CHAPTER 13 : Night talks
Jessica memperhatikan jalanan disebelahnya.
Sunggh kini pikirannya melayang kemana mana.
Sudah 5 menit sejak mobil ini beranjak dari Noire Hotel, namun Alex tidak membuka sedikitpun suaranya. Mungkin normal bagi semua orang, namun tidak untuknya! Bahkan saat ini ia suasana terkesan dingin.
Sungguh Jessica ingin menangis. Apakah ia melakukan kesalahan?
Setelah memikirkannya untuk beberapa menit, Jessica meraih ponselnya dan mengirim beberapa pesan singkat pada ibunya.
“Umm… Alex?” panggil Jessica dengan sedikit ragu.
Alex hanya menjawabnya dengan dehaman tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan.
“Bukankah kau memiliki apartemen disekitar sini? Bisakah aku berisitirahat disana? Aku sangat lelah” ucap Jessica dengan cepat.
Tolong jangan tolak aku, please please please!!
Sebenarnya ia tidak selelah itu, namun ia tidak bisa hanya diam dengan Alex selama 2 jam hingga sampai dirumahnya.
Bisa bisa ia membeku dengan suasana ini!
Jessica bisa melihat sedikit keterkejutan di mata Alex namun dengan cepat ia menetralkannya kembali dan berdeham lagi.
Ya setidaknya aku tidak ditolak….
.
Setelah 10 menit berkendara, mereka sampai di sebuah gedung apartemen.
Gedung ini adalah gedung termegah di sekitar sini, mengingat ini adalah pinggir kota.
Alex mendahului Jessica tanpa menghiraukan apapun yang dilakukan gadis itu.
Jessica menghembuskan nafasnya dan menghalau agar air mata tidak keluar dari pelupuk matanya.
Dia bahkan tidak mengetahui apa yang salah.
.
“Kau bisa menggunakan kamar utama”
Alex mengucapkan kalimat pertamanya sebelum berlalu meninggalkan Jessica menuju ruangan yang Jessica tebak adalah ruang baca.
Jessica memasuki kamar utama dan mengambil salah satu kemeja putih Alex setelah memikirkannya matang matang. Lagipula dia tidak memiliki apapun untuk dikenakan.
Setelah mandi dan mengenakan bajunya, disinilah Jessica.
Bahkan tangannya sedikit bergetar untuk mengetuk pintu dihadapnnya.
Tok…tok…tok…
Alex membuka pintunya dan terdiam saat melihat penampilan Jessica.
“M-maaf aku tidak tahu harus mengenakan apa” ucap Jessica.
Alex hanya berdeham lalu menunggu Jessica untuk melanjutkan ucapannya.
“Can we talk?” cicit Jessica.
Alex terdiam sesaat lalu melebarkan jalan agar Jessica bisa leluasa memasuki ruangan.
Jessica dengan cepat memasuki ruang baca sebelum Alex merubah pikirannya.
Didalam sana terdapat 3 pasang sofa dengan ukuran yang berbeda.
Alex duduk di single sofa sedangkan Jessica duduk di sofa untuk dua orang tepat disebelah Alex.
Alex melirik jam di ponselnya, “Katakan”
Disisi lain Jessica merasa seperti Alex tidak sepenuhnya rela untuk diganggu. Sungguh ia ingin berteriak.
“Apa kau marah padaku? Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Jessica ragu.
.
“Marah?” tanya Alex.
Alex menatap Jessica yang saat ini meremat jari jarinya dengan wajah tertunduk.
“K-kau sedari tadi tidak mengatakan apapun dan bersikap dingin” cicitnya.
Alex menegang saat menyadari suara serak Jessica.
Bayi perempuannya menangis….
Dengan cepat Alex duduk disebelah Jessica dan memindahkan tubuh mungil Jessica kepangkuannya tanpa kesulitan.
“Sayang, aku mohon maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu” ucap Alex dengan panik.
Demi tuhan ia ingin membunuh dirinya saat ini. Bisa bisanya ia membiarkan Jessica bersedih sedari tadi.
Jessica menyambut kembalinya si lembut Alex dengan pelukan erat diiringi dengan sesunggukannya.
Alex terus mengelus rambut Jessica dan mengecup kepalanya sembari memohon maaf. Sedangkan Jessica sibuk menghentikan sesunggukannya yang sulit hilang di lengkungan leher Alex.
Beberapa menit kemudian Jessica membuka suaranya.
“Kau tidak marah padaku?” cicitnya tanpa mengangkat wajahnya dari leher Alex.
“Tidak, aku tidak akan pernah marah padamu, maaf aku benar benar tidak bermaksud bersikpa dingin padamu” jawab Alex cepat.
Jessica mengeratkan pelukannya pada leher Alex.
Alex yang ini adalah miliknya! Hanya miliknya!
“Sayang, maafkan aku ya?” ucap Alex lagi dengan lembut. Sungguh hatinya tidak akan pernah tenang sampai ia mendengar kata pengampunan dari gadis kecilnya ini.
Wajah Jessica tanpa pemberitahuan memerah saat menyadari panggilan itu.
Arghhh berhentilah tersenyum seperti orang gila!!
Jessica hanya mengangguk tanpa menjawab bujukan Alex, sungguh jantungnya bekerja 2 kali lebih cepat saat ini.
“I’m sorry-“
Mendengar itu Jessica mendongakkan wajahnya.
“Aku memaafkanmu” ucapnya seraya menatap Alex.
Alex yang menatap wajah Jessica yang masih terdapat sisa air mata membuatnya semakin dirundung amarah pada dirinya sendiri.
Jessica mengelus tangan Alex yang tanpa pria itu sadari menegang.
“Aku hanya sedang sensitif, jangan terlalu dipikirkan” ucapnya dengan senyuman yang membuat Alex ingin mengurungnya agar hanya dia yang dapat menikmatinya.
Alex menarik kepala Jessica lalu mengecup dahinya.
“Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri” ucapnya.
Jessica meraih kedua tangan Alex, “Alex, jangan seperti itu”
“Aku bahkan telah melukai hatimu sebelum ini, dibandingkan dengan itu, ini sama sekali tidak seberapa, seharusnya aku yang meminta maaf, maafkan aku ya?”
Alex mengernyit namun sebelum ia mengeluarkan protesannya Jessica lebih dahulu menyelanya.
“Aku hanya ingin mendengar jawaban iya atau tidak” rengeknya.
Alex terkekeh lalu kembali merangkul pinggang mungil Jessica.
“Iya, apapun kesalahanmu aku pasti akan memaafkannya, bahkan kau tidak pernah melakukan-“
Tanpa aba aba Jessica mengecup pipinya, “Terimakasih” dengan senyum polosnya.
Alex mematung selama beberapa detik sebelum mendengar kekehan Jessica.
“Gadis nakal” ucap Alex sembari menghimpit hidung Jessica dengan jarinya.
Jessica semakin tergelak lalu menangkap tangan kanan Alex yang menghimpit hidungnya.
“Jadi mengapa kau mengacuhkanku saat dimobil?” tanya Jessica.
Alex terdiam sejenak.
“Aku takut kau marah padaku saat aku mengatakan aku adalah tunanganmu” jawabnya.
“aku tidak marah Alex, aku bahkan akan senang bila hal itu benar” balas Jessica yang tanpa ia sadari berhasil menenangkan hati pria dihadapannya yang sedari tadi tidak tenang.
Alex terdiam. Benarkah?
“Lain kali kau bisa mengatakannya padaku, aku lebih suka kau mengatakannya dibanding memendamnya sendiri seperti tadi” lanjut Jessica.
“Aku hanya-“
“Baiklah kita ubah percakapan ini sebelum kau kembali meminta maaf” potong Jessica ringan.
Alex terkekeh lalu menatap Jessica.
Mereka saling terdiam selama beberapa menit.
Jessica yang menikmati wajah tampan Alex, dan Alex yang terus memuja Jessica dalam hati dan pikirannya.
“Kau benar benar membuatku gila Jessica” ucap Alex sembari mengelus pipi Jessica.
Sebelum Jessica menjawab, ia lebih dahulu merasakan benda kenyal menubruk bibirnya dengan lembut.
Jessica sedikit terkejut mendapat serangan secara tiba-tiba seperti itu.
Ciuman pertamanya dengan Alex…
Jessica tersenyum tipis sebelum mengeratkan pelukannya pada leher Alex.
Setelah beberapa menit mereka hanya saling mengecup, Alex melepaskan kecupannya. Ia sedikit waspada akan reaksi Jessica.
Tanpa menjauhkan wajah mereka, Jessica menempelkan dahinya pada Alex.
“Teruslah tergila gila padaku, karena aku merasakan hal yang sama padamu” bisik Jessica sebelum ia kembali menyatuka bibirnya dengan bibir Alex.
Alex terkejut bukan main.
Aku merasakan hal yang sama padamu..
Kalimat itu terus berputar di otaknya.
Disela ciumannya ia mengeluarkan senyumannya dan melumat bibir indah Jessica yang selalu ia puja.
***
Alex membuka matanya ditengah malam.
Ia menatap gadis disebelahnya dengan tatapan memuja.
Dia masih belum mempercayai apa yang baru saja terjadi.
Mereka bahkan belum melakukan hal yang lebih dari berciuman namun Alex sudah menjadi lebih tergila gila pada sosok dihadapannya.
Alex memejamkan matanya untuk menahan monster dalam hatinya yang meronta ingin memiliki setiap inci dari gadisnya.
Alex semakin mendekap gadis tersebut lalu senyum terukir dalam wajah sempurnanya.
'sekarang kau tidak akan pernah lepas dariku'
***
TBC