Ara menatap rumah di depannya dengan perasaan campur aduk. Taksi online yang ia naiki sudah pergi bermenit-menit yang lalu. Meninggalkan Ara dan kantong plastik berisi bahan makanan di area pekarangan rumah. d**a Ara terasa sesak, bersamaan dengan airmata yang mulai memenuhi pelupuk mata. Belum apa-apa ia sudah merasa nelangsa. Rumah yang ada di depannya ini bentuk nyata dari ketakutan terbesar Ara. Pagi tadi, Bi Ning, ART yang mengurus rumah Wira mengirim pesan. Mengabari bahwa pria tersebut terkapar tak berdaya karena demam, namun enggan untuk pergi ke dokter. Ia bahkan menolak siapapun untuk masuk ke dalam kamar. Masalahnya, suara Wira yang terisak-isak terdengar hingga keluar kamar. Membuat Bi Ning kelimpungan harus melakukan apa, itulah kenapa ia meminta Ara untuk datang. “Mbak Ara?

