Dinda bersandar di sofanya yang lembut. Gadis itu menarik nafasnya perlahan untuk menenangkan amarah yang sebenarnya sudah ia tahan sejak tadi. Mendengar Nila setuju menikah dengan Devan hampir saja membuatnya meledak karena marah. Sekarang setelah Devan pergi, ia bisa melampiaskan panas di hatinya. "Akh dasar jal4ng! aku kira kau akan menolak Devan selamanya tapi ternyata kau berubah pikiran!" teriak Dinda pada akhirnya. "Padahal aku sudah hidup tenang tapi kamu kembali merusak hidupku!" Ia begitu marah hingga membanting apapun yang ada di depannya. Padahal ia sudah tenang karena mengira Nila akan terus menolak Devan sehingga dia hanya akan menjadi satu- satunya istri Devan, nyatanya dia salah. "Sialan, sekarang aku harus kembali ke rencana awal." Dinda harus terus berpura-pura mer

