2. Tekanan.

803 Words
Pemandangan pertama yang menyapa indra penglihatannya merupakan langit-langit ruangan berukiran rumit, dan chandelir yang menggantung di sana begitu mewah, lampu-lampu kristal cantik di sekitarnya berkilau tersentuh percikan cahaya. Ini bukan rumahnya, apalagi kamarnya. Saat ia memastikan sekali lagi terhadap situasi di sana, kemewahan itu semakin mutlak. Ruangan yang memang diperuntukan bagi seorang wanita. Kamarnya begitu luas dengan beragam barang tertata rapi di masing-masing tempat, wanita mana pun pasti terkesan jika memasuki ruangan ini, seolah dia merupakan seseorang paling beruntung di dunia karena dimanjakan dengan kemewahan. Namun, bukan itu yang harus Summer pikirkan sekarang. Ia perlu pergi dari sini, ia tidak mengenali tempat ini dan segalanya yang membuat kepala semakin pening, membayangkan aroma chloroform berhasil menggerogoti kesadarannya membuat Summer bergidik ngeri. "Aku diculik?" Ia beranjak, menyingkap selimut dan sempat mematung, merinding ketika pakaiannya sudah berubah menjadi dress berlengan panjang. "Di mana gaunku? Di mana ini?" Ia mengabaikan sepasang selop bulu halus yang sudah disiapkan untuknya, bertelanjang kaki keluar dari kamar itu seraya memperhatikan sekitar. Ia melewati sebuah lorong dengan beberapa pilar berbaris di sisi kiri yang menyatu dengan railing pembatas, sementara sisi kanan merupakan pintu-pintu tertutup rapat, seolah ia baru saja keluar dari kamar hotel. Summer menemukan tangga di antara persimpangan, ia bergegas turun secepat mungkin, kakinya cukup terlatih melakukan hal itu tanpa takut terjatuh. Ia hanya harus meninggalkan tempat mengerikan ini sejauh mungkin. "Oh, kamu sudah bangun, ya?" Tepat ketika kakinya menginjak anak tangga terakhir, suara itu terdengar, menyambutnya dengan lembut. Summer menoleh waspada, ruang terbuka di sisi kiri tangga tampak seperti sebuah lounge, pria itu duduk di sofa kulit warna burgundy yang membentuk setengah lingkaran seraya menyesap cangkir kopi hitam single-origin favoritnya, ia begitu santai menikmati suasana pagi di dekat perapian yang menyala. Selebihnya bukan hanya lounge, mini bar di sampingnya begitu elegan dengan nuansa gocthic yang kental. Tidak, setelah menyadarinya meski hanya beberapa saat, pencahayaan di sekitarnya memang tampak redup, meskipun beberapa tirai dan jendela dibuka lebar, cahaya matahari sekadar menyentuh sebagian sisi. Jika harus dibandingkan dengan kamar yang sempat Summer tempati, ruangan itu justru bergaya lembut dengan cat krem serta pencahayaan terang. Antara kamar dan ruangan lain seperti menemukan langit siang sekaligus malam pada satu waktu. "Summer." Panggilan itu membuat sang pemilik nama kembali menemukannya, Josh tersenyum lesu memperhatikan wanita yang hanya berjarak satu meter di depannya—tapi terasa sangat jauh—menunjukan ekspresi dingin yang membuat hatinya terpelintir. "Mengapa kamu sangat senang bertelanjang kaki? Suhu semakin dingin menjelang akhir musim gugur." "Apa yang kamu lakukan? Mengapa aku berada di tempat ini? Di mana gaunku?" Mengabaikan perhatian kecilnya, ia mengatakan semua yang ia pikirkan. Josh kembali menyesap kopinya, ia menunjuk perapian menyala menggunakan gerak dagu. "Di sana, gaunmu." Dahi Summer berkerut dalam, tangan-tangannya terkepal erat, tapi Josh begitu tenang menghadapinya, tak peduli terhadap kemarahannya. "Itu gaunku! Bukan hakmu untuk membakarnya!" "Hmm. Aku sudah mengatakannya, menjelang akhir musim gugur suhu menjadi lebih dingin. Kamu akan sakit jika memakai pakaian terbuka seperti itu, Summer." Meskipun mendengar teriakannya, Josh tetap bersikap lembut, seolah tengah menghadapi bayi yang merajuk. "Aku tidak membutuhkan perhatianmu. Aku ingin pulang sekarang, jadi tunjukan jalan keluarnya." "Logan!" Seorang pria lain tiba-tiba muncul menghadap Josh, berdiri di sampingnya. "Anda membutuhkan sesuatu, Tuan?" "Ambilkan alas kaki untuk tamu istimewaku." Senyumnya membentuk seringai halus, tak menyembunyikan niatnya. "Baik, Tuan." Pria bernama Logan menyingkir, saat dia kembali—sepasang flat shoes dengan hiasan mutiara di atasnya beralih ke tangan Josh. "Terima kasih, kau bisa pergi." Logan mengangguk, dan lounge hanya diisi sepasang manusia lagi. Josh beranjak seraya memegang flat shoes putih yang begitu mencolok, tanpa aba-aba ia berlutut di depan Summer, kemudian menyentuh pergelangan kaki kanannya. "Apa-apaan! Lepas!" Sentuhan ringan itu membuatnya merinding, tapi penolakannya tidak berhasil karena Josh semakin mencengkram kakinya. "Diamlah. Aku hanya ingin memasangkan benda ini di kakimu." Summer semakin tak tahan terhadap interaksi mereka, ia segera mundur setelah tugas Josh selesai, dan pria itu berdiri, bayangannya menutupi Summer sepenuhnya. "Ukurannya sangat pas, sepertinya tak ada yang berubah dari bagian tubuhmu. Dress itu—" Ia menempelkan telunjuknya di sudut bibir, menikmati pemandangan dari lekuk tubuh wanita cantik di depannya. "Juga sangat cocok, kamu memang terlahir untuk memakai segala sesuatu yang mewah. Jadi, aku berusaha mendapatkan apa pun sesuai kriteriamu. Investasi ini takkan mengecewakan, Summer." "Berhenti mengucapkan omong kosong. Aku harus pulang sekarang!" "Pulang, ya?" Ia mendesah ringan. "Sarapannya sudah disiapkan." "Aku tidak mau memakan apa pun! Aku ingin pulang!" Ia kembali berteriak, persetan dengan orang lain yang tinggal di tempat ini. Meski begitu, Josh tak tersinggung. Ia justru mendekat, merapatkan tubuhnya. Membaca gesture tubuh Summer yang berniat mundur, satu tangannya menekan pinggang wanita itu sebelum berbisik. "Sayang. Bukan waktumu untuk bersikap egois, aku pasti mengembalikanmu ke rumah, tapi isilah perutmu dulu. Kamu perlu menghabiskan banyak tenaga untuk menghadapi situasi selanjutnya." Summer ragu meyakinkan dirinya, tapi kalimat itu bermakna ancaman yang samar, seolah Josh sedang meramal masa depannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD