"Biar, Om saja yang fotoin, ya. Nanti akan Om perlihatkan ke Papanya Thalita."
What? Perlihatkan?
Perasaanku berkata kalau sebenarnya Reza tahu di mana Mas Mirza berada. Atau, hanya perasaanku saja?
"Perlihatkan?" Aku memiringkan kepala dan menatap Reza penuh selidik.
Raut wajah Reza berubah dari yang tadinya santai menjadi sedikit tegang. Namun, dia pandai menyembunyikan ketegangannya.
"Iya, jika Om, ketemu nanti." Dia membalas tatapanku dengan lebih tajam.
Sepertinya aku harus menyelidiki Reza juga. Apa mungkin kepergian Mas Mirza ada kaitannya dengan Reza, atau Reza yang membantu kakaknya untuk pergi.
Setelah hampir dua jam lamanya Reza berada di rumahku, dan bermain dengan putriku, akhirnya dia pamit pulang setelah Thalita tertidur karena kelelahan setelah bermain.
Sepertinya ini kesempatanku untuk menginterogasi dia. Mencari tahu tentang Mas Mirza melalui adiknya.
"Za, tunggu!" Aku menghentikan langkah kakinya yang hampir mendekati pintu.
"Ada apa?" tanyanya jutek.
"Sebenarnya, kamu tahu, 'kan di mana Mas Mirza berada? Tapi kamu menutupi semuanya dariku. Iya, 'kan?"
Reza menarik sebelah sudut bibirnya, senyumnya mengejekku.
"Aku tidak tahu." Reza kembali berjalan ke luar menghampiri tunggangannya.
"Aku yakin kau tahu!" sergahku. Reza yang baru akan membuka pintu mobil, kini berbalik melihatku.
"Kalau pun aku tahu, aku tidak akan mengatakannya padamu. Berhentilah mencari Kakakku, karena sekarang, kamu itu orang lain baginya." Reza masuk dan mulai menyalakan mesin mobilnya.
Sebelum dia membawa mobil keluar dari halaman rumahku, Reza melemparkan sesuatu dari kaca jendela mobilnya. Aku pun mengambil kertas yang dilempar oleh mantan adik iparku itu.
Hatiku kembali berdenyut, mataku memanas lagi. Jadi, semuanya bukan hanya kebohongan semata, Mas Mirza memang benar memiliki wanita lain?
Satu lembar kertas berukuran sedang yang Reza lemparkan tadi, ternyata sebuah foto Mas Mirza yang sedang berdiri memeluk seorang wanita. Tidak tampak wajah dari wanita itu karena membelakangi kamera.
Sepertinya mereka sedang berada di luar negeri, terlihat dari latar mereka brpose dikelilingi dengan salju. Di sana Mas Mirza tampak tersenyum bahagia. Tidak ada beban yang aku lihat dari wajahnya.
Aku menghapus jejak air mata yang tertinggal. Sudah bukan saatnya aku terus menangis. Kalau dia bisa bahagia tanpa aku, kenapa aku harus terus memikirkan dia yang jelas sudah tak lagi memikirkanku.
Aku masuk ke dalam rumah, berniat memindahkan putriku yang ketiduran di atas sofa ke kamarnya. Namun, setelah kulihat, ternyata Niar sudah menggendong Thalita dan membawanya masuk.
Aku pun memutuskan untuk pergi ke kamarku. Kulihat sekeliling kamar, apa yang membuatku selalu teringat akan Papanya Thalita, akan aku hilangkan sekarang juga.
Aku membuka lemari pakaian, mengeluarkan seluruh pakaian Mas Mirza. Dari mulai baju kerja, baju santai, maupun baju tidurnya. Aku masukkan ke dalam koper besar miliknya juga.
"Ah, tidak muat." Aku bergumam sendiri.
Aku pun menurunkan koper milikku, akan aku masukkan sebagian lagi ke dalam sana. Biarlah aku menyumbangkan satu koper untuk menghilangkan jejak Mas Mirza dari rumahku.
Saat aku mengobrak-abrik barang pribadi milik Mas Mirza, sebuah kertas berukuran panjang jatuh ke bawah kakiku. Aku memungut kertas putih itu lalu membacanya.
Oh, rupanya hanya amplop berlogokan nama rumah sakit. Aku berdiam sejenak dan mengamati amplop itu. Aku membuka dan berniat akan mengambil isinya, tapi kosong. Hanya amplop tanpa isi.
"Mungkin, ini bekas aku dulu saat melakukan tes kesehatan, ya?" Aku menerka-nerka.
"Tapi, kok di sini tertulis nama Mas Mirza. sejak kapan Mas Mirza melakukan medical check up?" Aku bertanya pada diriku sendiri.
Dari dulu, Mas Mirza memang paling anti melakukan medical check up. Dia selalu bilang tidak ada waktu, hanya buang-buang waktu, dan alasan lainnya. Berbanding terbalik darinya, aku selalu rutin melakukan itu setiap tiga sampai enam bulan sekali.
Semuanya sudah beres, semua barang milik Mas Mirza sudah aku kemas. Namun, ternyata melupakan seseorang yang kita sayangi, tidak semudah yang kita ucapkan. Hatiku selalu merasa perih jika aku membayangkan keberasamaan kita selama enam tahun hidup bersama.
*
Pagi ini sebelum aku pergi ke kantor, aku berniat akan mampir ke rumah Mama Marta terlebih dulu. Aku membawa semua barang milik Mas Mirza dan akan aku berikan pada keluarganya.
Mungkin nanti mereka akan merasa sakit hati, karena kesannya aku telah mengusir putranya. Padahal, Mas Mirza sendirilah yang pergi terlebih dulu.
Saat aku masuk ke dalam komplek perumahan Mama Marta, aku berpapasan dengan mobil ambulan yang melaju sangat cepat. Aku menghentikan laju mobilku, melihat mobil itu ke belakang yang sudah hilang membelah jalan.
Aku meraba dadaku. Ada yang berdenyut saat aku berpapasan dengan ambulan itu. Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Mungkin aku teringat Papa dulu, yang pulang ke rumah dengan kendaraan itu.
Setelah sedikit tenang, aku kembali melajukan mobilku dan berhenti di halaman rumah Mama. Aku turun, kemudian menurunkan dua koper berisi pakaian Mas Mirza.
Rumah Mama sepi, bak tek berpenghuni. Aku menekan bel dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," ucap seseorang dari dalam.
Bibi membuka pintu.
"Eh, Non Aletta. Sudah lama, Non?"
"Enggak, Bi. Baru aja sampai. Bi, siapa yang sakit? Tadi aku liat ambulan di depan sana."
"Emh, anu ... itu, tetangga, Non." Bibi berucap dengan terbata. Mungkin heran juga karena aku bertanya hal yang tidak penting.
"Oh, ini Mama sama Papa pada ke mana? Kok sepi, Bi?" tanyaku lagi. Karena tidak biasanya rumah akan kosong.
"Pada ke rumah sa, saudaranya. Iya, tadi pagi-pagi sekali," ujar Bibi.
Kembali aku mengangguk dan berkata 'oh'. Tanpa ingin berbasa-basi lagi, aku menyerahkan koper itu pada Bibi. Seperti yang tidak ikhlas menerimanya, Bibi terlihat sedih saat aku menyimpan koper itu di hadapannya.
"Maaf, Bi. Mungkin ini tidak sopan, tapi saya tidak ingin terus mengingat Mas Mirza lagi. Mungkin Bibi juga tahu masalahnya," kataku pada wanita itu.
"Iya, Non, Bibi juga tahu, kok. Mudah-mudahan, Non Aletta ikhlas, ya?" Aku mengangguk.
"Sampaikan maaf saya pada Mama dan Papa, ya Bi. Maaf tidak mengembalikannya langsung pada mereka. Soalnya saya juga harus pergi ke kantor. Akan telat jika saya menunggu mereka pulang."
"Iya, Non. Tidak apa-apa."
"Kalau gitu, saya permisi ya, Bi. Sampaikan salam saya pada Mama dan Papa."
Aku kembali ke mobil setelah sebelumnya melihat kembali pada koper yang menyimpan barang milik Mas Mirza, juga menyimpan sebagian kenanganku dengannya.
Aku harap setelah ini, aku juga bisa melupakan dia seperti dia yang dengan mudah melupakanku dan putrinya.
*
"Selamat pagi, Bu Bos?" ucap Dion yang masuk ke ruanganku dengan dua cup minuman di tangannya.
"Pagi, Dion."
"Masih suka coffe latte?"
"Masih, simpan saja di sana, nanti akan aku minum." Aku berkata tanpa menoleh.
"Apa kau kesulitan? Mana yang membuatmu sulit?" Dion menghampiriku dan membulatkan mata saat tahu kalau aku sedang tidak melakukan apa-apa. Bahkan komputer di depanku masih dalam keadaan mati.
"Kau melamun, Aletta?" Dion kembali bertanya.
"Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," kataku seraya tersenyum.
Entah kenapa, setelah kemarin aku menemukan amplop rumah sakit, aku terus memikirkannya. Terlebih saat nama yang tertulis di sana adalah nama Mas Mirza. Sedangkan setahuku, dia tidak pernah melakukan cek kesehatan.
"Apa yang kau pikirkan? Mungkin aku bisa membantumu."
"Emmh, apa selama Mas Mirza di sini, pernah tidak, dia mengatakan kalau dia sakit?"
"Tidak, setahuku dia sehat-sehat saja. Kenapa memangnya?" Dion balik bertanya.
"Ah, tidak. Lupakan saja."
Tidak mungkin aku akan menceritakan semuanya pada Dion. Aku harap ini hanya perasaanku saja. Kalaupun Mas Mirza sakit, dia tidak akan diam di rumah sakit selama berbulan-bulan.
Setelah Dion pergi, aku mulai melakukan pekerjaanku. Bergelut dengan kertas, dan deretan angka-angka yang kadang membuatku sakit kepala. Mungkin hal yang sama juga dirasakan oleh Mas Mirza saat dia menjabat sebagai direktur.
Bersambung