CHAPTER 15 : The exit gate of hell
Jessica menatap sebuah amplop berwarna putih ditangannya.
Ia tersenyum bangga. Sebenarnya gadis itu masih tidak percaya dengan semua ini.
Astaga ia ingin berteriak sekarang.
Tanpa komentar apapun, setelah ia menyelesaikan nyanyiannya, sebuah kertas yang menunjukan dia melewati tahap audisi 2 disodorkan dengan penuh keyakinan padanya.
Awalnya ia linglung sedikit lalu menerimanya dengan sukacita.
Dalam amplop tersebut terdapat beberapa nomor kontak yang ia bisa hubungi dan prosedur selanjutnya.
Disana tertara bahwa ia harus mendatangi gedung Capitol besok untuk melakukan briefing.
Sepertinya keputusan untuk menyanyikan lagu itu adalah hal yang tepat. Karena awalnya ia ingin menyanyikan lagu ciptaannya sendiri namun ia sadar lagu ciptaannya masih terlalu dasar karena ia sendiri masih baru dalam hal penciptaan lagu.
“Ah nona, anda telah kembali?” sapa salah seorang pelayan sekaligus pengasuhnya sejak ia memasuki sekolah dasar.
Jessica tersenyum lalu mengangguk. Senyumnya cukup cerah untuk meberitakan bahwa ia sedang dalam keadaan bahagia.
“Anda terlihat dalam mood baik?” ucap pelayan tersebut sembari membantu Jessica melepaskan mantelnya.
“Aku akan menjadi trainee di agensi besar” jawab Jessica dengan semangat.
Dahlia tersenyum lebar, “Ah saya sudah dapat menebaknya sedari anda kecil, hanya saja saya tidak tahu anda memutuskan memulai karir dari usia belia seperti sekarang” ucap Dalia dengan bangga.
Dahlia sedikit terharu, mengingat bagaimana ia telah mengasuh Jessica sejak gadis itu berumur 6 tahun dan kini ia melihat bagaimana gadis itu tumbuh.
Dahlia sungguh bangga.
Jessica mengangguk sembari berdeham.
“aku memiliki banyak hal yang harus dilakukan, jika aku terus menundanya maka waktuku terus terkikis” ucap Jessica sembari melangkah menuju kamarnya yang diikuti oleh Dahlia.
Dahlia mengangguk dan terus menatap Jessica dengan tatapan bangga.
***
“Sweety, aku sangat bangga padamu”
Jessica tersenyum. Sungguh bahagia sekali bisa membanggakan kedua orang tuanya.
Jeremy mengelap matanya saat dirasa telah mengeluarkan air matanya.
“Astaga pria cengeng ini, berhentilah menangis” desis Martha seraya geleng geleng.
“Sweetheart, kemari sayang” panggil Martha.
Dengan patuh Jessica berpindah duduk menjadi disamping Martha.
“Ingatlah, kau harus terus berhati hati ya” peringat Martha lembut sembari mengelus kepala putrinya.
“Industri hiburan itu sangat licik, bila kau lengah sedikit maka mereka akan menelanmu” lanjutnya.
Dengan yakin Jessica mengangguk.
“Tapi kau tidak perlu begitu memikirkannya honey, Kami akan terus menjagamu, yang perlu kau lakukan hanyalah melakukan apapun yang kau suka” sanggah Jeremy.
Jessica bangkit lalu mengecup pipi sang ayah, “Thank you Dad, I love you” ucapnya sembari memeluk Jeremy.
“Huh, aku semakin tidak ingin membagi putri manisku ini ke dunia” tukas Jeremy.
“Ah begitu kah? Kau melupakan keberadaanku sekarang? Kau tidak ingin mencium Mommy-mu ini? Baiklah aku akan segera menuju Jerman untuk meminta Jason menciumku” ucap Martha dengan gaya merajuknya.
Mendengar hal tersebut Jessica tertawa geli dan segera mengecup pipi Martha.
“I love you, Mommy” ucap Jessica disela tawanya.
***
Jessica melangkahkan kakinya menuju ruangan yang telah diinstruksikan salah satu pegawai lobby.
Saat ini gadis itu berada di salah satu gedung agensi hiburan terbesar dinegaranya.
Hari ini ia berencana untuk melakukan audisi tahap selanjutnya sebelum menjadi trainee tetap.
“Nona Jessica?”
Jessica menoleh dan mendapati seseorang berpakaian rapi menghampirinya.
“Mari nona, saya antarkan menuju ruangannya” ajak sang wanita tersebut dengan hangat.
“Ah apa kita akan langsung ke sana? Tidakkan kita harus menunggu yang lain?” tanya Jessica yang dijawab gelengan oleh sang wanita.
Mendapat jawaban seperit itu Jessica pun akhirnya mengikuti sang wanita yang menuntunnya menuju sebuah pintu bercat cokelat.
“Silahkan masuk, Ms. Diana telah menunggu anda”
**
“Jadi ini adalah kontrakmu” ucap seorang wanita berusia pertengahan 20.
Wanita bernama Diana itu menjulurkan sebuah dokumen padanya.
Jessica menerimanya dan membacanya dengan seksama.
“Kau akan mulai berlatih bersama pelatih 2 hari dari sekarang, namun kau bisa menggunakan ruang Latihan di lantai 8 dengan id card ini kapanpun kau mau” lanjut Diana sembari menjulurkan kartu pengenal berwarna dominan hitam dengan tulisan Capitol dan dibawahnya tertara namanya dengan status trainee.
Jessica mengangguk sembari menerima kartu tersebut.
Setelah ia membaca kontrak yang tadi diserahkan, ia lebih lega. Ternyata Jason benar, peraturan mereka memang berbeda dari agensi pada umumnya.
Bisa dibilang mereka tidak mengambil hak hak yang memang seharusnya diperbolehkan namun selalu di larang oleh industry hiburan di negara mereka.
Seperti mempunyai sosial media, mereka mengizinkan dengan syarat tidak menunjukan bagian apapun dari gedung agensi. Namun berbeda bila mereka sudah memulai debutnya. Sosial media mereka akan dihentikan untuk sementara dan akan kembali di aktifkan dengan kontrol dari managemen mereka.
Karena memulai debut bukanlah sesuatu yang sepele.
Untuk peraturan yang satu ini mudah saja bagi Jessica.
Karena sedari awal gadis itu tidak menggunakan sosial media. Dia bukanlah tipe yang senang menggunakan hal hal seperti itu.
Disana juga tertera larangan untuk menjalin hubungan sesama trainee.
Ya untung saja Alex bukanlah seorang trainee.
Ah tunggu. Jessica baru menyadari sesuatu yang janggal.
“Bukankah ada 3 tahap audisi sebelum kontrak trainee?” tanya Jessica heran.
Diana menganggukan kepalanya, “Kita tidak ingin menghabiskan waktu, lagipula tujuan utama audisi adalah penyisihan untuk menuju yang terbaik diantara kandidat lainnya, dan untuk kasusmu, hanya kau yang berhasil melewati audisi 2”
Kedua mata Jessica terbelalak. “Hanya aku?” tanya Jessica.
Diana hanya menjawabnya dengan aggukan. Wanita itu sudah menduga Jessica akan terkejut. Diana sendiri bahkan terkejut saat mendapati kabar seorang wanita lolos dibawah pengawasan Stefano.
For your information, kandidat calon trainee yang mengikuti audisi kemarin berjumlah lebih dari 500 orang, karena itu juga audisi tahap 2 dilaksanakan 4 hari berturut turut. Dan karena alasan ini juga mengapa audisi kedua selalu disebut sebagai pintu keluar neraka.
Melewatinya sangat sulit namun setelah melewatinya akan damai dan tentram….
‘Hahaha aku menegerti sekarang’ batin Jessica girang.
***
“Nona Jessica telah resmi menjadi trainee di capitol setelah penandatangan kontrak hari ini tuan” lapor Noah.
Alex mengangguk anggukan kepalanya.
Yah… Capitol bukanlah pilihan yang buruk.
“Beli saham Capitol” titah Alex.
“Baik tuan” ucap Noah.
Tentu saja Alex harus bisa mengendalikan perusahaan itu dengan tangannya sendiri.
“Kau sudah memperkuat koneksi dengan media?”
“Pembelian saham anda di beberapa stasiun televisi telah berhasil dan menunggu konfirmasi DNews untuk konfirmasi kerja sama” Jawab Noah dengan sigap.
Alex mengangguk puas, “Good, kau boleh keluar”
Noah mengangguk patuh lalu keluar dari ruangannya.
Diluar ruangan Alex ia mendengus sebal, selama ini ia melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit dari ini namun baru kali ini ia dipuji.
Fredric benar! Satu satunya membuat Tuannya terlampau senang adalah semua hal yang menyangkut Nona Jessica!
***
TBC