Biarkan Aku Pergi

1287 Words
Siang itu cahaya matahari bersinar sangat cerah, berlawanan dengan suasana hati Ririn yang mendung. Gadis muda itu meninggalkan sebuah gedung tinggi yang berdiri kokoh di tengah kota. Pelan ia melangkah, sambil sesekali mengusap air mata dengan ujung lengan kemeja yang dikenakannya. Cuaca yang panas membuat ia memilih untuk berjalan di jalan setapak yang di kanan dan kirinya berdiri pepohonan berdaun rindang. Pikiran Ririn pun sangat kacau. Di dalam benaknya terngiang-ngiang ucapan papanya yang memberinya dua pilihan, menikah atau menggugurkan kandungannya. Langkah Ririn terhenti ketika mendengar seseorang yang sedang berada di parkiran berteriak memanggil namanya. Ia melambaikan tangannya kepada orang itu. Ririn berjalan cepat meninggalkan jalan setapak menuju parkiran. Raut wajah Ririn yang sedari tadi sangat buruk sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih baik. Ia tersenyum pada pemuda yang tadi berteriak memanggilnya. “Pelan-pelan saja jalannya,” ucap pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah Dimas, kakak Ririn. “Kak Dimas,” panggil Ririn ketika ia sudah berada satu meter di depan kakaknya. Ia kemudian memperlambat langkahnya menurut apa yang dikatakan Dimas. “Kamu habis ketemu papa?” tanya Dimas sambil mengamati Ririn. Ririn menjawab dengan sebuah anggukan. Ia memasang senyuman kecil di bibirnya. “Kamu dimarahi papa?” selidik Dimas setelah melihat mata Ririn yang memerah. Ririn kembali mengangguk. Kali ini senyumannya sudah menghilang. Ia kemudian menunduk, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Kedua tangannya menggenggam erat tali tas yang tersampir di bahunya. “Ririn, sampai kapan kamu mau begini?” tanya Dimas. Ia mengelus lembut puncak kepala Ririn dengan penuh kasih sayang. “Ayo, kita pergi. Kakak mau bicara sama kamu.” Dimas merangkul pundak Ririn. Tubuhnya yang tinggi mencapai 180 sentimeter dapat menjadi pelindung yang sempurna bagi sang adik. Dimas membuka pintu mobil dan mempersilakan Ririn untuk masuk. Setelah itu, ia memutari bagian depan mobil lalu masuk dan duduk di kursi kemudi. “Seorang wanita hamil tidak boleh sedih-sedih terus, nanti keponakan Kak Dimas jadi anak yang cengeng loh,” ucap Dimas dengan nada menggoda. Ia kemudian memasang wajah lucu untuk memancing senyuman Ririn. Ririn tersenyum sesuai dengan apa yang diinginkan Dimas. “Kakak memang paling mengerti aku,” balas Ririn. “Kak Dimas kok tahu kalau wanita hamil sering sedih nanti anaknya jadi cengeng?” tanya Ririn teringat akan pernyataan Dimas sebelumnya. Dimas mengacak rambut Ririn pelan. Suara tawanya terdengar memenuhi mobil. “Itu hanya tebakan Kak Dimas. Kakak mana tahu tentang wanita hamil,” sahut Dimas setelah tawanya reda. Mendengar apa yang dikatakan Dimas, Ririn pun ikut tertawa. Ia menertawai kepolosannya yang begitu saja percaya kepada sang kakak. “Nah, gitu dong. Wanita hamil harus banyak tertawa biar nanti anaknya selalu bahagia,” ujar Dimas sambil merapikan rambut Ririn yang jadi kurang rapi karena ia acak sebelumnya. “Amin,” jawab Ririn cepat. Ia berharap agar kesedihannya bisa segera berlalu dan kehidupannya bisa membaik. Dimas menyalakan mesin mobil. Ia lalu mengatur suhu pendingin agar mereka bisa merasa nyaman setelah kepanasan berada di bawah terik matahari. Ririn tak bertanya ke mana Dimas akan membawanya. Ia merasa lebih baik setelah bertemu dengan kakaknya itu. Usia yang terpaut enam tahun membuat Ririn sangat dimanja oleh sang kakak. Dimas seringkali menjadi tempat curahan hati bagi Ririn jika ia menghadapi masalah, entah itu masalah kuliah ataupun masalah dengan teman-temannya. Mobil hitam yang dikendarai Dimas berjalan cukup lancar di jalanan yang tak begitu ramai. Setelah berkendara selama dua puluh menit, Dimas menepikan mobilnya di sebuah restoran. “Kita makan siang di sini,” ucap Dimas sambil membuka pintu mobil. Ia kemudian keluar dari mobil, begitu juga dengan Ririn. Keduanya kemudian berjalan berdampingan memasuki restoran makanan sea food, makanan kesukaan Ririn. Setelah tiba di dalam, Dimas meminta sebuah ruangan privat agar ia dan Ririn bisa berbicara dengan leluasa tanpa diganggu oleh siapa pun. Pegawai di restoran tersebut sudah mengenal Dimas dan Ririn. Dengan cepat mereka menyiapkan ruangan yang diminta oleh Dimas berikut makanan yang dipesan. Ririn dan Dimas duduk berhadapan dengan sebuah meja berbentuk persegi panjang yang menjadi pemisah. Di atas meja sudah ada dua gelas lemon tea lengkap dengan bongkahan es. Ririn yang sudah kehausan segera menikmati minuman itu, pun begitu dengan Dimas. “Apa kata papa tadi?” tanya Dimas setelah ia menyeruput minumannya. “Papa kasih Ririn dua pilihan, Kak. Kalau Ririn mau menikah dengan Kak Bram, maka Ririn boleh mempertahankan kehamilan Ririn.” Ririn menjeda kalimatnya. Ia kemudian menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Dimas melipat kedua tangannya di atas meja. Ia menunggu dengan sabar kalimat yang akan disampaikan sang adik. “Tapi, kalau Ririn ngga mau menikah dengan Kak Bram, Ririn harus menggugurkan kandungan Ririn.” Ririn menyelesaikan kalimatnya dengan sulit. Ia menatap Dimas dengan matanya yang kembali sendu. Dimas menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia dapat mengerti kegalauan yang sedang dirasakan sang adik. Dimas tetap diam tak berbicara. Ia membiarkan Ririn melanjutkan kisah curahan hatinya. Ririn menunduk sambil mengaduk lemon tea dengan sedotan berwarna putih. Ia kembali menyeruput minuman segar itu. Setelah dua teguk, ia kembali membuka mulutnya untuk berbicara. “Ririn ngga bisa menikah dengan Kak Bram. Ririn ngga mau mengacaukan masa depan Kak Bram dan Cindy,” ucap Ririn pelan, tak mau menyembunyikan apa yang ia rasakan. Dimas mengangguk mengerti. Ia tahu bagaimana kedekatan antara Ririn, Bram, dan Cindy. “Kak Dimas mengerti perasaanmu, Rin,” sahut Dimas. “Kak, Ririn juga ngga mau Kak Bram terpaksa menikahi Ririn sementara cinta dan hati Kak Bram hanya untuk Cindy. Itu hanya akan membuat Ririn menjadi lebih sedih lagi, Kak,” lanjut Ririn. “Apa yang kamu khawatirkan itu memang beralasan, Rin. Ditambah lagi Cindy itu sahabatmu. Tentu akan sulit bagi Bram untuk melupakan Cindy.” Dimas menyetujui perkataan Ririn. Ia kemudian ikut berpikir sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut pendek. “Lalu, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Dimas. Ririn terdiam, pikirannya menerawang. Pandangannya tertuju pada gelas setengah kosong yang ada di hadapannya. Dengan jemari lentiknya ia memutar gelas itu. Beberapa menit diam akhirnya Ririn bicara, “Kalau Ririn pergi saja dari rumah bagaimana menurut Kak Dimas?” Dimas membelalakkan matanya. Ia tak mengira bahwa adiknya yang masih berusia dua puluh tahun itu membuat sebuah keputusan yang berat. “Kamu yakin, Rin?” tanya Dimas sambil memegang lengan Ririn erat. “Kak Dimas, ngga ada cara lain yang bisa Ririn lakukan. Ririn ngga bisa gugurin kandungan Ririn, Kak,” jawab Ririn sambil menggelengkan kepalanya pelan. Kali ini Dimas terdiam. Ia tak sanggup mengiyakan keputusan Ririn karena itu berarti adiknya itu akan tinggal berjauhan dengannya. “Kak, kenapa Kakak malah diam? Bagaimana menurut Kak Dimas?” tanya Ririn sambil menggoyang tangan Dimas yang masih menggenggam lengannya. “Rin, keputusanmu itu terlalu berat. Bagaimana kamu hidup sendiri dalam kondisi hamil?” tanya Dimas keberatan. “Tapi menurut Ririn ini adalah keputusan yang terbaik, Kak. Kakak bisa ‘kan membantu Ririn?” Ririn memohon dengan wajah memelas. “Tapi, Rin ….” Dimas ingin menolak permintaan Ririn. Namun, ia tak tega saat melihat wajah adiknya. “Kak Dimas tega kalau Ririn menggugurkan calon keponakan Kakak?” tanya Ririn lagi. Dimas menarik tangannya dari lengan Ririn. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan kekarnya. Dimas diam sesaat sambil berpikir keras. Ia tentu tak ingin menambah kesedihan adiknya. Dimas menarik napas dan mengembuskannya kasar. Suara seraknya terdengar pelan tapi jelas, “Baiklah, Kakak akan membantumu. Kakak akan siapkan semua yang kamu butuhkan.” Ririn tersenyum bahagia mendengarkan dukungan yang diberikan sang kakak. Ia tak henti mengucapkan terima kasih kepada Dimas. Air mata bahagia pun menetes perlahan. Sedikit beban berat mulai hilang dari hati Ririn. Ririn dan Dimas membicarakan lebih lanjut mengenai rencana mereka. Suasana terasa lebih nyaman daripada sebelumnya. Ririn pun bisa menikmati makanan yang kemudian dihidangkan oleh para pelayan restoran. Ia menghabiskan setengah porsi nasi dan semangkuk sup ikan dengan lahap. Masalah yang sempat menghimpit sesaat bisa ia lupakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD