3. Kering.

913 Words
Meja panjang itu ditutup dengan taplak putih bersih, beberapa lilin kecil berbaris serta berjarak, vas kristal berisi bunga-bunga segar, juga peralatan makan dari perak. Summer membeku di tempatnya berdiri, entah terhipnotis atau terperangah, seakan ia belum pernah menemukan sesuatu semacam ini sebelumnya. Tidak, bukan begitu. Jawabannya merupakan perhatian-perhatian kecil serta kenangan yang terhidang di sana, dirinya ditarik kembali pada masa ketika mereka masih bersama. Tanpa sadar ia menekan kuku jarinya ke kulitnya, berpaling tak mampu mempertahankan rasionalitas yang berputar di sekelilingnya. "Ada apa?" Suara lembut itu berasal di belakangnya, pria yang berdiri seperti bayangan—menanti apa pun terucap dari bibir wanita yang membelakanginya. "Aku tak ingin memakan apa pun." "Mengapa? Apa seleramu telah berubah? Bukankah semua yang terhidang merupakan makanan favoritmu?" Karena itu, Summer enggan mengakuinya, mengapa Josh mempersiapkan semua ini? Untuk apa? Sepertinya pria itu tetap mengingat segala hal tentang dirinya. Summer enggan menggali apa pun, karena membuatnya semakin takut. Mengabaikan keterdiamannya, Josh menarik kursi kosong, menarik pelan tangan Summer dan menekan bahunya sehingga duduk tak berdaya. Pria itu masih berdiri di belakangnya, membungkuk seraya mencengkram punggung kursi, membisikan vonis yang pasti terjadi. "Aku sudah mengatakannya, kamu sarapan, kemudian supir akan mengantarmu pulang. Bukankah itu mudah, hmm?" Summer tak dapat mengembalikan napsu makannya, meski perutnya mulai melilit karena lapar, ia bukan tamu di rumah ini, jadi mengapa harus menikmati jamuan? Ia berada di sini karena diculik, satu fakta saja sudah cukup membuatnya mual. Kemudian dipaksa duduk untuk menelan sesuatu dan menikmati suasana yang begitu suram meski seluruh jendela besar di ruang makan terbuka lebar. Bahkan cahaya matahari yang masuk sama sekali tak membantu, seolah matanya tertutup kegelapan pekat. "Makanlah, kepala koki sangat bersemangat menyiapkannya karena tak pernah ada tamu di sini." Dia mengatakannya dengan maksud agar Summer terbebani oleh kebaikan orang lain, sehingga dia akan merasa bersalah, karena begitulah Summer menjalani hidupnya selama ini. Mengasihani orang lain sehingga dimanfaatkan dengan brutal. "Tentu saja aku tidak menempatkan racun atau sesuatu yang membahayakanmu, takkan pernah." Josh menambahkan, ia menikmati betapa tertekannya wanita itu—yang masih diam seolah perlu terus diperhatikan seperti lukisan indah di sebuah galeri seni. "Pembangkanganmu takkan menghasilkan apa pun, Summer." Ada banyak yang ingin ditanyakan wanita itu, memenuhi kepalanya, tapi ia harus memilih satu saja dan terpenting meninggalkan tempat ini secepatnya. "Kamu harus berjanji." Bibir merahnya bersuara, memercik kesenangan dalam diri Josh. "Ya, tentu saja. Jadi, lakukanlah dengan benar." Pertama, ia menyentuh cangkir teh earl grey, meneguknya perlahan. Mengizinkan kerongkongannya yang kering sedikit terobati. Kemudian memilih pancake tipis dengan toping berry segar, sirup maple serta taburan gula halus. Summer mengirisnya perlahan, menatap kosong makanan itu tanpa minat, ia perlu menghabiskan setidaknya satu agar pria yang duduk di kursi ujung menilainya telah menyelesaikan sarapan. Josh mengamati setiap gerakannya, menghargai waktu langka yang ia tunggu selama tujuh tahun terakhir, meski bagi Summer situasi ini merupakan penekanan mengerikan, tapi tidak apa-apa. Masih banyak waktu bisa dihabiskan bersama sejak Josh memilih waktu paling tepat untuk merebutnya kembali. Interaksi mereka di meja makan berakhir di sana. Josh cukup merasa puas melihat wanita itu memakan sesuatu yang ia suguhkan. Mereka tenggelam oleh waktu hingga sesi sarapan berakhir setelah Summer menghabiskan sebuah pancake serta segelas teh earl grey. *** Sebuah mantel bulu melilit bagian atas tubuh Summer, aroma parfum yang tercium dari benda itu semakin membuatnya merasa sesak. Sudah cukup lama sejak terakhir kali dirinya menggunakan parfum beraroma citrus-woody yang menyeretnya pada kenangan semasa kuliah. Aroma yang lebih cocok diuraikan saat musim semi ketimbang musim gugur seperti sekarang. Pria itu mungkin sengaja memerangkapnya pada segala hal yang berkaitan dengan masa lalu, memelintir hatinya sehingga kesakitan dan mengingat tentang mereka. "Alex akan mengantarmu pulang." Ia menarik ritsleting mantel bulu itu ke atas, cukup untuk melindungi Summer dari udara akhir musim gugur. "Lihat, aku menepati janjiku, bukan? Aku tidak sekejam itu dengan menahanmu lebih lama di sini." Summer membisu, pikirannya telah direnggut hal lain sejak awal. Dia bergeming seperti patung saat Josh memasangkan mantel bulu itu, seseorang yang menyiapkannya dengan sengaja. Sepertinya Josh memiliki banyak barang-barang wanita di rumahnya. Summer berkedip singkat. Ketika kelopak matanya terbuka, wajah sempurna pria itu telah memenuhi pandangannya, menghalangi sinar matahari. Josh menundukan kepalanya seraya meremas lembut lengan Summer. "Sejujurnya aku penasaran mengapa kamu terlalu banyak diam. Mungkin hanya aku yang menyukai reuni kita, atau kamu tidak puas dengan apa yang kusiapkan untukmu, Summer?" Akal sehat yang sempat terabaikan akhirnya kembali begitu mendengar keluhan omong kosong manusia di depannya. Summer menepis kedua tangan Josh, ekspresi melamunnya berubah dingin, menunjukan kebencian yang sempat mengendur akibat terbius oleh kenangan-kenangan lama—yang sengaja dihadirkan pria berkemeja hitam itu. "Jelaskan dengan masuk akal mengapa aku harus menyukai reuni gila ini. Bagaimana seseorang bertingkah sinting saat menghancurkan hari pentingku di depan semuanya. Aku sangat lelucon bagimu, ya?" Kerutan di dahinya cukup jelas, iris cokelatnya dipenuhi binar kemarahan, tapi ia mati-matian menahan diri agar tidak mengotori tangannya jika memukulnya. Tubuh Josh kembali tegak, sesaat dia menyeringai sebelum menempelkan telapak tangan ke wajahnya. "Hari penting? Hari penting katamu?" Ia tertawa kering, kemudian terbahak-bahak. Sebuah penghinaan mutlak. "Pria b******k!" Wajah Josh kembali terlihat, ia tak kuasa menahan lelucon tentang hari pertunangan mantan pacarnya. "Ya, Summer. Pria brengsekmu telah berhasil menemuimu, selanjutnya bagaimana?" "Aku takkan memaafkanmu atas penghinaan ini! Aku pasti menyeretmu untuk tindakan kekerasan di ruangan itu!" Kemarahannya menggelegak tak tertahankan. Meski diancam, Josh acuh tak acuh, ia justru tersenyum puas. Tangannya menyentuh sisi wajah Summer, membelainya penuh kasih sebelum ditepis kembali. "Baiklah, aku menunggu ancamanmu menjadi kenyataan, lalu kita lihat siapakah yang kalah. Nona Summer Murphy atau diriku." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD