Bab. 2

1489 Words
"Baik semuanya, saya akhiri pertemuan kita siang ini, dan saya tunggu tugas laporannya Minggu depan. Permisi..!!" "Haaaaahhhh..... Akhirnya!!" Arabela menghela nafas panjang setelah mata kuliah pertama berakhir. Ia menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan tangan yang melingkar menutup sebagian wajahnya. Setelah mata kuliah usai, Arabela dan ketiga sahabatnya memutuskan untuk ke kantin. "Lo kenapa si Ra?? masih pagi ini..!!!" Ujar Celsi Olivia Wijaya. Salah satu anak pemilik saham di Kampus Pelita jaya yang berteman akrab dengan Arabela sejak mereka masih Maba waktu itu. "Iya Ra...Lo biasanya selalu semangat. Tapi hari ini kok kelihatan lemes gitu" Timpal Liliana Mahardika salah satu sahabat Arabela yang merupakan Anak pengusaha properti ternama di kota Jakarta. "Ish...kalian itu ya pada ngerocos Mulu. Ya mungkin aja si Ara lagi PMS mungkin" Jawab Malika Dwi Ratna Negoro sedikit ketus. Putri pemilik Bank swasta itu terlihat sedikit sewot pada kedua temannya. "Kalian pada kenal nggak kating fakultas kedokteran yang namanya Langit?" Tanya Arabela pada ketiga temannya. Hening sejenak tak ada jawaban dari ketiga sahabatnya hingga suara gebrakan meja membuat semua orang terkejut. Braak "O my Gooooood... Arabela Shofia Maharani...Lho...!" Seru Lili menggebrak meja membuat semua perhatian tertuju pada mereka. Plak "Diam nggak si Lo Li! kita lagi di kantin, bukan di kuburan, ege!!" Kesal Malika menggeplak lengan Lili dengan gemas. Menoleh ke kiri dan kanan Lili tersenyum kikuk pada semua orang dengan menunjukan dua jari telunjuk dan tengah pertanda damai. Kemudian Ia kembali duduk dan tersenyum manis ke arah sahabatnya. "Lagian pertanyaan Ara itu mengejutkan loh Malika, masa Ka Langit nggak kenal. Seorang Langit loh ini. Satu kampus aja tau siapa dia". Ujar Lili melanjutkan ucapannya. "Ya nggak teriak juga kali Lilipuuuuuut!" Gemas Malika mencubit pipi Liliana dengan gemas. "Ish...sakit tau Malika!!" Kesal Lili dengan wajah cemberut sebab Malika mencubit pipinya sampai merah. Arabela dan Celsi hanya bisa tersenyum melihat interaksi kedua sahabatnya yang kadang akur tapi banyak ngga akurnya. "Udah ihhh...kaya anak kecil aja." Ucap Celsi melerai keduanya lalu Ia menoleh ke arah Arabela. " Tumben Lo nanya tentang Bang Langit?" "Baaaang!!!" Seru Malika dan Liliana bersamaan. "Ish...bisa diam nggak sih! kompak bener!!" Kesel Celsi pada kedua sahabatnya. Sedangkan Arabela masih menunggu penjelasan dari Celsi. "Ya Bang Langit kan abang gue. Om Kana itu kakaknya Bokap gue. Jadi...Bang Langit itu Abang gue." Jelas Celsi dengan santai membuat Malika dan Liliana semakin terkejut, tapi tidak dengan Arabela. "Kok bisa??" Tanya Lili dan Malika lagi. "Ya Lo pada kan nggak pernah nanya!! jadi gue nggak cerita dong! bener kan Ra?" Tanya Celsi meminta validasi dari sahabat juteknya itu. "Hmmmmm...." Melihat reaksi Arabela ketiganya semakin penasaran. Akhirnya Celsi kembali bertanya "Emang Lo nggak kenal sama Bang Langit Ra??" Tanya Celsi sedikit lembut. Ia yakin sang sahabat sedang memikirkan sesuatu. Arabela menggeleng lalu berkata " Aku hanya takut salah orang aja, Sisi!!" Jawab Arabela terlihat sedikit ragu. "Takut salah? emang kenapa?" Tanya Malika yang greget sebab Arabela terlalu berbelit-belit. "Iya, kenapa Ra? Emang Lo pernah ketemu gitu sebelumya sama Kak Langit atau.... " Tungu...tunggu...tunggu.." Sela Liliana memotong ucapan Malika. "Jangan-jangan...." Ucapan Liliana tertahan. Lalu menatap secara bergantian sahabatnya Ketiganya saling menoleh seakan otak mereka saling terhubung, dan kemudian. "Jangan bilang kalau Abang gue cowok yang Lo ceritain ke kita dulu Arabela Shofia Maharani!!!!!" Tebak Celsi. Begitupun Malika dan Liliana. Kemudian mereka menoleh kearah Arabela. Arabela pun hanya mengangguk dengan wajah tertunduk. "O M G... " Astaga.... Seru Malika dan Liliana bersamaan sedangkan Celsi menutup mulut tak percaya jika sang Abang yang selama ini menjadi tujuan dari sahabat karib rasa saudara ini. Ya! Dulu saat ke empatnya di pertemukan. Mereka langsung cocok dan akhirnya berteman. Saling bercerita tentang tujuan kenapa kuliah dengan jurusan yang mereka tekuni. Hingga cerita bahagia dan sedih pun mereka ceritakan. Begitupun Arabela yang menceritakan seorang anak laki-laki yang pernah Ia selamatkan dulu di sebuah danau dekat dari panti tempat tinggalnya. Hal itulah yang menjadi salah satu alasannya untuk datang ke Jakarta. Selain menuntut ilmu. "Gue sengaja masuk Jurusan Teknologi Informasi, tapi Gue nggak pernah dapat infonya. Lo pada tahu kan keahlian gue. Tapi....gue nggak dapat titik terangnya!" Jelas Arabela dengan wajah sendu. "Dan kemarin...tak sengaja gue ketemu sama orangnya. Dia nabrak gue...nggak sengaja sih soalnya gue yang buru-buru waktu itu. Tapi setelah menatap matanya dan luka di pelipis itu...Emang terlihat samar sebab itu terjadi sudah belasan tahun lalu. Tapi entah mengapa aku merasakan sesak di sini.." ucap Arabela menunjuk ke arah d*ad*nya. "Kalian tahu kan seberapa eksaitednya gue pengen ketemu dia...Tapi...aku takut salah orang...!!" Ketiganya hanya bisa terdiam. Mereka tahu jika Arabela sedikit sensitif jika berhubungan dengan masa lalu. Dan mereka membiarkan Arabela meluapkan segalanya. Kali ini mereka hanya ingin menjadi pendengar setia bagi sang sahabat. "Mmmmm..Ra...gimana kalau gue coba tanya-tanya sama Tante Retno deh...kebetulan weekend ini kita mau kumpul keluarga. Soalnya ada acara lamaran Bang Riga. Kakanya Bang Langit. Semoga gue bisa dapat info." "Yup! bener tu apa kata Sisi..." Timpal Liliana. "Kalau semua udah jelas dari Sisi. Baru Lo beranikan diri untuk validasi ke orangnya. Jangan gegabah dan banyak pikiran Ra. Akhir-akhir ini Lo kalau banyak pikiran suka sakit kepala" Ucap Malika panjang lebar namun terselip perhatian tulus untuk sang sahabat. Arabela pun mengangguk. Kali ini Ia hanya bisa berharap pada Celsi. Apapun hasilnya Ia akan menerima. Dan jika buka Dia orangnya. Arabela akan terus mencarinya. ***** "Loh...udah jam segini, Ayah nggak ke kantor?" Tanya Langit pada sang ayah. Arkana Pradipta Himawan. Pengusaha sukses yang di segani dikalangan para pebisnis. Melihat sang Ayah yang sedang asyik duduk di ruang keluarga menikmati secangkir kopi buatan Bunda. "Hari ini Ayah di undang ke kampus kamu. Sebagai pembicara sekaligus pelepasan para calon dokter yang akan Koas di beberapa rumah sakit di jakarta.Laguan ka ada Abang Riga..." Jelas Ayah menatap lekat ke arah putranya. "Astagaaa.... Langit lupa!!! Makasih udah di ingatkan Yah..." Seru Langit menepuk jidatnya kemudian dengan gerakan cepat Ia berlari keluar dari rumah. Ayah hanya menggeleng kan kepala melihat kelakuan putra bungsunya itu. "Loh Yah!! tadi Bunda dengar suara Adek?" Tanya Bunda yang baru saja datang dari arah dapur dengan sepiring cemilan untuk suami tercinta. "Iya Bun. Baru saja pergi! kayanya si Adek lupa kalau hari ini pelepasan Koas. Makanya Dia langsung pergi tu." "Ya ampuuuun tu anak ada-ada saja." Ucap Bunda kemudian mendaratkan b*o*kongnya di sofa tepat di samping Ayah. "Terus, Ayah berangkatnya kapan? kan yang di tungguin udah pergi !!" "Habisin dulu kopi buatan Bunda, baru Ayah berangkat. Lagian acaranya mulai jam 11 siang." Ucap Ayah sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Bunda nebeng ya Yah...lagi males ikut sama Maya. Bunda suka kesel sama princess kamu itu. Kalau lagi ada operasi dadakan, dia suka ugal-ugalan...kesel bunda jadinya!!" Keluh bunda tentang anak tengahnya itu. "Ya sudah...bareng Ayah aja. Kita kan udah lama nggak jalan bareng Bun. Kebetulan hari ini Ayah free. Semua Riga yang urus. Jadi setelah jadwal Bunda selesai sore kita makan malam ya!" Ucap Ayah mengerlingkan mata pada Bunda "Isshhh Ayah...udah Tua juga!" Protes Bunda memukul manja paha Ayah. Lalu keduanya saling menatap dan tersenyum manis. Sungguh suaminya ini. benar-benar selalu mengerti dirinya. **** "Lo darimana aja si Lang? Gue telpon nggak diangkat mulu!!" Ujar Nathan sedikit mengomel sebab sang ketua panitia penyelenggara kegiatan baru muncul batang hidungnya. Sementara acara sepuluh menit lagi akan di mulai. Langit yang baru saja tiba hanya bisa menunjukkan dua jari berbentuk V tanda berdamai mendengar omelan Nathan. Sedangkan Bara hanya bisa geleng-geleng kepala. Begitulah Nathan. Pria playboy itu selalu totalitas jika diberi tanggung jawab menyelenggarakan kegiatan apapun. Dosen pun akan di omelin jika telat dari jadwal yang sudah disepakati. "Ayo Nath! si Langit udah di atas panggung. Ayah Kana juga sudah tiba..." Ajak Bara pada Nathan yang wajahnya masih terlihat kesal. Pembukaan di mulai. Pembacaanlapiran oleh Langit sebagai ketua penyelenggara serta sambutan demi sambutan dari beberapa petinggi kampus pun akhirnya berakhir. Kini giliran Sang pemilik kampus Pelita jaya. Arkana Pradipta Himawan memberi sambutan sekaligus pelepasan seluruh mahasiswa kedokteran yang akan melaksanakan Koas di beberapa Rumah Sakit yang berada di Jakarta. "Selamat siang Semuanya..." Sapa Arkana pada dua ratus mahasiswa kedokteran yang akan mengikuti Koas. "Siang Pak..... Si pemilik kampus yang masih terlihat begitu gagah dan tampan itu tersenyum bangga kepada para mahasiswa yang membalas sapaannya dengan begitu semangat. "Saya sangat senang dan bahagia. Hari ini adalah momen bersejarah, bukan hanya karena pencapaian gelar, tetapi amanah baru sebagai calon dokter. Berbekal tujuh standar kompetensi dokter (seven star doctor), kami berharap kalian dapat menerapkan ilmu yang kalian pelajari selama ini dengan baik. Teruslah belajar, karena setelah ini akan ada banyak tantangan di lapangan. Saya bersama Rektor dan para Dosen begitu bangga kepada kalian yang sampai pada tahap ini. Selamat bertugas kepada rekan-rekan dokter muda di stase ini. Masa koas adalah fondasi penting dalam perjalanan karier kalian. Jadikan setiap momen, baik stase berat maupun santai, sebagai pembelajaran untuk menempa ilmu dan mental. Tetap jaga etika, hormati guru, Dokter pembimbing dan utamakan pelayanan kepada pasien. Sukses selalu untuk tugas koasnya." Riuh tepuk tangan para calon Dokter memenuhi aula kampus tersebut. Menandakan jika masa depan akan mulai menapaki jalan nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD