JFD#8 tim inti

1509 Words
“Ca besok aku pengen ngomong sesuatu sama kamu, beres acara pembagian raport nanti ke atap kelas ya, kamu doang,” bisik Zulfan tepat di samping telingaku, tautan lengan kami terlepas tepat di depan pintu kelas.             Aku menganggukan kepala, menyetujui permintaan Zulfan untuk esok hari, hm.. besok ya? Jadi penasaran dia mau ngomong apa besok. Dia mengusap kepalaku sebelum masuk terlebih dahulu ke dalam kelas. “Tak bisa terpisahkan barang sehari saja, aku yang jomblo hanya bisa diam melihat semuanya.” Aku menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan dari Aira saat datang ke kelasku. “Aku yang punya gebetan tidak bisa selengket itu, aduh mau dong..” gerutu Rubby di belakang Aira. “Gak tau tempat deh mereka melakukan kemesraannya,” celetuk Hana yang mengambil tempat duduk di depan kursiku. “Loh emangnya ada yang lagi bemersraan? Siapa? Risa sama Zulfan bukan?” Aku tergelak dengan pertanyaan polos Fhafia. “Hahahaha....” aku dan sahabat yang lain tidak bisa menahan tawa kami lagi, kami saling bertatap sebelum semakin tertawa terbahak-bahak dengan tingkah polosnya. “Astaga gue masih punya temen yang polos masalah perbucinan ey, untung gak semua bucin kayak Risa” ucap Raken yang menggelengkan kepala. “Si Hana kan yang polos? Tapi kenapa Hana juga ikutan ketawa? Ngetawain apaan sih?” tanya Fhafia yang membuat kami semakin tertawa kencang. “Gak peka, asli lah ini dia gak peka sama kondisi,” ucap Hana disela-sela tawanya. “Gue bener kan?” “Iya Fha , Hana yang polos diantara kita semua,” ucapku yang menepuk pundak Fhafia pelan. “Udah udah, langsung balik ke kelas yu, udah bel.” Lerai Hana saat bel sudah berbunyi nyaring.             Aku maupun Raken masih belum bisa meredakan tawa kami yang membahana di kelas, kepolosan Fhafia yang pasti akan menjadi bahan tawa kami dan semua pasti di akhiri dengan kekesalan Hana atau Raken seperti tadi. “Ngapain balik ke kelas, orang udah bebas juga kita semua.” Celetuk Raken yang membuat semua sahabatku yang awalnya akan beranjak langsung kembali duduk di tempat mereka. “Lah iya juga ya, kalau gitu gimana kalau kita ke kantin?” Ajakku yang langsung diangguki oleh yang lain. “Nah iya, kuy lah ke kantin, cacing di perut sudah berdemo.” “Demo mulu cacing lu mah Han, tapi kalau gendutan dikit malah ngomel-ngomel,” celetuk Aira dengan memutar bola malas. “Biarin lah, hidup-hidup gue juga!” sewot Hana yang berjalan lebih dulu. “Ehh kalian udah tau gak info terbaru,” ucap Rubby yang masih sibuk dengan handphonenya. “Info apaan lagi? Siapa sekarang yang PDKT?” balas Aira dengan malas. “Bukan PDKT ih, kalian pasti bakal seneng dapet kabarnya.” “Apaan? Lomba antar sekolah?” tanyaku yang mengambil perhatian Rubby sepenuhnya. “Lu pinter banget sih Ris, nanti awal masuk sekolah kita disambut sama lomba antar sekolah se kabupaten, dan tau lomba pertama kalinya apa?” “Wah aslian? Gak nyangka awal sekolah dong.” “Iya ih, biasanya juga semester dua.” “Ketemu cogan!! Asik!” “Gak tau By, emang apaan?” jawab Raken dengan malas. “Lomba futsal! Gila gak tuh? Awal sekolah udah cuci mata aja, ketemu cogan yang gak tau siapa jodohnya.” “Hah?” teriakku yang mengundang perhatian beberapa orang di koridor kelas. “Tumben banget lombanya di semester 1, iya gak sih?” Tanya Fhafia yang langsung di angguki oleh aku dan Hana, biasanya juga pertengahan semester satu kalau paling cepet dan itu jarang banget, sedangkan sekarang malah di awal semester. “Gak tau deh, gak ada alasan yang jelas juga.” Aku langsung menggaguk, gak terasa kami sudah sampai di kantin. “Siapa yang bakal mesenin?” Tanyaku yang malas untuk memesan makanan sendiri. “Aku sama Aira aja,” ujar Fhafia yang menarik lengan Aira ke jajaran pedagang di kantin. “Ya udah aku mesen es jeruk.” Pesanku yang mengalihkan padangan dari Fhafia, menatap sekeliling kantin yang sudah mulai ramai oleh siswa-siswi, mataku terfokus ke arah kak Rey yang juga menatap ke arahku, aku suka sama matanya kak Rey yang coklat cerah. “Serius amet sih mbak,” ucap Raken yang menepuk pundak aku dengan kencang, membuat aku menghentikan eye contact aku dengan kak Rey. “Apaan sih?” balasku sewot, mengambil handphone yang berada di saku baju. “Liatin siapa sih Ris? Serius banget? Perasaan gak ada Zulfan juga,” ujar Rubby yang sekilas menatap ke arahku. “Ris emang kamu gal bosen ngeliatin Zulfan? Aku aja yang gak sesering kamu udah bosen tau ngeliatin dia,” ujar Aira yang memfokuskan pandangannya ke arahku. ‘Ya kali aku bosen ngeliat dia, kalau aku aja suka banget sama dia,’ gumamku dalam hati.             Pengen sebaris kata itu aku lotarin ke mereka tapi aku gak bisa, bisa-bisa nanti merka nambah ngebuly aku ini karena kondisi friendzone. Aku mendelikan mata sebagai balasan dari pertanyaan yang lebih menjerumus ke pembulyan. “Kenapa kalian gak jadian aja sih? Kamu udah kenal sama Zulfan dari kalian masih kecil, gak salah kali kalau kalian milih buat jadian? Keluarga aja udah saling kenal juga.”             Aku terdiam mendengar pernyataan Hana yang terlalu polos, siapa sih yang gak mau buat jadian sama orang yang disuka dari dulu, aku mau buat jadian tapi pertanyaanya, apa Zulfan mau buat jadi pacar aku? “Aku sih mau, tapi ya belom waktunya mungkin.” “Belom waktunya atau emang dia gak peka Ris?” ledek Raken dengan senyum jahil. “Ish, dia itu—“ “Nih guys pesenan kalian, gila banget ngantrinya,” ujar Fhafia yang memotong ucapanku, meletakan nampan berisi pesanan kami. “Masih pagi juga, tapi yang ngantri udah banyak,” keluh Aira yang duduk di hadapanku. “Makasih Fhafia, Aira,” ucapku bersamaan dengan Hana. “Yosh sama-sama, itung-itung aku gantiin minuman waktu dua hari yang lalu.” “Baiknya orang ini, Fha sering-sering aja traktir kayak gini,” ucap Rubby yang meminum minumannya dengan alis yang diangkat. “Eh ini kabar tentang Zulfan masuk tim inti beneran? Bukan hoax?” tanya Aira yang menscroll jurnal yang ia baca. “Iya dia ikutan tim inti futsal, tadi pagi dia baru ngomong sama gue, akhirnya masuk tim inti.” “Wis gila sih, makin banyak dong fansnya Zulfan, awas kalah saing Ris,” celetuk Hana dengan kalem, sudah aku bilang bukan kalau Hana itu sekali nyeletuk bikin orang ngelus d**a. “Gak bakal ngaruh tau, orang dia itu gak peka sama perasaan orang, perasaan si Risa aja dianggurin,” tukas Rubby yang mengangkat bahu acuh. “Kayaknya sehari gak ngebully gue, kalian ngerasa hampa deh.” “Emang!” jawab mereka dengan kompak, aku mendengus sebal, gak ada akhlak mereka semua.           15 menit berlalu dengan cepat, sekarang aku dan yang lain selesai memakanan pesanan kami tapi obrolan hangat kami masih terus berlanjut sampai sekarang. “Ada tanding futsal gak sih?” tanyaku di tengah pembicaraan kami. “Kalau gak salah babak final bukan? Kelas lu Ris lawan kelas kak Rey, jam 9 nanti,” sahut Hana yang mengecek jadwal perlombaan di handphonenya, “yup jam 9 ini bakal ada pertandingan final futsal.”             Aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, 20 menit lagi acara pertandingan futsal bakalan di mulai! Gak boleh sampai kelewat! “Guys kita mencari vitamin D yuk?” “Hah? Vitamin D? Berjemur?” “Iya Ra, kita berjemur sambil liat pertandingan futsal di lapang, yuk guys!” “Emang ada tanding?” Tanya Aira dengan polosnya. “Ada Ra, gak kedengeran gitu tadi Hana bilang ada jadwal pertandingan futsal kelas aku lawan kelas kak Rey hari ini, 20 menit kurang acaranya di mulai Ra!” jelasku yang menahan rasa kesal kepada dia. “Oh ada pertandingan, eh ada kak Rey? Gak boleh kelewat buat ketemu jodoh!” Aira langsung berdiri terlebih dahulu, berjalan menuu lapang futsal. Aku menggelengkan kepala tidak percaya dengan tingkah Aira, “Ayo guys, kita liat! Jangan kalah sama semangat Aira.” “Cuci mata sebelum liburan menyapa.” “Nah bener By, sekalian ngebucin ya sama doi?” ledek Raken yang menaik turunkan alis. “Iya dong, jangan kasih kendor! Buruan!”             Kami berjalan beriringan menuju lapangan, tapi sepertinya topik membuly Clarisa adalah topik yang mereka suka, sepanjang perjalanan tidak ada kata yang tidak bermakna menyindir status aku dengan Zulfan. Emang salah ada di status friendzone? Siapa juga yang mau di zona menyesakan itu? “Bully aja terus, jangan kasih kendor, udah kebal ini telinga denger sindiran kalian yang itu itu terus!” ucapku dengan sebal, menatap kesal ke arah mereka yang tidak terpengaruh sama sekali dengan kalimatku barusan. “Biar lu sadar Ris, gak di zona itu terus, nyesek kan?” ujar Hana dengan acuh. “Yup bener tuh, biar lu mendesak Zulfan buat nembak elu Ris, kita kan seneng kalau liat lu jadian sama Zulfan, meskipun gue bakal enek kalau liat lu bakal ngebucin terus sama dia,” sahut Raken yang mengelus dadanya, seolah ingin menyabarkan dirinya yang masih menjoblo.  “Iya deh terserah kalian aja, gak bakal beres kalian ngeledek kalau gue belum dapet pacar ini,” balasku dengan malas. “Argh! Gak salah kita datang di sini! Itu liat kak Rey yang lagi ngoper bola, ah! Jodoh orang ganteng banget!” ucap Hana dengan heboh, berlari menuju pinggir lapang agar leluasa melihat pemain futsal. Aku mengabaikan ucapan Hana, sekarang yang pengen aku lakukan adalah memberi semangat Zulfan sesuai janji aku tadi, itu aja bukan hal yang lain. “Hey Ris..” Aku menegok sekilas ke arah asal suara, tersenyum singkat ke arah Devan yang tadi menyapa. “Hai! Ada apa Dev?” Tanyaku yang menatap fokus ke arah lapang. “Gak, cuman pengen nyapa doang.” Aku hanya membalas dengan ber’oh’ ria. “Zulfan masuk tim inti futsal kan?” Tanya Devan, aku hanya menganggukan kepala. “Iya dia masuk tim inti, emang knapa?” Tanyaku sambil menengok ke arahnya. “Gak kenapa-napa sih, cuman pengen nanya takutnya lu gak tau aja.” Aku hanya mendengus sebal ke arah Devan, pasti tau lah seorang Clarisa tentang informasi mengenai Zulfan.             Aku menatap kagum ke arah Zulfan yang sedang mengoper bola kepada Rama dengan cepat, terlihat sangat keren cara bermain Zulfan, aku terus menerus meneriaki namanya dengan sangat keras, bodo amat sama orang di sekitar aku. “Zulfan Haikal semangat!” Teriaku lebih kencang dari sebelumnya, dia menatap sekilas sebelum tersenyum ke arahku dan menggepalkan lengannya ke arahku. “Dasar frienzone,” ledek Devan yang masih aku dengar. “Dih biarin jomblo!” balasku tak mau kalah. “Iya dah iya..”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD