Bab 7 Kerinduan Thalita

1320 Words
Reza berjalan menghampiriku dan menyerahkan dua benda tipis dan sebuah kunci ke tanganku. Aku menelan saliva dengan sangat susah. Aku terus memandangi kedua jenis benda di tanganku. 'Kenapa ini ada pada Reza?' batinku. "Aletta, ada apa?" Aku tersadar saat Kak Rasyid memanggilku. Dia turun kembali dari mobil dan menghampiriku yang mematung. "Itu milik siapa, punya Mirza? Kenapa ada padamu?" tanya Kak Rasyid pada Reza. "Seminggu yang lalu dia mengirimnya lewat ekspedisi. Aku tidak tahu kalau akhirnya dia akan meninggalkan Aletta," ucap Reza. "Kenapa dikembalikan? Bukankah ini akan sangat berguna untuk menghidupi wanita simpanannya?" Aku bertanya dengan sinis. "Oh, simpanan ya? Ok, karena simpanan Mirza jauh lebih tajir darimu. So, dia sudah tidak membutuhkan itu lagi. Bawalah, dan jangan pernah terus mencari Kakakku. Aku harap, kamu segera mengurus perceraianmu ke pengadilan. Agar Kakakku bisa menikahi simpanannya secara negara." Reza menekankan kata 'simpanan' pada setiap ucapannya. Bugh "Kak!" jeritku saat Kak Rasyid memukul wajah Reza, hingga dia terhuyung. "Katakan pada Kakakmu itu. Jangan terus bersembunyi jika dia masih laki-laki. Temui aku jika dia masih memiliki muka!" "Ok, akan aku sampaikan." Reza masuk ke dalam mobilnya dan pergi mendahului kami. "Ayo Aletta, sebaiknya kita juga pergi dari sini." Kak Rasyid menggiringku masuk ke dalam mobil. Aku melihat ke atas, dan menghembuskan napas kasar. Mobil membawaku menjauh dari rumah Mama, tapi serasa ada yang tertinggal di sana. Aku masih menggenggam kedua kartu yang sering digunakan Mas Mirza. Satu kartu ATM, satunya lagi kartu kredit yang dia pakai untuk keperluan kantor. Dan, kunci vila yang berada di dekat kantor cabang. "Itu kartu atas nama siapa? Kamu apa Mirza?" tanya Kak Rasyid. "ATM atas nama Mas Mirza, untuk kartu kredit itu milikku. ATM ini, dia bikin waktu pertama bekerja sebagai direktur, lima tahun yang lalu." Kak Rasyid manggut-manggut mendengar penjelasanku. Pandangannya lurus ke depan memperhatikan jalan. "Kamu tahu, berapa saldo terakhir ATM itu?" tanya Kak Rasyid lagi. Aku mengingat-ngingat kapan Mas Mirza menggunakan kartu itu. Setahu aku, Mas Mirza hanya menggunakan kartu itu untuk menyimpan sebagian gajinya. Dan untuk laba perusahaan, semuanya memang masuk ke dalam rekeningku. "Aku tidak tahu, mungkin tidak terlalu banyak karena Mas Mirza hanya menyimpan sebagian gajinya di kartu ini. Dan sebagiannya lagi, dia berikan padaku." "Mau mengeceknya?" tawar Kakakku. "Tidak usahlah, Kak. Mau ada ataupun tidak ada isinya, tidak penting bagiku. Toh, itu haknya dia, upahnya dia dalam bekerja," kataku menolak. Namun, untuk kartu kredit, Kak Rasyid menyarankan agar aku memeriksanya. Kak Rasyid bilang, takutnya Mas Mirza menggunakan uang kantor untuk keperluan pribadinya. Aku pun mengiyakan, tapi tidak sekarang. Aku merasa sangat lelah harus terus berinteraksi dengan orang. Bukan tubuhku, melainkan hati dan pikiranku. Setelah sampai di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamar setelah menyapa Kakak ipar dan keponakanku. Thalita tidak ada, kata Kak Melati, sedang pergi ke sekolah dengan Niar. Beruntung, sekolah Thalita tidak jauh dari rumah, jadi aku tidak terlalu khawatir. Aku merebahkan tubuhku di atas pembaringan, menutup kepala dengan bantal. "Aletta, bangun dan siapkan ini semua." Baru saja tubuhku merasa rileks, kini dibuat kembali tegang dengan permintaan Kak Rasyid. "Apa ini, Kak?" tanyaku. Aku bangun dan mengambil ponsel dari Kakakku. Aku menyugar rambutku, dan menggaruknya. "Kumpulkan persyaratan ini dan segera ajukan gugatan ceraimu ke pengadilan. Akan Kakak kirimkan ini ke ponselmu," ujarnya. Setelah beberapa saat, ponselku berbunyi menandakan ada pesan baru yang masuk. Tidak perlu aku lihat, itu pasti pesan dari Kak Rasyid tadi. Di sana ada beberapa berkas yang harus aku siapkan agar bisa menggugat cerai Mas Mirza. Aku berdecak malas, karena ini pasti akan membuatku harus bolak-balik ke pengadilan nantinya. Setelah menyiapkan yang dibutuhkan, aku menyerahkan berkas itu pada Kak Rasyid. Kak Rasyid bilang, biar pengacara yang akan mengurus itu semua. Meskipun nantinya aku akan tetap datang untuk mempercepat jalannya persidangan. * Selama satu minggu ini Kak Rasyid terus mendampingiku yang kembali bekerja di perusahaan. Dia terus mendorong dan mengajariku agar lebih tahu tugas dari seorang direktur. Sulit, lelah, takut, itu yang aku rasakan saat tahu semua kendali ada di tanganku. Aku adalah nahkoda untuk perusahaan ini. Aku pemimpin untuk seluruh karyawanku. Nasib mereka dan nasib perusahaan ada pada diriku. "Al, besok Kakak harus pulang. Kakak bukan tidak ingin mendampingimu, tapi Kakak juga punya tanggung jawab di sana. Kakak harap, kamu bisa bekerja dengan baik di sini." "Secepat itu? Terus aku gimana, Kak? Aku belum siap memegang kendali perusahaan sebesar ini. Aku takut kalau aku gagal dan--" "Aletta. Kamu tinggal menjalankan tugasmu sesuai dengan apa yang telah Kakak arahkan kemarin. Kamu tidak sendiri. Kamu punya tim kerja yang sangat bagus. Para staf yang sangat kompeten dalam bidang mereka masing-masing. Karyawan yang berdedikasi tinggi pada perusahaan. Apa yang kamu takutkan? Kebangkrutan? No Aletta. Jangan takut jatuh," ujar Kak Rasyid. Aku yang duduk di kursi kebesaran Mas Mirza dulu, merenungi dan mencerna setiap kalimat yang terlontar dari bibir Kakakku. "Untuk soal perusahaan, Kakak mengakui kalau Mirza memang sangat berhasil membangun perusahaan ini kembali berada dalam kesuksesan. Tugasmu hanya mempertahankan apa yang sudah diraih oleh pemimpin sebelumnya," ujar Kak Rasyid kembali. Aku masih diam merenung. "Itu yang sulit, Kak. Mempertahankan lebih sulit daripada meraihnya," ucapku setengah bergumam. Kak Rasyid berdiri dari duduknya. Dia menghampiriku dan menepuk pundakku. "Kakak yakin, kamu bisa. Kamu tidak sendiri, ada Dion juga yang akan membantumu nanti." * Sesuai yang dikatakannya kemarin, hari ini Kak Rasyid beserta anak dan istrinya pulang. Rumahku menjadi sepi sepeninggal mereka. Thalita yang hari-harinya ceria karena ada teman main, kini merengut kembali karena merasa kesepian. "Sayang, kok cemberut begitu, sih?" Thalita yang duduk di sofa ruang tamu dengan bersidekap d**a, memalingkan wajahnya saat aku bertanya dan mendekatinya. "Marah sama, Mama?" Thalita menggeleng. "Aku jadi tidak punya teman lagi, Ma. Thalita sendirian lagi," ujarnya. Aku memeluk tubuh putri kecilku dengan sayang. "Thalita tidak sendiri, ada Mama, sama Mbak Niar yang menemani Thalita." Deru mobil menyudahi drama antara aku dan Thalita. Aku meninggalkan Thalita dan membuka pintu melihat siapa yang datang. "Assalamualikum." Lelaki dengan baju khas tenaga kesehatan mengucapkan salam. "Waalaikumsalam. Ada apa kamu datang ke sini?" tanyaku. Karena tidak biasanya dia datang tanpa tujuan. "Aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku." Reza berjalan masuk ke dalam rumahku. Meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu. "Hai, peri cantik!" "Om Dokter?!" Melihat kedatangan Reza, Thalita langsung berdiri menyambut Om-nya. Keduanya saling berpelukan layaknya orang yang telah lama tak jumpa. Mungkin Thalita juga akan melakukan hal yang sama pada Papanya jika mereka kembali bertemu. Ah, aku benci dengan pikiranku. Kenapa aku tidak bisa lepas dan terus memikirkan dia. "Peri cantik, apa kabar?" Reza membawa Thalita duduk di sampingnya. "Baik, Om. Tapi ...." "Kenapa, kok malah jadi sedih gitu mukanya?" Reza melepaskan baju khas dokternya dan menyimpannya di atas sofa. "Aku kangen sama, Papa. Sudah lama sekali Papa tidak pulang, Papa juga tidak lagi menelpon Thalita, Om." "Gak apa, gak ada, Papa. Kan ada Om, nanti Om akan ajak Thalita ke rumah Oma, biar Thalita bisa main sama Oma dan Opa, gimana?" Mata Thalita seketika berbinar saat Reza menyebut Kakek dan Neneknya. "Mau, Om. Thalita kangen juga sama Oma, sama Opa," ujar Thalita kegirangan. Aku hanya jadi penonton melihat percakapan antara paman dan keponakan itu. Mereka terlihat sangat akrab satu sama lain. Jika orang lain yang tidak mengenal keluarga kita, mungkin akan mengira kalau Thalita dan Reza adalah anak dan ayah. Anehnya, Reza hanya bersikap manis pada Thalita saja. Sedangkan padaku, seperti biasa dia akan cuek dan bicara seperlunya saja. "Om, aku boleh pakai bajunya, Om tidak? Nanti kalau aku sudah besar, aku juga mau jadi dokter kayak Om Eza. Boleh 'kan, Ma?" "Boleh, Sayang," kataku tersenyum manis. Thalita naik dan berdiri di atas sofa. Aku tertawa geli melihat dia dengan baju yang kebesaran di badan mungilnya. "Ma, foto dong. Nanti kirimkan ke Papa, ya?" Aku mengambil ponsel bersiap untuk mengabadikan momen Thalita memakai baju dokter. Tapi, tanganku terhenti saat Reza mengatakan sesuatu. "Biar, Om saja yang fotoin, ya. Nanti akan Om perlihatkan ke Papanya Thalita." What? Perlihatkan? Perasaanku berkata kalau sebenarnya Reza tahu di mana Mas Mirza berada. Atau, hanya perasaanku saja? Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD