Bab 6 Kembali ke Rumah Mertua

1236 Words
"Mama ... seneng, deh kalau ada Papa. Aku mau main sama Papa, kayak Kak Naima tadi." Aku belai rambut panjang putriku. Memberi kenyamanan dan ketenangan ditengah kerinduan dia pada Papanya. Melihat Naima yang bermain kuda-kudaan dengan Kak Rasyid tadi, membuat Thalita kembali merindukan sosok Papanya. Hampir setiap hari Thalita akan menghabiskan waktu dengan Mas Mirza. Mas Mirza tidak hanya bisa memikat hatiku, tapi hati Thalita juga. Dia selalu punya cara agar kedua wanitanya nyaman di sisinya. Tidak jarang, aku dan Thalita sering berebut tempat untuk bisa dekat dengan Mas Mirza. Namun, sayang sekarang hanya jadi angan saja. Jangankan kahadirannya, bayangannya pun enggan menyapa. "Ma, Papa kapan pulang, sih? Thalita, 'kan kangen," ujar putriku lagi. "Sabar, Sayang. Nanti kalau pekerjaan Papa sudah selesai, Papa pasti akan segera pulang," kataku pada Thalita. Setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, akhirnya Thalita mau memejamkan matanya. Dia tidur dengan memeluk tubuhku. Sampai kapan aku akan terus berbohong pada Thalita. Sedangkan kedatangan Mas Mirza tidak bisa aku pastikan kapan. Jangankan untuk datang, memberi kabar pun tak ada. Ragaku lelah, hatiku pun sama. Rumah tanggaku diambang kehancuran, keberadaan Mas Mirza yang masih menjadi misteri, membuatku harus bekerja keras untuk mengungkap tabir rahasia yang dibuatnya. Entah berapa jam aku tidur, saat bangun kurasakan kepalaku pusing. Kulihat Thalita masih terlelap menikmati mimpinya. Sejak Mas Mirza pergi, Thalita memang tidur denganku. Berbeda jika ada Papanya, dia akan tidur sendiri di kamarnya. Aku berjalan ke kamar mandi, membasuh muka dan bersuci dengan air wudhu. Lalu kembali ke luar, membentangkan sejadah dan menunaikan kewajibanku shalat subuh. Aku memang bukan hamba yang taat beribadah. Sering aku lalai dalam melaksanakan shalat. Bahkan sering dengan sengaja aku meninggalkannya. Mungkin karena kelalayanku ini, Allah menghukumku dengan hancurnya rumah tanggaku. Aku masih bersimpuh memohon ampun dan memohon untuk diberikan petunjuk atas masalah yang kini menimpaku. "Papa!" Teriakan Thalita membuatku kaget. Aku langsung menghampiri Thalita yang masih terbaring di kasur. "Sayang, kenapa?" Aku mengelus kepalanya dan mencium pipinya. "Tadi, aku mimpi Papa, Ma. Aku panggil, tapi Papa tidak nengok-nengok. Aku sedih, deh." Mata Thalita berkaca-kaca saat mengatakan mimpinya. Hatiku teriris, Thalita pasti sangat merindukan Papanya, sampai terbawa mimpi. Sesakit apapun nanti, aku tetap harus bisa menemukan Mas Mirza. Walaupun nantinya kita tidak akan bisa bersama lagi, tapi dia harus tetap menemui anaknya. "Doakan saja agar Papa cepat pulang ya, Nak?" Thalita mengangguk dengan mengucek matanya. * "Kita akan ke rumah orang tuanya Mirza hari ini," ucap Kak Rasyid saat kita sedang sarapan. Kak Rasyid sengaja menginap di sini karena akan sangat melelahkan jika mereka pulang pergi. Apalagi keadaanku yang memang membutuhkan dukungan dari saudaraku ini. Aku melirik pada Thalita yang sedang menikmati sarapannya. Untungnya dia tidak banyak bertanya kenapa Kak Rasyid sampai menyebut Papanya. "Untuk apa, Kak?" tanyaku malas. Aku rasa sangat percuma karena mereka tidak akan memberi tahu tentang keberadaan Mas Mirza. "Jangan tanya untuk apa, Kakak yang akan bicara pada mereka. Seenaknya saja memulangkanmu hanya dengan lewat pesan. Apa putra mereka menikahimu, dulu lewat online? Tidak bukan? Keluarga terhormat, berpendidikan, tapi tidak punya adab," pungkas Kak Rasyid. Aku tidak lagi berani bicara. Watak Kak Rasyid memang keras, seperti Papa. Dia akan sangat kristis untuk hal yang tidak dia mengerti. Mencari tahu, sampai dia mendapatkan jawabannya. "Ingat, Yah, jangan pakai emosi. Masalah tidak akan selesai dengan urat. Yang ada, malah akan nambah masalah," ujar Kak Melati. "Iya, Sayang. Tak akan." Kak Rasyid menjawab dengan lembut perkataan istrinya. Dulu, aku juga sangat harmonis seperti mereka. Bahkan Mas Mirza sangat romantis. Namun, semua hanya sandiwara saja. Kebaikan dan kelembutan Mas Mirza ternyata hanya sementara. * "Kalian? Ada apa datang ke sini?" Wajah Mama Marta telihat kaget saat aku datang bersama Kakakku. Aku hanya berdua dengan Kak Rasyid, sedangkan Kak Melati di rumah bersama anak-anak. "Seharusnya Anda tahu, untuk apa saya datang ke sini, Nyonya Marta," ucap Kak Rasyid. Terkesan tidak sopan, karena Kak Rasyid biasanya akan memanggil mertuaku dengan sebutan Mama dan Papa. Tidak berselang lama, Papa datang dan ikut duduk bersama kami. Tidak berbeda jauh dengan Mama, wajah Papa terlihat gusar dengan kedatanganku. Bukan, melainkan adanya Kak Rasyid. "Saya tahu, apa tujuan kamu datang ke sini. Ini pasti menyangkut hubungan Mirza dan Aletta, iya, 'kan?" tanya Papa. "Bagus, kalau Anda paham. Sekarang, panggilkan putra kalian yang tidak punya adab itu. Suruh dia menemui saya." Aku memegang lengan Kak Rasyid. Aku tahu dia tidak terima dengan cara Mas Mirza menceraikanku. Tapi, aku juga tidak mau Kak Rasyid sampai ribut dengan mertuaku. Bagaimana pun mereka adalah orang tuaku juga, yang harus aku hormati. "Kami, selaku orang tua Mirza, meminta maaf pada kalian. Khususnya pada Aletta. Kami tahu, cara Mirza yang menjatuhkan talak pada istrinya, memanglah tidak sopan. Dan terkesan, tidak punya adab. Memang benar, itu kesalahan anak kami. Kami tidak akan mengelak, karena anak kami memang salah. Tapi, jika kalian meminta kami untuk memanggil Mirza ke sini, kami tidak bisa. Jangankan kalian, kami pun keluarganya tidak mengetahui keberadaan anak kami sekarang. Kami bahkan tidak bisa sekedar bertukar kabar dengannya." Aku lihat Mama mengusap matanya. Menangiskah dia? Apa yang Mama tangisi, perceraianku atau kepergian putranya yang tidak ada kabar? Aku tidak tahu. Papa pun tertunduk setelah mengatakan hal itu. Wajah tuanya terlihat sendu. Apakah Papa menangis juga? Sebenarnya aku yang sedang menahan tangis, rumah ini begitu banyak menyimpan kenanganku dengan Mas Mirza. Sebenarnya ke mana dia, kenapa harus bersembunyi? Papa mengangkat kepalanya, matanya menatapku sendu. Tidak tahan aku melihat wajah Papa, karena di sana ada garis wajah Mas Mirza. Tanpa bisa aku tahan, satu tetes air mata jatuh dari sudut mataku. Papa menghampiriku, mengelus kepalaku lalu menciumnya. "Maafkan Mirza, Al. Maafkan Mirza ... dia telah menyakiti hatimu. Dia melukaimu begitu dalam," ucap Papa dengan masih memeluk kepalaku. Aku semakin tidak bisa menahan kepedihanku, akhirnya aku menangis di pelukan Papa mertua. Yang akhirnya membuat Papa pun ikut menangis. "Apa salah Aletta, Pa? Kenapa Mas Mirza dengan tega meninggalkan Letta. Katakan pada Letta, di mana letak kekurangan Aletta, Papa?" Aku menangis dengan tergugu. Tidak peduli aku sedang berada di mana, dan dengan siapa aku menumpahkan air mataku. "Tidak, Nak, kamu tidak salah. Sedikit pun kamu tidak pernah kurang dalam melayani kebutuhan Mirza. Mirza yang salah, anak Papa yang tidak bisa menjaga imannya." Papa melepas rengkuhannya, mengusap air mata yang keluar dari mataku dan kembali ke tempat duduknya semula. Hening. Kami saling diam dengan pemikiran masing-masing. Suasana yang tadinya tegang dan memanas, kini jadi haru dan canggung. Mama Marta mengusap matanya dengan tisu. Kak Rasyid diam seribu bahasa. Hingga akhirnya, Papa kembali berucap menghilangkan kecanggungan. "Thalita apa kabar, Al, kenapa tidak diajak ke mari?" "Thalita dengan Kak Melati di rumah, Pa. Dia baik-baik saja," kataku. Kembali hening. Sepertinya kedua orang tua Mas Mirza pun tidak mengetahui keberadaan anaknya. Terbukti, keduanya yang sangat merindukan dan mengharapkan kepulangan putranya itu. "Maaf jika kedatangan kami ke sini telah mengganggu kalian, sebaiknya kita pamit untuk pulang. Tapi, jika nanti ada kabar dari Mirza, tolong beritahu Aletta. Bagaimanapun, Mirza punya anak yang selalu menunggu kepulangannya," ujar Kak Rasyid. "Iya, Nak Rasyid, tentu kami akan memberitahukannya. Doakan saja, agar Mirza cepat kembali," jawab Papa. Akhirnya aku dan Kak Rasyid pamit untuk pulang. Tidak ada jawaban atau pun titik terang yang kami dapat dari rumah ini. Semunya masih menjadi misteri. "Aletta!" Aku yang hendak naik ke mobil, harus membalikan badan saat Reza memanggilku. Reza berjalan menghampiriku dan menyerahkan dua benda tipis dan sebuah kunci ke tanganku. Aku menelan saliva dengan sangat susah. Aku terus memandangi kedua jenis benda di tanganku. 'Kenapa ini ada pada Reza?' batinku. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD