Melihat Aidan kembali ke ruangannya, Rida merentangkan tangan lebar-lebar. Ia menyambut kehadiran sang putra dengan perasaan bahagia. "Sini, Sayang, peluk Mama." Setelah mendapati kedatangan Ferdhy di belakang Aidan, Rida membuang muka. Jujur saja, ia masih kesal dengan sikap suaminya itu. Dengan keberanian penuh, Rida menatap nyalang pada Ferdhy. Ia tak segan memberi ancaman. "Sekali lagi kamu berani sakiti hati anakku, aku pastikan nggak akan pulang ke rumahmu lagi, Mas! Kamu lupa sama janji kita? Kamu sepakat buat adopsi Aidan dan menganggapnya seperti anak sendiri. Lantas, di mana janjimu sekarang?" Ferdhy yang merasa bersalah, ia kemudian mendekat lalu memeluk Rida erat. Diciumnya lembut kening sang istri agar perempuan di hadapannya bisa menjadi lebih tenang. "Maaf, Sayang, emosi

