Bab 2

1190 Words
Di kebun durian.. "Assalamu'alaikum", mbah Sakiman memberikan salam pada pak Joko dan bu Ajeng. "Wa'alaikumussalam", pak Joko dan bu Ajeng menjawab salam dari mbah Sakiman. "Emmmm Joko", kata mbah Sakiman. "Inggih mbah" (Iya mbah), sambung pak Joko. "Putu kula, Fandi, uga Fani sampun ngantos mriki dereng ?" (Cucu saya, Fandi, dan Fani sudah sampai sini belum ?), tanya mbah Sakiman. "Dereng mbah, emang e punapa nggih ?" (Belum mbah, memangnya kenapa ya ?), tanya pak Joko. "Mboten menapa, niki kula kersa terna bawang goreng pesanan sampeyan ingkang kula titipkan ing putu kula, eh malah ketinggalan ing griya, uga niki kula asih kamawon lajeng dhateng sampeyan nggih" (Tidak apa, ini saya mau antar bawang goreng pesanan kamu yang saya titipkan pada cucu saya, eh malah ketinggalan di rumah, dan ini saya kasih saja langsung ke kamu ya), jawab mbah Sakiman. "Inggih mbah, kula tampi, oh nggih mbah dados sepinten regi bawang goreng e nggih mbah ?" (Iya mbah, saya terima, oh ya mbah jadi berapa harga bawang gorengnya ya mbah ?), tanya pak Joko lagi. "Regi ne rong puluh lima ewu, Joko" (Harganya dua puluh lima ribu, Joko), jawab mbah Sakiman lagi. "Oh nggih tengga sekedhap nggih mbah, bu e.." (Oh ya tunggu sebentar ya mbah, bu..), kata pak Joko. "Inggih" (Iya), sambung mbah Sakiman. "Assalamu'alaikum", Fandi, Fani, dan Titah memberikan salam pada mbah Sakiman dan pak Joko. "Wa'alaikumussalam", mbah Sakiman dan pak Joko menjawab salam dari Fandi, Fani, dan Titah. "Loh kok mbah ada di sini ?", tanya Titah. "Lupa ya, kan tadi mbah titip bawang goreng sama kamu, ketinggalan di rumah dan mbah antar sendiri saja ke sini, lagian kalian habis darimana sih, mbah tanya tadi sama ayah mu Fandi, Fani belum sampai ?", tanya mbah Sakiman lagi. "Biasa mbah, jajan dulu baru ke sini", jawab Fani. "Oh..", kata mbah Sakiman. "Bu..", sambung pak Joko memanggil Istrinya. "Inggih pak e, punapa ?" (Iya pak, kenapa ?), tanya bu Ajeng. "Tolong ambilkan arta nggih, konjuk bayar bawang goreng mbah Sakiman" (Tolong ambilkan uang ya, untuk bayar bawang goreng mbah Sakiman), jawab pak Joko. "Inggih pak e" (Iya pak), kata bu Ajeng. "Oh ya Fandi, Fani, sekarang kamu ajak Titah keliling kebun durian ya", sambung Fandi. "Iya pak", kata Fandi dan Fani. "Titah yuk", kata Fandi lagi. "Fandi bukan begitu cara ngomongnya, tapi seperti ini cara ngomongnya, ayang beb Titah yuk kita keliling kebun durian, begitu, yang mesra sedikit dong", sambung Fani. "Fani diam, emmmmm", Fandi menginjak kaki Fani. "Awwww sakit kaki saya, kamu injak Fandi", Fani kesakitan, karena kakinya di injak oleh Fandi. "Fani, kamu tidak apa ?", tanya Titah. "Iya tidak apa kok", jawab Fani. "Fandi jangan begitu dong kan kasihan Fani nya", kata Titah. "Emmmm!!", seru Fandi. "Ya sudah kita duduk dulu di sini ya, nanti kita baru keliling kebun duriannya", kata Titah lagi. "Iya tah", sambung Fani. "Ih kenapa sih melihat Titah perhatian dengan Fani, saya menjadi sangat kesal, kenapa ya dan ada apa dengan saya ?", tanya Fandi di dalam hati. "Bagaimana Fani sudah agak enakan belum kakinya ?", tanya Titah lagi. "Iya sudah tidak apa kok tah, ya sudah yuk kita lanjutkan lagi keliling kebun duriannya", jawab Fani. "Mangga.." (Yuk..), kata Titah. Di bawah pohon durian.. "Untung bawa pisau kecil, mumpung Titah dan Fani masih jauh saya ukir namanya dan nama saya saja deh di bawah pohon durian ini", kata Fandi di dalam hati. "Fandi kemana ya, di sana, ngapain ya dia di sana, samperin saja deh", kata Titah di dalam hati. "T & I, siapa tuh ?", tanya Titah yang ada dibelakang Fandi. "I ini saya, yang T adalah kamu", jawab Fandi. "Kok saya ?", tanya Titah lagi. "Iya, kamu kan teman saya, jadi saya ukir saja nama kamu dan saya, oh ya tah bagaimana kita mengucapkan janji di bawah pohon durian ini", jawab Fandi. "Janji apa ?", tanya Titah lagi. "Janji, kalau saya melihat kamu di rumah nenek mu maka saya akan menunggu kamu disini, di bawah pohon durian", jawab Fandi. "Oke, dan kalau saya ke kebun durian ini lagi saya juga akan ke sini, ke bawah pohon durian ini", kata Titah. "Promise ?" (Janji ?), tanya Fandi. "Promise" (Janji), jawab Titah. Di rumah mbah Sakiman Di teras depan rumah mbah Sakiman.. "Sampun diajeng ?" (Sudah diajeng ?), tanya mbah Sakiman. "Sampun kang mas" (Sudah kang mas), jawab mbah Jumirah. "Nggih sampun kula pamit konjuk mengantar bawang goreng" (Ya sudah saya pamit untuk mengantar bawang goreng), kata mbah Sakiman. "Inggih kang mas, manah-manah ing radin" (Iya kang mas, hati-hati di jalan), sambung mbah Jumirah. "Inggih diajeng, assalamu'alaikum" (Iya diajeng, assalamu'alaikum), mbah Sakiman memberikan salam pada mbah Jumirah. "Wa'alaikumussalam", mbah Jumirah menjawab salam dari mbah Sakiman. Di kebun durian Di gubuk kebun durian.. "Tah, Fan, sini.., kita makan durian emmmm enak loh", kata Fani. Di bawah pohon durian lagi.. "Iya, kamu kenapa Fandi ?", tanya Titah. "Gak apa kok tah, kamu duluan saja ke sana ya, nanti saya menyusul", jawab Fandi. "Gak ah Fandi", kata Titah. "Lah kenapa ?", tanya Fandi. "Gak mau ke sana lah Fandi, masa saya ke sana sendiri, sedangkan kamu masih ada disini sih, saya maunya kamu dan saya ke sana sama-sama", jawab Titah. "Oh..!!", seru Fandi. "Iya..!!", seru Titah. "Ya sudah yuk kita ke Fani", kata Fandi. "Yuk", sambung Titah. Di gubuk kebun durian lagi.. "Nih tah, kamu harus coba durian yang ini, ini durian terenak di kebun durian ini ya kan Fandi ?", tanya Fani. "Emmmmm iya, saya harus tahan bau durian ini", kata Fandi di dalam hati. "Fandi kok, kamu diam saja sih kenapa dan kamu juga gak makan durian ini, enak loh duriannya benar apa yang di bilang Fani, mau gak duriannya, nih..?", tanya Titah. "Gak apa kok tah, nanti saja makan duriannya, oh ya Fani tadi kamu tanya apa ?", tanya Fandi. "Ini durian yang paling enak di kebun durian ini, ya kan Fandi ?", tanya Fani lagi. "Iya, benar, tah, ini durian juara, enak rasanya, uwek..", jawab Fandi yang sudah tidak tahan lagi bau durian. "Eh Fandi mau kemana, Fani", kata Titah. "Inggih tah" (Iya tah), sambung Fani. "Fandi ngapa ?" (Fandi kenapa ?), tanya Titah lagi. "Biyasa, dheweke kan ra dhemen karo durian, apa meneh ambu ne teras muntah kaya kuwi deh" (Biasa, dia kan gak suka dengan durian, apalagi baunya langsung muntah seperti itu deh), jawab Fani. "Oh..", kata Titah. "Iya tah", sambung Fani. Aku pun menjauh dari Arfani dan Titah yang sedang makan durian bersama bapak dan ibu di kebun durian, hari pun sudah mulai sore Titah berpamitan pada bapak dan ibu untuk pulang. Ibu meminta aku dan Fani mengantarkan Titah pulang, bapak juga memberikan Titah dua buah durian, sesampainya di rumah mbah Sakiman, aku, Titah, dan Arfani melihat supir yang biasa mengantar dan menjemput Titah ada di rumah mbah Sakiman. Supirnya ke rumah mbah Sakiman ternyata untuk menjemput Titah untuk kembali ke jakarta, Titah berpamitan padaku dan juga Fani, Titah berjanji akan datang kembali, di perjalanan pulang menuju ke jakarta Titah dan supirnya mengalami kecelakaan. Bapak menemani mbah Sakiman di rumah sakit, sedang ibu menemani mbah Jumirah di rumahnya. Keesokan harinya Titah tersadar, dan dokter memberitahu, kalau Titah harus segera di operasi. Titah operasi tidak di Indonesia melainkan di Singapura.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD