CHAPTER 9 ; We'll see who will be humiliated

1134 Words
CHAPTER 9 : We'll see who will be humiliated   Alex menatap Jessica yang sudah terlelap di sofa. 2 jam yang lalu ia sudah menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang. Namun, Jessica menolak dengan alasan ingin melihatnya bekerja.   Alex tersenyum saat mengingatnya. Gadis ini sungguh membuat dirinya ingin melahapnya habis habisan.   Tok tok tok…   Alex menatap tajam ke arah pintu saat melihat Jessica sedikit terusik akibat ketukan tersebut.    Dan untuk pertama kalinya Alex membuka sendiri pintu tersebut agar siapapun orang diluar sana tidak mengganggu tidur Jessica.   Fredric yang berhadapan langsung dengan Alex didepan pintu terbelalak tak percaya.   “Aku akan membunuhmu bila Jessica terbangun” ancam Alex sebelum Fredric sempat membuka suaranya.   Fredric menelan ludahnya dengan susah payah. Demi tuhan ia tidak tahu bila Nonanya itu sedang tertidur.   “Maaf tuan, saya ingin mengantarkan laporan pemindahan tugas saya” bisiknya bahkan sangat kecil untuk didengar siapapun.   Alex mengangguk sekilas, “Aku memerlukanmu untuk menyelidiki sesuatu disana” ucap Alex pelan, seraya mengambil dokumen ditangan Fredric.   Fredric mengangguk, dengan sigap ia memasang telinga untuk menerima perintah selanjutnya.   Alex menatap Jessica yang masih didunia mimpinya.   “Laporkan semua tentang Darius padaku” titah Alex.   “Baik tuan”   Saat Alex ingin berbalik dan kembali ke ruangannya, ia terhenti saat mengingat sesuatu.   “Jessica… she mentions about Darius”   Seketika Fredric melebarkan kedua bola matanya.   “Cari tahu dari mana dia mengetahuinya, dan perketat keamanan Jessica. Jika sesuatu terjadi padanya bukan hanya dirimu yang akan menanggung akibatnya” ucap Alex penuh dengan perngatan.   “Baik tuan” untuk kesekian kalinya, hanya itu jawaban yang bisa Fredric berikan.   ***   “Sungguh awalnya aku berniat melihatmu bekerja” kesal Jessica.   Dengan tangan yang masih berada di stir kemudi, Alex terkekeh.   “Kau tidak harus melihatku bekerja, lagipula itu bukan salahmu, ketiduran adalah hal yang wajar” balasnya ringan.   Entah mengapa mendengarnya justru membuat Jessica semakin kesal.   “Kau bisa mengunjungi kantorku kapanpun kau mau, kau masih mempunyai banyak kesempatan, jangan khawatir” lanjut Alex.   “Benarkah?! YEY!!” pekik Jessica.   Alex tak mampu menahan tawanya saat melihat antusiasme Jessica. Jujur ia tidak tahu apa yang membuat Jessica begitu ingin melihatnya bekerja.   Alex memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Jessica lalu menatap gadis itu.   “Jessica, kau harus menjaga pola tidurmu, jangan terlalu banyak belajar” ucap Alex serius.   Jessica terkekeh, “Siap!”   “Sungguh kau sangat kurus dan membuatku khawatir” ucap Alex lagi.   “Aku tidak sekurus itu, aku-“   “Aku tahu pola makanmu nona Soverall” potong Alex yang membuat Jessica menunjukan cengirannya.   “Baiklah baiklah aku akan memperbaiki pola makanku” jawabnya.   Alex yang melihat hal tersebut menahan dirinya untuk tidak menerkam bibir yang akhir akhir ini selalu menebarkan senyum padanya itu.   Dia benar benar harus belajar menahan dirinya, mengingat kapasitas pertemuannya dengan Jessica yang terus bertambah. Ia tidak mau Jessica melarikan diri melihat sisi gelap dirinya.   “Alex kau pun harus menjaga pola tidurmu”   Entah mengapa jantung Alex kembali berdegup lebih cepat. Apakah Jessica mengkhawatirkannya?   Tanpa aba aba Jessica meraih pipi Alex. “Lihatlah wajah lelah ini yang tetap tampan” ucap Jessica dengan candaan namun tersirat kekhawatiran.   “Jangan memperingati jam tidurku saat kau sendiri bahkan tidak menjaga jam tidurmu” lanjut Jessica dengan kesal.   Alex menerbitkan senyumnya lalu meraih tangan Jessica dan menciumnya. “Aku akan menjaganya” ucap Alex.   Karena sejatinya, apapun yang Jessica katakan ia akan selalu menurutinya. Apapun.   Seakan menular, Jessicapun menerbitkan senyumnya.   “Sebaiknya kau pun menjaga senyum itu Tuan Alexander Corbero, para wanita akan histeris saat melihatnya”   Alex terkekeh, “Baiklah, senyumku hanya milikmu”   Bohong.   Bagi Alex semua yang ada pada dirinya adalah milik Jessica.   “Baiklah, aku akan menjaga senyum pria ini agar tidak bertebar kemana mana” ucap Jessica.   Mereka terdiam dan saling menatap untuk beberapa saat. Jika bisa ia sangat ingin memberhentikan waktu dan menatap wajah gadis dihadapannya.   “Masuklah, kau harus segera beristirahat” ujar Alex penuh kelembutan.   Jessica mengangguk patuh. “You too, kabari aku saat kau sudah sampai rumah”   ***   “Sayang, kau sebentar lagi akan lulus SMA, apa kau sudah memiliki rencana untuk meneruskan kuliah?”   Jessica terdiam sebentar.   “Aku… sebenarnya aku ingin bernyanyi, namun aku tidak yakin ingin muncul di media”   Konyol memang, namun menjadi penyanyi adalah mimpinya sejak dulu, namun sungguh ia membenci dunia hiburan.   Jeremy terkekeh saat mendengar keinginan putri semata wayangnya, “Sedikit sulit mewujudkan keinginanmu princess”   “Daddy tidak perlu memikirkannya, aku yang akan mewujudkan mimpiku sendiri”   Jeremy sedikit terperangah saat menatap kesungguhan dalam setiap perkataan Jessica.   “Kau tahu Daddy akan mewujudkan semua-“   “Dad, percayalah, putrimu ini mampu mewujudkan keinginannya sendiri tanpa campur tangan siapapun. Percaya pada kemampuanku” potong Jessica   Jeremy tersenyum haru, “Kemarilah princess” ucap Jeremy sembari membuka kedua tangannya.   Dengan cepat Jessica masuk kedalam pelukan Daddy-nya.   Martha yang baru saja tiba setelah membuat kopi untuk suaminya tersenyum kecil saat melihat sepasang ayah anak yang saling berpelukan itu.   Jeremy yang selalu menatap dingin semua orang akan dengan sangat mudah luluh dihadapan putri tercintanya itu. Bahkan bila kalian ingin melihat Jeremy menangis maka hanya Jessica lah yang mampu.   Sebegitu besarlah dampak seorang Jessica. Bahkan tanpa gadis itu sendiri sadari. Seakan dirinya adalah magnet yang mampu menarik perhatian siapapun, lebih parahnya menjadi objek obsesi beberapa orang.   “Wow wow, adakah yang aku lewatkan?”   Sepasang ayah dan anak itu hanya menoleh tanpa melepaskan pelukannya.   Jessica hanya terkekeh sementara Jeremy menyesap kopinya.   “Oh iya Dad, bisakah aku mengambil asset assetku sekarang?”   Jeremy meletakan cangkir kopinya lalu menatap Jessica.   “Kau yakin? Assetmu tidaklah sedikit”   Jessica mengangguk yakin.   “Kau tidak boleh boros sweetheart” sahut Martha.   Jessica kembali mengangguk bak anak anjing.   “Baiklah, aku akan menghubungi manager keuanganmu” putus Jeremy.   “Terima kasih Daddy” ucap Jessica dengan wajah berserinya.   Dengan gemas Jeremy mengapit hidung proposional Jessica.   “Daddy akan mengatakan pada William untuk membiarkanmu mengambil alih setengah Assetmu, deal?”   “Setengah? Kenapa?”   “Setelah kau lulus Daddy akan membiarkanmu mengambil alih semua, aku tidak mau fokusmu terbagi honey”   Jessica mengangguk mengerti lalu kembali tersenyum.   “Baiklah aku akan mendiskusikannya dengan William saat kita bertemu”   **   Jessica menatap ponselnya dan melihat pesan yang kemarin dikirim oleh Georgina.   | Jess, 4 hari lagi hari ujian akan berakhir | how about dinner? | tenang saja! Aku sudah mengajak Dylan.   Jessica menyeringai.   Dia akan dipermalukan habis habisan disana.   Baiklah | Is it okay bila aku yang menentukan tempatnya? |   | ah akhirnya kau membalas! | tentu saja tidak apa   ia menutup room chat-nya dengan Gina dan membuka room chat baru dengan seseorang dengan history percakapan yang kosong.   Besok, Beau Restaurant, jam 8 malam |   | Baik nona   Dengan senyum puasnya ia mamtikan ponselnya dan menuju alam mimpi.   Kita lihat siapa yang dipermalukan disana Gina….   *** TBC  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD