Gabriela baru saja selesai melempar-lemparkan sejumlah benda yang dapat dijangkau oleh tangannya hingga berkali-kali menghantam dinding ketika sebuah ketukan pintu terdengar oleh telinganya. Disertai dengan air mata yang membanjiri kedua belah pipinya dan didukung oleh penampilannya yang begitu awut-awutan, wanita itu pun berpikir bahwa ketukan tersebut tentu hanyalah Akasia yang ingin menanyainya lagi seperti yang sudah pembantunya itu lakukan di beberapa menit sebelumnya. Membuat Gabriela tak ingin menggubris karena sesungguhnya pertanyaan yang selalu Akasia lontarkan sedari tadi pun tidak cukup membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Gabriela bahkan tidak membutuhkan secuil pun perhatian dari pembantunya itu. Yang dia inginkan saat ini hanyalah sebuah jalan keluar bagi masa

