CHAPTER 14 ; Newborn talent

1228 Words
CHAPTER 14 : Newborn talent Disaat semua orang terdiam dengan cemas, Jessica duduk dengan tenang. Toh dia sudah melakukan yang terbaik yang ia bisa. Bilapun hasilnya tidak memenuhi targetnya ia memiliki 1 semester lagi untuk mengejarnya sebelum hari kelulusan. Di hari hari sebelumnya, momen seperti ini adalah salah satu momen dimana keluarga Soverall harus menanggung malu saat mendengar putrinya selalu berada di peringkat bawah. Meskipun mereka tidak memaksa Jessica untuk menjadi pintar namun gunjingan orang benar-benar meresahkan. “Sweetheart jangan cemas apapun yang terjadi kau tetap putriku tersayang” Jessica memanyunkan bibirnya. Tentu saja dia tetap putrinya! “Harusnya aku yang mengatakan itu, Mom, kau bahkan sudah berkeringat sekarang” bisik Jessica. Martha dan Jeremy hanya bisa berdoa setidaknya Jessica memasuki peringkat 50 atau setengah dari jumlah siswa disini. Meskipun mereka akan selalu bangga dengan putrinya, hanya saja, Martha dan Jeremy tidak ingin Jessica terus menerus dipandang sebelah mata. Setelah penyambutan, kepala sekolah mempersilahkan satu persatu orang tua murid untuk mengambil rapot putra putrinya. Jeremy kembali ke kursi dan membuka rapot Jessica dihadapan kedua wanita tersayangnya. Rata – rata nilai = 94,9 Peringkat 4 paralel (dari 100 siswa) Peringkat 1 kelas (dari 25 siswa) UHUK… UHUK…. Sepasang suami istri tersebut tanpa sadar tersedak ludahnya sendiri saat melihat hasil akhir ulangan anaknya. Tidak, ini pasti tertukar “Dan sekarang saya akan mengumumkan peringkat parallel bagi seluruh murid berprestasi” ucap salah satu guru. Jessica masih terlihat tenang, namun didalam hatinya ia gembira bukan main. Akhirnya ia mampu masuk kedalam peringkat 10 paralel! Meskipun ia membidik 3 besar namun ini tetap sangat amat memuaskan!!! “Peringkat 4, Jessica Liliana Soverall” Semua mata yang ada diruangan membelalak. Dengan keterkejutan yang belum reda, tuan dan nyonya Soverall bangkit dan mendampingi putri semata wayang mereka. Pembacaan peringkat dilanjutkan hingga peringkat 1 diumumkan. Jessica menatap kesebelah kanannya dan tersenyum. ‘Akhirnya aku bisa membuat dad menangis bahagia.’ Batinnya. Mengingat bagaimana ayahnya yang dulu menangis kecewa padanya saat ia lebih memilih pria asing dibanding ayahnya sendiri yang menyayanginya lebih dari apapun. “Selamat tuan dan nyonya, sebagai kepala sekolah saya sangat bangga dengan prestasi putri anda” ucap kepala sekolah saat memberikan piagam penghargaan. Karena ini merupakan ulangan semester 10 besar parallel hanya mendapatkan piagam, bila ulangan akhir peringkat parallel akan mendapatkan medali. “Terima kasih” ucap Jeremy sembari menjabat tangan kepala sekolah. Lelaki itu terlampau bangga pada putrinya. Setelah semua sudah mendapatkan piagam, mereka dipersilahkan untuk kembali ke tempat duduk masing masing. “Sebelumnya saya akan mengingatkan kembali bahwa semua hasil dari tes ini jujur dan tidak ada kecurangan sedikitpun” ucap sang guru pembawa acara saat mendengar bisikan curiga. “Apakah masuk akal? Seorang gadis yang tadinya peringkat 95 naik ke peringkat 4?” ucap salah satu orang tua murid tidak terima. Well, tidak dapat ditampik, hasil ujian Jessica memang sangat mencurigakan. Bagaimana seorang gadis yang tadinya berada diperingkat 95 kini berada di peringkat 4? Perubahan yang terlalu drastis dan sulit dimengerti. Sang pemmbawa acara tersenyum maklum, “Pada kasus nona Soverall, kami sudah memastikan kejujurannya dengan melakukan tes berulang kali yang diawasi lebih dari 5 guru, selain itu kami sudah merekam proses dari setiap tes yang dilakukan oleh nona Soverall, bila anda berkenan anda bisa memeriksa rekamannya” jelasnya. Tentu mereka tahu hal ini akan terjadi. “Maaf saya ingin menambahkan sesuatu” sela kepala sekolah. “Saya sudah mengawasi perkembangan Jessica beberapa bulan ini yang sangat menakjubkan, dan saya memberikan penghormatan tersendiri kepada Jessica Soverall karena telah menjadi teladan bagi siswa lainnya” ucap kepala sekolah. Jessica berdiri dan membungkukan badannya 90˚ saat mendengat sang kepala sekolah memberikan penghormatannya. Dan sesaat setelah semua itu, Jessica Liliana Soverall kembali menjadi perbincangan publik. *** “Peserta nomor 127” Jessica segera bangkit dari duduknya dan beranjak menuju ruang audisi. Saat ini ia sedang menjalani audisi tahap kedua untuk menjadi salah satu trainee di Capitol entertainment. Audisi tahap pertama merupakan video live singing. Jadi ini pertama kali Jessica bernyanyi dihadapan orang lain secara langsung. Jujur saja, pada awalnya Jessica mengirimkan videonya kepada 3 agensi berbeda. Namun siapa sangka ketiganya menerima! Jessica hampir serangan jantung beberapa hari lalu. Namun atas saran Jason, ia memilih Capitol Entertainment. Selain karena itu merupakan agensi besar dengan musisi terbaik, Capitol Ent. Juga memiliki aturan yang jauh lebih manusiawi dibanding lainnya. Bagaimana Jason mengetahuinya? Dari Sofia tentunya. For information, Sofia-salah satu sahabat karib Jason merupakan model yang bernaung di Capitol model agency. Jadi bagi Jason, sangat mudah mendapatkan informasi dasar tersebut. . Setelah melakukan perkenalan diri, para juri yang tidak dapat menahan rasa penasarannya bertanya langsung pada Jessica sebelum ia mulai bernyanyi. “Kau berasal dari keluarga konglomerat?” Jessica terdiam sebentar. Anggota keluarga konglomerat seringkali diremehkan dalam industry ini, namun ia benar mempunyai bakat. Jadi ini tidak akan menjadi masalah. “Ya” jawabnya. “Tidak banyak putri konglomerat yang ingin repot memulainya dari bawah sepertimu” sindir salah satu juri wanita. Jessica menatapnya dalam diam sesaat. “Konglomerat atau bukan, memulai dari bawah adalah pondasi untuk setiap orang saat mereka menuju puncak. Saat aku berada di puncak, aku tidak ingin jatuh karena pondasi lemah dan pikiran bodoh semacam itu” Kelima juri membulatkan matanya. Jawaban Jessica terlalu berterus terang dan sedikit kasar. Namun salah satu dari mereka menerbitkan seringainya. “Menurutmu apa bahan yang tepat untuk itu?” tanyanya. Jessica menatapnya. Jujur dia sedikit gugup saat menatap pria tersebut. Siapapun akan merasakan hal yang sama saat berhadapan dengan Ardiana Stefano, musisi senior sekaligus pendiri Capitol Entertainment. “Bakat, kemampuan dan kerjakeras” jawabnya yakin. Stefano tertawa remeh. “Bualanmu akan menjadi racun bagi pondasimu saat bakat yang kau tidak mempunyai bakat dan kemampuan” Ok, apa ia baru saja bermusuhan dengan bos masa depannya?? “Baiklah, apa yang akan kau nyanyikan?” tanya juri wanita yang lebih ramah. “An ordinary love, Victoria Lim” Para juri menyipitkan matanya. “I see, kau mengambil resiko, kalau begitu silahkan” ucap juri wanita itu lagi. Para juri menatap bingung saat Jessica meminta izin pada pianis yang disediakan untuk memainkannya sendiri. An ordinary love yang dinyanyikan oleh Victoria merupakan salah satu track dari album terlaris di negara ini. Victoria sendiri merupakan legenda musik kebanggaan negara dengan lagu lagunya yang mendunia. Bila lagu lain memiliki 1 part nada tinggi yang memukau, makan an ordinary love merupakan 1 lagu yang berisi nada tinggi, selain nadanya tinggi banyak sekali teknik suara yang mustahil dilakukan oleh orang yang tidak mengerti musik. Satu lagi, lagu tersebut terkenal karena salah satu nadanya yang belum pernah ada sebelumnya. Ya, itu merupakan nada yang dipadukan sendiri oleh Victoria dan menghasilkan lagu yang luar biasa. Jadi jangan tanyakan lagi mengapa Victoria merupakan Legenda. Dan untuk menyanyikan lagu tersebut bersamaan dengan memainkan alat musik. Setelah 10 tahun rilis, hanya Victoria yang mampu melakukannya. Jessica memulai penampilannya dengan interlude. Selama 3 menit semua juri dibuat hampir menganga. Meskipun teknik Jessica tidak mungkin sematang Victoria, namun siapapun yang mendengarnya akan merasa mereka mendengar malaikat bernyanyi. Suara lembut sekaligus bertenaga yang menyanyikan nada tinggi dengan emosi stabil dan jari lentiknya yang terus menari diatas tuts piano membuatnya persis seperti seorang dewi. Jessica mengakhiri permainannya dengan irama piano. Ia menghembuskan nafasnya lalu menatap kelima juri yang saat ini berdiri dengan tepuk tangan meriahnya. Bagi Capitol, melakukan audisi tanpa satupun yang berhasil merupakan hal yang sangat normal. Namun hari ini mereka tahu, mereka menemukan bakat murni. *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD