FM-3

1451 Words
Syaf beranjak dari duduknya. "Ana ... sepertinya aku tidak bisa berlama-lama di sini karena mama di rumah seorang diri. Jadi, aku harus pamit pulang sekarang." Jika Joana mengulas senyuman dan ikut berdiri sembari menjawab. "Sampaikan salamku pada Tante." Syaf mengangguk. Lain halnya dengan Joshua yang tampak gugup dan salah tingkah. Kenapa Syaf harus meninggalkannya di sini berdua dengan Joana. Yang benar saja. Pria itu melotot ketika Syaf mengalihkan pandangan padanya. "Josh! Aku pulang dulu. Jangan lupa. Besok pagi kau sudah harus sampai di kampus jam tujuh. Kita bertemu di sana saja besok." Pesan yang Syaf sampaikan mengabaikan semua ketidaknyamanan Joshua. Tidak mungkin juga dia terus menerus berada di sini menunggu sampai Jofan datang yang entah jam berapa. Syaf tidak bohong ketika mengatakan jika sedang meninggalkan mamanya sendirian di rumah. Dan tentu Syaf khawatir jika sampai terjadi sesuatu pada mamanya selama dia tak ada di rumah. "Tak bisakah kau tinggal di sini untuk sementara waktu. Bahkan aku baru saja sampai di rumah ini dan kau sudah akan pergi begitu saja." Syaf mengulas senyuman. Mencondongkan badan mendekat pada sahabatnya itu. "Habisnya? Akankah aku tetap mendampingimu, Josh! Kau sudah dewasa. Bisa menyelesaikan apa yang menjadi ganjalan di hatimu itu. Karena kurasa ... kau sendiri yang masih terjebak pada rasa yang seharusnya sudah kau buang jauh-jauh sejak dulu. Ya, sudah. Aku harus pulang. Bye!" Joana menggandeng lengan putrinya menatap punggung Syaf yang meninggalkan ruang tamu. Sementara Josh ... Pria itu masih sulit menerima kenyataan sehingga harus mengejar Syaf sampai di luar. "Tunggu, Syaf!" "Apalagi, Josh?" "Tega sekali kau padaku. Mungkin sebaiknya memang aku mencari tempat tinggal sendiri saja yang jauh dari papa Jofan juga ... Joana." "Terserah kau saja. Tapi tidak dengan hari ini karena jika kau keluar lagi dari rumah ini, yang ada akan menimbulkan kecurigaan. Kau mau Joana tahu jika sampai detik ini seorang Joshua Giordino belum bisa move on dari adik tirinya." "Sialan kau, Syaf!" Syaf melambaikan tangan meninggalkan Josh begitu saja. Decakan sebal Josh tak membuat suasana lebih baik karena nyatanya pria itu harus kembali masuk ke dalam rumah. Ada Joana serta Jelita yang tengah memperhatikannya. "Kak Josh menginap di sini, kan?" Dengan polos gadis sembilan tahun itu bertanya. "Iya, untuk sementara waktu sampai kakak mendapatkan tempat tinggal baru." Joana terkejut mendengarnya. "Josh! Apakah kamu berniat untuk tinggal sendiri selama di Indonesia?" Kepala Joshua mengangguk. "Ya." "Kenapa?" Joshua bingung ingin menjawab apa. Pria itu menggaruk pelipis sembari mencari jawaban yang tepat untuk dia utarakan pada Joana. "Aku tak ingin merepotkan papa dan aku ingin hidup mandiri. Itu saja." "Tapi, Josh. Kurasa papa Jofan pun tak akan keberatan jika kamu tinggal di rumah ini." "Aku tahu. Tapi aku memang ingin tinggal sendiri." Joana menghela napas. Tak ada hak baginya untuk memaksa Joshua. Biarlah nanti Jofan saja yang berbicara pada putranya itu. "Aku ke kamar dulu," ucap Joshua, mendekati Jelita, mengusap rambut gadis kecil itu sebelum dia meninggalkan ruang tamu untuk masuk ke dalam kamarnya. Empat tahun bukan waktu singkat baginya meninggalkan Indonesia. Meninggalkan rumah ini bersama semua kenangannya. Josh membuka pintu kamar mendapati koper yang tadi dibawa Murni sudah teronggok di samping almari bajunya. Entah berapa lama dia sanggup bertahan di rumah ini. Berdekatan dengan Joana bukan pilihan yang akan Joshua pilih karena pada kenyataannya, jantung Joshua selalu berpacu cepat acapkali berdekatan dengan Joana. Dia tahu ini salah. Bahkan perpisahan dengan Joana sudah berlalu selama sepuluh tahun lamanya. Mengalahkan lamanya hubungan yang dulu hanya terjalin selama tiga tahun saja dengan wanita itu. Namun, hati tetaplah hati yang sulit dia kontrol. Joshua hanyalah manusia biasa yang memiliki kelemahan. Dia bukan pria kuat yang akan dengan mudah melupakan seseorang yang begitu dia sayang. Dan diminta bersikap biasa serta menganggap Joana sebagai adik ... tak mampu Joshua lakukan. Itu juga yang membuat Joshua tak juga bisa menerima wanita lain dalam hidupnya. Dia hanya takut kecewa. Ketika mencintai seseorang hanya menumbuhkan luka, maka Joshua memilih tak mencintai siapa pun juga di dunia ini. Cukup dia mencintai dirinya sendiri. Badan yang lelah, Joshua menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Tak ada niat untuk tidur sebenarnya. Inginnya hanya istirahat sebentar. Merebah melemaskan otot punggungnya. Namun, sayang sekali karena mata yang terpejam justru membawa Joshua pada alam mimpi. Entah berapa lama dia tertidur. Ketika membuka kelopak matanya, hari sudah petang. Senyenyak itukah tidurnya sampai dia bisa menikmati waktu istirahat di rumah ini. Gegas beranjak dari atas ranjang. Membuka koper untuk mengambil baju ganti dan juga peralatan mandi. Pria itu ingin membersihkan diri sebelum memutuskan kembali keluar dari dalam kamar karena merasakan perutnya yang keroncongan. ••• Jofan pulang ke rumah lebih sore dari biasanya. Itu sebab ketika tadi Joana menelpon dan menyampaikan kabar berita tentang kepulangan Joshua yang tiba-tiba. Dan karena itu pula tak sabar Jofan untuk segera pulang agar dapat segera berjumpa dengan putranya. Empat tahun Joshua meninggalkan Indonesia. Selama empat tahun itu pula Joshua tak pernah mau atau ada keinginan untuk kembali pulang ke rumahnya. Bahkan ketika Jofan berniat mengunjungi putranya itu ... Joshua menolak. Benar-benar ingin menjaga jarak dengannya. Jofan menghela napas panjang sebelum melangkahkan kaki memasuki rumah mewah yang sudah sejak dulu dia tempati bersama Joshua. Memang rumah ini sudah melalui beberapa tahap renovasi tanpa menghilangkan konsep utama ketika rumah ini dibangun dulu. Rumah ini juga saksi bisu kepergian Joshua karena patah hati setelah mengetahui semua fakta yang terkuak di antara hubungan mereka bertiga. Ah, Jofan tak akan pernah bisa mengelak atau melupakan akan masa lalunya bersama Joana dan juga Joshua tentunya. Namun, begitu Jofan selalu berusaha sekuat tenaga memberikan pengertian pada putranya itu jika takdir yang telah tertulis harus dihadapi dengan lapang dadaa. Jofan memasuki rumah disambut oleh senyuman hangat sang istri tercinta. Joana mengambil alih tas kerja yang suaminya bawa setelah sebelumnya mencium punggung tangan Jofan. "Josh di mana?" "Ada di kamar. Sejak tadi belum keluar juga." "Biarkan saja. Mungkin sedang istirahat. Nanti saja ketika makan malam, aku akan temui dia. Sekarang aku ingin mandi." Joana mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar mereka. Menyiapkan segala macam perlengkapan yang Jofan butuhkan. Sekitar lima belas menit saja Jofan melakukan ritual mandinya. Setelah mengganti baju dan merapikan dirinya, pria itu duduk sebentar di atas sofa yang ada dalam kamar tidurnya. Meminta pada Joana untuk mendekat. "Kapan Josh sampai?" "Sesaat setelah aku menelepon papa tadi." "Tumben dia mau pulang. Apakah dia tadi sempat bercerita padamu, sayang?" "Josh pulang tidak sendiri tadi. Tapi diantar oleh Syaf. Yang menjemput di Bandara juga Syaf. Masih menurut informasi yang aku dapatkan dari Syaf, kedatangan Josh ke Indonesia karena permintaan dari Syaf." Kening Jofan yang mulai keriput terlihat berkerut. "Memangnya kenapa dengan Syaf." "Syaf meminta pada Josh untuk menggantikan sementara waktu sebagai dosen karena Syaf harus menemani berobat mamanya keluar negeri." Jofan manggut-manggut paham. "Semoga saja ini adalah awal dari kehidupan Joshua yang baru. Dan semoga juga dia mau kembali menetap di Indonesia dan tak lagi pergi ke luar negeri. Mau sampai kapan anak itu akan terus bersikap sesuka hati. Padahal usianya sudah hampir kepala tiga." "Tapi papa harus ingat. Jangan terlalu keras dengan Josh jika tidak ingin dia kembali lari." "Aku tahu." Joana sengaja tak memberi tahu suaminya perihal keinginan Joshua yang akan memilih tinggal sendiri dan bukan tinggal di rumah ini. Biarlah Josh sendiri yang nanti membicarakan dengan suaminya ini. "Ayo, keluar. Kita makan malam. Siapa tahu saja Josh sudah keluar dari dalam kamarnya." Ajakan Joana diangguki kepala oleh Jofan. Pria itu beranjak dari duduknya. Menggandeng lengan Joana keluar dari dalam kamar. Di saat yang bersamaan ketika Joshua juga keluar dari dalam kamarnya. Tatapan mata Joshua begitu saja terarah pada genggaman tangan Jofan pada tangan Joana. Melihat itu semua hati Joshua terasa tercubit, dan itu sangat sakit. "Josh!" Panggilan Jofan, menyentak lamunan Joshua. Dengan semangat Jofan menghampiri putranya. Melepaskan genggaman tangannya dari Joana. Meski tidak siap, Josh menerima juga pelukan dari sang papa. "Apa kabarmu, Josh? Papa sangat merindukanmu." "Aku baik. Seperti yang papa lihat." Jofan mengurai pelukannya. Memperhatikan dari atas ke bawah sosok putranya yang lama tidak dia jumpai. "Kamu terlihat makin dewasa dan matang. Berapa tahun kita tidak bertemu, hem?" Josh memaksakan senyuman. "Usiaku juga semakin bertambah, Pa. Jadi kedewasaan itu muncul dengan sendirinya." "Ayo kita makan dulu. Setelah itu baru kita akan berbincang. Banyak hal yang ingin Papa obrolkan denganmu, Josh." "Asalkan papa jangan meminta padaku untuk tetap stay di Indonesia karena aku di sini juga tak akan lama." Ingin rasanya Jofan menjawab, hanya saja jika membahas hal ini sekarang, yang ada tak akan habis-habisnya mereka berdebat dan makan malam mereka bisa tertunda. "Meski sebenarnya papa masih berharap kau tak lagi kembali ke luar negeri ... tapi sebagai seorang papa, tak akan pernah papa memaksakan kehendak papa padamu." Joshua hanya mengangguk. Lalu Jofan merangkul bahu putranya membawa menuju meja makan. Sementara Joana ... memberikan waktu pada Jofan dan Joshua untuk kembali akrab menjalin hubungan papa dan anak.

Great novels start here

Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD