Bab. 4

1513 Words
Arabela masih tak percaya jika pria yang berdiri dihadapannya ini adalah pria yang Ia yakini adalah anak yang pernah Ia tolong belasan tahun yang lalu. Diliputi perasaan ragu apakah anak itu pria dihadapannya saat ini atau bukan. Tapi, luka di pelipis sang pria membuat Arabela yakin namun juga takut. "Hay.... "Hay Kak.... "Maaf ya! Aku datang tiba-tiba tanpa konfirmasi lebih dulu" "Sudah terlanjur Kak!" "Maaf!!" "Hmmmm.." Keduanya duduk di pos yang menang khusus disediakan bagi para pengunjung selain keluarga. Tak ada pembicaraan. Keduanya terdiam cukup lama. "Kak.. "Ya... "Apa kakak yang mengirimkan makan waktu itu?" Tanya Arabela mencoba mencairkan keheningan diantara mereka. "Iya! Maaf sudah menjatuhkan kotak bekalnya. Sungguh saat itu aku buru-buru tanpa memperhatikan sekitar" "Ara juga buru-buru saat itu. Jadi....bukan hanya Kakak yang harus minta maaf. Ara juga minta maaf" "Hmmm...kita impas!!" "Ya!" Hening kembali menguasai situasi. Keduanya bingung harus membahas apa lagi. Hingga... "Ara...Kamu kok tinggal di kosan kaya gini? apa disini nyaman?" "Hmmmm....sangat nyaman Kak. Meskipun hanya sebuah kamar kecil. Tapi aku merasa aman dan juga nyaman. Disini juga sangat ketak. Pemilik kosnya nggak mau ada tamu cowok..." "Maaf sudah menyusahkan mu...!!" Mendengar ucapan Langit, Arabela mendongak, memberanikan diri menatap wajah sang pria yang begitu tampan. Hidung mancung, alis yang tebal, namun satu hal yang menjadi titik fokus Arabela. Bagian pelipis. Disana terdapat bekas luka. meskipun sepintas terlihat samar-samar, namun jika dilihat lebih dekat seperti ini begitu jelas. "Ra..." "Ya?" "Kakak boleh nggak kenal Ara lebih dekat?" **** Weekend pun tiba. Seperti kata Celsi. Hari ini, di rumah besar keluarga Arkana Pradipta Himawan sedang kedatangan tamu istimewa. Semua keluarga besar berkumpul. Baik dari pihak Ayah maupun dari pihak ibu. Hari ini mereka akan membicarakan perjodohan antara Auriga Wisnu Pradipta dan Aulia Sarah Wijaya. Gadis soleh yang bekerja sebagai Dokter anak. Putri seorang Jendral TNI, yang tak lain adalah sahabat karib Ayah. Jendral Ahmad Wijaya. Ruang keluarga yang biasanya dipenuhi dengan ornamen khasnya, kini ditata sedemikian rupa dan di sulap menjadi ruangan yang terlihat begitu cantik, indah dan mewah. Semua keluarga berkumpul disana. Termasuk Celsi. Pembicaraan secara terbuka pun dilakukan, meminta pendapat dari kedua belah pihak. Dan Alhamdulillah keduanya setuju untuk menikah. Sesuai kesepakatan, tiga bulan dari pertemuan mereka saat ini. Sesi makan-makan akhirnya tiba. Disinilah Celsi saat ini. Sengaja menggabungkan diri di dapur bersama semua ibu-ibu. "Bu...Celsi bantu apa ini?" Tanya Celsi sekedar basa-basi pada Ibu (Tante Retno). Kebetulan bundanya saat ini ada bersama ibu. Sedang menyiapkan kue-kue untuk nanti di bawa pulang oleh sang calon besan. "Loh!! Sisi? tumben mau ke dapur? Nggak mimpi kan Bunda Sayang???" Tanya Bunda Sisi yang heran melihat putrinya mau ke dapur. Biasanya kan ogah-ogahan. "Yeee...Bunda mah...Sisi kan mau bantu-bantu juga. Mumpung Sisi lagi baik hati ini .." Selorohnya menaik turunkan alisnya. "Boleh dong sayang....Sini! Bantu bunda bungkusin kue yang itu" Tunjuk Ibu pada kotak berwarna ping yang di dalamnya terdapat cake coklat. "Trus duduk sini depan Ibu!" pintanya melanjutkan ucapannya. "Siap Ibuuuuuu....." Kesempatan emas "Ya udah Mbak. Aku kedepan nganterin minum dulu sama kue keringnya. Nanti Naomi sama Jihan aku suruh ke sini bantuin." Ucap Bunda Celsi kemudian berlalu meninggalkan dua wanita beda usia itu "Bu....Sisi mau tanya sesuatu boleh???" Ibu tersenyum ke arah sang ponakan. Belum juga duduk dengan benar. Si gadis centil ini sudah mulai beraksi.Seperti tebakan ibu sebelum nya. Pasti ada sesuatu yang ponakan cantiknya ini ingin ketahui. "Ya udah....Sisi mau tanya soal apa sama Ibu?" Celingak-celinguk memastikan tak ada orang selain mereka berdua. Akhirnya Celsi memberanikan diri untuk bertanya. "Bun...dulu...mmmm..." Menggaruk rambutnya yang tak gatal Celsi sedikit ragu. Sebab menurut cerita sang Kakak Jihan, Bang Langit hampir mati saat jatuh dari danau. Dan ibu cukup terpukul. "Kenapa sih? kok jadi ragu gitu sayang..??" "Tapi...Bunda janji jangan marah dulu Ya? soalnya Sisi beneran takut ini!!!" "Ya sudah..Ok...bunda janji nggak marah! Sok apa yang mau Celsi tanyakan ke Ibu?" "Mmmmm...ini soal Bang Langit Bu!!" "Langit? ada apa dengan Abangmu itu? Dia udah mau Deket sama perempuan? siapa? orang mana?" "Iiiiihhh...Ibu...dengar dulu! Sisi belum nanya aja Ibu udah nyodorin Sidi banyak pertanyaan sih" Kesel Celsi pada Tante Retno. Sedangkan yang diprotes hanya cekikikan melihat kekesalan sang ponakan. " Ya sudah...Ibu sekarang serius." "Bu...dulu...Bang Langit pernah kecelakaan ya waktu ke danau?" Tanya Celsi sedikit ragu. Mendengar pertanyaan yang Celsi ajukan padanya, membuat wajah yang tadinya ceria berganti senduh. Ibu tiba-tiba menunduk. kemudian terdengar helaan nafas panjang dari wanita yang masih begitu cantik duli usianya yang sudah paru baya. Tak ingin memaksakan, Celsi kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia tahu, Ini pertanyaan yang sangat sensitif. Celsi tak ingin membuat Tantenya sedih. "Dulu....Langit hampir nggak bernyawa...Si..!" Ucap Ibu tiba-tiba. Celsi terkejut namun Ia mencoba menguasai dirinya agar terlihat biasa saja. Saat ini yang Ia lakukan adalah menunggu dan mendengarkan. "Waktu itu Ayah, Ibu, Bang Riga, Kak Maya dan Langit berlibur ke rumah Kakek dari Ibu. Saat itu Langit yang baru berusia 10 tahun rasa ingin tahunya sangat tinggi. Akhirnya Kakek mengajak mereka ke danau memancing ikan menggunakan sampan. Namun Kakek dan Bang Riga Tak menyadari jika Langit terjatuh sebab Ia yang penasaran bagaimana rasanya berenang di air danau. Sejam lamanya Kakek dan Bang Riga memancing. Hingga keduanya sadar jika Langit tak ada di belakang mereka." Ibu berhenti sejenak. menatap lurus ke arah dus kue kemudian kembali melanjutkan cerita. "Untung saat itu ada seorang anak perempuan yang menolong Langit. Gadis itu berenang dengan berani meskipun Ia tahu air danau sangat pekat dan dalam. Mungkin rasa ingin menolong lebih kuat dari rasa takutnya. Gadis itu menarik Langit yang tubuhnya lebih besar darinya. Sampai ke tepi Danau, gadis kecil itu mengikat kepala Langit dengan syal miliknya. Karena saat itu pelipis Langit robek dan banyak mengeluarkan darah. Begitu cerita kakek saat itu. Langit sempat kritis selama dua hari. Tapi ibu bersyukur Tuhan masih memberikan Langit kesempatan untuk hidup sampai saat ini." Cerita Ibu tersenyum lembut ke arah Celsi. Persis cerita Arabela saat itu "Alhamdulillah ya Bu...Tapi...apa ibu tahu gadis itu dimana Saat ini?" "Alhamdulillah....Ibu sudah ketemu. Kami sekolahkan dari SD hingga saat ini gadis itu kuliah di Kampus yang sama dengan kalian.Tapi Dia ambil jurusan model gitu..Langit tau kok! Tapi karena kejadian itu membuat langit hilang ingatan. Kata Dokter jika ingatan itu perlahan akan kembali. Alhamdulillah Langit ingat semuanya kecuali kejadian di danau. Waaaaahhhh ada yang nggak beres ini "Lho! emang ibu sudah pernah ketemu sama gadis itu pada saat Bang Langit luka waktu di danau?" Ibu menggeleng. "Gadis itu datang bersama seorang pria ke rumah sakit. Katanya anaknya yang nolong Langit. Jadi sebagai imbalannya Pamanmu menyekolahkan gadis itu hingga selesai kuliah nanti. Setiap bulan juga di beri jatah sama pamanmu. Setelah lulus nanti tanggung jawab kami selesai." Hmmmm....aku harus kasih tahu Ara nih! "Eh...tapi Celsi tahu darimana kalau Bang Langit pernah tenggelam di danau? Celsi Uda ketemu sama Kania?" Kania???? jangan-jangan Kania yang suka cari masalah sama Arabela lagi..!!! Aduhhh berita heboh ni! "Enggak sih Bu....Kan Bunda dan Ayah pernah cerita ke kita tentang kejadian ka Langit. apalagi kak Jihan. Dia kan paling sayang tu sama Bang Langit. Aku aja nggak boleh terlalu manja sama bang Langit meskipun kita satu kampus." Lapor Celsi dengan wajah cemberut. Mengingat betapa protektifnya seorang Jihan sebagai Kakak. Mereka yang bersaudara semua perempuan. Anak pertama bernama Naomi, disusul Jihan dan si bungsu bernama Celsi. Tak ada saudara laki-laki membuat Jihan begitu sayang pada Langit. Umur Jihan sepantaran dengan Maya kakak kedua Langit. "Oh iya Ibu hampir lupa..." Ujar Ibu kembali ceria seperti semula. "Tapi Bu...Tapi yaaa...ini Tapi Loh...!!" "Ish kamu tu ya...tapi...tapi...mulu..." Gemes Ibu mempuk lembut lengan Celsi membuat si gadis centil cekikikan. "Seumpama ya Bu....ini menurut pikiran Celsi... bagaimana jika gadis yang sebenarnya mengaku sebagai penolong bukan orang yang sama sekali menolong Bang Langit?" "Maksud kamu? Kania bohong sama Ayah dan Ibu?" Tanya Ibu dengan senyum mengembang merasa jika ponakannya ini terlalu banyak menonton film drama. "Ya bisa jadi Bu!" "Nggak mungkin dong Sisi, Orang tuanya sendiri yang bawa anaknya ke kita. dan anak itu belum mengganti pakaiannya yang basah saat menolong Abang kamu.?" Jelas ibu yang masih tak percaya dengan ucapan Celsi. "Tadi ibu sempat mengatakan jika kepala Bang Langit di ikat pakai syal gitu. Terus syalnya mana Bu? Celsi penasaran pengen lihat.!" Aku yakin jika di Syal itu ada inisial hurus 'A' "Ya ampuuunn ponakan kesayangan Ibu rasa pengen tahunya tinggi banget! Emang apa yang membuat Sisi curiga sampai sebegitu kekehnya?" Bu Retno tau betul dengan perangai seorang Celsi. Tak akan pernah berhenti sebelum semuanya jelas dan tepat! "Penasaran ibu sayaaaaaang....karena Celsi curiga...jika mereka hanya memanfaatkan keadaan. Bisa saja kan mereka kebetulan berada disana. Lalu mengaku menjadi penolong?" "Oke....oke....ibu kasi lihat Sisi syalnya. Tapi tunggu tamu Ibu pulang dulu ya! Celsi puas sekarang?" Tanya Ibu dengan senyum menggoda. "Belum Bu....sebelum Celsi lihat syalnya.!!" "Oke sayang!!!" Jawab ibu kemudian melangkah meninggalkan Celsi dengan menenteng buah tangan untuk sang calon besan. "Oh ya Bu!" Seru Celsi membuat ibu berbalik. "Kenapa lagi sayang??" Ibu Retno semakin gemas saja melihat ketidaksabaran sang ponakan. "Tanyakan pada gadis bernama Kania itu, apakah dia sudah mengembalikan kalung bulan bintang milik Bang Langit? Aku rasa ibu tak lupa dengan kalung itu..!!!!" "Kau tahu sesuatu Celsi?" Degh Itu kan suara paman Kana!!....mati aku!!! bakal di sidang ni sama keluarga.... gawat....gawat...gawat....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD