Bab. 1
Matahari mulai menampakkan dirinya. Sorotnya, mulai menyinari sebuah kontrakan kecil dengan jendela-jendela yang masih setia tertutup rapat.
Di dalam sana terdapat sosok gadis yang tengah sibuk menyiapkan sarapannya.
Arabela Shopia Maharani
Gadis cantik yang saat ini sudah terlihat rapi sedang bersiap untuk berangkat ke kampus, Gadis cerdas, tangguh dan pekerja keras. Selama ini Ia hanya hidup sebatang kara tanpa orang tua.
Sebelum memutuskan untuk berkuliah di Jakarta, Ara tinggal di sebuah panti asuhan bersama anak-anak yang memiliki nasib yang sama dengannya.
"Ya ampuuuuunnn...udah hampir telat ini!" Ucapnya sambil melirik jam dinding dengan tangan yang cekatan memasukan beberapa buku ke dalam tas dan memastikan bekal makan siang dan sarapan untuk pagi ini sudah Ia masukkan.
Arabela yang sudah terbiasa hidup mandiri sama sekali tak merasa kerepotan menyiapkan segala keperluannya. Sebab ia sudah terlatih selama tinggal di panti asuhan.
Ditinggalkan di Panti Asuhan sejak bayi, Arabela sama sekali tak tahu siapa orang tua kandungnya. Hanya sebuah liontin 'Blue Ice safire' yang menjadi bukti peninggalan orang tuanya. Begitu penjelasan ibu panti saat Arabela menanyakan awal mula ia di temukan.
Arabela tak pernah berkecil hati. Entah apa alasan keduanya hingga membuangnya atau menitipkan? . Mungkin faktor ekonomi? mungkin Ia korban penculikan? Atau yang paling menyakitkan ibunya yang hamil di luar nikah dan sang Ayah tak mau bertanggung jawab.
Arabela sama sekali tak membenci kedua orangtuanya. Justru Arabela sangat berterima sudah mau melahirkan dan menghadirkan dirinya di dunia. Apalagi ditambah dengan kecantikan dan otak yang cerdas.
Menurutnya, masa lalu tetaplah menjadi masa lalu dan akan menjadi pelajaran dan pengingat kita suatu saat nanti.
Hidup terus berjalan dan tak akan berhenti ditempat. Jalani dan syukuri. Dengan begitu semuanya akan dipermudah meskipun banyaknya halang rintang yang akan menerjang.
Setelah semua siap, Arabela menggunakan almamater berwarna Ungu violet kebanggaan jurusan Teknologi Informasi. Tak lupa Ia menyampirkan tas di bahunya. Tangannya bergerak lincah mengenakan kaus kaki dan sepatu miliknya.
Memastikan pintu kos sudah terkunci, Arabela berdoa sejenak kemudian berlalu meninggalkan tempat yang menjadi satu-satunya alasan untuknya pulang.
Jarak kos-kosan dan Kampus yang tak begitu jauh memudahkan Arabela sampai lebih cepat.
"Aduuuuhhhhh...harus cepat ini. Kata temen-temen dosennya galak!!!" Ucapnya.
Dengan langkah tergesa-gesa Arabela menyusuri selasar kampus. Namun hal tak terduga terjadi.
Brugh!!!!
"Awww.....ssssshh" Lirih Arabela menahan sakit bok*ongnya yang baru saja terhempas ke tanah. Ia usap perlahan kemudian mencoba untuk berdiri.
Seorang pria berjongkok sembari mengulurkan tangan ke arah wanita yang tak sengaja Ia tabrak "Maaf...."
Mendongak, kedua mata itu bertemu tatap beberapa detik.
Degh!
'Dia.....'
Hingga Arabela mengalihkan pandangannya ke arah atas bekal yang isi nya sudah berserakan. Sedang sang pria masih diam terpaku.
"Bekalku..." Lirihnya menatap sedih ke arah makanan yang belum sempat Ia nikmati pagi ini.
"Biar saya bantu." Seru sang pria. Tangannya dengan cekatan memungut rantang bekal milik Arabela.
"Maaf ya...Aku....
" Nggak perlu...!" ucap Arabela sedikit ketus.
Kekesalan nya semakin bertambah sebab sarapan paginya harus Ia relakan karena sudah tak layak untuk dimakan.
Buru-buru Arabela meninggalkan tiga orang pria mengenakan pakaian snelli yang Ia yakini adalah mahasiswa kedokteran.
Ketiga pria itu hanya bisa melongo menatap kepergian Arabela yang melangkah ke arah fakultas Teknologi Informasi hingga punggung wanita itu menghilang di belokan.
"Cantik....!" Ucap Langit tiba-tiba.
" Siapa? tu cewek? Cantik sih iya..tapi Jutek gitu!!!" seru Nathan mendelik tak percaya ke arah Langit.
"Biar jutek... tapi nggak bisa Lo taklukin ka Nath...!" Ujar Bara dengan alis naik turun membuat Nathan semakin kesal.
"Sialan Lo Bar!!" Kesal Nathan sebab apa yang Bara ucapkan memang benar. Gadis yang tak sengaja bertabrakan dengan Langit adalah gadis incarannya. Berkali-kali menyatakan cinta berkali-kali pula ditolak.
Ngenes memang si Nathan
"Dia milikku sekarang!!!"
"Haaaaahhhh!!!!" seru keduanya bersamaan.
Nathan dan Bara benar-benar terkejut jika sahabat mereka itu sudah menandai gadis jutek incaran semua pria di kampus 'Permata Jaya' itu.
Kalau sudah begitu, maka siapa yang akan berani mendekat. Sebab semua orang tahu siapa seorang Langit.
Langit Mawazi Pradipta
Lelaki tampan berwajah tegas, namun memiliki sorot mata yang teduh. Ia terlihat dingin dan tegas, namun ramah pada semua orang. Berasal dari keluarga ternama, membuatnya sama sekali tak semena-mena pada siapapun. Hal itulah yang membuat para gadis tergila-gila padanya.
Kedua orang tuanya adalah pemilik kampus 'Permata Jaya'. Ayahnya pengusaha sukses dengan kekayaan yang tak ada habisnya.
Sang Ayah yang uan di kenal si 'Raja Bisnis' bernama Arkana Pradipta Himawan. Sang Ibu seorang Dokter spesialis kandungan bernama Retno Dwi Maharani.
Langit anak bungsu dari tiga bersaudara. Saudara pertama bernama Auriga Wisnu Pradipta. Sedangkan anak tengah bernama Mayangsari Pradipta
Memilih jurusan kedokteran, sebab Ia ingin mengikuti profesi sang ibu dan juga sang kakak yang saat ini sudah bekerja di rumah sakit milik keluarga besar Pradipta.
Masih menatap ke arah dimana gadis yang berhasil membuat jantungnya berdegup kencang. Langit memasukkan kedua tangan ke saku celananya.
"Bar!"
"Ya!
"Pesenin makanan di warung langganan ya! sepertinya dia belum sarapan. Lihat saja semua bekalnya berserakan seperti itu." Ujar Langit menunjuk ke arah makanan yang sudah bercampur dengan pasir dan tanah.
"Ok!" Ucap Bara yang langsung menghubungi pa'de warung langganan mereka.
Meskipun ketiganya turunan old money. Tak ada sedikit pun rasa malu dan gengsi jika berhubungan soal tempat untuk makan.
"Lo serius Lang?" Tanya Nathan yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja Langit ucapkan.
"Gue serius Nath!! Dan gue akan buat di jutek itu bisa tersenyum lagi. dan itu hanya berlaku untukku!!"
"Bucin Lo!!" Seru Nathan memberikan bogeman kecil tepat di lengan atas milik Langit. Ia semakin yakin jika Langit benar-benar serius.
"Udah nih! Pa'de bilang udah di anterin sama si ojok!!" Lapor Bara yang baru memesan makanan untuk si gadis jutek.
"Oke....Gue ke tempat Bunda!" Ujar Langit berlaku begitu saja meninggalkan kedua sahabatnya
"Loh! Nggak nongkrong ni kita?" Tanya Nathan.
Tak ada jawaban sebab Langit telah berlalu menggunakan mobil miliknya ke tempat sang Bunda saat ini berada.
"Yaaahhhh...nggak jadi minta traktir si Langit dong Bar!" Ucap Nathan terlihat lesu.
"Ish...kaya Lo miskin aja" seru Bara yang tak habis pikir pada sahabatnya yang satu ini. Apa-apa semua serba Langit. Nggak pernah merasa sadar diri jika dirinya juga orang berada.
"Ya kan sekalian Bar!"
"Dasar Lo!!! ke cewek-cewek royal banget Lo!! giliran mau makan minta si Langit yang bayarin" Kesal Bara sebab Nathan memang suka menghambur hamburkan uang untuk para cewek-cewek yang m njadibtarget incarannya.
"Ya udah Barata Yuda...sekarang Gue yang traktir Lo! Puas Lo!!!"
" Gue nggak lagi mimpi kan Nath?"
"Bacot Lo!"
Sementara itu, si pria tampan yang baru saja memarkirkan mobilnya tepat di halaman lobi rumah sakit turun dengan begitu gagah. Tubuh tinggi dan tegap membuatnya semakin terlihat tampan, membuat para perawat yang berada di bagian administrasi saling berbisik.
Menenteng dua paperbag berwarna coklat dengan gambar chef mengenakan topi. Langit melangkah penuh wibawa menuju lift khusus yang diperuntukkan untuk para petinggi rumah sakit.
Menekan angka 3 Langit terdiam sejenak.
Ting
Pintu lift terbuka, Langit keluar dan melangkah ke arah ruangan milik sang bunda.
Tok....Tok....
Ceklek
Kedua wanita beda usia dengan wajah sedikit mirip itu menoleh bersamaan saat melihat siapa yang baru saja masuk.
"Loh Dek!
"Dek!
Seru keduanya terkejut melihat kedatangan si bungsu ke Rumah Sakit. Tak biasanya, namun keduanya berfikir positif. Kedua wanita itu saling melirik seakan kedua saling bicara 'pasti ada sesuatu'
Ya?. Langit baru kali berkunjung ke tempat sang bunda. Biasanya, Ia hanya mengantar kedua wanita kesayangan nya, kemudian pergi menuju kampus.
"Buang jauh-jauh pikiran kalian ya girl's. Adek kesini pengan makan siang aja sama Ibu dan Mbak. Kan jarang-jarang kita makan siang bareng di luar weekend. So.. ayo makan!"
Seakan tahu apa yang sedang sang bunda dan Kakak nya pikirkan. Langit mencoba untuk mengalihkan.
"Nih! Langit udah beli makanan favorit ibu dan Mbak di resto langganan." Tunjuk langit pada beberapa makanan yang Ia keluarkan dari dua paperbag.
"Ya udah...kita makan dulu aja Bun. Lagian setelah ini Maya mau ada tindakan dua bumil lagi. Jadi Maya butuh tenaga." Kelakar sang kakak, Mayangsari tersenyum menggoda ke arah Langit.
"Ish...jelek tau Mbak!!" Sewot Langit. Ia memutar matanya jengah pada sang kakak yang memang suka menggodanya.
Bunda hanya tersenyum melihat kedua anaknya yang saling menggoda. Ia sangat bersyukur diberikan Suami yang penyayang serta anak-anak yang penurut.
"Ya sudah...kita makan bareng. Kebetulan Bunda habis ini mau balik ke rumah." Ujar Bunda yan mengambil duduk tepat di samping Langit. Sedangkan Maya memilih duduk berhadapan.
Tak ada lagi pembicaraan. Ketiganya larut menikmati makanan mereka masing-masing.
Beberapa menit berlalu
"Maya duluan ya Bun, Dek...soalnya udah di tunggu di ruang operasi!" Ucap Mayang berlalu pergi meninggalkan Bunda dan Langit.
Bunda dibantu Langit. Keduanya membereskan sisa makan siang. Setelah nya Bunda mengajak Langit untuk duduk sejenak. Bunda yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada di bungsu. Ikatan batin seorang ibu dan anak tak pernah meleset.
"Bisa ceritakan sekarang, Ada apa?" Tanya ibu to the point.
"Kentara banget ya Bun" Tanya Langit dengan polosnya membuat sang Bunda tertawa.
" Adek itu anak Bunda. 9 bulan ada di dalam rahim Bunda. Jadi ibu akan tahu apa yang sedang kamu pikirkan"
Tersenyum lembut ke arah si bungsu, Bunda mengelus pundak kokoh itu dengan sayang.
"Bun...Langit ketemu sama seorang gadis yang sangat cantik. Tapi...ketika kamu bertemu tatap, dadaku sesak. Terlintas sebuah danau dan teriakan seseorang. Namun saat ku coba untuk mengingatnya. Kepalaku semakin sakit."
Ucapnya menatap dalam ke arah sang Bunda.
'Apa ingatan Langit akan kembali seperti dulu??'