Bab 1
Perkenalkan namaku adalah Irfandi dan biasa di panggil Fandi, saya adalah anaknya pak Joko (pemilik perkebunan durian di purwokerto).
Cerita ini di mulai dari sebelum aku menikah dengan Titah, Titah adalah teman masa kecilku, dia adalah cucu dari mbah Sakiman (pengusaha bawang goreng di purwokerto).
Aku dan Titah sering bermain bersama setiap dia liburan ke purwokerto, dia yang tahu, kalau saya tidak menyukai durian, dan di bawah pohon durian ku ukir namaku dan namanya, sebelum Titah kembali ke Jakarta.
Sebelum Fandi dan Titah menikah..
Purwokerto
Di rumah mbah Sakiman,
Di ruang tengah..
"Kamu kan baru saja datang, sudah mau pergi saja kamu, mau kemana nak ?", tanya mbah Jumirah.
"Saya mau pergi ke kebun durian pakde Joko, mbah dengan Fandi, mbah..", jawab Titah.
"Oh..", kata mbah Jumirah.
"Kamu mau ke kebun durian pakde Joko dengan Fandi kan ?", tanya mbah Sakiman.
"Iya mbah, kenapa ?", tanya Titah juga.
"Tunggu sebentar ya", jawab mbah Sakiman.
"Iya mbah", kata Titah.
Di jalan, dekat rumah mbah Sakiman..
"Titah sudah di perkebunan atau belum ya, coba ku panggil saja deh, mudah-mudahan saja belum ke kebun durian", kata Fandi didalam hati.
"Kiye bocah ngapa meneng bae ya, ngelamunin apa ya, Fan, Fandi.."
(Ini bocah kenapa diam saja ya, ngelamunin apa ya, Fan, Fandi..), sambung Fani.
Oh ya hampir saja saya lupa saya mempunyai saudara kembar, dia bernama Arfani atau biasa di panggil Fani, Arfani adalah kakakku, dan sekarang kembali lagi ke cerita ya, hehe.
Masih di jalan, dekat rumah mbah Sakiman..
"Emm si Fandi di panggilin, Fandi..", kata Fani dengan kencang agar Fandi sadar dari lamunannya.
"Wess.., inggih Fani, ngapa ?"
(Wess.., iya Fani, kenapa ?), tanya Fandi.
"Inyong perhatikan saka mau kowe melamun bae, kowe lagi melamunkan apa ta Fandi ?"
(Saya perhatikan dari tadi kamu melamun saja, kamu sedang melamunkan apa sih Fandi ?), tanya Fani juga.
"Titah..", jawab Fandi.
"Eeehh.., cie Fandi, melamunkan Titah wow sudah ada rasa sayang kah, hehe..", kata Fani yang meledek Fandi.
"Kamu itu apa sih Fani, kita ini masih kecil, saya dan Titah hanya teman tahu", sambung Fandi.
"Cilik e kowe ngomong kanca, gede ne kowe ngomong tresno, ati kiye mana ngerti Fandi"
(Kecilnya kamu bilang teman, gedenya kamu bilang cinta, hati ini mana tahu Fandi), kata Fani lagi yang masih meledek Fandi.
"Sahabat jadi cinta dong ?", tanya Fandi lagi.
"Nah kuwe paham kowe, Fandi"
(Nah itu paham kamu, Fandi), jawab Fani.
Di rumah mbah Sakiman,
Di depan rumah mbah Sakiman..
"Emm..!!", seru Fandi.
"Sudah, sudah, sudah, lagian juga saya melamun itu memikirkan Titah yang masih di rumah atau sudah datang ke kebun durian bapak, Fani, bukan memikirkan tentang sebuah perasaan ku padanya alias pacaran Fani..", kata Fandi.
"Oh gitu ya, ya deh, ya sudah panggil gih", sambung Fani.
"Iya ini baru mau, Fani", kata Fandi lagi.
"Baru mau apa Fandi, baru mau nembak Titah ya Fandi ?", tanya Fani lagi.
"Huss sembarangan, katamu saya suruh panggil Titah untuk memastikan Titah ada di rumah atau tidak Fani..", jawab Fandi lagi.
"Inggih, nggih Fandi, nggih sampun lanjutkan"
(Iya, ya Fandi, ya sudah lanjutkan), kata Fani lagi.
"Assalamu'alaikum", Fandi dan Fani memberikan salam pada Titah, mbah Sakiman, dan mbah Jumirah.
Di ruang tengah lagi..
"Wa'alaikumussalam", Titah, mbah Sakiman, dan mbah Jumirah menjawab salam dari Fandi dan Fani.
"Siapa ya yang datang, lihat dulu deh ke depan, siapa tau saja itu Fandi ?", kata Titah yang bertanya-tanya di dalam hati.
"Ehh nduk, tunggu sebentar, kamu mau kemana, tunggu dan duduk dulu sini, mbah mau ngomong dan meminta tolong padamu", kata mbah Sakiman.
"Iya nanti dulu mbah, itu di luar ada tamu", sambung Titah.
"Sudah biar mbah Jumirah saja yang lihat ada siapa di luar, kamu duduk saja dengan mbah Sakiman", sambung mbah Jumirah juga.
"Oh, ya sudah mbah, saya di sini saja bersama mbah Sakiman", kata Titah.
"Nduk, ini bawang goreng pesanan bude Joko, tolong antar ke kebun durian ya", pinta mbah Sakiman.
"Oh, iya mbah", Titah melaksanakan perintah dari mbah Sakiman.
Di depan rumah mbah Sakiman lagi..
"Assalamu'alaikum", Fandi dan Fani memberikan salam pada mbah Jumirah.
"Wa'alaikumussalam", mbah Jumirah menjawab salam dari Fandi dan Fani.
"Oh si kembar, Fandi dan Fani, kenapa, cari Titah ya ?", tanya mbah Jumirah.
"Inggih mbah, Titah taksih ing griya utawa sampun kesah dhateng kebon durian nggih mbah ?"
(Iya mbah, Titah masih di rumah atau sudah pergi ke kebun durian ya mbah ?), tanya Fandi juga.
"Titah taksih enten ing griya, mlebet kamawon dhateng lebet, mangga"
(Titah masih ada di rumah, masuk saja ke dalam yuk), jawab mbah Jumirah.
"Oh inggih mbah.."
(Oh iya mbah..), kata Fandi dan Fani.
Di ruang tengah lagi..
"Assalamu'alaikum", mbah Jumirah, Fani, dan Fandi memberikan salam pada mbah Sakiman dan Titah.
"Wa'alaikumussalam", mbah Sakiman dan Titah menjawab salam dari mbah Jumirah, Fani, dan Fandi.
"Tah ada yang cari kamu, nih..", kata mbah Jumirah.
"Siapa mbah ?", tanya Titah.
"Fandi, tah, setiap jalan memikirkan kamu tuh, contohnya tadi", jawab Fani.
"Iih Fani..", Fandi menginjak kaki Fani.
"Au, sakit Fandi..", Fani kesakitan, karena di ijak oleh Fandi.
"Tapi benar juga kamu, Fani, mbah Sakiman setuju dengan kamu, kalau cucuku, Titah sangat cocok dengan Fandi", kata mbah Sakiman.
"Mbah Sakiman, apaan sih, Titah kan masih kecil, kalau soal percintaan mah masih belum cocok, lagian juga aku dan Fandi hanya teman tidak lebih", sambung Titah.
"Kamu sih Fani mancing-mancing", keluh Fandi.
"Hehe..", Fani hanya tertawa.
"Ya sudah kalau begitu Titah, Fani, dan Fandi pamit ke kebun durian ya", kata Titah.
"Iya, hati-hati di jalan ya kalian, Fandi dan Fani, mbah Jumirah titip Titah ya", sambung mbah Jumirah.
"Iya mbah..", kata Titah, Fani, dan Fandi.
"Assalamu'alaikum", Titah, Fani, dan Fandi memberikan salam pada mbah Sakiman dan mbah Jumirah.
"Wa'alaikumussalam", mbah Sakiman dan mbah Jumirah menjawab salam dari Titah, Fani, dan Fandi.
Di kebun durian..
"Anak-anak mana ya kok belum datang juga, sudah jam berapa ini, haduh..", kata pak Joko.
"Sabar pak, sekarang kita tunggu anak-anak di sini saja ya", sambung bu Ajeng.
"Iya bu..", kata pak Joko lagi.
Di rumah mbah Sakiman,
Di ruang tengah lagi..
"Bawang goreng nya sudah selesai di goreng tinggal di kemas saja diajeng", kata mbah Sakiman.
"Inggih kang mas, loh niki apa kang mas ?"
(Iya kang mas, loh ini apa kang mas ?), tanya mbah Jumirah.
"Mboten mangertos diajeng, cobi ing bikak kamawon plastiknya diajeng"
(Tidak mengerti diajeng, coba di buka saja plastiknya diajeng), jawab mbah Sakiman.
"Inggih kang mas"
(Iya kang mas), kata mbah Jumirah.
"Apa isinya diajeng ?", tanya mbah Sakiman.
"Isinya bawang goreng kang mas, tunggu ada tulisannya pak Joko, perkebunan durian kang mas", jawab mbah Jumirah.
"Haaaa.., emm si Titah lupa bawa lagi, kebiasaan, tadi kan saya titip dia, ya sudah begini saja diajeng lanjutkan kemas bawang goreng nya ya untuk di jual, saya ke kebun durian, antar bawang goreng nya", kata mbah Sakiman.
"Oh inggih kang mas, ati-ati neng dalan nggih kang mas"
(Oh iya kang mas, hati-hati di jalan ya kang mas), sambung mbah Sakiman.
"Inggih diajeng, assalamu'alaikum"
(Iya diajeng, assalamu'alaikum), mbah Sakiman memberikan salam pada mbah Jumirah.
"Wa'alaikumussalam kang mas", mbah Jumirah menjawab salam dari mbah Sakiman.