Jika kemarin-kemarin aku diam saja dan pasrah, tapi tidak untuk sekarang. Apalagi setelah aku menemukan beberapa bukti yang berkaitan dengan perginya Mas Mirza. Aku menyimpulkan kalau Mas Mirza tidak pergi keluar negeri bersama kekasihnya. Melainkan masih ada di sini, di sekitarku.
"Nah, itu dia." Aku berbicara sendiri.
Aku pakai kaca mata hitamku, memakai sabuk pengaman, dan siap tancap gas mengikuti laki-laki itu pergi.
"Kau bisa membohongiku, aku pun bisa menangkap basah dirimu," gumamku.
Mobil yang ditumpangi seorang pria dengan gelar dokter itu kini memasuki halaman rumah sakit. Aku menghentikan mobilku tidak jauh dari belakangnya. Untungnya aku sengaja memakai mobil kantor agar dia tidak curiga aku ikuti.
Satu lagi, kejanggalan mengenai Reza. Dia seorang dokter yang sudah memiliki klinik sendiri, tapi kenapa dia harus pergi ke rumah sakit? Apa dia bekerja di dua tempat? Tidak masalah memang, tapi mungkin akan membuatnya lelah.
Setelah Reza masuk ke dalam rumah sakit, aku pun turun dari mobil dan ikut masuk. Reza berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Buru-buru aku berpura-pura memainkan ponsel milikku dan menyandarkan punggungku pada tembok. Kaca mata tidak aku lepas, dan rambut yang sengaja aku gerai menutupi sebagian wajah.
Reza kembali berjalan, aku pun kembali mengikutinya. Wow, ini amazing. Aku seperti seorang detektif dalam serial drama korea.
Reza kembali berhenti dan menengok ke belakang. Buru-buru aku menyembunyikan diri di balik tembok. Setelah beberapa menit bersembunyi, aku kembali melangkah mencari keberadaan Reza. Tapi, nihil. Aku kehilangan jejak. Tidak ada Reza di sepanjang koridor ini.
Aku terus berjalan melihat ke sana kemari mencari ke mana dokter itu melangkah, hingga akhirnya aku melihat dia yang masuk ke dalam salah satu ruang inap.
Bukan tanpa alasan aku melakukan pengintaian ini. Setelah menemukan beberapa bukti, seperti amplop rumah sakit milik Mas Mirza, juga obat yang aku temukan kemarin di kantor.
***
Tumpukkan berkas yang harus aku tanda tangani sangat banyak, sedangkan waktu sudah semakin sore.
"Yah, tintanya habis, lagi." Aku mulai kebingungan. Bagaimana aku akan menyelesaikan pekerjaanku kalau tinta dalam pulpenku telah habis.
Aku pun mencari gantinya segera, agar aku dapat menyelesaikan semua pekerjaanku. Aku membuka laci pertama yang berada di bawah meja. Tapi tidak ada, hanya ada kertas-kertas yang sepertinya sudah lama.
Tanganku beralih membuka laci kedua. Yang aku temukan bukan yang aku inginkan, melainkan sebuah fotoku dengan Mas Mirza. Lebih tepatnya foto pernikahanku. Kami berdua terlihat sangat bahagia di sana. tawa kami sangat lepas, membuatku mengangkat sudut bibir saat mengingatnya kembali.
Aku menyimpan lagi foto itu, dan kembali mencari alat tulis tadi. Nihil, di laci kedua pun aku tidak menemukannya. Karena merasa pegal terus berjongkok, aku berdiri kemudian duduk lagi di kursi.
"Masa seorang direktur tidak punya pulpen cadangan," kataku pada diri sendiri.
Aku pun kembali berjongkok membuka laci terakhir. Ini harapan terakhirku kalau di sini pun tidak ada, aku akan menelpon Sandra untuk membawakannya untukku.
Ternyata keberuntungan berpihak padaku. Aku menemukannya di sana. Aku pun mengambil pulpen itu dari dalam laci. Saat aku mengambilnya, ada plastik yang ikut terbawa olehku. Aku mengambil plastik kecil yang di dalamnya terdapat sebuah pil obat.
"Ini, kan, obat yang Mas Mirza katakan sebagai obat ku*t. Kenapa bisa ada di kantor juga? Apa jangan-jangan, Mas Mirza juga ...."
Ah, tidak mungkin Mas Mirza melakukan hal menjijikkan itu di kantor. Kalaupun iya, dengan siapa dia melakukannya? Karyawan di sini juga, kah? Aku benci pikiran burukku.
Aku membawa pil itu dan memasukkannya ke dalam tasku. Sepertinya ini bukan sembarang obat.
Setelah pulang dari kantor, aku mampir terlebih dahulu ke sebuah kafe tempat biasa aku menghilangkan penat sewaktu masih gadis dulu.
"Aletta!"
Aku menoleh saat seseorang memanggil namaku. Aku pun melambaikan tangan pada wanita yang berjalan anggun menghampiriku.
"Hay, Ai. Apa kabar?" tanyaku, menyapanya terlebih dahulu.
"Seperti yang kamu lihat, Al. Kabarku baik, kamu sendiri? Kalau dilihat dari penampilannya, sekarang kamu kembali bekerja?" Aira berucap dengan memindai penampilanku dari atas hingga bawah.
"Heem, mari duduk." Kami pun duduk berhadapan.
"Ada hal apa, yang membuatmu ingin kita bertemu di sini? Kamu tidak sedang sakit, kan?" tanya Aira.
"Ini." Aku menyerahkan plastik kecil berisi satu pil yang aku bawa tadi.
"Apa kamu ingin aku membawakan obat yang sama seperti ini? Kamu beneran sakit, Al?" tanya Aira dengan manatapku serius.
"Tidak, Ai. Aku ingin tahu ini obat apa, dan gunanya untuk apa. Karena aku baru melihatnya," kataku.
Aira adalah temanku yang berprofesi sebagai dokter. Sengaja aku meminta bantuannya agar bisa mengungkap obat apa yang sebenarnya selalu Mas Mirza minum.
"Ini, obat pereda nyeri, Al."
Mataku menyipit, aku melihat Aira dengan serius.
"Kamu yakin?" Aku kembali bertanya.
"Sangat yakin. Aku juga biasa memberikan obat ini bagi pasien-pasienku. Kalau tidak percaya, kamu bisa bawa ini dan tanyakan ke setiap dokter yang ada di sini," ujar Aira.
Jadi Mas Mirza telah berbohong. Yang dia katakan sebagai obat ku*t, ternyata obat pereda nyeri. Apa jangan-jangan selama ini Mas Mirza sakit dan tidak mengatakannya padaku. Sakit apa yang Mas Mirza derita, hingga dia menyembunyikannya dariku?
***
Dari saat itu, perasaanku mulai tidak enak, kalau sakitnya Mas Mirza hanya sakit biasa, kenapa pil ini harus dia bawa sampai ke kantor juga?
Sejak itulah aku yakin kalau suamiku pergi bukan karena berselingkuh, melainkan ada hal lain yang dia sembunyikan. Yang aku heran ialah, kenapa semua keluarganya harus menutupi ini semua dariku? Bukankah aku ini istrinya?
Fokusku kembali pada Reza, tapi lagi aku kehilangan jejaknya. Aku menghampiri resepsionis yang berada tidak jauh dariku.
"Maaf, Sus. Tadi, saya lihat Dokter Reza masuk, kira-kira dia tadi masuk ke ruangan mana, ya?"
"Dokter Reza yang mana, ya Bu? Soalnya, ada beberapa dokter yang bernama Reza di sini." ujar wanita yang usianya tidak jauh dariku itu.
"Em ... Reza Mahardika," kataku pasti. Tidak sulit untuk menghapal nama adik iparku itu. Karena nama belakangnya yang sama dengan nama belakang Mas Mirza, yaitu Mahardika.
"Oh, Dokter Reza yang itu. Biasanya dia ke sini hanya sebentar, hanya mengecek pasien rujukan dari kliniknya. Dan ... pasien rujukannya kali ini bernama .... Sebentar Bu, saya angkat telpon dulu."
Aku menghela napas kasar. Sedikit lagi dia akan mengatakan nama pasiennya Reza, tapi dering telpon menghentikan ucapannya.
Aku mengetuk-ngetuk jari pada meja resepsionis. Ini hanya perasaanku saja atau memang durasi telponnya yang lumayan lama.
"Maaf, Bu. Tadi kita sampai mana, ya?" tanyanya setelah mengakhiri telponnya.
"Reza. Pasien Dokter Reza," ucapku cepat.
"Iya, di sini pasiennya bernama Mirza dan di rawat di ruang melati. Ruangan ke lima dari sini."
Seperti disengat listrik, tubuhku tiba-tiba bergetar dan terasa lemas. Benarkah yang aku dengar sekarang, benarkah itu Mas Mirzaku? Tidak bisa aku menahan, bendungan air mataku jebol dan aku kembali menangis.
Aku menghapus air mata dan kembali memastikan apa yang aku dengar memang tidak salah.
"Siapa tadi namanya, Sus?"
"Namanya, Mirza di ruang melati, Bu."
Tanpa menunggu lagi, aku berjalan melewati ruangan demi ruangan dengan perasaan yang sulit aku artikan. Aku senang karena akhirnya aku bisa menemukan Mas Mirza. Tapi aku juga sedih jika mengetahui dia sedang dalam keadaan yang sakit. Aku berdoa dalam hati agar penyakit yang diderita Mas Mirza bukan penyakit yang serius.
Berjalan melewati empat ruangan sangat amat lama. Kakiku rasanya sudah lelah melangkah, tapi tempat tujuanku masih belum sampai. Hingga akhirnya aku sampai di depan ruangan melati. Ruangan yang dimaksud suster tadi.
Aku memegang gagang pintu bersiap untuk membukanya. Aku lepas kembali karena takut aku tidak bisa menerima kenyataan kalau ternyata benar Mas Mirza yang ada di dalam sana.
Aku memegang kembali menempelkan tangan pada gagang pintu dan mendorongnya dengan sekuat tenaga.
Mataku membulat sempurna, aku menutup mulutku yang menganga.
"Aletta!"
Bersambung...