Terakhir kali Ara bertemu dengan kedua orang tuanya, mungkin lebih dari 3 tahun lalu. Beberapa bulan sebelum ia dan sang mantan suami bercerai. Masih teringat jelas seberapa murka kedua orang tuanya saat itu. Ayahnya melemparkan cangkir ke lantai, hanya berjarak beberapa senti dari kaki Ara disertai sumpah serapah yang tak enak didengar oleh siapapun. Ibunya melengos, tidak melindungi sedikitpun putri semata wayangnya dari amukan sang suami. Semua pembantu di rumah itupun hanya bisa diam dan menatap, tanpa ada niatan menyadarkan tuan mereka yang sudah dirasuki kemarahan. Mungkin kalau sang ayah mendadak menyerangnya dengan pisau buah yang tergeletak di atas meja saat itu, takkan ada satupun yang peduli. Namun, perasaan kecewa yang menumpuk di hati Ara takkan pernah sebanding dengan kasih

