Petunjuk dari Pria Misterius

1449 Words
Mobil hitam yang dikemudikan Dimas sudah memasuki pintu gerbang Hotel Orchid. Ririn semakin diselimuti rasa gugup. Berkali-kali ia menggosokkan kedua tangannya yang mulai berkeringat. Jantungnya pun berdegup lebih kencang. Namun, rasa gugup itu dikalahkan oleh rasa ingin tahunya. Ririn memejamkan mata sambil meyakinkan dirinya saat mobil Dimas berhenti di pintu depan lobi hotel. Ia dan Dimas segera turun dari mobil. Dimas lalu memberikan kunci mobilnya kepada petugas valet. Dimas menggenggam tangan Ririn seolah ingin memberi dukungan dan kekuatan pada adiknya itu. Keduanya pun berjalan bersama menuju resepsionis. Dimas mengatakan kepada petugas resepsionis bahwa ia sedang ingin bertemu dengan seseorang di kamar 359. Petugas tersebut merespon dengan baik. Rupanya, orang misterius yang ingin ditemui Ririn telah menitipkan room card kepadanya. Petugas tersebut langsung menyerahkan room card kepada Dimas. Setelah mendapatkan akses masuk ke kamar 359, Ririn dan Dimas segera berjalan menuju tempat itu. Tak butuh waktu lama dan mereka sudah berdiri di depan pintu kamar yang dituju. Cepat Dimas menempelkan room card ke sensor dan pintu segera terbuka. Ririn berjalan mengekori Dimas. Baru beberapa langkah dan ia pun langsung berhenti. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia mencoba mengingat bagaimana ia bisa masuk ke kamar itu. Namun, berkali-kali mencoba, Ririn tetap gagal. Ia benar-benar tak ingat. Yang Ririn ingat hanyalah saat ia terbangun pagi itu dengan tubuh yang terasa berat dan sakit. “Rin,” panggil Dimas pelan. “Mau lanjut atau kita pergi saja?” tanya Dimas sambil berjalan mendekati Ririn. “Lanjut, Kak,” sahut Ririn pelan. Dimas memegang lengan Ririn dan menuntunnya. Keduanya berjalan menyisir isi kamar nomor 359. Tak ada seorang pun di sana. Ririn kemudian duduk di tepi ranjang. Ia meraba selimut yang menutupi kasur. Ririn merasa ada sebuah benda kecil yang tersembunyi di balik selimut tersebut. Cepat, Ririn menyingkap selimut untuk mencari tahu benda apa yang ada di baliknya. “Ada apa, Rin?” tanya Dimas sambil mengamati tingkah laku Ririn. Ririn tak menyahut. Matanya terbelalak melihat sebuah kotak tipis berwarna hitam. Ririn segera mengambil benda tersebut dan memberikannya kepada Dimas. “Benda apa ini, Kak? Mungkinkah ini petunjuk dari orang itu?” tanya Ririn dengan suara yang bergetar. Jantungnya berdegup sangat kencang. Merasa lelah, Ririn kembali duduk di kasur yang empuk. Dimas mengamati kotak tipis yang ada di tangannya. “Buka ngga, Rin?” Dimas meminta pendapat Ririn. “Buka, Kak.” Ririn menjawab cepat. Napasnya kian memburu. Dimas melakukan seperti apa yang diinginkan Ririn. Perlahan, ia membuka penutup kotak itu. Dimas mengernyitkan dahinya saat melihat isi kotak tersebut. “Surat?” tanya Dimas meyakinkan dirinya sendiri. Ia lalu mengambil surat itu dari dalam kotak dan memberikannya kepada Ririn. Ia pun ikut duduk bersama Ririn di atas kasur yang sangat empuk. “Kak Dimas saja yang baca, Ririn cukup mendengar.” Ririn menolak. Ia tak sanggup membaca surat dari pria kurang ajar yang telah mengacaukan hidupnya. Dimas mengerti kalau Ririn masih merasa trauma. Ia pun membaca surat tersebut dengan bersuara agar Ririn bisa mendengarnya. “Siapa pun kamu, aku mohon maafkanlah aku. Aku tidak melakukan hal itu secara sengaja kepadamu. Malam itu ada orang jahat yang memanfaatkanku. Mereka mencampurkan obat perangsang ke dalam minumanku. Setelah itu, seorang pria berbadan kekar membawaku ke kamar ini. Saat itu, kamu sudah tertidur di kasur. Tubuhku yang sudah dikendalikan obat memaksaku untuk melakukan itu kepadamu. Maaf kalau aku tidak bisa bertanggung jawab karena ada hal lain yang harus kucapai. Sebagai permintaan maafku, ambillah tas hitam yang ada di atas nakas dan bawalah benda itu bersamamu. Sekali lagi, aku mohon maafkanlah aku.” Dimas membaca surat itu tanpa ada satu kata pun yang terlewatkan. “Jadi dia tidak berani menemui kita, padahal aku sudah sangat ingin memberikan pelajaran kepadanya,” decak Dimas kesal. Ririn sama sekali tak menyangka kalau pemuda yang telah menodainya juga sama tak beruntung dengannya. Ternyata pemuda itu juga diperalat oleh orang yang tak bertanggung jawab. Ririn meminta surat itu dan memasukkannya ke dalam tas kecilnya. Ia kemudian melihat sebuah tas hitam di atas nakas. Ririn menatap Dimas dengan penuh arti. Dimas paham akan apa yang dimaksud oleh Ririn. Ia mengambil tas hitam berukuran sedang dan membukanya. Tas itu tidak dikunci sehingga sangat mudah bagi siapa pun untuk membukanya. Mata Dimas melotot saat melihat isi dalam tas tersebut. Ia pun menyodorkan benda itu kepada Ririn, “Rin, lihat isi tas ini!” Ririn mengamati isi tas dan ia tak kalah terkejut dari kakaknya. “Ini … uang, Kak?” Ririn seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di dalam tas hitam itu terdapat beberapa tumpuk uang berwarna merah pecahan seratus ribuan. “Ya, dia pikir dengan uang semua masalah selesai.” Dimas menahan amarah yang mulai naik, membuat kepalanya agak sakit. Ririn mengeluarkan seluruh isi tas dan menyusunnya di atas kasur. Gadis itu menghitung seluruh jumlah uang yang merupakan pemberian dari pria yang sudah menghancurkan hidupnya. “Rin, untuk apa kamu hitung uang itu?” tanya Dimas dengan kesal. Ririn memegang lengan kakaknya dan menatap pemuda tampan berhidung mancung itu, “Kak Dimas, menurut Kakak … apa yang harus kulakukan dengan uang itu?” Ririn bertanya setelah kembali memasukkan tumpukan uang ke dalam tempatnya. “Kamu tidak memerlukan uang itu. Kakak masih sanggup membiayai hidupmu bersama calon keponakan Kakak. Kakak tidak suka dengan cara orang itu. Apa dia pikir semua masalah akan selesai dengan memberikan uang ini?” Dimas protes. Ia merasa pria misterius itu merendahkan harga diri adiknya. “Kak … saat ini Ririn butuh uang. Ririn tidak bekerja, tidak punya usaha. Kalau Ririn ambil uang ini untuk membuka usaha di waktu yang akan datang, bagaimana menurut Kakak?” Ririn mencoba membuka pikiran Dimas. Dimas diam sebentar, mempertimbangkan apa yang dikatakan Ririn. Ia pun mengerti keinginan adiknya itu. Namun, rasa gengsi membuatnya tak langsung mengiyakan perkataan Ririn. “Kak, anggap saja ini rezeki untuk anak Ririn nanti. Ririn tidak akan pakai uang ini untuk foya-foya, tapi untuk kebutuhan anak Ririn kelak. Lagipula, Ririn memang harus memulai usaha nanti, Kak. Ririn tidak mungkin selalu berpangku tangan dan mengharapkan bantuan Kak Dimas,” ucap Ririn panjang lebar. Kemarahan Dimas pun segera menurun. Akhirnya ia luluh dan mengikuti permohonan adiknya. “Berapa jumlah semua uang itu?” tanya Dimas. “Kalau Ririn tidak salah hitung, semuanya ada 250 juta, Kak,” sahut Ririn. “Berarti dia bukan orang biasa,” ujar Dimas yang diiyakan oleh Ririn. Keduanya pun sibuk memikirkan siapa pria misterius itu. Ririn dan Dimas menunggu sebentar di kamar 359. Namun, setelah beberapa waktu mereka meninggalkan tempat itu karena pria misterius yang ditunggu tak kunjung datang. Mereka menyimpulkan bahwa pria itu tak berani bertemu dan hanya ingin menyampaikan surat serta uang sebagai permintaan maaf. Ririn dan Dimas sempat bertanya kepada resepsionis tentang orang yang sudah menyewa kamar 359. Namun, tak banyak informasi yang mereka dapat. Resepsionis itu hanya berkata bahwa pria itu datang seorang diri. Ia bertubuh atletis, dengan tinggi kira-kira sama dengan Dimas. Usianya 21 tahun, satu tahun lebih tua daripada Ririn. Namun, ia menolak menyebutkan nama pria itu dengan alasan bahwa ia lupa. “Dia menitipkan benda ini.” Resepsionis itu memberikan sebuah benda kepada Ririn. Ririn mengambil benda itu sambil mengamatinya. Benda itu adalah sebuah gantungan kunci berwarna perak dengan ukiran kata ‘maaf’. Ririn menerima benda itu dan memasukkannya ke dalam tasnya. Ia dan Dimas kemudian mengucapkan terima kasih kepada sang resepsionis lalu pergi meninggalkan hotel. “Siapa pemuda itu, Kak?” Ririn bertanya kepada Dimas sambil memasang sabuk pengaman di tubuhnya yang ramping. Ia kemudian mengikat rambut panjangnya karena merasa gerah. “Entahlah, Rin. Pastinya dia bukan orang sembarangan. Dia berasal dari keluarga kaya seperti kita. Bagaimana mungkin pemuda yang baru berusia 21 tahun bisa mempunyai uang sebanyak itu kalau dia bukan orang berada?” Dimas kembali bertanya. Ia kemudian melajukan mobil meninggalkan lobi hotel. “Ya, Kakak benar. Tapi siapa yang sudah menjebaknya dan memasukkannya ke dalam kamar 359?” Ririn mencoba menebak. Ia menggelengkan kepala saat tak ada kemungkinan jawaban yang bisa ia dapatkan. Ririn tak menyesali keputusannya untuk mendatangi Hotel Orchid. Bukan karena ia menerima uang dalam jumlah banyak, tetapi karena ia sedikit tahu tentang identitas pemuda yang sudah memberinya luka di malam itu. Mobil Dimas terus melaju membelah jalan bebas hambatan. Ia dan Ririn pun akhirnya tiba di rumah baru Ririn tepat sebelum senja berakhir. Sesampainya di rumah Ririn, ia membantu sang adik merapikan barang-barangnya. Mereka sama sekali tak tahu kalau sedari tadi ada orang asing yang mengikuti perjalanan mereka. Orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang mereka ingin temui di Hotel Orchid. “Ririn, maafkan aku.” Pemuda itu menatap nanar ke rumah sewa yang ditempati Ririn. “Aku harus pergi sebelum mereka menyadari kehadiranku,” ucap pemuda itu pada dirinya sendiri. Ia kemudian mengendarai mobil mewahnya meninggalkan pagar rumah baru Ririn.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD