milik Kayla terbuka. Vinka masuk dengan terburu-buru dengan riasan tebal yang bahkan belum terhapus. Ia bahkan tak menyapa Haidar atau menanyakan bagaimana pria itu bisa berada di dalam apartemennya saat ini. Perempuan itu justru berlari menuju kamar Kayla, namun tangannya bergegas ditahan oleh Haidar bahkan sebelum tangannya menyentuh gagang pintu. “Kayla tidur. Baru banget tidur, jangan dibangunin ya?” Permintaan itu disuarakan Haidar dengan teramat lembut. Jujur saja, mengingat cerita dari Gian dan Rio bisa dipastikan sepupunya kembali masuk ke fase histeria. Seharusnya Kayla dirawat untuk kurun waktu sedikit lebih lama, namun dirinya menolak. Memaksa untuk keluar dari rumah sakit saat itu juga, tapi harus berjanji bahwa un

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD