CHAPTER 4 : Happy Birthday (again)
Jessica menuruni anak tangga satu per satu dengan anggun.
Bila ini merupakan zaman kerajaan pesta ulang tahunnya ini bisa dikatakan sebagai pesta debutnya.
Jessica memang jarang mengikuti kegiatan kalangan atas. Namun, rumor tentangnya sudah tersebar luas. Dan tentunya semua rumor buruk. Thanks to Gina.
Dari yang mengatakan bahwa putri keluarga Soverall adalah wanita buruk rupa tanpa etika hingga putri keluarga Soverall yang ternyata memiliki gigolo.
Karena itulah beberapa orang disana sangat menantikan pest aini. Selain karena Soverall adalah keluarga konglomerat yang dihormati, mereka juga ingin melihat Jessica secara langsung untuk membuktikan rumor rumor tersebut.
**
Aula yang dipenuhi insan tersebut seketika hening begitu Jessica memasuki ruangan.
Semua mata tidak mampu mengalihkan pandangan dari gadis bergaun rose gold tersebut.
Kecantikannya sungguh membahayakan.
Melihat keanggunan Jessica, banyak dari mereka yang terheran karen Jessica benar benar berbeda dari yang rumor katakan.
Disisi lain, Jessica mengangkat tegak kepalanya, membiarkan gosip gosip disekelilingnya bertebaran.
.
“Happy birthday Honey” ucap Jeremy saat melihat sang putri bungsu sudah berada dihadapannya.
Sungguh ia menahan air matanya saat ini. Ia tidak rela bahwa bayi kecilnya sudah sebesar ini.
“Daddy don’t cry” Jessica terkekeh pelan saat melihat mata Daddy-nya yang berkaca kaca.
Untuk kesekian kalinya para tamu menahan nafas mereka saat melihat senyuman maut tersebut.
Kecantikan Jessica tiba-tiba bertambah berkali kali lipat saat gadis itu tersenyum! Gila!
Martha yang melihat suaminya emosional pun ikut terkekeh. Sungguh semua yang menyangkut tentang Jessica mampu membuat pria tua ini menjadi emosional!
Setelah anggota keluarga dan beberapa rekan bisnis Jeremy mengucapkan selamat ulang tahun. Jessica mengikuti Jason yang berkumpul bersama teman temannya.
Ini adalah salah satu cara untuk menghindari Gina, karena wanita itu tidak akan berani mendekati Jessica selama Jason berda disisinya.
Jason menentang keras hubungan persahabatan Jessica dan Gina karena itupula Jessica membenci Jason di kehidupan sebelumnya. Ia tidak tahu bahwa semua yang Jason lakukan adalah untuk melindunginya.
“Seingatku aku sering berjumpa denganmu, namun bagaimana bisa aku lupa bahwa kau secantik ini?” Ungkap salah satu wanita yang terlihat seumuran dengan Jason.
Wanita bernama Sofia tersebut merupakan salah satu anggota dari perkumpulan teman Jason. Wanita itu merupakan model papan atas yang namanya lumayan dikenal di industri hiburan.
Jessica tersenyum ramah, “Aku hanya merubah gaya berdandanku, apa kau menyukainya?”
Sofia mengangguk semangat. “Jangan tersinggung, namun gaya berdandanmu dulu sangat mengerikan”
Sofia memang dikenal ramah dan kelewat jujur, jadi tidak heran lagi bila ia mengutarakan pendapat seperti itu.
Sementara ke lima teman Jason yang lainnya menatap tajam Sofia sebagai peringatan. Berani beraninya dia berkata seperti itu pada gadis temperamental seperti Jessica.
Namun, tidak seperti ekspektasi mereka, Jessica justru terkekeh kecil mendengar ungkapan Sofia.
“Beruntung aku telah merubahnya sebelum semakin mengerikan”
“Gosh, kau benar benar cantik sekarang” Timpal wanita lain bernama Angel.
Circle pertemanan Jason memiliki 6 anggota termasuk lelaki itu sendiri.
Mereka adalah Jason, Elliot, Bryan, Devano, Sofia dan Angel.
Mereka telah berteman sejak remaja, bisa dikatakan mereka adalah alumni paling terkenal dari sekolah yang saat ini Jessica tempati.
Obrolan mereka terus berlanjut dan tidak sedikit juga beberapa kenalan yang menghampiri mereka dan memuji betapa cantiknya Jessica.
Karena di kehidupan sebelumnya, Jessica tidak pernah mendapat pujian secara tulus seperti itu, kini ia sedikit kualahan menanggapi semuanya. Tidak jarang juga Jason yang menanggapi pujian pujian tersebut disaat Jessica sedikit kikuk dan canggung.
Suasana aula yang kian meriah dan hangat tiba-tiba saja menjadi hening untuk kedua kalinya.
Semua pandangan para tamu kini menuju pintu utama.
Disana, terdapat 6 pria bertubuh tegap dan gagah. Dan tentu saja yang menjadi perbincangan merupakan pria terdepan yang dikawal 4 pengawal dan didampingi sekertarisnya.
Bisikan bisikan kini semakin memenuhi ruangan saat pria tersebut dengan yakin melangkahkan kakinya ke arah tengah ruangan, dimana letak Jessica yang hingga saat ini belum menyadari apa yang tengah terjadi.
“Astaga ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung. Media memang tidak membesar besarkan ketampanannya, ketampanannya benar-benar di luar kata normal”
“Astaga bagaimana bisa dia berada disini?!”
“Apakah ia memiliki hubungan khusus dengan Jessica Soverall?”
“Kudengar keluarga mereka memang dekat namun dia dan Jessica tidak memiliki hubungan apapun”
“Ia benar benar seorang legenda!”
Jessica yang mulai mendengar bisikan bisikan tersebutpun memutar tubuhnya karena penasaran.
Sontak saja tubuhnya membeku saat netranya bertatapan langsung dengan manik biru yang selalu ia rindukan.
Mereka berdua saling terdiam sebelum Jessica melayangkan senyumnya.
Tanpa satupun yang menyadari bahwa gadis bergaun rose gold itu sedang bersusah payah menahan air matanya.
**
Disisi lain, Alex membalas senyuman gadis yang 11 tahun lebih muda darinya itu.
Tanpa mepedulikan keterkejutan tamu lain yang melihat senyumnya, Alex terus melangkahkan kakinya menuju Jessica.
Jangan heran mengapa mereka menjadi pusat perhatian.
Di negara ini popularitas pria itu bisa menandingin selebriti.
Alexander Corbero, legenda bisnis termuda.
Tanpa kecacatan apapun dia mampu merajai dunia bisnis hampir diseluruh benua.
Namun tidak banyak yang tahu bahwa dengan segala kesempurnaannya, cintanya tetap tidak berbalas.
Ia sudah memendam perasaan kepada gadis manis bernama Jessica, selama belasan tahun. Namun mengekspresikan perasaan memang bukanlah keahliannya dan gadis kecilnya itu tidak merasakan apa yang ia rasakan.
Alex bahkan sempat mematung saat melihat gadis itu tersenyum untuknya untuk pertama kali. Senyum yang selama ini ia dambakan setengah mati.
“Hai”
Sapaan yang terdengar seperti melodi terindah itu mengalun lembut di telinganya.
Alex membalas dengan senyuman, sekali lagi para tamu terkesiap.
“Happy birthday” Ucapnya lembut.
Mendengar hal tersebut, Jessica semakin melebarkan senyumnya. Ia melangkah mundur dan menunjukan gaun indahnya.
“Bagaimana?” tanya Jessica.
Alex mengukir kembali senyum lembutnya. “Cantik” pujinya.
Lebih tepatnya menurut Alex, Jessica akan terlihat cantik dengan apapun. Itu adalah pujian yang setiap saat ia layangkan dalam hatinya.
Meskipun dia tidak tahu apa yang membuat Jessica merubah sikapnya. Namun ia tetap tidak bisa menyembunyikan keseangannya. Ia harap ini terjadi selamanya.
“Bukankah ini gila? bahkan wartawan gagal mendapat senyumannya!”
“Aku yakin mereka memiliki hubungan”
“Jessica satu satunya gadis yang berhasil mendapatkan senyumnya!”
“Jika mereka benar benar memiliki hubungan maka mereka akan menjadi pasangan paling serasi yang pernah ada”
“Membayangkan bagaimana indahnya anak anak mereka membuatku tidak sabar!”
Tidak ada satupun bisikan bisikan yang mereka tanggapi.
Jessica dan Alex tenggelam didunia mereka.
“Seleramu memang yang terbaik” ucapnya.
“You’ll look good in everything” Jawab Alex penuh keyakinan.
Dan saat itu Alex berhasil melihat semburat merah dikedua pipi gadis tersayangnya.
“Acara tiup lilin akan segera dimulai” Ucap Jessica yang sedikit menggantung kalimatnya.
“Hmm… apa kau ingin berada di barisan depan? Bersama Jason?” Tawarnya.
“Ya, tentu saja” jawab Alex dengan cepat. Jauh dalam lubuk hatinya ia sangat takut Jessica menarik kembali kata-katanya.
Jessica tersenyum cerah saat mendengar jawaban Alex. Dengan senang ia melingkarkan tangannya di lengan Alex karena itu adalah hal normal saat di pesta.
Namun ia tidak tahu bagaimana keadaan jantung Alex saat ini.
***
Sesaat setelah acara peniupan lilin, Gina mendekati Jessica yang baru saja bercengkrama dengan beberapa gadis yang ingin mengenalnya lebih jauh.
“Jess!” panggil Gina.
Jessica menahan semua sumpah serapahnya. Harusnya ia tidak meninggalkan sisi Jason atau Alex.
Jessica mempertahankan senyumnya saat melihat lelaki disebelah Gina.
Ia menahan tangannya yang mulai bergetar. Amarah dan trauma masa lalunya seakan ingin meledak sekarang juga.
Beraninya orang rendahan seperti mereka menghancurkan hidupnya.
Di sisi lain Dylan sangat terpukau saat melihat kecantikan Jessica dari jarak dekat seperti ini.
“Ya?” jawab Jessica berusaha keras untuk tetap terlihat ramah.
“Sulit sekali mencarimu, aku ingin sekali berbincang” Gerutu Gina.
“Ah ya, banyak orang yang ingin berkenalan jadi aku harus bersikap ramah kan?”
“Kau harus berhati hati, banyak penjilat disini, kau tahu kan?”
Jessica mendengus pelan lalu menatap Gina, “Gina, mereka memiliki harta yang melimpah, bila yang mendekatiku adalah seseorang tanpa harta mungkin merekalah penjilat yang sebenarnya”
Meskipun Jessica tahu memang banyak penjilat yang mengajak berkenalan dengannya setidaknya mereka hanya ingin membantu perusahaan orang tuanya tanpa menjatuhkan Soverall. Tidak seperti seseorang…
Gina mematung mendengar perkataan itu. s**l, dia merasa tersindir.
‘Jalang ini benar benar ingin diberi pelajaran’
Melihat Gina yang mulai tersulut emosi, Dylan terlebih dahulu menyela.
“Jessica? Bukankah kau menyukai strawberry? Aku mendengarnya dari Georgina” Tukas Dylan sembari memberikan satu gelas jus strawberry yang sedari tadi memang berada ditangannya.
“Aku tidak-“
“Ayolah, satu teguk saja” Potong Dylan.
Entah firasatnya saja atau bukan, tapi Jessica yakin mereka telah menaruh sesuatu pada minuman tersebut.
Dahulu Jessica pernah mengenal Dylan. Ia tahu apa arti tatapan yang saat ini diberikan pria itu.
Saat Jessica melihat seorang pelayan yang berjalan kearahnya dengan senyuman ia menerima gelas tersebut.
“Cheer then-” Ucapnya tepat saat seorang pelayan menabrak pelan bahunya. Ah, lebih tepatnya, ia yang ‘menabrakkan diri’ pada pelayan tersebut.
Sebenarnya ia merasa bersalah saat melihat baju pelayan tersebut kini kotor karena Jessica sengaja menjatuhkan gelasnya. Namun gadis itu tidak memiliki pilihan lain.
**
Alex yang sedang berbincang dengan salah satu rekan bisnisnya, langsung menoleh ke arah Jessica saat ia mendengar suara pecahan gelas.
Tanpa bisa memendam kekhawatirannya lagi, Alex mendekat ke tempat kejadian.
“Are you okay?” tanyanya pada Jessica begitu ia berada tepat disebelah gadis tersebut.
Ia dapat melihat mata terkejut gadisnya. Entahlah terkejut karena menjatuhkan minuman atau karenanya.
“I’m okay” jawab Jessica lembut.
Setelah mendengar jawaban Jessica, Alex mengalihkan pandangannya kepada Gina, Dylan dan pelayan yang menundukan kepalanya sembari terus menerus memohon maaf.
Alex menatap tajam ketiga orang tersebut.
Berani beraninya mereka mengusik gadis kesayangannya.
Alex menatap sekertarisnya, lalu memberi sinyal untuk menyingkirkan pelayan yang telah menabrak bahu Jessica.
Dengan pengalaman kerja bertahun tahun, Fredric- Sang Sekertaris mengerti apa yang dimaksud Tuannya. Dengan tanggap Fredric mengangguk patuh dan melaksanakan perintah tersebut.
Dari jauh Fredric terlihat seakan mengayomi sang pelayan untuk keluar dari masalah. Namun yang berada di dekat mereka tahu bahwa nasib sang pelayan mungkin akan menjadi leih buruk.
.
Disisi lain, Gina yang merasa ketakutan menemukan sebuah rencana.
Ia sangat sering merebut seseorang yang telah Jessica sukai, lalu apa bedanya kali ini? Ia yakin kali ini hasilnya pun akan sama.
Lagipula Dylan jauh tidak bisa dibandingkan dengan pria dihadapannya.
Bila ia bisa merayu Alex, pangkatnya akan terangkat lebih tinggi dibanding Jessica. Seperti yang selama ini ia inginkan!
“Tuan maafkan aku, ini kesalahanku karena memaksa Jessica meminum jus kesukaannya” Ucap Georgina dengan suara yang ia buat sedemikian lembut.
Namun tidak seperti dugaannya, Alex justru menatap Georgina dengan tatapan membunuhnya.
Sungguh tanpa Georgina ketahui kata-kata ‘memaksa’ mampu menyulut emosi pria itu.
‘Berani beraninya wanita rendahan sepertinya ingin memaksa Jessica?!’
Georgina meremas kedua tangannya menahan tubuhnya yang semakin bergetar.
“A-aku tidak bermaksud-“
“Pergila” Usir Alex dengan tajam.
“Maaf tuan, kau tidak bisa mengusir orang sembarang di pesta orang lain” Sela Dylan dengan cepat. Pria itu belum berhasil melaksanakan rencananya. Tidak mungkin ia pulang dengan tangan kosong bukan?
Mendengar suara Dylan, Jessica memutar bola matanya. Ugh, dia sungguh muak.
Dengan dengusan Jessica angkat bicara, “Siapa bilang? Alex bisa melakukan apapun di pestaku!” Ucap Jessica tanpa keraguan sedikitpun.
Alex menatap Jessica dengan tatapan terkejut. Meskipun orang lain tidak dapat melihatnya, namun Jessica menyadarinya dan gadis itu hanya tersenyum.
Sedangkan Dyla terkejut bukan main. Bukankah gadis ini seharusnya menyukainya?! Tidak! Jessica harus terus menyukainya! Apalagi saat ia sudah secantik ini, Dylan tak bisa melepasnya begitu saja.
“Jadi kalian pergilah sebelum aku memanggil pengawalku” lanjut Jessica.
Mulai sekarang ia tidak akan berlagak baik. Sampah ini akan merasakan neraka di kehidupan mereka.
***
TBC