Pesan Misterius

1607 Words
Ririn tak main-main dengan keputusan yang sudah ia buat. Gadis muda berparas cantik dan berambut hitam sepunggung itu benar-benar akan menjalankan rencananya dengan tekad yang bulat. Ia rela meninggalkan semua kenyamanan yang selama ini diberikan oleh kedua orang tuanya. Ia juga rela kehilangan predikat sebagai mahasiswa terbaik di kampusnya. Itu semua ia lakukan untuk menyelamatkan masa depan janin yang ada di dalam kandungannya dan juga masa depan Bram yang selalu bersikap baik kepadanya. Setelah pembicaraannya dengan Dimas, Ririn mulai mempersiapkan segala hal yang ia butuhkan. Ia juga menyempatkan diri untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan mengenai kondisi kandungannya. Pertemuan antara keluarga Ririn dan Bram akan dilaksanakan seminggu yang akan datang. Sebelum hari itu, Ririn sudah harus meninggalkan rumah agar rencana pernikahannya dibatalkan. Mengingat hal itu, Ririn meminta tolong kepada Dimas untuk menemaninya mencari rumah sewa di pinggir kota dan Dimas menyetujuinya. Ririn dan Dimas meninggalkan rumah setelah sarapan bersama kedua orang tua mereka. Kakak dan adik itu bersikap biasa saja, seolah tak ada hal yang mereka sembunyikan. Darmawan dan Elvina sama sekali tak merasa curiga kepada keduanya. Mereka pun percaya saat Dimas berkata bahwa ia ingin mengajak Ririn berjalan-jalan ke pantai untuk melepas rasa bosan. Dimas segera melajukan mobil hitamnya meninggalkan halaman luas rumah orang tuanya. Ia tak ingin papa dan mamanya berubah pikiran dan tak mengizinkan mereka pergi. “Kak Dimas jadi bohong gara-gara Ririn,” ucap Ririn sambil memasang sabuk pengamannya. “Ngga apa-apa, Rin. Lagipula kalau kita jujur nanti bisa jadi masalah,” sahut Dimas sambil memegang erat kemudi mobilnya. “Iya juga sih,” jawab Ririn sambil mengangguk. Ia kemudian menyalakan radio dan mencari saluran radio kesukaannya. Ririn sesekali bernyanyi mengikuti alunan musik yang ia dengar. “Bahagia banget, Rin,” ucap Dimas sambil tersenyum menoleh ke arah adiknya. Ririn mengangguk tanpa menjawab. Ia memang bahagia karena akhirnya bisa membuat sebuah keputusan besar dalam hidupnya. “Kita cari rumah sewa di mana?” tanya Dimas sambil memandang lurus ke depan. Sesekali ia membunyikan klakson saat ada kendaraan yang menyalip. “Di pinggiran kota, Kak. Ririn ingin tinggal di daerah yang belum begitu ramai dan udaranya masih segar,” sahut Ririn cepat. Sebelumnya, ia memang sudah menentukan tempat tinggal pilihan hatinya. “Baiklah, kita lewat jalan tol saja biar sampainya lebih cepat,” lanjut Dimas sambil membelokkan mobilnya. Hari masih pagi, jalan tol yang dilewati mobil Dimas masih cukup sepi. Perjalanan kakak beradik itu tak memakan waktu lama. Hanya satu setengah jam dan mereka sudah tiba di kota kecil yang dimaksud oleh Ririn. Mobil Dimas keluar dari jalan tol lalu menyusuri jalan dalam kota. “Sekarang kita ke mana, Rin?” tanya Dimas sambil mengamati kanan dan kiri jalan. “Alamat ini, Kak,” sahut Ririn. Ia menunjukkan layar telepon genggamnya. Di sana ada sebuah iklan rumah sewa. “Oke,” jawab Dimas sambil mengangguk. Ia kemudian meminta Ririn untuk mengaktifkan peta di telepon genggamnya untuk mempermudah mencari alamat yang tertera dalam iklan. Dimas mengemudikan mobil mengikuti arahan suara dari telepon genggam Ririn. Benar saja, keduanya akhirnya sampai di tempat yang dituju. Dimas memarkirkan mobilnya di depan sebuah pagar yang tingginya sekitar satu setengah meter. Ia dan Ririn kemudian turun dari mobil. Dimas menekan bel yang ada di pinggir pagar. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya datang dan membukakan pintu. Ia menyapa Ririn dan Dimas dengan santun. Ririn menyatakan niatnya untuk menyewa rumah. Ia dan Dimas pun diajak untuk melihat-lihat rumah sewa yang ada di dalam iklan di telepon genggam Ririn. Rumah itu memiliki halaman yang cukup besar lengkap dengan tanaman bunga yang berwarna-warni. Ririn langsung jatuh cinta pada rumah itu. “Aku suka rumah ini, Kak,” ujar Ririn penuh semangat. “Lihat bagian dalamnya dulu, Rin,” sahut Dimas. Wanita yang merupakan penjaga rumah itu segera membuka pintu dan mengajak Ririn dan Dimas untuk masuk. Rumah itu tentu saja jauh lebih kecil dari ukuran rumah keluarga Darmawan yang mewah. Namun, semua barang tertata rapi sehingga siapa pun yang melihatnya akan jatuh cinta. Rumah tersebut sudah dilengkapi dengan furnitur, sehingga calon penyewa tidak perlu repot membeli barang. Cukup membayar sejumlah uang dan calon penyewa sudah bisa menempati rumah itu. “Kakak setuju,” ucap Dimas setelah ia melihat setiap ruangan yang ada di rumah itu. Tak ada sudut yang luput dari perhatiannya. Ia benar-benar ingin memastikan agar Ririn bisa merasa nyaman tinggal di sana. “Terima kasih, Kak Dimas,” sahut Ririn senang. Ia memeluk Dimas sambil berulang kali mengucapkan terima kasih. Dimas segera mentransfer sejumlah uang kepada pemilik rumah sebagai tanda jadi. Ia kemudian meminta wanita paruh baya yang menjaga rumah itu untuk menjadi asisten rumah tangga Ririn. Beruntung, wanita itu setuju sehingga Ririn tidak akan tinggal di rumah itu sendirian. Hari sudah menjelang sore ketika Ririn dan Dimas kembali ke kediaman mereka. Darmawan dan Elvina sedang tak berada di rumah. Mereka sedang mengunjungi beberapa hotel untuk mencari tempat resepsi perayaan pernikahan Ririn dan Bram. Kesempatan itu digunakan Ririn untuk mempersiapkan barang-barang yang ia butuhkan. Dua buah koper besar terisi penuh. Ia kemudian meletakkan kedua koper itu di pojok kamarnya yang luas dan menutupinya dengan sebuah kain bermotif bunga. Tepat tengah malam, Dimas membawa kedua koper Ririn dan memasukkannya ke dalam mobilnya yang berukuran cukup besar. Ia melakukannya dengan hati-hati agar tidak memancing rasa curiga dari penghuni rumah. Keesokan paginya, Ririn masih sarapan bersama Dimas dan kedua orang tua mereka. Darmawan dan Elvina sempat menceritakan mengenai hotel yang sempat mereka survey. Ririn mendengar dengan baik sambil sesekali melirik ke arah Dimas. Tepat setelah keluarga Darmawan selesai sarapan, Bram datang untuk menjemput Ririn. Kedatangan Bram disambut dengan baik oleh Darmawan dan Elvina. Kedua orang tua Ririn itu sempat menceritakan kepada Bram mengenai hotel yang rencananya akan menjadi tempat resepsi pernikahannya dengan Ririn. Bram terlihat senang walaupun tak ada satu pun yang tahu apa isi hatinya yang sebenarnya. “Ma, Pa, Ririn berangkat, ya.” Ririn berpamitan dengan kedua orang tuanya. Biasanya Ririn hanya mencium tangan mama dan papanya, tapi Ririn melakukan hal yang berbeda. Ia memeluk orang tuanya secara bergantian sambil mengucapkan, “Ririn sayang Mama dan Papa. Ririn mohon maaf karena tak bisa menjaga diri dengan baik. Ririn janji akan menjadi orang yang lebih baik lagi.” Darmawan dan Elvina sempat merasa asing dengan cara berpamitan Ririn. Namun, mereka berpikir bahwa Ririn mengatakan hal itu karena ia akan segera menikah dan memiliki hidup sendiri dengan Bram. Ririn kemudian melambaikan tangannya sebelum ia memasuki mobil Bram. Ia mengedipkan matanya dengan penuh arti kepada Dimas dan kakaknya itu menjawab dengan sebuah anggukan. Ririn terus melambaikan tangan sambil menatap rumah tempat ia dibesarkan. Ia berharap suatu saat nanti kedua orang tuanya mau memaafkannya atas keputusan yang sudah dibuatnya. Ririn baru menutup kaca jendela setelah mobil Bram melaju meninggalkan gerbang tinggi kediaman keluarga Darmawan. Bram sama sekali tak mengetahui rencana yang sudah dibuat Ririn dan Dimas. Dalam perjalanan, ia menyempatkan diri untuk menjemput Cindy dan membawa kedua gadis itu ke kampus tempat mereka kuliah. Tepat jam dua Ririn keluar dari kelasnya. Ia baru saja mendapat pesan dari Dimas. Kakaknya itu sudah menunggu di parkiran dan siap mengantar Ririn ke rumah barunya. Perasaan Ririn bercampur aduk. Ia sedih karena harus meninggalkan keluarga, sahabat, dan juga cita-citanya. Ia juga bahagia karena ia akan menjalani hidup sebagai seorang wanita yang seutuhnya. “Kak Dimas!” seru Ririn. Dimas yang sedang duduk termenung di belakang kemudi sempat terkejut. “Hai, Rin. Ayo, naik,” sahut Dimas. Ririn membuka pintu mobil dan duduk bersebelahan dengan Dimas. “Ayo, kita jalan sekarang, Kak.” Dimas segera menyalakan mesin dan mengemudikan mobil keluar dari parkiran kampus. Tepat saat mobil Dimas keluar dari gerbang kampus, suara telepon genggam Ririn berbunyi. Ririn mengeluarkan telepon genggam dari tasnya. Ia mengernyitkan dahi karena tak mengenal nomor yang tertera di layar. “Siapa, Rin?” tanya Dimas. “Ngga tahu, Kak, nomor tak dikenal.” Ririn menjawab. Ia kemudian menyentuh layar untuk membuka pesan yang masuk. Ririn melemas setelah membaca pesan tersebut. Perlahan telepon genggamnya jatuh ke pangkuannya. Mulutnya tak bisa berkata apa-apa. “Rin, ada apa, Rin?” tanya Dimas penasaran. Cepat ia menghentikan mobil di tepi jalan besar. Ia kemudian mengambil telepon genggam Ririn dari pangkuan gadis itu. “Temui aku sekarang di Hotel Orchid, kamar nomor 359. Aku ingin bertanggung jawab atas perbuatanku tiga bulan yang lalu.” Dimas membaca satu per satu kata yang merupakan isi pesan dari orang misterius itu. “Rin, apa dia orang yang sudah menodai kamu?” tanya Dimas tak percaya. Ia mengamati sekali lagi pesan yang baru dibacanya. Cepat Dimas menghubungi nomor tersebut, tetapi sudah tidak aktif. “Apa yang harus kita lakukan, Kak?” tanya Ririn setelah sempat terdiam beberapa saat. Wajah bahagianya kini berubah menjadi gugup. Ia benar-benar tak siap bertemu dengan orang yang sudah memberinya luka di malam naas itu. “Abaikan, kita langsung ke rumah barumu saja.” Dimas mengabaikan isi pesan misterius itu lalu kembali menjalankan mobil. Belum sempat mobil Dimas memasuki jalan tol ketika Ririn berubah pikiran. “Kak Dimas, Ririn ingin bertemu orang itu. Ririn ingin tahu apa maksudnya dia melakukan itu pada Ririn,” ucap Ririn sambil memegang lengan kakaknya yang masih berada di kemudi. “Kamu yakin, Rin?” tanya Dimas. Ia memelankan laju kendaraannya. Ririn mengangguk, “Iya, Kak. Ririn mau bertemu orang itu. Tapi tolong jangan katakan apa-apa tentang kehamilan Ririn. Bilang saja kalau Ririn kekasih Kak Dimas.” “Baiklah, nanti Kakak akan kasih dia pelajaran.” Dimas menjawab lalu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Mobil Dimas melaju menuju Hotel Orchid, tempat di mana Ririn mengalami hal terburuk dalam hidupnya. Ririn berkali-kali mengatur napasnya agar rasa tegang yang hinggap bisa mereda, begitu juga dengan Dimas. Keduanya tak banyak bicara, sibuk dengan isi pikiran masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD