Pagi-pagi Meisya sudah berkutat di dapur, membuat soto sesuai keinginan Edwin. Bik Sum senyum-senyum mengawasi Mei sambil mencuci beras. Setelah selesai ia segera membuat teh hangat dan mengantarnya ke kamar Edwin. Didorongnya pelan, lalu pintu terbuka agak lebar. "Kak, bangun, aku bersihkan badannya ya, nggak usah mandi, aku lap pakai air hangat ya," ujar Mei lirih. Edwin membuka matanya perlahan. Mei sentuh kening Ed, lumayan agak turun panasnya. "Ah kaos kakak basah, tadi malam berkeringat ya, kok nggak nelpon Mei," ujar Mei lirih. Segera mengambil air hangat, membuka kaos Ed dan mengelapnya perlahan, Meisya menahan napas saat memandang badan Ed dari jarak yang sangat dekat. Haduuuuh pemandangan yang sangat indah ya Tuhan, biarlah berlama-lama nggak papa, agar aku tetap

